Harga Diri
Mereka
menyebutku harga diri. Hargaku sangat mahal. Meski hargaku tinggi, banyak orang
yang memperebutkanku. Dari yang hanya menggunakan kaos oblong, sampai yang
menggunakan jas mewah dengan gaya perlente. Saat diriku dilelang, beragam angka
mereka sebutkan. Mulai dari puluhan hingga milyaran. Tak lebih dari tiga puluh
menit dari penawarku dibuka, aku telah jatuh pada mereka yang menawarku dengan
harga tinggi. Bukannya aku sombong dengan meminta harga tinggi. Tapi karena hanya
aku yang setia menemani ketika semua milik mereka menghilang.
Mereka
masih menyebutku harga diri. Saat ini hargaku hanya senilai bandrol yang
menempel di badanku. Lima ribu rupiah. Meski hargaku murah, tak banyak lagi
yang memperebutkanku. Tak ada lagi pelelangan untukku. Kini aku hanya menjadi
pajangan di etalase sebuah toko. Berjam-jam bahkan berhari-hari sejak bandrol
murah ini menempel di tubuhku, tak ada yang mau membeliku. Harga diri tak lagi
penting, meski diskon ditulis merah-merah di bandrolku. Atau mungkin, harga diri
tak lagi dibutuhkan?






