“Ngejot”
oleh:
Fifin Diah Olivianti
Sudah dua puluh tahun
wanita muslim itu tinggal di Bali. Seperti biasa, tiap kali menjelang Hari Raya
Idul Fitri ia akan sibuk memasak berbagai makan di dapurnya. Makanan khas
lebaran, seperti ketupat, opor ayam, sambal goreng udang, ati dan kentang,
sayur labu, dan beberapa kue kering. Begitu pulang dari masjid seusai sholat
Id, wanita muslim ini dan anak-anaknya akan sibuk membagikan makanan dan
kudapan yang telah dibuatnya. “Nduk,
anterin makanan ini ke rumah Bu Made, terus yang ini buat Pak Putu ya,” ucapnya
kepada sang anak.
 |
Pemeluk
Hindu di Bali sedang mempersiapkan gebogan
untuk persembahyangan. Setelah dihaturkan,
isi gebogan akan dijod kepada
tetangga sekitar.
|
Masyarakat Bali
mengenal kegiatan semacam ini dengan istilah ngejot, yang bisa diartikan sebagai sebuah pemberian kepada orang
lain atau warga sekitar dalam rangka sebuah hajatan (kegiatan). Biasanya yang
di-jot atau sesuatu yang diberikan
berupa makanan terkait dengan adanya suatu acara adat atau upacara tertentu
yang dilaksanakan oleh seseorang atau keluarga. Tradisi ngejot ini sudah berlangsung turun-temurun dan awalnya adalah
tradisi pemeluk Hindu di Bali. Ngejot
umum dilakukan ketika hendak merayakan Hari Raya Nyepi, Galungan, dan Kuningan.
Secara sukarela dan menyesuaikan dengan situasi, umat Hindu saling memberikan
makanan kepada tetangga dan kerabat. Seiring dengan kemajemukan agama yang
masuk ke Pulau Dewata, ngejot tidak
lagi hanya dilakukan oleh umat Hindu. Tradisi ini kemudian berkembang dan
diadaptasi pada setiap perayaan hari raya yang dimiliki masing-masing agama. Ngejotpun tidak hanya dilakukan kepada
orang yang memiliki agama yang sama dengan orang atau keluarga yang memiliki gawe.
Ngejot
menjelang Hari Raya Idul Fitri misalnya. Setiap tahunnya pasti banyak umat
Islam merayakan lebaran di Bali. Mereka adalah para perantau yang tidak pulang
kampung dan mereka yang memang kampung halamannya di Bali karena mereka lahir
dan besar di sini. Muslim yang kampung halamannya di Bali, fasih berbahasa
Bali, dan gradag-grudug dengan
orang-orang Bali ini telah dianggap sebagai sanak-saudara oleh orang Bali
setempat. Muslim ini disebut sebagai nyama
selam (saudara Islam). Nyama selam
tersebar di seluruh pelosok Bali. Antara lain mereka yang ada di Pegayaman
(Buleleng), Budakeling dan Seraya (Karangasem), Pemogan dan Serangan
(Denpasar), Mregan dan Gelgel (Klungkung), beberapa desa di Jembrana. Di hampir
semua kabupaten di Bali bisa dijumpai pemukiman Islam yang disebut Kampung
Jawa.
 |
Perempuan
Muslim yang ngejod kue khas lebaran
kepada tetangganya yang beragama Hindu
|
Prilaku nyama selam dalam merayakan lebaran
dalam prosesnya tentu telah berbaur dengan budaya setempat. Menjelang Hari Raya
Idul Fitri atau setelah Sholat Id, umat muslim akan ngejot makanan khas lebaran kepada tetangga sekitar rumahnya tidak
peduli Muslim atau non-Muslim. Pemberian jotan
ini akan dibalas lain waktu ketika orang yang diberikan jot sedang memiliki hajatan atau melaksanakan suatu upacara
adat/agama tertentu. Biasanya umat Hindu akan membalas jotan menjelang Hari Raya Nyepi atau Hari Raya Galungan dan
Kuningan. Sedangkan umat Kristen akan membalas jotan menjelang Hari Raya Natal.
