Namanya Sekar
Pandan Arum, dia adalah seorang penari ronggeng. Di usianya yang baru menginjak
19 tahun, dia sudah merajai dunia panggung hiburan bersama rombongan musisi dan
penari Jawa di desanya. Kecantikannya sungguh sempurna, bentuk tubuhnya sangat
aduhai, dan rambut panjang hitamnya tergerai indah saat ia menari. Daya pikat
seorang ronggeng, begitulah mereka menyebutnya.
Sekar memang
seorang ronggeng yang berbakat. Sebenarnya, ia tenar bukan hanya karena kecantikan
yang dimilikinya. Tapi, karena kemampuannya dalam menari yang dapat memikat
para penontonnya. Wajar saja, sejak kecil dia sudah dilatih oleh ibunya yang
juga seorang penari ronggeng profesional. Dia sudah terbiasa ikut ibunya menari
dari satu desa ke desa lain. Saat ini, hampir setiap ada hajatan, perayaan,
atau pesta, Sekar selalu tampil bersama rombongannya. Kepiawaiannya dalam
menari ronggeng bahkan tersohor sampai ke desa tetangga.
Kepiawaian dalam
menari inilah yang seharusnya dikatakan sebagai daya pikat seorang ronggeng,
bukan kecantikan atau tubuh aduhai yang dimiliki seorang penari ronggeng. Hal
inilah yang selalu disalah artikan oleh masyarakat luas. Menjelma menjadi image negatif yang sudah terlanjur tertanam
di kalangan masyarakat. Terutama anggapan bahwa seorang penari ronggeng, bisa
dengan mudah diajak kencan dan ke ranjang sesuka hati, hanya dengan imbalan
bayaran yang tinggi. Sebab memiliki suara yang indah, tarian yang bagus, dan
bentuk tubuh yang sempurna, para ronggeng itu disamakan dengan wanita penghibur
atau pelacur bayaran di pinggir jalan.
Begitulah image negatif yang juga melekat pada diri
Sekar. Setiap Sekar melakukan tariannya di atas panggung, dia menjadi pusat
perhatian dari ujung rambut hingga ujung kuku. Di sini-lah, para penikmat
ronggeng, khususnya para kaum adam memanfaatkan daya pikat seorang ronggeng
sebagai alasan untuk menyalurkan nafsu primitifnya. Mereka beralasan seperti
tersihir dan dibuat mabuk kepayang oleh tarian yang disuguhkan oleh Sekar.
Dengan berani mereka ikut menari bersama Sekar, melakukan goyangan-goyangan
erotis yang tidak sedap dipandang mata, sampai melakukan kontak fisik yang tidak
sopan pada Sekar. Belum lagi para lelaki itu akan berebutan untuk bisa menari
dan membooking Sekar. Tidak heran
jika saat Sekar melakukan pertunjukannya, selalu saja terjadi keributan.
Jika sudah
seperti itu, maka yang disalahkan bukanlah para lelaki yang tidak dapat menahan
nafsu primitifnya. Tapi, Sekar dan daya pikat seorang ronggeng-lah yang menjadi
kambing hitamnya. Daya pikat yang kata orang didapatkan Sekar melalui prosesi ngalap
berkah ke makam Nyi Ratna Herang, Sang Pesohor Ronggeng di Ciherang, Kuningan. Bahkan
terkadang karena profesinya, Sekar menjadi bahan gunjingan penduduk desa. Entah
karena telah memicu keributan di suatu acara, merusak masa depan anak laki-laki
orang, atau bahkan karena membuat rumah tangga seseorang menjadi rusak.
Sunggung sebuah
kenyataan yang terjadi di masyarakat kita. Lalu, jika sudah seperti ini,
siapakah yang patut dipersalahkan? Daya pikat seorang penari ronggeng? Nafsu
primitif para laki-laki yang tidak dapat mereka kendalikan? Atau image negatif yang sudah terlanjur
tertanam di kalangan masyarakat?
Inilah sebuah
pertanyaan yang akan selalu menjadi perdebatan tak berujung.
#dwc
#dwcjilid12
#day25
#daya
Picture : www.google.com








0 komentar:
Posting Komentar