Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Minggu, 01 April 2018

TEMENAN LAGI YOK ...


Saat ini, aku sedang duduk bersantai di taman kota. Kurasakan udara pagi menyegarkan pikiranku yang sedang kacau, apalagi hatiku yang akhir-akhir ini sedang kesal. Sudah seminggu ini aku kesal dengan Susi, teman 1 kamarku. Kejadiannya berawal karena Susi tidak sengaja menghapus semua data yang ada di hardisk eksternalku. Saat itu aku sangat syok mendapati hardisk eksternalku yang awalanya penuh dengan video, film, dan lagu yang berbau korea, tiba-tiba menjadi kosong melompong, tidak meninggalkan file apapun di dalamnya. Ya, aku memang pecinta drama dan film korea, sehingga aku mengkoleksi semua drama dan film dari negeri itu. Tapi aku hanya sebatas menyukai film, drama, atau reality show-nya saja. Aku tidak tertarik dengan opa-opa tampan dan nuna-nuna cantik dari negara tersebut. Catat!!!
Mengetahui hal itu, rasa kesal dan amarah langsung memenuhi hatiku. Aku langsung menunjukkan kemarahanku secara terang-terangan pada Susi. Sejak saat itu, aku memutuskan untuk memusuhinya. Aku langsung pindah tidur ke kamar sebelah, aku hanya ke kamarku untuk mangambil pakaian ganti, buku kuliah, atau keperluan harianku yang lain. Sebisa mungkin aku menghindar untuk bertemu dengan Susi. Tentu saja Susi sudah meminta maaf padaku, bahkan setiap hari dia selalu mengirimiku pesan permintaan maaf. Dia juga selalu mencari cara untuk berbicara dengan denganku saat di kampus atau di kost. Tapi aku selalu menolaknya. Rasa kesal itu masih dapat kurasakan hingg asaat ini. Dia kan tahu bagaimana rasa sukaku pada koleksi drama dan film korean yang ada di hardisk itu. Kenapa dia bisa menghapusnya? Yah, walaupun itu tidak disengaja. Tapi tetap saja kan? Pokoknya aku masih marah padanya.
Kupandang keadaan disekitar taman kota, tempatku berada saat ini. Aku benar-benar butuh suasana baru untuk meredakan rasa kesalku. Setidaknya warna hijau dari pohon-pohon dan warna-warni bunga yang sedang bermekaran dapat mengalihkan pikiranku dari kesalahan yang telah dibuat Susi.
Tidak sengaja pandanganku tertuju pada seorang gadis kecil dengan baju berwarna pink berenda dan celana legging berwarna senada sedang duduk di salah satu banggu kecil yang ada di taman. Lucu sekali, ada bando mungil menghiasi rambut pendeknya yang tergerai. Usianya mungkin baru 4 tahun, dia tampak asik bermain dengan bonekanya. Senyumku-pun muncul melihat keseruannya bermonolog dengan bonekanya. Sepertinya menyenangkan sekali bisa kembali ke masa kanak-kanak, masa dimana tidak ada beban dan masalah yang menghimpit. Masa yang penuh dengan tawa canda bersama teman sepermainan.
Tak selang berapa lama, kulihat seorang anak kecil dengan baju terusan berwarna kuning motif bunga-bunga menghampiri anak itu. Ikat rambut berbentuk pita menghiasi rambutnya yang dikuncir ekor kuda. Sepertinya mereka teman sepermainan.
“Aya main sama Lala, yok,” ucap anak berbaju kuning pada anak berbaju pink.
“Nggak mau, Aya nggak mau main sama Lala,” tolak anak berbaju pink pada temannya.
“Kenapa?”
“Aya nakal sama Lala. Kemarin Aya sudah rusakin boneka Lala, kan?”
“Tapi kan Aya sudah minta maaf.”
“Biarin, pokoknya Aya nggak mau main lagi sama Lala. Aya nggak mau temenan sama Lala lagi,” ucap anak bernama Aya dengan sedikit berteriak.
Kulihat anak bernama Lala itu mulai menangis, “hiks, hiks, Aya, Aya nakal sama Lala. Padahal Lala kan sudah minta maaf,” ucapnya sambil menagis. Air mata mulai mengalir di pipi cubby-nya. Melihat temannya yang mulai menangis sepertinya ada rasa bersalah pada diri anak itu. Tapi anak yang bernama Aya itu tidak berusaha menenangkan temannya, sepertinya rasa egoisnya masih tinggi.
“Padahal Lala pengen main sama Aya lagi. Hiks, hiks,… Kata Bunda Lala nggak boleh berantem sama temen Lala. Kata Bunda, Allah nggak sayang sama anak yang suka berantem sama temennya. Makanya Lala mau temenan sama Aya lagi, hiks, hiks, hiks …” ucap anak bernama Lala disela tangisnya.
“Beneran Allah nggak sayang kalo kita nggak temenan lagi?” tanya Aya sedikit takut.
“Hiks, hiks, iya, Bunda bilang Lala nggak boleh musuhan sama temen Lala lebih dari 3 hari. Nanti Allah marah.”
Mendengar hal itu, tiba-tiba anakk itu menangis mngikuti temannya, “Hwaaa, hwaa… Aya nggak mau dimarahin Allah, hwaaa…” teriaknya sambil memeluk bonekanya erat. ‘Astaga benar-benar drama banget 2 anak ini,’ pikirku saat itu.
Mendengar tangisan dari kedua bocah itu, 2 wanita yang dari tadi sedang mengobrol dengan beberapa wanita lain mendekati mereka. Sepertinya kedua wanita itu ibu dari 2 anak itu.
“Ada apa Aya? Kenapa menangis?” tanya salah seorang wanita pada Aya.
“Allah marah sama Aya Ibu,” adunya pada sang Ibu.
Mendengar jawaban anaknya, si Ibu menjadi bingung, “Memangnya kenapa Allah marah sama Aya?”
“Aya sama Lala berantem Ibu, makanya Allah marah Aya, hwaaa ...”
“Memangnya kenapa kalian berantem?” tanya wanita satunya pada Lala
“Aya nggak mau temenan lagi sama Lala. Gara-gara Lala ngerusakin bonekanya Aya waktu di sekolah Bunda,” jawab Lala dengan masih menagis.
“Tapi Lala sudah minta maaf kan?”
“Sudah Bunda, tapi Aya tetep nggak mau temenan lagi sama Lala.”
Makanya Allah marah sama kita Ibu,” lanjut Lala memberi penjelasan pada san Ibu.
Setelah mendengar penuturan kedua anak itu, akhirnya kedua wanita itu mengerti dengan permasalahan yang membuat anak mereka menangis. Keduanya saling bertatapan dan memberikan senyuman, memaklumi tingkah polah anak mereka yang masih polos. Sepertinya mereka harus meluruskan kesalahpahaman diantara anak mereka. “Jadi, kalian pikir Allah marah sama kalian karena kalian nggak temenan lagi?” tanya Ibu Lala pada kedua anak kecil itu.
“Iya, Ibu, hwaaa …”
“Iya, Bunda, hwaaa …” jawab kedua anak itu bersamaan.
“Ya udah, kalo gitu kalian temenan aja lagi,” usul Bunda.
“Bisa, Bunda?”
“Tentu saja bisa sayang, kenapa nggak bisa?”
“Kalo kita temenan lagi, Allah nggak bakal marahin kita lagi Bunda?”
“Nggak sayang, Allah nggak akan marah lagi.”
“Beneran, Ibu?” tanya Aya pada Ibunya.
“Benar sayang, makanya kalian temenan lagi dong,” kata Ibu Aya meyakinkan kedua anak itu. Mendengar ucapan dari sang Ibu dan Bunda, akhirya tangisan kedua anak itu mereda.
“Lala, kita temenan lagi aja yok. Biar Allah nggak marah sama kita,” ucap Aya sambil menghapus air mata di pipinya. Diulurkannnya jari kelingkinnya ke udara.
“Iya, temenan lagi yok,” sambut Lala sambil menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Aya. Mereka kemudian saling tertawa dan berpelukan, menghilangkan rasa kesal dan permusuhan yang baru mereka alami. Sungguh masa kecil yang menyenagkan.
Melihat tingkah polah kedua anak itu, aku seperti merasa tertampar. Bukankah kejadian yang baru dialami kedua anak kecil itu hampir sama dengan apa yang sedang aku alami saat ini. Kembali aku memikirkan perbuatanku selama ini. Tentu saja dengan perasaan yang lebih tenang dan pikiranyang lebih jernih. Sepertinya rasa kesal dan amarahku pada Susi memang sudah keterlaluan, bukankah Susi tidak sengaja melakukan itu? Bukankah Susi sudah meminta maaf padaku? Bahkan tidak hanya satu atau dua kali permohonan maaf keluar dari bibir Susi. Aku saja yang terlalu dikuasai amarah sampai-sampai tidak melihat ketulusan dalam permintaan maaf itu. Ya Allah, apa yang sudah aku lakukan? Susi pasti sangat kecewa kepadaku. Bagaimana bisa aku mendiamkannya selama ini? 1 minggu, bukankah itu sudah terlalu lama? Aku benar-benar sudah keterlaluan. Segera kuambil handphone dari saku celanaku dan mencari nomer Susi. Kupencet tanda telpon pada nomernya.
“Assalammualaikum,” sapa Susi pada dering ketiga.
“Waalaikumsalam,” jawabku. Jeda sejenak, “Susi, temenan lagi yok?” ucapku sambil tersenyum. Aku tau di ujung sana Susi sedang tersenyum lebar, dapat kudengar desahan kelegaan dan tawa kecil dari suaranya.

#30dwc
#30dwcjilid12
#day11
#anak
🖼️ : www.google.com

0 komentar: