Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Minggu, 22 Desember 2013

Selamat Hari Ibu….



         Semuanya terdengar menakjubkan, mengetahui bahwa ada orang yang rela mati demi orang lain yang baru dan tiba-tiba hadir dalam kehidupannya. Menyayanginya tanpa banyak syarat, terkadang bisa marah, namun hanya sekejab mata dan cintanya kembali muncul tanpa kendali. Sulit membayangkannya memang, ketika kita belum menjadi seorang ibu. Saat ini aku hanya bisa menjadi seorang pendengar. Mendengarkan cerita dari mereka yang dengan bangga mengatakan bahwa mereka adalah calon ibu atau seorang ibu. Dalam sebuah penantian yang melelahkan, di tengah rasa sakit dan kantuk yang tak tertahankan, banyak cerita yang mereka bagi bersamaku.
Tentang bagaimana seorang wanita melawan diagnose medis dan tetap memilih hamil untuk kebahagiaan suami dan keluarganya. Bagaimana pengorbanan seorang wanita untuk hamil dan melahirkan berkali-kali demi menghadirkan bayi laki-laki dalam keluarganya. Kekahwatiran mendalam yang dirasakan seorang calon ibu. “Apakah sakitku akan mengganggu pertumbuhan dan perkembanganmu dalam rahimku?” Kasih sayang dan kekuatan ekstra yang tiba-tiba muncul entah dari mana asalnya, semuanya diberikan hanya untuk bayinya yang terkulai lemas dalam ruang perawatan. Mereka tersenyum, bahagia, dan meneteskan air mata ketika berhasil membawa buah hatinya ke dunia ini dengan selamat. Tangisan kuat dari sang buah hati adalah penghargaan terindah yang mereka inginkan. Semua rasa sakit dan lelah yang dirasakan hilang seketika. Berganti menjadi kebahagiaan dan senyum hangat ketika sosok bayi mungil berada dalam dekapannya.
Suatu hari nanti aku akan merasakan apa yang tengah dirasakan wanita-wanita ini. Merasakan bahwa tak ada yang lebih indah di dunia ini dibandingkan melihat seseorang tersenyum dalam dekapanku. Merasakan bahwa panas tubuhku menjadi sumber kehangatan yang murni. Membangun pagi ketika ia belum bangun. Merasakan betapa susahnya untuk tidur di malam hari dan betapa mudahnya bagun di pagi hari. Menjadikan sosok mungil dalam dekapanku menjadi sosok yang sempurna.
Ku berikan selamat atas kesuksesan kalian, atas pengalaman indah yang telah kalian bagi denganku, dan atas semua kasih sayang yang telah kalian sebarkan,..
 Selamat hari ibu…. 



Jumat, 08 November 2013

Seperti Apakah Ikhlas Itu?



Ikhlas seperti surat Al-Ikhlas,
yang tidak ada  kata ikhlas didalamnya.
Selama ikhlas masih terucap,
itu berarati belum ikhlas
Karena hanya dia yang ikhlas,
yang senantiasa berbuat tanpa pernah menyebut keihlasannya.

 http://www.2mfm.org/pictures/data/media/16/surat_al_ikhlas.jpg

Minggu, 20 Oktober 2013



Mulutku selalu berkata “Aku pasti bisa melewatinya”
Hatiku selalu berkeyakinan kalau aku bisa menyelesaikannya sampai akhir
Entah mulutku yang pandai berkata-kata
Atau diriku yang terlalu sombong
Menganggap bahwa aku mampu melewati semua ini, seberat apapun
Hidup ini penuh dengan kemunafikan
Dan Aku hidup dalam kemunafikan ini
Bahkan aku telah mendustai diriku sendiri


