Dengan
lembut pria itu memainkan pensil pada selembar kertas yang ada di mejanya. Goresan
demi goresan yang dihasilkan oleh permainan pensil itu, kini telah membentuk
sebuah wajah cantik nan jelita. Wajah yang selalu menghiasi mimpi Rayhan di
setiap malamnya. Mengukirkan beribu cinta di hati kecil miliknya. Rayhan
meletakkan pensilnya ketika goresan-goresan itu telah membentuk wajah sempurna
yang diinginkan. Sepasang matanya belum beranjak dari gambar yang ia buat.
Dinginnya malam dapat ia rasakan dari angin yang berhembus melewati jemdela
kamar. Rayhan mengangkat wajah, mengalihkan pandangan pada sebuah foto yang
terpajang di dinding kamarnya. Foto dirinya dan gadis yang ia kasihi. Rayhan
teringat akan janji yang diucapkannya pada gadis itu. Janji untuk menjadi
bintang penjaga baginya.
“Kakak
...” Rayhan tersentak kaget. Pintu kamarnya terbuka dan sesosok gadis muncul
dari balik pintu. Senyum mengembang dari bibir gadis itu, dan dengan gembira ia
melangkahkan kaki mungilnya memasuki kamar Rayhan. Kehadiran gadis itu memaksa
Rayhan menyembunyikan gambarnya di balik gambar-gambar lainnya.
“Kakak,
ayo temani aku. Di luar lagi banyak bintang. Aku mau melihatnya.” Suara gadis
itu memecah kesunyian dalam kamar Rayhan. Rayhan membalikkan tubuhnya dari meja
belajarnya.
“Kenapa
nggak liat sendiri sih?”
“Aku
mau lihat bareng kakak. Aku juga mau cerita sesuatu.” Rini duduk di tempat
tidur kakaknya, sesekali mencuri-curi pandangan ke meja belajar Rayhan. “Gambar
apa tadi?” selidiknya.
Rayhan
mengangkat bahu. Lalu melangkahkan kakinya keluar kamar. “Ayo, katanya mau
lihat bintang.” Akhirnya Rini bangkit dan mengikuti langkah Rayhan menuju taman
yang ada di depan rumah mereka.
Setibanya
di taman, Rini dan Rayhan duduk di gazebo kecil yang ada di sana. Memandang
keindahan yang disuguhkan oleh alam di malam hari. Sudut mata Rayhan melirik
beberapa saat. Memperhatikan keterdiaman adiknya yang tidak seperti biasanya.
Burung kecil itu tidak menyadari bahwa ia sedang diperhatikan. Matanya dengan
asik menjelajahi keindahan bintang-bintang yang menghiasi langit malam. Bibir
Rayhan mengguratkan sebuah senyum kecil, entah karena apa.
“Tumben
tidak berkicau ...”
Rini
menoleh dengan senyum khasnya, “Tadi aku ditembak sama Krisnya.” Matanya
berbinar-binar ketika menyebut nama Krisna.
Mendengar
ucapan adiknya ada sedikit kecemburuan menyelinap di hati Rayhan. “Nembak? Kamu
nggak papa kan? Ada yang sakit?” ucap Rayhan sedikit menggoda adiknya.
“Iiiihhhh,
bukan membak dalam arti sebenarnya kakak! Tapi maksudnya itu, tadi Krisna
nyatain cintanya sama aku. Masa gitu aja nggak tahu sih.” ucapnya dengan sebal.
“Kakak masih inget sama Krisna kan?”
“Krisna?
Krisna yang mana?” Rayhan berusaha mengingat nama itu.
“Krisna
yang lagi aku taksir itu loh kak. Kakak ini gimana sih, pasti nggak pernah
denger kalo aku lagi cerita ya? Udah gitu dari tadi kakak juga nggak serius
dengerin aku. Sebel deh!” Rini menunjukkan wajah cemberutnya.
“Oh
... Krisna yang itu. Kakak kan cuma lupa sebentar aja. Jangan cemberut gitu ah,”
ucap Rayhan membujuk adiknya. “Trus kamu jawaab apa?”
Sepasang
mata Rini kembali dipenuhi kejora ketika melanjutkan ceritanya, “Ya aku terima
lah, kan aku udah lama naksir sama dia. Masa aku tolak sih.”
“Selamat
deh kalo gitu. Ternyata adik kecil kakak ini sudah tumbuh menjadi gadis dewasa
yang sudah mengenal cinta. Udah punya pacar lagi,” goda Rayhan pada adiknya
itu.
Rini
tertawa mendengar ucapan dari kakaknya. “Oh iya, janji kakak untuk menjadi
bintang penjagaku waktu itu, sepertinya tidak berlaku lagi. Soalnya sekarang
udah ada Krisna. Aku yakin dia bisa menggantikan kakak sebagai bintang
pelindungku.”
Mendengar
hal itu perasaan Rayhan semakin sakit. Bagaimana bisa posisinya digantikan oleh
anak kemarin sore yang baru dikenal oleh adiknya? “Bagus deh kalau gitu. Abis
kakak juga udah bosen jadi pengwal kamu. Tapi jangan sampai si Krisna itu bikin
kamu sedih, kalau sampai dia bikin kamu nangis akan kakak hajar dia,” ucap
Rayhan dengan memasang wajah sedikit garang.
“Iihh
... kakak kok jahat gitu sih sama Krisna. Awas loh kalau kakak ngapa-ngapain
Krisna” ancam Rini dengan wajah sebalnya. “Em... bagaimana dengan Kak Melati?”
Benak
Rayhan melayang pada gadis manis teman kuliahnya. Gadis yang dengan tulus
mencintainya. Gadis yang memaksa Rayhan merasa berdosa karenya nyatanya ia tak
juga dapat membalas ketulusan cinta itu. Hanya karena dorongan dari Rini dan
kedua orang tuanyalah Rayhan masih barusaha membuka hatinya untuk gadis itu.
Hanya karena tidak ingin mengecewakan orang-orang yang dicintainya, terutama
Rini adik terkasihnya.
“Kak
Rayhan ...”
Rayhan
membuyarkan lamunannya dan menoleh. “Udah malem, kita masuk yuk,” ajaknya.
“Jangan
menghindar kak,” nada suara Rini memaksa. Rayhan menghela nafas pendek. Karena
gadis keras kepala di depannya ini tak kunjung mengerti. Hatinya tak bisa
terbuka untuk gadis lain. Sudah ada gadis lain yang mengisi ruang hatinnya, dan
itu tidak mungkin tergantikan.
“Bagaimana
jika sudah ada gadis lain sebelum Melati. Bahkan sebelum teman-temanmu yang
selalu kau jodohkan dulu.
Bola
mata Rini melebar, “apa?” Rayhan mengiyakan ketika sepasang mata Rini
menatapnya. Tiba-tiba Rini tertawa berderai, “Nggak mungkin! Kakak nggak
mungkin deket sama cewek lain, aku tau betul siapa kakakku. Kalaupun ada, aku
akan mendapatkannya untukmu. Yah, walaupun harus mengecewakan Kak Melati yang
baik itu. Padahal aku sama mama papa sudah cocok dengan Kak Melati. Kalian juga
serasi banget, bener nih. Suer!” ucap Rini dengan semangat.
Bibir
Rayhan hanya menanggapinya dengan segurat senyum lirih. Malam itu pun mereka lewatkan
bersama dengan keindahan langit malam.
Bersambung
…
#30dwc
#30dwcjilid12
#day16








0 komentar:
Posting Komentar