Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Senin, 18 Oktober 2010

Tetap Cerah Ketika Ekonomi Lesu Darah

       Mengenakan kaos oblong putih, pria kurus dengan wajah sumringah itu tengah sibuk melayani kliennya yang memesan sebuah produksi iklan layanan masyarakat. Sedikit beradu pendapat dengan sang klien, akhirnya kesepakatanpun terjadi. Dia adalah Gede Mantrayasa. Umurnya masih tergolong muda.
      “Tentu saja menjanjikan, soalnya film itu penting untuk beberapa tahun ke depan”, ungkap direktur CV. Gede Duta Visual, Gede Mantrayasa. Berbisnis di bidang audiovisual seperti film maupun fotografi selalu menarik. Bisnis ini diyakini akan terus tumbuh, meski di tengah pasang surut dunia bisnis yang tak bisa ditebak, namun pasar bagi bisnis yang satu ini bakal tetap bergairah. Kalangan industi audiovisual, baik sutradara film, para desain grafis maupun seorang fotografer, masih yakin bahwa pasar tak pernah jenuh bagi mereka. Ini karena angka keuntungan yang diperoleh bisa mencapai angka ratusan juta.
        Misalnya saja penggarapan sebuah film yang ditaksir harganya sekitar dua juta sampai dengan ratusan juta. “Ini relatif dari tingkat kesulitan film yang akan digarap,” ujar Mantra, 39 tahun. Keuntungan yang diperolehpun berkisar antara 15-30 persen dari total produksi, itu berarti mencapai 300 ribu sampai 30 juta. Sedangkan bisnis fotografi sendiri seperti foto pra-wedding memiliki spesifikasi tersendiri. Untuk pemotretan yang bersifat indoor berkisar 700 ribu sampai dua juta, sedangkan pemotretan yang bersifat outdoor berkisar antara satu juta sampai dua juta. Menurut Hydhe Satriya Viyasa, fotografer yang baru satu setengah tahun memulai karirnya bisa mendapatkan pendapatan bersih sebesar dua juta. “Itu pendapat bersihku, biasanya perbulan aku dapat lima job,” tuturnya. Ini berarti perbulan Hydhe bisa mendapatkan penghasilan bersih sebesar 10 juta diusianya yang baru 21 tahun. Selain itu, untuk bisnis desain grafis sendiri keuntungan ditaksir mencapai belasan juta untuk pembuatan sebuah logo saja. Hal ini dipertegas seorang desainer grafis muda yang baru berumur 24 tahun. “Satu logo aja, aku dibayar 12 juta. Dan nggak jarang juga aku ditawari buat logo lengkap mulai dari yang dipasang di web, brosur, bener dan lainnya,” terang I Putu Rangga Adi Birawan, yang juga sekaligus seorang editor film.
        Persaingan dibisnis yang satu ini bisa juga dikatakan sebagai bisnis yang selalu mengalami pasang surut peminat. Seperti bisnis perfilman Bali yang hanya bisa dihitung dengan jari jumlahnya. “Butuh skill dan minat khusus untuk menggembangkan bisnis semacam perfilman ataupun desain grafis. Inikan bukan pekerjaan main-main, sekaligus untuk mempertahankan konsumen,” jelas Made Putra Wijaya (25) yang juga seorang desainer grafis free lance. Lebih baik dari bisnis film maupun desain grafis, bisnis fotografi lebih banyak peminatnya mulai dari anak SMA hingga dewasa. Namun banyaknya pesaing tak membuat bisnis fotografi terguncang. “Kita harus punya taste tersendiri untuk mempertahankan ciri dari hasil foto kita,” kata Hydhe.
Dengan kisaran pendapatan dan peluang seperti itu, maka jelas bisnis yang bergerak dibidang audiovisual tak bisa dibilang bisnis yang tak menggiurkan bagi anak muda. Bahkan ditengah kondisi ekonomi yang tengah lesu darah seperti sekarang. (fin)

NB: Ini Lapsus (Laporan Khusus) waktu lomba di Fekultas Ekonomi, Universitas Udayana. Kasi tanggapan atau komen ya.... Trims :)

