Mengenakan kaos oblong putih, pria kurus dengan wajah sumringah itu tengah sibuk melayani kliennya yang memesan sebuah produksi iklan layanan masyarakat. Sedikit beradu pendapat dengan sang klien, akhirnya kesepakatanpun terjadi. Dia adalah Gede Mantrayasa. Umurnya masih tergolong muda.
“Tentu saja menjanjikan, soalnya film itu penting untuk beberapa tahun ke depan”, ungkap direktur CV. Gede Duta Visual, Gede Mantrayasa. Berbisnis di bidang audiovisual seperti film maupun fotografi selalu menarik. Bisnis ini diyakini akan terus tumbuh, meski di tengah pasang surut dunia bisnis yang tak bisa ditebak, namun pasar bagi bisnis yang satu ini bakal tetap bergairah. Kalangan industi audiovisual, baik sutradara film, para desain grafis maupun seorang fotografer, masih yakin bahwa pasar tak pernah jenuh bagi mereka. Ini karena angka keuntungan yang diperoleh bisa mencapai angka ratusan juta.
Misalnya saja penggarapan sebuah film yang ditaksir harganya sekitar dua juta sampai dengan ratusan juta. “Ini relatif dari tingkat kesulitan film yang akan digarap,” ujar Mantra, 39 tahun. Keuntungan yang diperolehpun berkisar antara 15-30 persen dari total produksi, itu berarti mencapai 300 ribu sampai 30 juta. Sedangkan bisnis fotografi sendiri seperti foto pra-wedding memiliki spesifikasi tersendiri. Untuk pemotretan yang bersifat indoor berkisar 700 ribu sampai dua juta, sedangkan pemotretan yang bersifat outdoor berkisar antara satu juta sampai dua juta. Menurut Hydhe Satriya Viyasa, fotografer yang baru satu setengah tahun memulai karirnya bisa mendapatkan pendapatan bersih sebesar dua juta. “Itu pendapat bersihku, biasanya perbulan aku dapat lima job,” tuturnya. Ini berarti perbulan Hydhe bisa mendapatkan penghasilan bersih sebesar 10 juta diusianya yang baru 21 tahun. Selain itu, untuk bisnis desain grafis sendiri keuntungan ditaksir mencapai belasan juta untuk pembuatan sebuah logo saja. Hal ini dipertegas seorang desainer grafis muda yang baru berumur 24 tahun. “Satu logo aja, aku dibayar 12 juta. Dan nggak jarang juga aku ditawari buat logo lengkap mulai dari yang dipasang di web, brosur, bener dan lainnya,” terang I Putu Rangga Adi Birawan, yang juga sekaligus seorang editor film.
Persaingan dibisnis yang satu ini bisa juga dikatakan sebagai bisnis yang selalu mengalami pasang surut peminat. Seperti bisnis perfilman Bali yang hanya bisa dihitung dengan jari jumlahnya. “Butuh skill dan minat khusus untuk menggembangkan bisnis semacam perfilman ataupun desain grafis. Inikan bukan pekerjaan main-main, sekaligus untuk mempertahankan konsumen,” jelas Made Putra Wijaya (25) yang juga seorang desainer grafis free lance. Lebih baik dari bisnis film maupun desain grafis, bisnis fotografi lebih banyak peminatnya mulai dari anak SMA hingga dewasa. Namun banyaknya pesaing tak membuat bisnis fotografi terguncang. “Kita harus punya taste tersendiri untuk mempertahankan ciri dari hasil foto kita,” kata Hydhe.
Dengan kisaran pendapatan dan peluang seperti itu, maka jelas bisnis yang bergerak dibidang audiovisual tak bisa dibilang bisnis yang tak menggiurkan bagi anak muda. Bahkan ditengah kondisi ekonomi yang tengah lesu darah seperti sekarang. (fin)
NB: Ini Lapsus (Laporan Khusus) waktu lomba di Fekultas Ekonomi, Universitas Udayana. Kasi tanggapan atau komen ya.... Trims :)