Rabu, 16 Oktober 2013

Dia, Si Penguasa…

Aku duduk di dalam kamar kos ku. Di atas tempat tidur kecil yang selama beberapa hari ini telah menjadi alas tidurku. Saat ini, kurasakan lelah yang amat sangat mendera tubuhku, pikiranku kacau. Semuanya bermula dari kejadian tadi pagi. Ketika dia datang dan meluapkan semua amarahnya kepadaku. Dia marah, tanpa alasan yang jelas. Dia berkata kalau ini semua karenaku, karena aku yang memimpin teman-temanku. Siapa yang memimpin dan apa yang dipimpin? Aku bahkan baru menampakkan wajahku didepannya. Dan dia sudah mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan untukku.
Sedari tadi aku ingin menanggis, air mataku sudah ingin tumpah. Tidak, aku tidak boleh menangis, air mataku tidak boleh jatuh. Kalau aku menangis, berarti aku kalah dan dia menang. Dia yang selalu merasa benar telah memandangku hina sejak satu tahun lalu. Saat itu aku memang telah melakukan kesalahan. Bukankah orang lain juga pernah melakukan kesalahan. Dan aku telah memperbaiki kesalahanku sama seperti orang lain memperbaiki kesalahannya. Aku sama seperti orang lain, seperti teman-temanku. Tapi kenapa dia harus memperlakukanku berbeda? Apa karena aku memiliki sedikit keberanian untuk mengungkapkan pendapatku. Dia mengatakan aku sudah terlalu pintar hingga mampu mengatur dirinya. Siapa yang mengatur siapa? Bukankah dia yang selalu mendikte semua orang dibawahnya. Hingga mereka tunduk dihadapannya dan mengikuti kata-katanya.
Di sini, di tempat yang dipimpinnya. Dia mengekangku, mengikatku dengan peraturan-peraturan konyol dan membatasi ruang gerakku. Dia tidak pernah tau bagaimana perjuanganku untuk menjalani kehidupanku saat ini. Semuanya terasa berat, dan bertambah berat karena perlakuannya. Dia tidak pernah tau, bahwa aku menempuh perjalanan panjang untuk menemukan jati diriku. Susah payah aku membagun kepercayaan diriku. Hingga akhirnya aku bisa memiliki kemampuan yang bisa aku banggakan, adikaryaku. Adikarya yang hanya dipandang sebelah mata olehnya. Bakhan tak akan pernah bisa dihargai olehnya. Dia tidak berhak memperlakukanku seperti ini. Akan kubuktikan, bahwa aku bisa bertahan menghadapinya. 

Tgl. 16 Oktober 2013

Senin, 07 Oktober 2013

“Ngejot”
oleh: Fifin Diah Olivianti
           
Sudah dua puluh tahun wanita muslim itu tinggal di Bali. Seperti biasa, tiap kali menjelang Hari Raya Idul Fitri ia akan sibuk memasak berbagai makan di dapurnya. Makanan khas lebaran, seperti ketupat, opor ayam, sambal goreng udang, ati dan kentang, sayur labu, dan beberapa kue kering. Begitu pulang dari masjid seusai sholat Id, wanita muslim ini dan anak-anaknya akan sibuk membagikan makanan dan kudapan yang telah dibuatnya. “Nduk, anterin makanan ini ke rumah Bu Made, terus yang ini buat Pak Putu ya,” ucapnya kepada sang anak.
Pemeluk Hindu di Bali sedang mempersiapkan gebogan 
untuk persembahyangan. Setelah dihaturkan, 
isi gebogan akan dijod kepada tetangga sekitar.
Masyarakat Bali mengenal kegiatan semacam ini dengan istilah ngejot, yang bisa diartikan sebagai sebuah pemberian kepada orang lain atau warga sekitar dalam rangka sebuah hajatan (kegiatan). Biasanya yang di-jot atau sesuatu yang diberikan berupa makanan terkait dengan adanya suatu acara adat atau upacara tertentu yang dilaksanakan oleh seseorang atau keluarga. Tradisi ngejot ini sudah berlangsung turun-temurun dan awalnya adalah tradisi pemeluk Hindu di Bali. Ngejot umum dilakukan ketika hendak merayakan Hari Raya Nyepi, Galungan, dan Kuningan. Secara sukarela dan menyesuaikan dengan situasi, umat Hindu saling memberikan makanan kepada tetangga dan kerabat. Seiring dengan kemajemukan agama yang masuk ke Pulau Dewata, ngejot tidak lagi hanya dilakukan oleh umat Hindu. Tradisi ini kemudian berkembang dan diadaptasi pada setiap perayaan hari raya yang dimiliki masing-masing agama. Ngejotpun tidak hanya dilakukan kepada orang yang memiliki agama yang sama dengan orang atau keluarga yang memiliki gawe.
Ngejot menjelang Hari Raya Idul Fitri misalnya. Setiap tahunnya pasti banyak umat Islam merayakan lebaran di Bali. Mereka adalah para perantau yang tidak pulang kampung dan mereka yang memang kampung halamannya di Bali karena mereka lahir dan besar di sini. Muslim yang kampung halamannya di Bali, fasih berbahasa Bali, dan gradag-grudug dengan orang-orang Bali ini telah dianggap sebagai sanak-saudara oleh orang Bali setempat. Muslim ini disebut sebagai nyama selam (saudara Islam). Nyama selam tersebar di seluruh pelosok Bali. Antara lain mereka yang ada di Pegayaman (Buleleng), Budakeling dan Seraya (Karangasem), Pemogan dan Serangan (Denpasar), Mregan dan Gelgel (Klungkung), beberapa desa di Jembrana. Di hampir semua kabupaten di Bali bisa dijumpai pemukiman Islam yang disebut Kampung Jawa.
Perempuan Muslim yang ngejod kue khas lebaran kepada tetangganya yang beragama Hindu
Prilaku nyama selam dalam merayakan lebaran dalam prosesnya tentu telah berbaur dengan budaya setempat. Menjelang Hari Raya Idul Fitri atau setelah Sholat Id, umat muslim akan ngejot makanan khas lebaran kepada tetangga sekitar rumahnya tidak peduli Muslim atau non-Muslim. Pemberian jotan ini akan dibalas lain waktu ketika orang yang diberikan jot sedang memiliki hajatan atau melaksanakan suatu upacara adat/agama tertentu. Biasanya umat Hindu akan membalas jotan menjelang Hari Raya Nyepi atau Hari Raya Galungan dan Kuningan. Sedangkan umat Kristen akan membalas jotan menjelang Hari Raya Natal. 
Orang-orang Bali tidak pernah lupa ngejot ketika memiliki gawe. Ngejot antar umat berbeda agama juga masih tetap dilakukan. Misalnya di daerah dengan komunitas muslim seperti Desa Pegayaman (Buleleng) yang dikenal sebagai Desa Muslim, Desa Soka di Selatan Gunung Batukaru, di daerah Kuta, Kampung Islam Kepaon (Denpasar) dan di daerah dengan mayoritas penduduknya beragama Kristen seperti Desa Bongan (Tabanan) dan Desa Dalung (Badung).

Setelah isi gebogan di haturkan dalam  proses persembahyangan,
pemeluk Hindu akan membagi isi gebogan untuk di jod ke tetangga 
Sebagai tradisi, ngejot sudah dilakukan masyarakat Bali sejak lama dan hingga kini masih tetap lestari. Bahkan ketika masyarakat Indonesia dibeberapa daerah lain disibukkan dengan berbagai macam konflik bernuansa agama, orang-orang Bali masih tetap bisa hidup berdampingan ditengah perbedaan yang ada. Masih jelas terekam dalam ingatan masyarakan Indonesia beberapa konflik bernuansa agama maupun konflik sosial berkedok agama yang sempat terjadi di negara ini. Di tahun 1996 tercatat beberapa konflik seperti kerusuhan di Situbondo tanggal 10 Oktober, di Tasikmalaya 26 Desember, dan Tragedi Mei pada tanggal 13-15 Mei yang terjadi di Jakarta, Solo, Surabaya, Palembang, Medan, beserta peristiwa-peristiwa kerusuhan lainnya. Berikutnya, kasus konflik sosial berlatar belakang agama di Ambon (1999-2002), pembakaran gereja di Halmahera pada 14-15 Agustus 2002, konflik Poso pada Desember 2003, penyerangan terhadap Huriah Kristen Batak Protestan (H.K.P.B) dan penyerangan terhadap rumah-rumah pengikut Ahmadiyah di Lombok pada September 2002. Kasus baru yang muncul akhir-akhir ini adalah konflik di Sampang Madura pada September 2012,  di Lampung Selatan akhir Oktober 2012 dan pembakaran rumah di Sumbawa 22 Januari 2013.
Mencuatnya aksi-aksi kekerasan yang berbalut konflik agama tersebut membuat masyarakat Indonesia diliputi keresahan dan kewaspadaan. Situasi seperti ini diibaratkan sebagai rumput-rumput kering di musim kemarau yang jika penyulutnya datang dapat terbakar dengan mudah kapan saja. Dan saat itulah, kemudian muncul berbagai sentimen-sentimen negatif tertentu di kalangan masyarakat. Ketika keadaan seperti itu sudah terjadi, sebuah goresan kecil saja dapat menciptakan konflik yang mengatas namakan agama. Hal ini dapat dilihat dari pemicu-pemicu konflik yang sepele akan tetapi dapat menciptakan suatu konflik kekerasan yang besar dan melibatkan banyak masa.
Kemajemukan masyarakat Indonesia dalam hal agama, sebenarnya tidak dapat dijadikan sebagai faktor pemicu terjadinya konflik yang lahir dari perbedaan agama ataupun konflik yang sengaja diciptakan atas nama Tuhan. Mengingat bahwa antar pemeluk agama di Indonesia telah dihubungkan oleh suatu hubungan yang harmonis. Misalnya melalui budaya daerah setempat yang telah diwariskan turun-temurun. Masyarakat Bali telah membuktikannya. Melalui sebuah tradisi sederhana “Ngejod”. Mereka belajar untuk hidup saling menghargai, saling bertoreransi, dan hidup rukun antar masyarakatnya. Ngejot tidak hanya sekedar mengantarkan dan memberikan makanan kepada orang lain. Orang yang ngejot sebenarnya melakukan silaturahmi kepada orang yang di jot sehingga tetap terjalin keakraban antarumat beragama dalam kehidupan sehari-hari. Tradisi ini adalah salah satu bukti nyata yang jelas-jelas mempertontonkan keharmonisan antarumat beragama di Pulau Dewata. Tradisi sederhana yang tentu penting untuk menumbuhkan dan mempertahankan toleransi antarumat beragama.
