Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Senin, 16 September 2013

Keumala -- Namamu Keumala


Namamu Keumala
Engkau hidup di antara terang dan gelap
Terang memeberimu kesempatan untuk mengenal gelap
Dan gelap memeberiku kesempatan untuk tetap bertahan dalam keindahan maknanya
Ya, namamu Keumala
Kau bersahabat dengan munculnya cahaya dan hilangnya cahaya
Hadirnya matahari yang kelasa dan bulan yang begitu lembut
Serta kesetiaan langit menemani keduanya

Iya Langit, namaku Keumala
Aku berangkat menyongsong gelap
Dan aku ingin tidak seorangpun akan datang
Tidak juga kamu
Senja telah mempertemukan kita
Dan senja pula yang akan memisahkan kita...
Jangan kirimi aku lagi Langit,
Senja-senja itu
Jangan pula kau berkata bahwa kamu akan datang...
Sebab sendiri adalah candu
Dan setiap candu akan berakhir pada kekosongan
Tak ada tempat untukmu, Langit
Jangan kau datang untuk menyaksikan ini semua

Dikutip dari film Keumala

Keumala -- Senja


Kau memotret orang-orang, Langit
Bukan cuma pemandangan
Aku merasa ada tirai yang selama ini kau tutup rapat
Kini terbuka perlahan

Bahkan kau mengajariku memotret
Lihat! Siapa yang mendustai siapa
Kecuali dirimu
Berhadapan dengan dirimu sendiri
Aku, Si penulis novel inspirasi ini
Tengah berangkat menjemput gelap
Dan kamu, Si fotografer sinis itu
Sedang pulang menyongsong terang
Senja telah mempertemukan kita Langit
Sebagaimana aku telah dipertemukan dengan Inong
Inong yang selalu berharap akan ada ibunya datang dari kerumbunan orang-orang itu
Bagaimana aku bisa memeluk dan menguatkannya Langit?
Sementara aku,
Adalah orang yang berangkat menyongsong gelap

Lihat Langit!
Kesepian membuat kita pandai berdusta
Terutama pada diri sendiri

Dikutip dari film Keumala

Keumala -- Kesendirian


Langit,..
Kamu tau betul bukan cara menyakiti hatiku
Hanya mereka yang pernah terluka yang mampu menyakiti dengan cara sedemikian
Dan itu kamu Langit
Mungkin karena kita sama-sama pernah pernah terluka
Begitukah Langit?
Demikian lihaikah 
Kita menipu diri sendiri dengan cara menyakiti orang lain
Agar kita merasa lebih baik
Begitukah?

***

Kau selalu bilang dalam suratmu, 
bahwa senja tidak pernah sama lagi setelah kita bertemu
Kau bilang bahwa kau telah memburu cakrawala selama ini
Tapi kini kau memburunya hanya karena kau ingin menemukanku pada senja-senja itu
Tidak, tidak Langit
Jangan cari aku pada senja itu
Senja lenyap perlahan
Langit, aku tidak akan memilikinya lagi
Dan yang tertinggal adalah kesendirian
Mengherankan, bahwa ketika kau sendirian
Kau merasa harus berjaga 
Kesendirian adalah candu
Semakin kau sendiri
Semakin kau butuh kepercayaan yang lebih besar 
Untuk membiarkan seseorang menemanimu
Bahkanpun bila orang itu adalah ibumu
Setiap kali kau ingin mengakhirinya dengan kesendirian yang lebih besar
Sampai yang tersisa kemudian adalah
Kekosongan

Dikutip dari film Keumala

Keumala -- Kepada Langit



Langit … 
Untuk semua gelap ini
Aku tidak ingin kau tahu
Meskipun kita telah dipertemukan oleh senja yang sama
Aku tahu, kau akan terus memburunya
Dari cakrawala ke cakrawala
Dan lalu kau kirimkan senja-senja itu padaku
Lewat inong
Satu-satunya alamat yang kau kenal
Untuk semua pesan-pesanmu…
***
Aku adalah senja
Aku berangkat dari terang menyongsong gelap
Pada tiap ketikanya
Hatiku lebab sewarna lembayung
Dan mengertikah kau semua ini langit?
Disaat kita bertemu untuk pertama kalinya
Lalu kita bertengkar berebut senja

Ya.. tentu saja itu cuma senja
Senja yang seharusnya bisa dibagi baik-baik
Dan siapa kau bilang namamu tadi?  Langit?
Betapa tololnya berebut senja dengan laki-laki bernama langit..

