Saat
ini, aku sedang duduk bersantai di taman kota. Kurasakan udara pagi menyegarkan
pikiranku yang sedang kacau, apalagi hatiku yang akhir-akhir ini sedang kesal.
Sudah seminggu ini aku kesal dengan Susi, teman 1 kamarku. Kejadiannya berawal
karena Susi tidak sengaja menghapus semua data yang ada di hardisk eksternalku. Saat itu aku sangat syok mendapati hardisk eksternalku yang awalanya penuh
dengan video, film, dan lagu yang berbau korea, tiba-tiba menjadi kosong
melompong, tidak meninggalkan file
apapun di dalamnya. Ya, aku memang pecinta drama dan film korea, sehingga aku
mengkoleksi semua drama dan film dari negeri itu. Tapi aku hanya sebatas menyukai
film, drama, atau reality show-nya
saja. Aku tidak tertarik dengan opa-opa tampan dan nuna-nuna cantik dari negara
tersebut. Catat!!!
Mengetahui
hal itu, rasa kesal dan amarah langsung memenuhi hatiku. Aku langsung
menunjukkan kemarahanku secara terang-terangan pada Susi. Sejak saat itu, aku
memutuskan untuk memusuhinya. Aku langsung pindah tidur ke kamar sebelah, aku
hanya ke kamarku untuk mangambil pakaian ganti, buku kuliah, atau keperluan
harianku yang lain. Sebisa mungkin aku menghindar untuk bertemu dengan Susi. Tentu
saja Susi sudah meminta maaf padaku, bahkan setiap hari dia selalu mengirimiku
pesan permintaan maaf. Dia juga selalu mencari cara untuk berbicara dengan
denganku saat di kampus atau di kost. Tapi aku selalu menolaknya. Rasa kesal
itu masih dapat kurasakan hingg asaat ini. Dia kan tahu bagaimana rasa sukaku
pada koleksi drama dan film korean yang ada di hardisk itu. Kenapa dia bisa menghapusnya? Yah, walaupun itu tidak
disengaja. Tapi tetap saja kan? Pokoknya aku masih marah padanya.
Kupandang
keadaan disekitar taman kota, tempatku berada saat ini. Aku benar-benar butuh
suasana baru untuk meredakan rasa kesalku. Setidaknya warna hijau dari pohon-pohon
dan warna-warni bunga yang sedang bermekaran dapat mengalihkan pikiranku dari
kesalahan yang telah dibuat Susi.
Tidak
sengaja pandanganku tertuju pada seorang gadis kecil dengan baju berwarna pink berenda
dan celana legging berwarna senada sedang
duduk di salah satu banggu kecil yang ada di taman. Lucu sekali, ada bando
mungil menghiasi rambut pendeknya yang tergerai. Usianya mungkin baru 4 tahun,
dia tampak asik bermain dengan bonekanya. Senyumku-pun muncul melihat keseruannya
bermonolog dengan bonekanya. Sepertinya menyenangkan sekali bisa kembali ke
masa kanak-kanak, masa dimana tidak ada beban dan masalah yang menghimpit. Masa
yang penuh dengan tawa canda bersama teman sepermainan.
Tak
selang berapa lama, kulihat seorang anak kecil dengan baju terusan berwarna
kuning motif bunga-bunga menghampiri anak itu. Ikat rambut berbentuk pita menghiasi
rambutnya yang dikuncir ekor kuda. Sepertinya mereka teman sepermainan.
“Aya
main sama Lala, yok,” ucap anak berbaju kuning pada anak berbaju pink.
“Nggak
mau, Aya nggak mau main sama Lala,” tolak anak berbaju pink pada temannya.
“Kenapa?”
“Aya
nakal sama Lala. Kemarin Aya sudah rusakin boneka Lala, kan?”
“Tapi
kan Aya sudah minta maaf.”
“Biarin,
pokoknya Aya nggak mau main lagi sama Lala. Aya nggak mau temenan sama Lala lagi,”
ucap anak bernama Aya dengan sedikit berteriak.
Kulihat
anak bernama Lala itu mulai menangis, “hiks, hiks, Aya, Aya nakal sama Lala.
Padahal Lala kan sudah minta maaf,” ucapnya sambil menagis. Air mata mulai
mengalir di pipi cubby-nya. Melihat
temannya yang mulai menangis sepertinya ada rasa bersalah pada diri anak itu. Tapi
anak yang bernama Aya itu tidak berusaha menenangkan temannya, sepertinya rasa
egoisnya masih tinggi.
“Padahal
Lala pengen main sama Aya lagi. Hiks, hiks,… Kata Bunda Lala nggak boleh
berantem sama temen Lala. Kata Bunda, Allah nggak sayang sama anak yang suka berantem
sama temennya. Makanya Lala mau temenan sama Aya lagi, hiks, hiks, hiks …” ucap
anak bernama Lala disela tangisnya.
“Beneran
Allah nggak sayang kalo kita nggak temenan lagi?” tanya Aya sedikit takut.
“Hiks,
hiks, iya, Bunda bilang Lala nggak boleh musuhan sama temen Lala lebih dari 3
hari. Nanti Allah marah.”