Orang-orang
Bali tidak pernah lupa ngejot ketika
memiliki gawe. Ngejot antar umat berbeda agama juga masih tetap dilakukan. Misalnya
di daerah dengan komunitas muslim seperti Desa Pegayaman (Buleleng) yang
dikenal sebagai Desa Muslim, Desa Soka di Selatan Gunung Batukaru, di daerah
Kuta, Kampung Islam Kepaon (Denpasar) dan di daerah dengan mayoritas
penduduknya beragama Kristen seperti Desa Bongan (Tabanan) dan Desa Dalung
(Badung).
 |
Setelah isi gebogan di haturkan dalam proses persembahyangan,
pemeluk Hindu akan
membagi isi gebogan untuk di jod ke tetangga
|
Sebagai
tradisi, ngejot sudah dilakukan masyarakat
Bali sejak lama dan hingga kini masih tetap lestari. Bahkan ketika masyarakat
Indonesia dibeberapa daerah lain disibukkan dengan berbagai macam konflik
bernuansa agama, orang-orang Bali masih tetap bisa hidup berdampingan ditengah
perbedaan yang ada. Masih jelas terekam dalam ingatan masyarakan Indonesia beberapa konflik bernuansa agama
maupun konflik sosial berkedok agama yang sempat terjadi di negara ini. Di
tahun 1996 tercatat beberapa konflik seperti kerusuhan di Situbondo tanggal 10
Oktober, di Tasikmalaya 26 Desember, dan Tragedi Mei pada tanggal 13-15 Mei
yang terjadi di Jakarta, Solo, Surabaya, Palembang, Medan, beserta
peristiwa-peristiwa kerusuhan lainnya. Berikutnya, kasus konflik sosial
berlatar belakang agama di Ambon (1999-2002), pembakaran gereja di Halmahera
pada 14-15 Agustus 2002, konflik Poso pada Desember 2003, penyerangan terhadap
Huriah Kristen Batak Protestan (H.K.P.B) dan penyerangan terhadap rumah-rumah
pengikut Ahmadiyah di Lombok pada September 2002. Kasus baru yang muncul
akhir-akhir ini adalah konflik di Sampang Madura pada September 2012, di Lampung Selatan akhir Oktober 2012 dan
pembakaran rumah di Sumbawa 22 Januari 2013.
Mencuatnya
aksi-aksi kekerasan yang berbalut konflik agama tersebut membuat masyarakat
Indonesia diliputi keresahan dan kewaspadaan. Situasi seperti ini diibaratkan
sebagai rumput-rumput kering di musim kemarau yang jika penyulutnya datang
dapat terbakar dengan mudah kapan saja. Dan saat itulah, kemudian muncul
berbagai sentimen-sentimen negatif tertentu di kalangan masyarakat. Ketika
keadaan seperti itu sudah terjadi, sebuah goresan kecil saja dapat menciptakan
konflik yang mengatas namakan agama. Hal ini dapat dilihat dari pemicu-pemicu
konflik yang sepele akan tetapi dapat menciptakan suatu konflik kekerasan yang
besar dan melibatkan banyak masa.
Kemajemukan
masyarakat Indonesia dalam hal agama, sebenarnya tidak dapat dijadikan sebagai
faktor pemicu terjadinya konflik yang lahir dari perbedaan agama ataupun
konflik yang sengaja diciptakan atas nama Tuhan. Mengingat bahwa antar pemeluk
agama di Indonesia telah dihubungkan oleh suatu hubungan yang harmonis.
Misalnya melalui budaya daerah setempat yang telah diwariskan turun-temurun. Masyarakat
Bali telah membuktikannya. Melalui sebuah tradisi sederhana “Ngejod”. Mereka belajar untuk hidup saling
menghargai, saling bertoreransi, dan hidup rukun antar masyarakatnya. Ngejot tidak hanya sekedar mengantarkan
dan memberikan makanan kepada orang lain. Orang yang ngejot sebenarnya melakukan silaturahmi kepada orang yang di jot sehingga tetap terjalin keakraban
antarumat beragama dalam kehidupan sehari-hari. Tradisi ini adalah salah satu
bukti nyata yang jelas-jelas mempertontonkan keharmonisan antarumat beragama di
Pulau Dewata. Tradisi sederhana yang tentu penting untuk menumbuhkan dan
mempertahankan toleransi antarumat beragama.
Di Bali yang
penduduknya mayoritas Hindu, banyak kisah menarik tentang kehidupan toleransi
beribadah bisa diperoleh. Selain ngejot,
umat Kristen di Desa Bongan (Tabanan) juga menancapkan penjor di dapat rumah ketika merayakan Natal. Kegiatan serupa juga
dilakukan di Palasari (Jembrana). Pemeluk Budha, dari keturunan Tionghoa,
menghaturkan canang saat purnama. Tahun 1991, Nyepi jatuh pada hari Minggu,
bertepatan dengan 1 Ramadhan, saat umat Islam mulai melakukan ibadah puasa,
sementara umat Nasrani pergi sembahyang ke gereja. Tahun 1993, Nyepi berlangsung
Hari Rabu, 24 Maret, bersamaan dengan malam takbiran. Beberapa kali perayaan
lebaran menjadi peristiwa unik di Bali ketika berbarengan dengan Nyepi. Selain
itu, tentu pernah beberapa kali terjadi Nyepi di hari Jumat. Umat Hindu tentu
menginginkan suasana benar-benar sepi ketika Nyepi, tak ada orang lalu lalang
di jalan raya. Tapi bagaimana dengan umat Kristen yang harus ke gereja dan kaum
muslim yang akan ke masjid?
Tahun 1991 umat Kristen
ke gereja cukup di pagi hari. Beruntungnya Natal selalu jatuh di Bulan
Desember, dan Nyepi biasanya di seputar Maret atau April, tentu tak pernah
terjadi Nyepi berbarengan dengan Natal. Tahun 1993 takbiran pun ditiadakan,
demi menghargai umat Hindu yang tengah melakoni hari raya Nyepi sipeng. Tahun itu umat muslim diminta ke masjid terdekat
sehingga bisa jalan kaki, tak perlu naik motor. Pengurus masjid dihimbau tidak
menggunakan pengeras suara ketika mengumandangkan adzan. Pernah juga suatu ketika di Bulan
Desember 2010, masyarakat Bali secara bersamaan merayakan Galungan dan Natal.
Saat itu adalah Desember yang sangat istimewa bagi umat Hindu dan Kristiani di Pulau
Dewata. Tanpa sekat mereka saling menyama
braya (gotong royong) demi berbagai kebahagian dan kasih.
Dengan begitu masyarakat Bali meskipun berbeda agama, namun tetap bisa hidup
berdampingan dengan aman dan damai.
Rasa saling menghargai
dan juga saling memiliki muncul begitu saja karena sudah tertanam dalam tadisi dan
budaya masyarakat Bali itu sendiri. Bertahannya tradisi dan budaya daerah
seperti ngejot, menyebabkan toleransi
antar umat beragama tetap berjalan baik. Inilah salah satu potret kerukunan antar umat beragama di
Bali yang sudah mendarah daging dan menjadi lantunan tradisi positif selama
ratusan tahun lamanya. Secara tidak langsung, tradisi ngejot telah memberikan dampak positif dalam
memantapkan kerukunan hidup beragama yang telah terwujud selama ini.
Sebuah tradisi yang
bermakna “mari saling menghargai dan juga saling memiliki bersama.” Ini selaras
dengan filosofi tat wam asi, yang
diartikan sebagai “aku adalah kamu dan kamu adalah aku”, yang mengajarkan bahwa
pada hakikatnya hubungan antarmanusia adalah sederajat. Filosofi ngejot ini semakin memperkuat rasa
kebersamaan masyarakat, tidak perduli dari mana rasnya, sukunya, dan apa
agamanya, mereka cepat merasakan senasib sepenanggungan. Sebenarnya secara umum
sifat orang Indonesia khususnya di Bali adalah saling tolong menolong dan
saling berbagi, dan tradisi ngejot
ini adalah salah satu bukti nyatanya. Orang Bali harus bersyukur mempunyai
tradisi ngejot yang dapat dijadikan
tonggak untuk lebih menciptakan kemesraan dan tali persaudaraan antara umat
beragama di Pulau Dewata. Menjadikan Bali sebagai pulau yang penuh kedamaian…Santhi, santhi, santhi (damai,
damai, damai).