
Awalnya
kita hanya orang-orang biasa yang tak saling mengenal. Siapa dia? siapa kamu?
Siapa kalian? Kita terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing. Dulu kita
berangkat meninggalkan rumah. Membawa impian kita masing-masing. Atau mungkin hanya
sebuah harapan. Di tempat ini kita dipertemukan. Membayar hutang-hutang kita di
masa lalu. Dalam masa orientasi kala itu, kita
dituntut untuk saling mengenal satu sama lain. Itu adalah awal yang sulit,
penuh tekanan, dan rasa takut. Tidak boleh ini, tidak boleh itu, semuanya penuh
aturan, semuanya terasa berat. Bahkan waktupun terasa tak bersahabat. Dan pada
akhirnya yang bisa kita lakukan hanyalah menangis dalam kegelapan kamar. Tak
ada orang tua, tak ada orang terkasih, tak ada sahabat, tak ada tempat berkeluh
kesah. Semuanya masih asing. Awalnya mungkin terasa aneh. 58 orang yang tak
kenal satu sama lain harus hidup bersama dan saling berbagi. Berbagi kamar,
berbagi tempat tidur, berbagi lemari, bahkan kamar mandi. Memanggil mereka
dengan nama asrama yang terdengar aneh ditelinga kita.
Waktu
terus berputar, haripun terus berganti, dan kita mulai saling mengenal.
Mengenal siapa sebenarnya orang-orang ini. Orang-orang yang akan menghabiskan
tiga tahun waktunya bersama kita. Teman-teman baru yang bersamanya akan kita
buat kenangan-kenangan tak terlupakan. Awalnya kita hanya dipersatukan karena
rasa takut, kesal, dan kesedihan yang sama-sama kita rasakan. Tapi siapa
sangka, di tempat yang kita sebut sebagai sangkar emas inilah kita bisa saling
berbagi. Berbagi kesedihan, tawa kebahagian, saling mengisi, berbagi cerita,
semangat, dan hal-hal kecil lainnya yang kita lalui bersama.
Ini
seperti sebuah perjalanan panjang. Langkah awal terasa begitu berat dengan
jalanan penuh kerikil. Ketika lelah dan penat kita rasakan, ingin rasanya
mengakhiri perjalanan ini. Tapi keinginan itu tak mungkin kita wujudkan.
Pikiran kita akan segera melayang ke rumah kita masing-masing. Masih ada
keluarga yang menaruh harapannya di pundak kita. Masih ada orang tua yang
menunggu berita keberhasilan kita di rumah. Semua ini terasa begitu berat,
mungkin sebagian dari kita berfikir bahwa ini semua tak adil. “Aku ingin
resign”. Kalimat ini yang sering kita ucapkan untuk sekedar melampiaskan
ketidakberdayaan kita. Dalam situasi seperti ini, kita tidak sendiri. Ada orang
lain di samping kita. Masih ada mereka yang tak pernah lelah memberi dukungan.
Mereka yang juga merasakan apa yang kita rasakan, namun tetap memberi semangat
meski hanya melalui kalimat-kalimat sederhana. “Semangat!, kita pasti bisa
melewati semua ini”, “semua pasti ada waktunya”, “tinggal sebentar lagi”, “kita
harus lulus bersama-sama”.
Ketika
salah satu dari kita ada yang terjatuh, kita berusaha untuk memberikan dukungan
dan semangat untuk kebangkitannya. Ketika ada yang tertinggal, kita akan
menunggu dan mengulurkan tangan untuk kembali bersama-sama menyusuri jalan ini.
Kesedihan begitu kita rasakan ketika salah satu dari kita memilih untuk mundur
dan meninggalkan kita. Kita gagal mempertahankan sebuah “permata” untuk tetap
bersama kita. Saat kepergiannya, yang bisa kita lakukan hanyalah
mengantarkannya dengan air mata dan harapan bahwa cahaya permata itu akan
kembali terang. Berharap semua yang menjadi mimpinya dapat terwujud di luar
sana. Dan kita masih tetap di tempat ini, kembali melanjutkan perjuangan kita.
Banyak
hal yang telah kita lalui selama tiga tahun kebersamaan ini. Pagi hari selalu
kita awali dengan kegiatan mengamprah kamar mandi, merbad dan membersihkan kamar, menghias diri dengan bedak tabur, dan
segera ke kantin untuk sarapan. Masih ingatkah kalian ketika kita dikejutkan
oleh kedatangan tiba-tiba seorang dosen, hingga membuat kita melewati kuliah
tanpa mandi. Atau bagaimana sulitnya kita melawan rasa kantuk ketika kuliah,
duduk berjam-jam dan mendengarkan materi-materi baru. Tiap kali dosen
memberikan materi baru, hal pertama yang kita lakukan adalah melihat berapa
banyak slide yang akan ditampilkan. Dan helaan nafas panjang akan terdengar
ketika ternyata masih ada materi lain yang belum diberikan.
Ingatkah
kalian ketika jam makan siang tiba. Dengan cepat kita meletakkan botol minum di
meja makan dan kemudian meninggalkannya untuk memilih-milih makanan yang
disediakan kantin. Berharap mendapatkan potongan ikan yang lebih besar.
Sedangkan yang tidak mendapatkan tempat duduk sibuk mengamprah atau memilih
makan di meja luar dengan menarik kursi yang ada di ruang IKM. Usai makan siang
dan membersihkan piring, kita akan menyempatkan diri mengunjungi kamar untuk
istirahat siang. Ketika waktu kuliah tiba atau terdengar suara “teman-teman
dosen udah mau masuk kelas!!!” kita akan terbangun tiba-tiba dan berlarian di
lorong-lorong asrama menuju kelas.
Kuliah
telah berakhir, dan ini waktunya istirahat. Ketika badan dan pikiran terasa
letih, tempat yang paling nyaman untuk disinggahi adalah bad kita,
sekedar untuk bersantai atau memejamkan mata. Kegiatan sore hari selalu
bervariasi. Ada saja dari kita yang sibuk mencari alasan untuk keluar asrama,
dan ketika tak mendapat ijin, pilihan terakhir adalah keluar tanpa memberi tahu
ibu asrama. Atau memilih untuk menghabiskan waktu dengan berdiam diri di
asrama. Melakukan olah raga ringan ketika merasa berat badan sedikit meningkat,
membaca beberapa lembar buku kuliah, sibuk di depan layar laptop, menonton film
atau berbagi cerita mengenai drama-drama korea yang harus kita lihat bersama,
saling berbagi makanan, membuat rujak yang baunya sampai tercium oleh anggota
kamar tetangga, membantu mengangkat galon karena salah satu dari kita tak kuat
membawanya sampai kamar, atau sekedar menggoda satu sama lain tentang hal-hal
yang sebenarnya hanya lelucon sederhana.
Hidup
bersama di asrama terdengar sangat membosankan dan melelahkan, terutama dengan
semua permasalahannya. Tapi seiring berjalannya waktu, asrama menjadi tempat
bagi kita untuk saling mengenal satu sama lainnya. Di tempat inilah banyak hal
yang telah kita lalui. Rasa panic dan teriakan histeris ketika kita merasakan
gempa untuk pertama kalinya, listrik yang tiba-tiba mati hingga kita harus
berjalan dalam gelap hanya dengan penerangan senter, menampung air dari lantai
bawah ketika aliran air mati, menumpang mandi karena kamar mandi kamar yang
mampet, plafon kamar yang bocor sampai jebol, wastafel yang mampet, bau kamar
mandi yang sampai tercium ke luar kamar, loker dan lemari kamar yang rusak.
Perasaan kesal dan sedih ketika kita harus terpisah dengan teman-teman satu
kamar, memindahkan dan kembali mengatur barang-barang di kamar yang baru, dan
kita harus kembali menyesuaikan diri dengan anggota kamar baru. Terlalu banyak
hal yang telah kita lewati selama tiga tahun ini.
Banyak
juga cerita yang telah kita bagi selama tiga tahun ini. Cerita yang yang tak
akan pernah sama. Cerita-cerita unik tentang kekonyolan yang sering kita
lakukan, kisah cinta yang sering kita bagi, perasaan tersakiti yang kadang
harus kita rasakan, rasa kesal, cerita-cerita masa SMA yang kita miliki,
pengalaman-penagalaman menaik yang pernah kita alami, harapan untuk terwujudnya
impian-impian masa lalu, khayalan mengenai masa depan, cerita-cerita sederhana
yang terjadi sedari pagi, dan hal-hal lain yang kita lakukan kemarin, hari ini,
esok dan kapanpun itu.
Detik
berganti detik, menit berganti menit, dan tiap jam yang kita lalui bersama
memberi kesan tersendiri hingga mampu membentuk suatu ikatan diantara kita.
Ketika salah satu dari kita merayakan ulang tahun, entah bagaimanapun caranya
kita harus merayakannya bersama. Di kamar
tempat kita menghabiskan waktu ini, kita saling berdesakan. Meski sederhana,
hanya dengan sebuah kue kecil dan nyala lilin-lilin kecil,
lagu happy birthday-pun terlantun. Tak ada musik pengiring, hanya
suara tepuk tangan kami yang mengiringi lagu selamat ulang tahun untukmu. Saat
itu pula matamu tertutup, mengharap satu permintaanmu dapat terkabul.
“Huuufff..” suara desis kecil terdengar dari mulutmu dan nyala terang lilin-lilin
yang menghiasi kue menjadi padam. Kamipun menyambutnya dengan tepuk tangan
meriah dan suara tawa bahagia menyambut dirimu yang semakin dewasa.
Tak ada
yang istimewa di hari ulang tahunmu kali ini. Tak seperti tahun-tahun
sebelumnya. Mungkin saat itu kau merayakannya dengan sangat meriah. Membuat pesta
di rumah, mentraktir sahabatmu, merayakan bersama orang terkasih, makan bersama
keluarga, atau menanti setiap kejutan yang diberikan orang-orang terdekatmu. Tapi saat
ini kamilah yang ada disampingmu. Tak ada kado istimewa yang kami siapkan,
hanya ucapan selamat ulang tahun dan sebuah doa sederhana agar kau selalu
panjang umur dalam lindunngan Tuhan. Kami bukanlah keluargamu, tapi kami
berusaha memberi yang terbaik yang bisa kami lakukan. Berharap ada sebuah
senyum yang mengembang menjadi tawa bahagia dari bibirmu.
Potongan pertama kue ulang tahunmu bukanlah untuk ayah, ibu, atau
kekasihmu. Tapi untuk orang lain. Orang asing yang tak memiliki hubungan darah
denganmu. Ya, kue itu untuk kami, sahabat, saudara sekaligus keluarga barumu
saat ini. Dengan adil kau membagi kue kecil itu, membaginya dan menikmatinya
bersama kami. Seperti inilah perayaan ulang tahunmu saat ini. Bersama, kita
merayakannya dalam kesederhanaan, saling berbagi tawa, suka cita, kebahagiaan
bersama, dan mengabadikannya melalui beberapa jepret foto. Semoga ulang tahunmu
saat ini memberikan kesan indah untukmu. “Selamat ulang tahun
teman!!!….” Senyum dan tawa kebahagian di hari jadimulah yang kami inginkan.
“Semoga panjang umur…..”
Selalu
ada yang pertama untuk kita. Pertama kali menggikuti UTS, UAS, praktik
lapangan, ujian praktik, OSCA, dan hal pertama lainnya. Cemas, takut, dan
perasaan khawatir tentu kita rasakan. “Mampukah kita melewatinya?”. