Namaku Silvia. Saat ini aku duduk di
bangku Sekolah Menengah Atas. Ini adalah sepenggal kisah perjalanan hidupku.
Ini bukanlah kisah indah seperti kisah yang dimiliki remaja lain. Semua berawal
saat aku memasuki bangku SMA. Seperti anak-anak lain, saat itu adalah masa-masa
yang labil bagiku. Masa-masa yang penuh dengan gejolak perasaan dan keinginan
untuk mencoba sesuatu hal baru. Pada saat seperti itu, aku juga membutuhkan
dukungan dari orang-orang terdekat, terutama kedua orang tuaku. Tapi apa dayaku
ketika semuanya tak pernah kudapatkan.
Pada saat itu ayah dan ibuku sering
ribut. Entah apa yang mereka ributkan, aku tak berani menanyakannya. Setiap
mereka bertemu, yang kudengar hanyalah teriakan kemarahan, ungkapan saling
menuduh dan menyalahkan, bahkan terkadang suara barang-barang yang terlempar
pun menghiasi pertengkaran mereka. Tidak ada ungkapan kasih sayang, tidak ada
kata-kata lembut, bahkan sebuah pelukan hangat. Mungkin mereka juga sudah
melupakan kehadiranku diantara mereka. Entahlah, saat itu yang kurasakan
hanyalah perasaan kecewa, sedih, amarah, dan perasan buruk lain yang menjadi
satu. Duniaku hancur, hidupku bagai di neraka.
Karena permasalah itu, aku menjadi penutup dan susah bergaul di sekolah. Bayangkan saja, di kelas aku hanya mengenal 2 orang murid. Itu juga karena kami berasal dari SMP yang sama. Aku takut mendekatkan diri pada mereka. Aku takut mereka akan menjauhiku saat mereka tahu kondisi keluargaku yang berantakan. Aku sering membolos pelajaran, tidak kuperdulikan lagi nilai-nilai pelajaran yang menurun, nasihat dari guru hanya kuanggap angin lalu. Yang kutahu hanyalah mencari kesenangan untuk mengusir semua masalah yang menghimpit dan membuat sesak hidupku.
Karena permasalah itu, aku menjadi penutup dan susah bergaul di sekolah. Bayangkan saja, di kelas aku hanya mengenal 2 orang murid. Itu juga karena kami berasal dari SMP yang sama. Aku takut mendekatkan diri pada mereka. Aku takut mereka akan menjauhiku saat mereka tahu kondisi keluargaku yang berantakan. Aku sering membolos pelajaran, tidak kuperdulikan lagi nilai-nilai pelajaran yang menurun, nasihat dari guru hanya kuanggap angin lalu. Yang kutahu hanyalah mencari kesenangan untuk mengusir semua masalah yang menghimpit dan membuat sesak hidupku.
Dan disaat itulah aku mulai
mengenal narkoba. Awalnya aku hanya mencoba-coba, karena mereka mengatakan
obat-obatan itu dapat menghilangkan masalahku. Pertama kali mencobanya, yang
kurasakan adalah kenyamanan, kesenangan dan kenikmatan. Perasaanku menjadi
ringan, semua masalah terasa menghilang dariku. Setiap kali menggunakannya,
tubuhku terasa melayang, obat-obat itu seakan membawaku menuju surga, membebaskanku
dari semua masalah yang melilit hatiku. Lama-kelamaan, seiring dengan beratnya
permasalah yang kuhadapi, aku lebih sering mengkonsumsi obat-obatan
tersebut. Mereka menjadi candu untukku, mereka adalah obat terbaik untuk semua
masalahku.
Aku tau aku salah, tapi karena sedang dalam kebimbangan aku tak kuasa untuk menghentikannya. Ketika kenaikan kelas, keadaan keluargaku membaik. Orang tuaku tidak lagi bertengkar seperti dulu, entah apa yang membuat mereka kembali akur. Mungkin mereka mulai menyadari kesalahan mereka dan ingin memperbaikinya. Tapi, rasanya terlambat bagiku untuk menyadari keadaan keluargaku yang pelan-pelan kembali utuh. Aku sudah terjebak dalam lubang yang gelap. Terlalu gelap sehingga aku sulit menemukan setitik cahaya disana.
Bersambung ...
#30dwc
#30dwcjilid12
#day20
Picture : www.google.com
Picture : www.google.com









0 komentar:
Posting Komentar