Kamis, 14 Oktober 2010

Cerita Di Balik Kebosanan


Ini adalah kisah singkat tahun 80-an. Kisah seorang anak manusia bernama Agus dan Alit (A & A) :
       Bermula dari sekolah baru Alit di sebuah kota ternama di Bali. Sebut saja Sekolah C, ini adalah salah satu sekolah favorit yang dipenuhi segudang prestasi. Alit yang baru pindah dari desa masih dengan pakaian cupunya (alias norak) menjalani hari pertama sekolahnya dengan riang. Semua anak Sekolah C yang melihat penampilannya sontak tertawa dan mengejeknya. Alhasil selama di sekolah Alit hanya dicemooh dan ditindas teman-teman barunya. (Lebay dikit neh....)
      Tiba-tiba seseorang datang membelanya. Tampangnya secupu Alit, tapi karena dia bukan anak pindahan alias siswa asli Sekolah C, jadi dia berani menghadapi siswa-siswa yang menjaili Alit. Namanya Agus. Dari hasil pertemuan itu, akhirnya Agus dan Alit berkenalan dan menjadi sahabat. Persahaban mereka sangat menyenangkan, mulai dari belajar bareng (kalo di sinetronkan orang cupu pasti pinter), ngerjain tugas bareng, belajar bereng lagi, buat tugas bareng lagi, yah! sputaran situ aja.(Hahahaaa...)
      Sampai suatu saat, Si Agus merasa jatuh cinta sama Alit (mulai deh sinetronnya). Agus yang masih kurang PeDe menyatakan cintanya akhirnya meminta bantuan teman-temannya. Dari hasil sharing dengan teman-teman wanitanya, akhirnya Agus membuat keputusan untuk menyatakan perasaannya terhadap Alit, tentunya dengan cara yang romantis (itu seh menurut dia). Berbekal sebuah bunga mawar yang entah dicuri dari mana, Agus mempersiapkan dirinya (kayak mau berangkat perang). Dengan bantuan teman-temannya, Alit dibujuk untuk menemui Agus, yang saat itu lagi HHC (Harap-Harap Cemas).
      Begitu Alit datang, Agus langsung beraksi. Dengan bunga di tangan dan posisi bersimpuh, Agus berkata "Aku menyayangimu, maukah kau menjadi kekasihku". (Sebenernya dialognya lebih panjang, tapi aku males nulis jadi intinya aja). Alit begitu kaget mendengar pernyataan Agus, rasa bimbang di hatinya membuatnya harus berfikir untuk menjawab pertanyaan Agus. Dengan sedikit ragu, akhirnya Alit menerima bunga pemberian Agus dengan tersenyum malu. Itu adalah sikap yang mewakili kata "Iya". Agus girang banget ngelihat bunganya diterima Alit.
      Semenjak itu mereka berdua menjadi pasangan kekasih yang selalu bahagia. Dan nggak lupa mereka berbagi cerita dengan teman-temannya. Dari sahabat menjadi kekasih, ada perkembangan dalam kebersamaan mereka. Dari yang kerjaannya cuma belajar dan buat tugas bareng, sekarang bisa jadi main sembunyi-sembunyian bareng (kayak anak kecil aja, atau tepatnya hayak film India ya?). Kayak pasangan kekasih sewajarnya, mereka juga pulang sekolah bareng, tapi setelah belajar bareng (dasar orang cupu yang sukanya belajaaarrrr aja).

NB: Ini hanya cerita khayalan yang terinspirasi waktu anak-anak MP heboh karena Alit potong rambut dengan gaya potongan jadul. Kebetulan ada kamera nganggur, langsung aja kita rombak Alit dan Agus jadi objek foto yang nggak jelas.
:p

Jumat, 08 Oktober 2010

Pengalaman Baru Untukku

8 Oktober 2010

Untuk pertama kalinya aku ngajar anak-anak kurang mampu di Kapal. Daerah yang nggak pernah aku datengin, bahkan aku nggak pernah denger namanya. Waktu sampai di sana, kita (aku, Nila, Desak dan Kak Anik) udah disambut sama Bayu, anak usia kira-kira lima tahun. Dia langsung minta gendon Kak Anik, dan kita langsung berbaur dengan anak-anak lainnya selagi Kak Anik jemput anak-anak (yang umurnya sekitar 3-5 tahun) yang masih di rumah. Aku kebagian ngajar tiga anak umur 7-10 tahunan. Awalnya sih empat, tapi yang perempuan (aku lupa namanya) dia sakit, jadi aku suruh istirahat aja. Ini pengalaman pertamaku ngajar anak jalanan. Sifat mereka bergam, misalnya aja muridku.

Made, dia masih belajar nulis huruf a-i tapi dia baru bisa baca huruf a-c. Dia anak yang cepat tanggap, dan ternyata dia pernah sekolah. Waktu aku tanya dia kelas berapa, dengan suara kecil dia bilang "kelas tiga tapi udah enam bulan berhenti". Aku agak kaget dengernya, tapi aku berusaha ngasi dia semangat. Dan karna itulah aku di sini, bersama mereka.

Gundi, dia juga seumuran sama Made. Makanya untuk sekarang mereka masih belajar nulis abjad dan baca. Tapi kalo Gundi ini anaknya nggak seaktif Made. Jadi harus lebih banyak dikasi motifasi. Misalnya aja waktu aku tinggal ke bilik sebelah, dia malah minta Made buatin tugasnya. Kelebihannya Gundi itu cepat hafal dan nggak malu buat nanyak kalo ada yang nggak dingertiin.

