Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Sabtu, 14 April 2018

DAYA PIKAT SEORANG PENARI RONGGENG



Namanya Sekar Pandan Arum, dia adalah seorang penari ronggeng. Di usianya yang baru menginjak 19 tahun, dia sudah merajai dunia panggung hiburan bersama rombongan musisi dan penari Jawa di desanya. Kecantikannya sungguh sempurna, bentuk tubuhnya sangat aduhai, dan rambut panjang hitamnya tergerai indah saat ia menari. Daya pikat seorang ronggeng, begitulah mereka menyebutnya.

Sekar memang seorang ronggeng yang berbakat. Sebenarnya, ia tenar bukan hanya karena kecantikan yang dimilikinya. Tapi, karena kemampuannya dalam menari yang dapat memikat para penontonnya. Wajar saja, sejak kecil dia sudah dilatih oleh ibunya yang juga seorang penari ronggeng profesional. Dia sudah terbiasa ikut ibunya menari dari satu desa ke desa lain. Saat ini, hampir setiap ada hajatan, perayaan, atau pesta, Sekar selalu tampil bersama rombongannya. Kepiawaiannya dalam menari ronggeng bahkan tersohor sampai ke desa tetangga.

Kepiawaian dalam menari inilah yang seharusnya dikatakan sebagai daya pikat seorang ronggeng, bukan kecantikan atau tubuh aduhai yang dimiliki seorang penari ronggeng. Hal inilah yang selalu disalah artikan oleh masyarakat luas. Menjelma menjadi image negatif yang sudah terlanjur tertanam di kalangan masyarakat. Terutama anggapan bahwa seorang penari ronggeng, bisa dengan mudah diajak kencan dan ke ranjang sesuka hati, hanya dengan imbalan bayaran yang tinggi. Sebab memiliki suara yang indah, tarian yang bagus, dan bentuk tubuh yang sempurna, para ronggeng itu disamakan dengan wanita penghibur atau pelacur bayaran di pinggir jalan.

Begitulah image negatif yang juga melekat pada diri Sekar. Setiap Sekar melakukan tariannya di atas panggung, dia menjadi pusat perhatian dari ujung rambut hingga ujung kuku. Di sini-lah, para penikmat ronggeng, khususnya para kaum adam memanfaatkan daya pikat seorang ronggeng sebagai alasan untuk menyalurkan nafsu primitifnya. Mereka beralasan seperti tersihir dan dibuat mabuk kepayang oleh tarian yang disuguhkan oleh Sekar. Dengan berani mereka ikut menari bersama Sekar, melakukan goyangan-goyangan erotis yang tidak sedap dipandang mata, sampai melakukan kontak fisik yang tidak sopan pada Sekar. Belum lagi para lelaki itu akan berebutan untuk bisa menari dan membooking Sekar. Tidak heran jika saat Sekar melakukan pertunjukannya, selalu saja terjadi keributan.

Jika sudah seperti itu, maka yang disalahkan bukanlah para lelaki yang tidak dapat menahan nafsu primitifnya. Tapi, Sekar dan daya pikat seorang ronggeng-lah yang menjadi kambing hitamnya. Daya pikat yang kata orang didapatkan Sekar melalui prosesi ngalap berkah ke makam Nyi Ratna Herang, Sang Pesohor Ronggeng di Ciherang, Kuningan. Bahkan terkadang karena profesinya, Sekar menjadi bahan gunjingan penduduk desa. Entah karena telah memicu keributan di suatu acara, merusak masa depan anak laki-laki orang, atau bahkan karena membuat rumah tangga seseorang menjadi rusak.

Sunggung sebuah kenyataan yang terjadi di masyarakat kita. Lalu, jika sudah seperti ini, siapakah yang patut dipersalahkan? Daya pikat seorang penari ronggeng? Nafsu primitif para laki-laki yang tidak dapat mereka kendalikan? Atau image negatif yang sudah terlanjur tertanam di kalangan masyarakat?
Inilah sebuah pertanyaan yang akan selalu menjadi perdebatan tak berujung.

#dwc
#dwcjilid12
#day25
#daya
Picture : www.google.com

0 komentar: