Lihatlah wanita itu, wanita yang sudah lama
mencuri perhatian Aryan. Wanita pembawa biola yang selalu ditemuinya di dalam
bus di pagi hari. Wanita yang diam-diam sudah menjadi candu bagi Aryan.
Sebenarnya,
sudah sejak lama Aryan ingin berkenalan dengan wanita pujaan hatinya itu.
Hampir setiap hari ia mengumpulkan keberaniannya untuk mendekati wanita itu.
Tapi apa daya ketika keinginan hanya menjadi sebuah keinginan saja. Entah
bagaimana, semua keberanian yang sudah ia persiapan hilang bagai diterpa angin
ketika, matanya melihat sosok pembawa biola itu. Kakinya terasa tertanam di
lantai bus, membuat Aryan tak mampu melangkah. Itulah yang menyebabkan tidak
ada perkembangan dalam hubungannya dengan wanita itu. Hubungan? Memangnya
hubungan apa? Bahkan Aryan belum memulai hubungan apapun dengan wanita itu.
Selama ini yang dilakukannnya hanyalah memandangi wanita itu dari bangku tempat
duduknya.
Tapi,
sepertinya hari ini akan berbeda. Hari ini, Senin pagi di awal bulan Juli. Hari
yang dibenci oleh sebagian besar orang, tidak terkecuali Aryan. Tapi sepertinya
hari ini akan mejadi pengecualian untuk Aryan, karena hari ini Tuhan telah
memberikan sebuah hadiah untuknya. Sebuah kesempatan yang selama ini ia
tunggun-tunggu.
Pagi
ini, dari jendela bus, Aryan dapat melihat wanita pembawa biolah itu berlari
mengejar bus yang hampir menutup pintunya. Tampak wajah kelegaan saat dia
berhasil menaiki bus. Wanita itu tampak ngos-ngosan, mengambil istirahat
sejenak untuk mengatur nafas, dan memperbaiki detak jantungnya yang berdetak
tak beraturan akibat aksi larinya di pagi hari. Biola yang biasa dibawanya di
punggung, dia letakkan di samping kakinya. Sepertinya wanita itu tampak
tergesa-gesa. Rambut yang biasanya rapi kini terlihat berantakan, wajahnya
polos tanpa riasan, bahkan hanya sekedar pemerah bibir pun tak nampak di
bibirnya.
Setelah
dapat mengatur nafasnya, diedarkanya pandangan wanita itu ke penjuru bus,
mencari bangku kosong yang sekiranya dapat ia tempati. Dan saat itulah
pandangannya tertuju pada Aryan, mungkin lebih tepatnya pada bangku kosong
disebelah Arya. Wajahnya tampak senang, senyuman menghiasi bibir merah mudanya.
Dengan segera wanita itu menuju tempat duduk Aryan. Tak ayal jantung Aryan
langsung merespon dengan bertetak lebih kencang lagi. Sepertinya efek dari lari
pagi wanita itu menular pada jantung Arya.
“Permisi,
Mas, bangkunya masih kosong? Boleh saya duduk di sebelah Mas?” tanya wanita itu
pada Aryan.
Tidak
ada suara, tidak ada kata yang terucap dari bibir Arya. Diedarkannya pandangan
ke semua penjuru bus, sepertinya memang hanya bangku di sebelahnya yang kosong.
Akhirnya sebuah anggukan kecil menjadi jawaban untuk pertanyaan wanita ini.
Bukannya
ingin tampak cool,
tapi saat ini perasaanya memang sedang tak menentu. Ada kegugupan saat
berdekatan dengan wanita di hadapannya ini. Siapa sangka wanita yang
dikaguminya diam-diam itu menyapanya? Berbicara dengan jarak yang dangat dekat
seperti ini. Bahkan saat ini wanita itu telah duduk manis disebelahnya, sibuk mengeluarkan
sesuatu dari dalam tasnya.
Dengan
keberanian yang tersisa dalam dirinya, ditolehkannya kepala Aryan pada wanita
disebelahnya. Dilihatnya wanita itu sedang merapikan diri, menyisir rambutnya,
menaburkan bedak, dan memberikan sedikit lipstick berwarna
merah pada bibirnya. Biola yang dibawanya diletakkan di samping kakinya,
menyandar pada pinggiran bus.
“Eh,
maaf Mas, tadi saya buru-buru. Biasa, telat bangun, jadi nggak sempat dandan
deh,” ucap wanita itu saat menyadari pandangan Aryan. “Tapi, tadi saya sempet
mandi kok,” lanjutnya dengan tawa di bibir.
“Eh,
iya, nggak apa mbak. Mbak juga udah cantik kok biar nggak pakai make up,” kata
Arya tanpa melepas pandangan pada wanita itu. Begitu menyadari ucapannya, Aryan
buru-buru membenarkan sikapnya, “Eh, maaf Mbak, bukan maksud saya menggoda.
Tapi …”
“He,
he, nggak apa Mas. Makasih ya pujiannya. Eh, kenalan dong, nama saya Amanda,
nama Mas siapa? Kayaknya Mas sering naik bus ini juga ya?”
“Panggil
saja saya Aryan, Mbak. Iya, saya lebih suka berangkat kerja pakai bus, biar
nggak kena macet,” disambutnya uluran wanita disebelahnya itu.
“Panggil
Amanda atau Manda aja Mas, nggak perlu pakai Mbak, kesannya formal banget.”
“Oh,
iya Mbak. Eh, maksud saya Amanda.”
“Nah
gitu dong, kan lebih akrab jadinya. Tapi saya panggilnya Mas aja ya, kayaknya
saya lebih muda dari Mas,” diucapnya kalimat itu dengan penuh keceriaan.
Seperti dugaan Aryan, wanita di hadapannya ini sangat ramah, mudah bergaul, dan
pandai menghidupkan suasana. Tidak heran jika dirinya yang kaku langsung merasa
nyaman saat berbicara dengan wanita ini. Ah, seharusnya dia yang lebih dulu
memulai perkenalan mereka. Jika saja dia lebih berani, mungkin saat ini
hubungan mereka sudah lebih jauh lagi.
“Iya,
nggak apa…” hanya kalimat itu yang keluar dari bibir Aryan.
“Nanti
turun dimana Mas? Mas Aryan kerja dimana?” tanya Amanda memulai percakapan
mereka. Mereka pun larut dalam percakapan lainnya. Percakapan yang sebenarnya
lebih didominasi oleh Amanda, karena Aryan tidak bisa melepaskan pandangan dari
wanita cantik di hadapannya ini. Rasanya masih seperti mimpi. Wanita ini,
wanita pembawa biola ini ada dihadapannya. Berbicara mengenai hal-hal yang
disukainya dengan mata berbinar.
Amanda,
nama yang cantik, secantik sang pemilik nama. Akan diingat selalu nama itu
dalam hati Aryan. Sebuah nama yang sudah menjadi teka-teki sejak pertama kali
Aryan melihat wanita ini. Sebuah nama yang akan selalu mengisi hari-harinya
dimasa depan.
#30dwc
#30dwcjilid12
#day15
#biola
🖼️ : www.google.com
🖼️ : www.google.com








0 komentar:
Posting Komentar