Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Kamis, 05 April 2018

WANITA PEMBAWA BIOLA


Lihatlah wanita itu, wanita yang sudah lama mencuri perhatian Aryan. Wanita pembawa biola yang selalu ditemuinya di dalam bus di pagi hari. Wanita yang diam-diam sudah menjadi candu bagi Aryan.   

Sebenarnya, sudah sejak lama Aryan ingin berkenalan dengan wanita pujaan hatinya itu. Hampir setiap hari ia mengumpulkan keberaniannya untuk mendekati wanita itu. Tapi apa daya ketika keinginan hanya menjadi sebuah keinginan saja. Entah bagaimana, semua keberanian yang sudah ia persiapan hilang bagai diterpa angin ketika, matanya melihat sosok pembawa biola itu. Kakinya terasa tertanam di lantai bus, membuat Aryan tak mampu melangkah. Itulah yang menyebabkan tidak ada perkembangan dalam hubungannya dengan wanita itu. Hubungan? Memangnya hubungan apa? Bahkan Aryan belum memulai hubungan apapun dengan wanita itu. Selama ini yang dilakukannnya hanyalah memandangi wanita itu dari bangku tempat duduknya.

Tapi, sepertinya hari ini akan berbeda. Hari ini, Senin pagi di awal bulan Juli. Hari yang dibenci oleh sebagian besar orang, tidak terkecuali Aryan. Tapi sepertinya hari ini akan mejadi pengecualian untuk Aryan, karena hari ini Tuhan telah memberikan sebuah hadiah untuknya. Sebuah kesempatan yang selama ini ia tunggun-tunggu.

Pagi ini, dari jendela bus, Aryan dapat melihat wanita pembawa biolah itu berlari mengejar bus yang hampir menutup pintunya. Tampak wajah kelegaan saat dia berhasil menaiki bus. Wanita itu tampak ngos-ngosan, mengambil istirahat sejenak untuk mengatur nafas, dan memperbaiki detak jantungnya yang berdetak tak beraturan akibat aksi larinya di pagi hari. Biola yang biasa dibawanya di punggung, dia letakkan di samping kakinya. Sepertinya wanita itu tampak tergesa-gesa. Rambut yang biasanya rapi kini terlihat berantakan, wajahnya polos tanpa riasan, bahkan hanya sekedar pemerah bibir pun tak nampak di bibirnya.

Setelah dapat mengatur nafasnya, diedarkanya pandangan wanita itu ke penjuru bus, mencari bangku kosong yang sekiranya dapat ia tempati. Dan saat itulah pandangannya tertuju pada Aryan, mungkin lebih tepatnya pada bangku kosong disebelah Arya. Wajahnya tampak senang, senyuman menghiasi bibir merah mudanya. Dengan segera wanita itu menuju tempat duduk Aryan. Tak ayal jantung Aryan langsung merespon dengan bertetak lebih kencang lagi. Sepertinya efek dari lari pagi wanita itu menular pada jantung Arya.

“Permisi, Mas, bangkunya masih kosong? Boleh saya duduk di sebelah Mas?” tanya wanita itu pada Aryan.

Tidak ada suara, tidak ada kata yang terucap dari bibir Arya. Diedarkannya pandangan ke semua penjuru bus, sepertinya memang hanya bangku di sebelahnya yang kosong. Akhirnya sebuah anggukan kecil menjadi jawaban untuk pertanyaan wanita ini.

Bukannya ingin tampak cool, tapi saat ini perasaanya memang sedang tak menentu. Ada kegugupan saat berdekatan dengan wanita di hadapannya ini. Siapa sangka wanita yang dikaguminya diam-diam itu menyapanya? Berbicara dengan jarak yang dangat dekat seperti ini. Bahkan saat ini wanita itu telah duduk manis disebelahnya, sibuk mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.

Dengan keberanian yang tersisa dalam dirinya, ditolehkannya kepala Aryan pada wanita disebelahnya. Dilihatnya wanita itu sedang merapikan diri, menyisir rambutnya, menaburkan bedak, dan memberikan sedikit lipstick berwarna merah pada bibirnya. Biola yang dibawanya diletakkan di samping kakinya, menyandar pada pinggiran bus.

“Eh, maaf Mas, tadi saya buru-buru. Biasa, telat bangun, jadi nggak sempat dandan deh,” ucap wanita itu saat menyadari pandangan Aryan. “Tapi, tadi saya sempet mandi kok,” lanjutnya dengan tawa di bibir.

“Eh, iya, nggak apa mbak. Mbak juga udah cantik kok biar nggak pakai make up,” kata Arya tanpa melepas pandangan pada wanita itu. Begitu menyadari ucapannya, Aryan buru-buru membenarkan sikapnya, “Eh, maaf Mbak, bukan maksud saya menggoda. Tapi …”

“He, he, nggak apa Mas. Makasih ya pujiannya. Eh, kenalan dong, nama saya Amanda, nama Mas siapa? Kayaknya Mas sering naik bus ini juga ya?”

“Panggil saja saya Aryan, Mbak. Iya, saya lebih suka berangkat kerja pakai bus, biar nggak kena macet,” disambutnya uluran wanita disebelahnya itu.

“Panggil Amanda atau Manda aja Mas, nggak perlu pakai Mbak, kesannya formal banget.”

“Oh, iya Mbak. Eh, maksud saya Amanda.”

“Nah gitu dong, kan lebih akrab jadinya. Tapi saya panggilnya Mas aja ya, kayaknya saya lebih muda dari Mas,” diucapnya kalimat itu dengan penuh keceriaan. Seperti dugaan Aryan, wanita di hadapannya ini sangat ramah, mudah bergaul, dan pandai menghidupkan suasana. Tidak heran jika dirinya yang kaku langsung merasa nyaman saat berbicara dengan wanita ini. Ah, seharusnya dia yang lebih dulu memulai perkenalan mereka. Jika saja dia lebih berani, mungkin saat ini hubungan mereka sudah lebih jauh lagi.

“Iya, nggak apa…” hanya kalimat itu yang keluar dari bibir Aryan.

“Nanti turun dimana Mas? Mas Aryan kerja dimana?” tanya Amanda memulai percakapan mereka. Mereka pun larut dalam percakapan lainnya. Percakapan yang sebenarnya lebih didominasi oleh Amanda, karena Aryan tidak bisa melepaskan pandangan dari wanita cantik di hadapannya ini. Rasanya masih seperti mimpi. Wanita ini, wanita pembawa biola ini ada dihadapannya. Berbicara mengenai hal-hal yang disukainya dengan mata berbinar.

Amanda, nama yang cantik, secantik sang pemilik nama. Akan diingat selalu nama itu dalam hati Aryan. Sebuah nama yang sudah menjadi teka-teki sejak pertama kali Aryan melihat wanita ini. Sebuah nama yang akan selalu mengisi hari-harinya dimasa depan.


#30dwc
#30dwcjilid12
#day15
#biola
🖼️ : www.google.com

0 komentar: