Keseimbangan IQ, EQ, dan SQ
dalam Pendidikan Kebidanan
oleh: Fifin Diah Olivianti
Pekerjaan seorang bidan bukanlah hal yang mudah. Pasalnya
mereka dituntut untuk memiliki keahlian, kecerdasan, dan ilmu pengetahuan yang
tinggi dibidang kesehatan khususnya pelayanan kesehatan ibu dan anak serta
kesehatan reproduksi perempuan. Bidan merupakan profesi yang mulia karena mampu
mengabdikan dirinya kepada tugas kemanusiaan. Pekerjaan ini harus dilakukan
dengan cara-cara yang mulia melalui kompetensi yang baik, sikap yang benar dan
dilandasi dengan nilai-nilai etika profesi. Menjadi seorang bidan harus
memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi, cepat dan tanggap dalam bekerja,
lebih mengutamakan kualitas, tidak membeda-bedakan layanan, mampu mengendalikan
diri atau emosi, mengabdikan diri pada pengguna jasa semata-mata untuk alasan
profesional, serta menjunjung tinggi etika profesi. Secara sederhana, hal penting
yang dibutuhkan untuk menjadi seorang bidan adalah kecerdasan intelektual (IQ),
kemampuan dalam mengontrol emosi (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ). Untuk
menyeimbangkan ketiganya, seorang bidan telah dilatih melalui sebuah pendidikan
formal bidan.
IQ (Intelligence
Quotients) yaitu kecerdasan manusia dalam kemampuan untuk menalar,
perencanaan sesuatu, kemampuan memecahkan masalah, belajar, memahaman gagasan,
berfikir, penggunaan bahasa dan lainnya. Maka disini jelas bahwa seorang bidan harus
memiliki IQ dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. Seorang bidan harus memiliki
kecerdasan dalam memecahkan masalah atas kasus yang sedang ditanganinya, bidan
harus selalu belajar, berfikir yang cerdas serta bertutur kata yang halus dan
sopan. Pada intinya seorang bidan harus pintar (memiliki kecerdasan otak).
Namun pada prinsipnya, IQ seorang bidan dapat dilihat dari kesanggupannya
bersikap dan berbuat cepat dan tepat terutama dalam pengambilan keputusan atas
kasus yang sedang dialami pasiennya dalam berbagai situasi. Namun dalam
perjalannya, tidak sedikit bidan yang tidak mampu memposisikan dirinya dalam
menghadapi pasiennya. Mereka tidak memiliki kemampuan dalam mengendalikan emosi
dan suasana hati ketika menghadapai pasien. Pada akhirnya mereka terlalu larut
dalam masalah yang dihadapi pasiennya dan mempengaruhi kemampuan befirikir bidan
dalam mengambil keputusan.
Disinilah kecerdasan emosi atau emotional quotient (EQ) dibutuhkan. EQ merupakan serangkaian
kemampuan mengontrol dan menggunakan emosi, serta mengendalikan diri, semangat,
motivasi, empati, kecakapan sosial, kerja sama, dan menyesuaikan diri dengan lingkungan.
Seorang bidan dalam melaksanakan tugas dan fungsinya di masyarakat juga harus memiliki
kemampuan pengendalian diri sendiri, semangat, ketekunan, serta kemampuan untuk
memotivasi diri sendiri dan bertahan dalam menghadapi masalah. Seorang bidan harus mampu merasakan apa yang
dirasakan oleh orang lain, menumbuhkan hubungan saling percaya dan mampu
menyelaraskan diri dengan berbagai tipe orang, memiliki kemampuan
menangkap sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi yang mengisyaratkan apa yang
dibutuhkan atau dikehendaki oleh pasiennya. Melalui sikap empati, seorang bidan
mampu membina hubungan baik, meyakinkan, mempegaruhi dan membuat pasiennya
nyaman ketika pasiennya menyampaikan masalah yang sedang dihadapinya. Dengan
demikian, bidan akan dengan mudah membantu menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi pasiennya. Oleh karena itu EQ mengajarkan
bagaimana manusia bersikap terhadap dirinya (intra personal) seperti self
awamess (percaya diri), self
motivation (memotivasi diri), self
regulation (mengatur diri), dan terhadap orang lain (interpersonal) seperti empati, kemampuan memahami orang lain dan
sosial.
Setelah memiliki IQ dan EQ selanjutnya bidan dituntut
memiliki SQ (Spritual Quotiens). SQ
didefinisikan sebagai kecerdasan untuk menghadapi persoalan, kecerdasan untuk
menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan
kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih
bermakna dibandingkan dengan yang lain. SQ adalah kecerdasan yang berperan
sebagai landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif.
Bahkan SQ merupakan kecerdasan tertinggi dalam diri seseorang. SQ bagi bidan
adalah inti dari segala intelejensia. Kecerdasan ini digunakan untuk
menyelesaikan masalah kaidah dan nilai-nilai spiritual. Dengan adanya
kecerdasan ini, seorang bidan akan mampu membawa dirinya untuk mencapai
kebahagiaan yang hakiki, karena dia memiliki kepercayaan di dalam dirinya, dan
juga bisa melihat apa potensi dalam dirinya. Intinya, bagaimana dia bisa melihat
hal itu. Seorang bidan tidak hanya dituntut berkerja sebagai pengabdian kepada
masyarakat dalam upaya pelayanan prima, tetapi juga dituntut mampu menjaga dan
mensejahterakan keluarganya, dan lebih utama dari pekerjaan dan keluarga adalah
pengabdian kepada sang pencipta, Tuhan Yang Maha Esa.
Peran seorang bidan di bidang kesehatan khususnya pelayanan
kesehatan ibu dan anak serta kesehatan reproduksi perempuan sangatlah
dibutuhkan masyarakat. Ketika memberikan pelayanan, bidan tidak lagi mengenal
istilah siapa, kapan dan dimana. Pengabdian mereka sangatlah tinggi. Untuk itu
dalam melaksanakan tugas dan fungsinya di masyarakat, bidan harus memiliki IQ yang mapan, EQ yang
stabil, dan SQ yang terpelihara. Ketiganya harus selaras dan seimbang untuk
membentuk pribadi bidan yang mampu secara proporsional, bersinergi, dan menghasilkan
kekuatan jiwa-raga yang penuh keseimbangan. Sehingga mampu menjalankan tugas
mulia seorang bidan.
Artikel ini ditulis sebagai salah satu persyaratan dalam pendaftaran
beasiswa data print