Dikutip dari film Keumala

Minggu, 15 September 2013

Keumala -- Aku pulang


Pulang, ada saatnya seseorang berangkat
Dan ada saatnya seseorang harus pulang
Dan diantara keduanya, adalah perjalanan...
Aku telah menggambar setiap senja
Senja yang merah...
Senja yang memulangkan unggas ke sarang-sarang
Senja yang mengembalikan aku pada gelap
Senja yang memulangkanku pada rumah...
Yang sesungguhnya tak ingin ku singgahi
Tapi, pada suatu ketika
Seseorang harus pulang bukan??
Pada rumah aku pulang dan pada gelap
Ya.. pada gelap
Ternyata aku berangkat
Dan inilah kisah perjalananku
Menjemput gelap

***

Ibu masih menyimpan semuanya dirumah ini...
Buku-buku, kenangan, semuanya...
Semua tetap sama
Seperti delapan-sembilan tahun yang lalu
Tersimpan di debunya masing-masing
Serapih kisah kami yang begitu kusam kebenarannya
Sampai aku yakin bahwa debu adalah bagian dari-Nya
Dulu aku berangkan meninggalkan rumah ini
Sebab aku muak dengan kebenaran yang tak kupercaya
Lalu aku terbang memburu cahaya
Seperti laron terbang memburu lentera
Tapi terang-terang membakar sayapku

Aku pulang
Menjemput gelap yang aku sembunyikan dari siapapun
Termasuk dari ibu
Atau perempuan yang ku panggi ibu ini

Dikutip dari film Keumala

Jumat, 13 September 2013

Aku Benci Susunan Acara Ini

Bayangkan ketika kamu harus menjalani hidup yang serba teratur. Dimulai ketika kamu membuka mata di pagi hari, menjalani rutinitas harian yang selalu sama dan di lingkungan yang sama, kemudian tertidur di malam hari untuk mengistirahatkan badan dan pikiran, lalu kembali terbangun esok harinya. Setiap harinya selalu melakukan hal-hal yang sama dengan rentetan kegiatan yang hanya itu-itu saja. Semuanya tersusun rapi, teratur, dan terencana. Inikah yang disebut sebagai hidup? Aku malas mengakuinya. Tapi pada kenyataannya aku menjalani kehidupan semacan ini selama dua tahun terakhir. Semua ini bagaikan susunan acara yang tertata rapi. Hidupku adalah sebuah acara yang sedang diselenggarakan, semua yang aku lakukan saat ini adalah bagian dari acara itu, dan aku harus melaksanakan setiap acaranya dengan teratur dan tepat waktu. Setiap hari, yah! selalu dengan hal-hal yang sama. Terlalu lama memang aku hidup dan berkutat dalam rangkaian susunan acara ini. Aku sampai lupa bagaimana rasanya kebebasan. Bebas menjadi diri sendiri, bebas melakukan apa yang aku suka, dan bebas berfikir hal-hal gila yang sebenarnya adalah sesuatu yang spektakuler. Haahhh.., aku merindukan semua itu. Bukannya aku tidak mau keluar dari semua rutinitas yang membosankan ini. Entah sudah berapa banyak keluhan yang keluar dari mulutku, hanya karena susunan acara yang isinya sudah ku hafal di luar kepala ini. Tapi mereka, mereka selalu mengatakan padaku untuk selalu bersabar. "Sebentar lagi, kamu pasti bisa melewatinya, sebentar lagi semuanya akan berakhir, dan semua ada waktunya" itu yang mereka katakan padaku. Memang benar kata mereka "semua ada waktunya", tapi kapan waktu itu datang padaku. Waktu dimana aku bisa meninggalkan susunan acara yang sudah usang ini. Berapa lama lagi aku harus terlibat dalam susunan acara ini? Ah, mungkin aku memang harus lebih bersabar lagi, sampai waktu itu datang. Ketika aku mengakhiri susunan acara yang membosankan ini dan mulai menulis jalan hidupku sendiri.
 


Rabu, 04 September 2013



“Tuhan tau kapan kita siap untuk menerima sesuatu”
Tuhan tau kapan aku siap mengetahui jawaban akan perasaanku terhadapmu,
dan itu setelah penantian selama 13 tahun