Mendengar
hal itu, tiba-tiba anakk itu menangis mngikuti temannya, “Hwaaa, hwaa… Aya
nggak mau dimarahin Allah, hwaaa…” teriaknya sambil memeluk bonekanya erat. ‘Astaga benar-benar drama banget 2 anak ini,’
pikirku saat itu.
Mendengar
tangisan dari kedua bocah itu, 2 wanita yang dari tadi sedang mengobrol dengan
beberapa wanita lain mendekati mereka. Sepertinya kedua wanita itu ibu dari 2
anak itu.
“Ada
apa Aya? Kenapa menangis?” tanya salah seorang wanita pada Aya.
“Allah
marah sama Aya Ibu,” adunya pada sang Ibu.
Mendengar
jawaban anaknya, si Ibu menjadi bingung, “Memangnya kenapa Allah marah sama
Aya?”
“Aya
sama Lala berantem Ibu, makanya Allah marah Aya, hwaaa ...”
“Memangnya
kenapa kalian berantem?” tanya wanita satunya pada Lala
“Aya
nggak mau temenan lagi sama Lala. Gara-gara Lala ngerusakin bonekanya Aya waktu
di sekolah Bunda,” jawab Lala dengan masih menagis.
“Tapi
Lala sudah minta maaf kan?”
“Sudah
Bunda, tapi Aya tetep nggak mau temenan lagi sama Lala.”
“Makanya Allah marah sama kita Ibu,”
lanjut Lala memberi penjelasan pada san Ibu.
Setelah
mendengar penuturan kedua anak itu, akhirnya kedua wanita itu mengerti dengan
permasalahan yang membuat anak mereka menangis. Keduanya saling bertatapan dan
memberikan senyuman, memaklumi tingkah polah anak mereka yang masih polos. Sepertinya
mereka harus meluruskan kesalahpahaman diantara anak mereka. “Jadi, kalian
pikir Allah marah sama kalian karena kalian nggak temenan lagi?” tanya Ibu Lala
pada kedua anak kecil itu.
“Iya,
Ibu, hwaaa …”
“Iya,
Bunda, hwaaa …” jawab kedua anak itu bersamaan.
“Ya
udah, kalo gitu kalian temenan aja lagi,” usul Bunda.
“Bisa,
Bunda?”
“Tentu
saja bisa sayang, kenapa nggak bisa?”
“Kalo
kita temenan lagi, Allah nggak bakal marahin kita lagi Bunda?”
“Nggak
sayang, Allah nggak akan marah lagi.”
“Beneran,
Ibu?” tanya Aya pada Ibunya.
“Benar
sayang, makanya kalian temenan lagi dong,” kata Ibu Aya meyakinkan kedua anak
itu. Mendengar ucapan dari sang Ibu dan Bunda, akhirya tangisan kedua anak itu
mereda.
“Lala,
kita temenan lagi aja yok. Biar Allah nggak marah sama kita,” ucap Aya sambil
menghapus air mata di pipinya. Diulurkannnya jari kelingkinnya ke udara.
“Iya,
temenan lagi yok,” sambut Lala sambil menautkan jari kelingkingnya dengan jari
kelingking Aya. Mereka kemudian saling tertawa dan berpelukan, menghilangkan
rasa kesal dan permusuhan yang baru mereka alami. Sungguh masa kecil yang
menyenagkan.
Melihat
tingkah polah kedua anak itu, aku seperti merasa tertampar. Bukankah kejadian yang
baru dialami kedua anak kecil itu hampir sama dengan apa yang sedang aku alami
saat ini. Kembali aku memikirkan perbuatanku selama ini. Tentu saja dengan
perasaan yang lebih tenang dan pikiranyang lebih jernih. Sepertinya rasa kesal
dan amarahku pada Susi memang sudah keterlaluan, bukankah Susi tidak sengaja
melakukan itu? Bukankah Susi sudah meminta maaf padaku? Bahkan tidak hanya satu
atau dua kali permohonan maaf keluar dari bibir Susi. Aku saja yang terlalu
dikuasai amarah sampai-sampai tidak melihat ketulusan dalam permintaan maaf itu.
Ya Allah, apa yang sudah aku lakukan? Susi pasti sangat kecewa kepadaku.
Bagaimana bisa aku mendiamkannya selama ini? 1 minggu, bukankah itu sudah
terlalu lama? Aku benar-benar sudah keterlaluan. Segera kuambil handphone dari saku celanaku dan mencari
nomer Susi. Kupencet tanda telpon pada nomernya.
“Assalammualaikum,”
sapa Susi pada dering ketiga.
“Waalaikumsalam,” jawabku. Jeda sejenak, “Susi, temenan lagi yok?” ucapku sambil
tersenyum. Aku tau di ujung sana Susi sedang tersenyum lebar, dapat kudengar
desahan kelegaan dan tawa kecil dari suaranya.
#30dwc
#30dwcjilid12
#day11
#anak
🖼️ : www.google.com
🖼️ : www.google.com








0 komentar:
Posting Komentar