Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Jumat, 06 April 2018

RAHASIA CINTA (bagian 1)


Dengan lembut pria itu memainkan pensil pada selembar kertas yang ada di mejanya. Goresan demi goresan yang dihasilkan oleh permainan pensil itu, kini telah membentuk sebuah wajah cantik nan jelita. Wajah yang selalu menghiasi mimpi Rayhan di setiap malamnya. Mengukirkan beribu cinta di hati kecil miliknya. Rayhan meletakkan pensilnya ketika goresan-goresan itu telah membentuk wajah sempurna yang diinginkan. Sepasang matanya belum beranjak dari gambar yang ia buat. Dinginnya malam dapat ia rasakan dari angin yang berhembus melewati jemdela kamar. Rayhan mengangkat wajah, mengalihkan pandangan pada sebuah foto yang terpajang di dinding kamarnya. Foto dirinya dan gadis yang ia kasihi. Rayhan teringat akan janji yang diucapkannya pada gadis itu. Janji untuk menjadi bintang penjaga baginya.

“Kakak ...” Rayhan tersentak kaget. Pintu kamarnya terbuka dan sesosok gadis muncul dari balik pintu. Senyum mengembang dari bibir gadis itu, dan dengan gembira ia melangkahkan kaki mungilnya memasuki kamar Rayhan. Kehadiran gadis itu memaksa Rayhan menyembunyikan gambarnya di balik gambar-gambar lainnya. 
“Kakak, ayo temani aku. Di luar lagi banyak bintang. Aku mau melihatnya.” Suara gadis itu memecah kesunyian dalam kamar Rayhan. Rayhan membalikkan tubuhnya dari meja belajarnya.
“Kenapa nggak liat sendiri sih?”
“Aku mau lihat bareng kakak. Aku juga mau cerita sesuatu.” Rini duduk di tempat tidur kakaknya, sesekali mencuri-curi pandangan ke meja belajar Rayhan. “Gambar apa tadi?” selidiknya.
Rayhan mengangkat bahu. Lalu melangkahkan kakinya keluar kamar. “Ayo, katanya mau lihat bintang.” Akhirnya Rini bangkit dan mengikuti langkah Rayhan menuju taman yang ada di depan rumah mereka.
Setibanya di taman, Rini dan Rayhan duduk di gazebo kecil yang ada di sana. Memandang keindahan yang disuguhkan oleh alam di malam hari. Sudut mata Rayhan melirik beberapa saat. Memperhatikan keterdiaman adiknya yang tidak seperti biasanya. Burung kecil itu tidak menyadari bahwa ia sedang diperhatikan. Matanya dengan asik menjelajahi keindahan bintang-bintang yang menghiasi langit malam. Bibir Rayhan mengguratkan sebuah senyum kecil, entah karena apa.
“Tumben tidak berkicau ...”
Rini menoleh dengan senyum khasnya, “Tadi aku ditembak sama Krisnya.” Matanya berbinar-binar ketika menyebut nama Krisna.
Mendengar ucapan adiknya ada sedikit kecemburuan menyelinap di hati Rayhan. “Nembak? Kamu nggak papa kan? Ada yang sakit?” ucap Rayhan sedikit menggoda adiknya.
“Iiiihhhh, bukan membak dalam arti sebenarnya kakak! Tapi maksudnya itu, tadi Krisna nyatain cintanya sama aku. Masa gitu aja nggak tahu sih.” ucapnya dengan sebal. “Kakak masih inget sama Krisna kan?”
“Krisna? Krisna yang mana?” Rayhan berusaha mengingat nama itu.
“Krisna yang lagi aku taksir itu loh kak. Kakak ini gimana sih, pasti nggak pernah denger kalo aku lagi cerita ya? Udah gitu dari tadi kakak juga nggak serius dengerin aku. Sebel deh!” Rini menunjukkan wajah cemberutnya.
“Oh ... Krisna yang itu. Kakak kan cuma lupa sebentar aja. Jangan cemberut gitu ah,” ucap Rayhan membujuk adiknya. “Trus kamu jawaab apa?”
Sepasang mata Rini kembali dipenuhi kejora ketika melanjutkan ceritanya, “Ya aku terima lah, kan aku udah lama naksir sama dia. Masa aku tolak sih.”
“Selamat deh kalo gitu. Ternyata adik kecil kakak ini sudah tumbuh menjadi gadis dewasa yang sudah mengenal cinta. Udah punya pacar lagi,” goda Rayhan pada adiknya itu.
Rini tertawa mendengar ucapan dari kakaknya. “Oh iya, janji kakak untuk menjadi bintang penjagaku waktu itu, sepertinya tidak berlaku lagi. Soalnya sekarang udah ada Krisna. Aku yakin dia bisa menggantikan kakak sebagai bintang pelindungku.”
Mendengar hal itu perasaan Rayhan semakin sakit. Bagaimana bisa posisinya digantikan oleh anak kemarin sore yang baru dikenal oleh adiknya? “Bagus deh kalau gitu. Abis kakak juga udah bosen jadi pengwal kamu. Tapi jangan sampai si Krisna itu bikin kamu sedih, kalau sampai dia bikin kamu nangis akan kakak hajar dia,” ucap Rayhan dengan memasang wajah sedikit garang.
“Iihh ... kakak kok jahat gitu sih sama Krisna. Awas loh kalau kakak ngapa-ngapain Krisna” ancam Rini dengan wajah sebalnya. “Em... bagaimana dengan Kak Melati?”
Benak Rayhan melayang pada gadis manis teman kuliahnya. Gadis yang dengan tulus mencintainya. Gadis yang memaksa Rayhan merasa berdosa karenya nyatanya ia tak juga dapat membalas ketulusan cinta itu. Hanya karena dorongan dari Rini dan kedua orang tuanyalah Rayhan masih barusaha membuka hatinya untuk gadis itu. Hanya karena tidak ingin mengecewakan orang-orang yang dicintainya, terutama Rini adik terkasihnya.
“Kak Rayhan ...”
Rayhan membuyarkan lamunannya dan menoleh. “Udah malem, kita masuk yuk,” ajaknya.
“Jangan menghindar kak,” nada suara Rini memaksa. Rayhan menghela nafas pendek. Karena gadis keras kepala di depannya ini tak kunjung mengerti. Hatinya tak bisa terbuka untuk gadis lain. Sudah ada gadis lain yang mengisi ruang hatinnya, dan itu tidak mungkin tergantikan.
“Bagaimana jika sudah ada gadis lain sebelum Melati. Bahkan sebelum teman-temanmu yang selalu kau jodohkan dulu.
Bola mata Rini melebar, “apa?” Rayhan mengiyakan ketika sepasang mata Rini menatapnya. Tiba-tiba Rini tertawa berderai, “Nggak mungkin! Kakak nggak mungkin deket sama cewek lain, aku tau betul siapa kakakku. Kalaupun ada, aku akan mendapatkannya untukmu. Yah, walaupun harus mengecewakan Kak Melati yang baik itu. Padahal aku sama mama papa sudah cocok dengan Kak Melati. Kalian juga serasi banget, bener nih. Suer!” ucap Rini dengan semangat.
Bibir Rayhan hanya menanggapinya dengan segurat senyum lirih. Malam itu pun mereka lewatkan bersama dengan keindahan langit malam.

Bersambung …

#30dwc
#30dwcjilid12
#day16

0 komentar: