Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Sabtu, 06 Juni 2015

INTERMEZO
(Minggu, 6-6-2015)

Tak terasa, langit mulai menghitam. Kulihat senja seperti berpamitan pada dunia, karena siang akan berganti menjadi malam. Aku melihat kerumunan remaja sedang berbagi tertawa dan cerita. Mereka semua menampakan wajah bahagia. Senang kulihat mereka riang, tenteram, kulihat mereka girang. Mereka seolah tak peduli dengan hari yang sudah mulai petang, dengan langit yang kini tak lagi terang.
Empat tahun lalu kami mulai dipertemukan. Aku mengingat kembali segala kilasan memori itu. Kali pertama aku bertemu dengan mereka, berbagai pikiran melayang dikepala kecilku. Ada rasa mau-tidak mau untuk berbaur. Kalau bukan karena kami satu jurusan yang sama, kalau bukan karena kami akan tinggal di bawah atap yang sama. Aku tak akan terlalu memaksakan diriku, mengenal mereka dalam waktu yang singkat. Lalu aku tetap ada di zona nyamanku, sendiri, dengan kenangan masa SMAku.
Di sini, bersama salah satu dari mereka. Duduk berdua menikmati suasana malam minggu sambil kembali mengingat masa lalu. Meski satu tahun telah berlalu, tak banyak yang berubah. Aku dengan kesendirianku dan dia dengan selera pedasnya. 'Hari' mulai bercerita, mengenang kembali kali pertama dia dan 'Nini' memanjat pohon mangga yang tumbuh di depan asrama. Tak memperdulikan tatapan keheranan kakak tingkat, beberapa buah mangga berhasil dijatuhkan. Di kamar, telah menanti bumbu rujak yang menggiurkan. Siang hari selalu terasa menyenangkan, menikmati rujak pedas bersama. Hingga terdengar teriakan kakak kelas yang mengejutkan. Membuat kita bergegas menyudahi kegiatan 'ngerujak ala 203'.
Kulihat 'Hari' meneguk minumannya menghilangkan rasa pedas dimulutnya. 'Hari' kembali menceritakan kenangan yang melekat dipikirannya. Satu malam yang diingatnya adalah malam ketika kita membantu 'Mayun' menyelesaikan masalahannya dengan sang pacar. Atau malam ketika kita dikejutkan dengan suara plavon kamar yang jatuh. Tak lupa ritual jerit malam yang kita lakukan menjelang tidur.
Tentu saja semua yang diceritakannya masih kuingat dengan jelas. Membekas dalam ingatanku siapa saja mereka. 'Lunas' tak pernah marah dan selalu menjadi pendengar yang baik. 'Ipin' yang pendiam namun ketika mulutnya terbuka, perkataan tajam dan menusuk membuat kita terperangah. 'Punyan' senang mengarang cerita-cerita seram dan ekstrim yang selalu berakhir dengan selamatnya dirinya sendiri. 'Tude' yang terus berkutat dengan diktat-diktatnya. 'Mayun', jabatan ketua asrama diawal tahun membuatnya galau setengah mati. 'Yati', 'Hari', 'Nini', tiga sekawan ini selalu heboh dengan cerita mereka. Fasion, kuliner, make up, tempat wisata, cerita cinta, mereka ahlinya. Dan 'Lumen' yang entah kenapa sikapnya terasa selalu menyebalkan.
Kulihat kerumunan remaja itu masih mengobrol dengan asiknya. Menertawakan sesuatu yang entah apapun itu. Aku jadi ingat saat kami tertawa bersama. Berceloteh ria dan bergembira hanya karena candaan biasa. Selalu ada cerita menarik setiap harinya. Aku ingat setiap hal yang kita lalui bersama. Waktu yang telah kami habiskan mulai matahari terbit hingga tenggelam.
Saat salah satu dari kita terbaring sakit di dalam kamar, meski hanya sakit sederhana, sekedar batuk, pilek, panas, atau badan lemas kelelahan. Siapa yang sibuk mengingatkan untuk istirahat dan minum obat? Yang selalu ada dan rela direpotkan untuk mengambil makanan, membuatkan bubur, atau menyeduhkan minuman hangat. Tentu saja jawabanya teman satu kamarmu.
Sembari menikmati makanan, kulihat beberapa foto yang tersimpan dalam memori handponeku. Aku tersenyum, tertawa tiap kali melihat berbagai ekspresi dan gaya yang kita abadikan melalui beberapa jepret foto.
Masih kuingat bagaimana saat kita disibukkan dengan berbagai tugas, laporan, target, latihan lab, praktik, dan ujian. Tak jarang hingga malam hari kita masih berkutat dengan semua hal itu. Meski lelah dan kantuk kita rasakan, namun dosen tak menerima alasan apapun. Hanya bersama kami dapat berjuang, dengan saling berpegangan, menyemangati satu sama lain, dan semuanya terasa akan segera usai.
Aku tertawa melihat 'Hari' yang kebingungan dengan rasa pedas yang dirasakannya. Sepertinya makanan yang dipesan terlalu pedas untuknya. Kulihat ke arah kerumunan remaja tadi, rupanya mereka sudah tak ada. Berganti dengan pengunjung lain. Aku dan 'Hari' terdiam, menikmati suasana tempat ini. Terasa dingin angin malam yang menerbangkan anak rambutku. Membuatku mengenakan jaket yang sedari tadi terdiam disisi tempat dudukku. Rupanya waktu telah berlalu. Aku dan 'Hari' mengakhiri makan malam ini. Kuantarkan dia sampai rumahnya sambil membicarakan beberapa hal sepanjang perjalanan. Dan berakhirlah pertemuan ini. Ditemani alunan lagu sahabat kecil dari Ipang, aku pulang kembali ke rumah.
Sepanjang perjalanan, aku masih teringat semua kebersamaan yang pernah kulalui bersama mereka. Dari segala kebersamaan itu, jauh di dalam lubuk hatiku tersimpan rasa khawatir. Esok satu persatu dari mereka akan sukses dengan urusannya, menikah dan berkeluarga sesuai jalan hidup mereka. Esok, masih sempatkah kita pergi bersama seperti masa-masa kala itu? Bahkan saat ini, setahun setelah perpisahan itu, kebersamaan itu mulai memudar.
Bukankah terdengar lucu? Orang-orang yang dulu asing, saat ini menjadi orang pertama yang kuingat dalam kesepianku. Aku hanya tak ingin, mereka yang dulu pernah dekat denganku, tertawa bersamaku, esok akan berubah menjadi asing.

Sahabat Kecil 
(Ipang)

Baru saja berakhir
Hujan di sore ini
Menyisakan keajaiban
Kilauan indahnya pelangi

Tak pernah terlewatkan
Dan tetap mengaguminya
Kesempatan seperti ini
Tak akan bisa di beli

Bersamamu kuhabiskan waktu
Senang bisa mengenal dirimu
Rasanya semua begitu sempurna
Sayang untuk mengakhirinya

Melawan keterbatasan
Walau sedikit kemungkinan
Tak akan menyerah untuk hadapi
Hingga sedih tak mau datang lagi

Bersamamu kuhabiskan waktu
Senang bisa mengenal dirimu
Rasanya semua begitu sempurna
Sayang untuk mengakhirinya

Janganlah berganti
janganlah berganti
janganlah berganti
Tetaplah seperti ini

janganlah berganti
janganlah berganti
Tetaplah seperti ini