Di Bali yang penduduknya mayoritas Hindu, banyak kisah menarik tentang kehidupan toleransi beribadah bisa diperoleh. Selain ngejot, umat Kristen di Desa Bongan (Tabanan) juga menancapkan penjor di dapat rumah ketika merayakan Natal. Kegiatan serupa juga dilakukan di Palasari (Jembrana). Pemeluk Budha, dari keturunan Tionghoa, menghaturkan canang saat purnama. Tahun 1991, Nyepi jatuh pada hari Minggu, bertepatan dengan 1 Ramadhan, saat umat Islam mulai melakukan ibadah puasa, sementara umat Nasrani pergi sembahyang ke gereja. Tahun 1993, Nyepi berlangsung Hari Rabu, 24 Maret, bersamaan dengan malam takbiran. Beberapa kali perayaan lebaran menjadi peristiwa unik di Bali ketika berbarengan dengan Nyepi. Selain itu, tentu pernah beberapa kali terjadi Nyepi di hari Jumat. Umat Hindu tentu menginginkan suasana benar-benar sepi ketika Nyepi, tak ada orang lalu lalang di jalan raya. Tapi bagaimana dengan umat Kristen yang harus ke gereja dan kaum muslim yang akan ke masjid?
Tahun 1991 umat Kristen ke gereja cukup di pagi hari. Beruntungnya Natal selalu jatuh di Bulan Desember, dan Nyepi biasanya di seputar Maret atau April, tentu tak pernah terjadi Nyepi berbarengan dengan Natal. Tahun 1993 takbiran pun ditiadakan, demi menghargai umat Hindu yang tengah melakoni hari raya Nyepi sipeng. Tahun itu umat muslim diminta ke masjid terdekat sehingga bisa jalan kaki, tak perlu naik motor. Pengurus masjid dihimbau tidak menggunakan pengeras suara ketika mengumandangkan adzan. Pernah juga suatu ketika di Bulan Desember 2010, masyarakat Bali secara bersamaan merayakan Galungan dan Natal. Saat itu adalah Desember yang sangat istimewa bagi umat Hindu dan Kristiani di Pulau Dewata. Tanpa sekat mereka saling menyama braya (gotong royong) demi berbagai kebahagian dan kasih. Dengan begitu masyarakat Bali meskipun berbeda agama, namun tetap bisa hidup berdampingan dengan aman dan damai.
Rasa saling menghargai dan juga saling memiliki muncul begitu saja karena sudah tertanam dalam tadisi dan budaya masyarakat Bali itu sendiri. Bertahannya tradisi dan budaya daerah seperti ngejot, menyebabkan toleransi antar umat beragama tetap berjalan baik. Inilah salah satu potret kerukunan antar umat beragama di Bali yang sudah mendarah daging dan menjadi lantunan tradisi positif selama ratusan tahun lamanya. Secara tidak langsung, tradisi ngejot telah memberikan dampak positif dalam memantapkan kerukunan hidup beragama yang telah terwujud selama ini.
Sebuah tradisi yang bermakna “mari saling menghargai dan juga saling memiliki bersama.” Ini selaras dengan filosofi tat wam asi, yang diartikan sebagai “aku adalah kamu dan kamu adalah aku”, yang mengajarkan bahwa pada hakikatnya hubungan antarmanusia adalah sederajat. Filosofi ngejot ini semakin memperkuat rasa kebersamaan masyarakat, tidak perduli dari mana rasnya, sukunya, dan apa agamanya, mereka cepat merasakan senasib sepenanggungan. Sebenarnya secara umum sifat orang Indonesia khususnya di Bali adalah saling tolong menolong dan saling berbagi, dan tradisi ngejot ini adalah salah satu bukti nyatanya. Orang Bali harus bersyukur mempunyai tradisi ngejot yang dapat dijadikan tonggak untuk lebih menciptakan kemesraan dan tali persaudaraan antara umat beragama di Pulau Dewata. Menjadikan Bali sebagai pulau yang penuh kedamaian…Santhi, santhi, santhi (damai, damai, damai).