Karena mereka berdua masih belajar nginget dan nulis abjad, jadi aku nyanyiin aja lagu alfabet.Llumanyan membantu, mereka jadi lebih cepet inget nama-nama abjad. Asik banget nyanyi bareng mereka.

Nah! kalo Komang, dia anak yang paling besar. Sekarang dia belajar baca. Minggu lalu Kak Anik ngasi dia PR baca buku yang isinya tentang kata-kata alfabet (tepat di bagian huruf X). Ini dia masalahnya, Komang ini susah bilang "X". misalnya kata-kata Xenia, Xerofit atau Ekspor. Dia pasti ngeluh "Mbok basa Inggris ne, nanti tak hafalin aja". Setiap dia ngeluh, aku cuma bisa ketawa (habisnya sifatnya itu lucu). Padahal dia udah bisa lancar pakai kata-kata dari abjad a-w bahkan bisa nyanyi lagu alfabet. Karena masih belum lancar, jadi aku kasi PR untuk ngelancarin ejaannya dan ngajarin Made sama Gundi. Komang itu anaknya pinter lho!!

Nah ada juga anak seumuran Komang yang tingkahnya aneh (dia nggak mau belajar). Jadi aku nggak terlalu banyak tau. Di bilik sebelah ada anak-anak kecil (sekitar umur 3-5) yang lagi di ajar sama Desak. Mereka belajar nyanyi (dari lagu balonku, kepala pundak kaki, bintang kecil) dan ngambar. Satu kata aja buat mereka, LUCU. Ada Bayu yang suka main kapal-kapalan, Dandi yang jadi ketua kelas (dia bertanggung jawab banget!!!) dan masih banyak lagi.

Kira-kira udah sekitar dua jam, dan kita udahin belajar sambil bagi-bagi makanan. Murit-muritku bilang "Mbok nanti kesini lagi ya, bawa makanan". Kalo di bilik sebelah, desak nyuruh mereka nyanyi dulu baru dikasi kue. Setelah itu Kak Anik jemput kita untuk pindah ke daerah selatan. Di sana udah diambil alih Nila dan Kak Anik, jadi kita tinggal bantu bebenah. Singkat aja aku cerita suasanya di sana. Umur mereka sekitar 7-14 tahun, seumuran dengan anak-anak yang aku ajar. Mereka semua semangat banget belajar, dari ngambar, belajar nulis, cerita dan baca. Mereka semua anak pedaganga, paginya mereka bantu jualan dan seminggu dua kali belajar. Ada anak yang dipanggil Luna Maya sama Kak Anik, anaknya genit banget.

Sebelum pulang, kami sempet nengok ke kamar anak-anak yang aku ajar (Komang, Made, Gundi). Nggak bisa aku bayangin, mereka tinggal di ruangan yang ukurannya cuma 3x3 meter dan hanya beralaskan tikar.  Mereka udah siap tidur, dan kata-kataku untuk pengantar tidur mereka adalah "Inget PRnya ya, nanti aku dateng lagi buat meriksa". Dengan lantang mereka menjawab "Iya mbok, hati-hati ya!"

Ya Allah, ini adalah pengalaman yang sangat berharga bagiku. melihat semangat belajar anak-anak jalanan yang nggak pernah hilang. Dan aku baru tau ternyata Made, Komang dan Gundi tinggal tanpa orang tua. Orang tua mereka ada di Mundi dan mereka memutuskan untuk bekerja di daerah Kapal.

SELALU SEMANGAT UNTUK KALIAN!!!

Kamis, 07 Oktober 2010

Makasih Karena Udah Jadi Pembina MP

Heny/Mp




Ini dia, dalang dari semua kegiatan MP
KAK ANANTA...
Orang yang selalu aku kagumi, hormati dan selalu bisa jadi temen buat semua anggota MP.
Walaupun umurnya udah kepala tiga, tapi tetep eksis dengan panggilan "kak"
Selama kenal sama kak ananta, banyak ilmu yang aku dapat. Dari tulis menulis, hal-hal umum, berbagi pengalaman, gimana berfikir kedepan (kak ananta selalu ngingetin untuk berfikir hal terburuk yang bisa kita alami waktu lagi ada acara)

Makasih udah nerapin semboyan Ki Hajar Dewantara: 
ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani
("di depan menjadi teladan, di tengah membangun semangat, dari belakang mendukung")

Karena kak ananta, MP bisa sangat sukses di lomba apapun dan bisa nyelenggarain berbagai acara yang mustahil banget buat remaja yang cuma tinggat SMA.

MAKASIH BANYAK BUAT KAK ANANTA YANG SELALU DUKUNG MP!!!

(terutama aku pribadi) :)

Buat para penerus MP, jangan sekali-kali kecewain kak ananta.
Kalo aku denger kak ananta berhenti jadi pembina MP, aku bakan jadi orang yang mimpin demo ketidaksetujuan pengunduran dirinya.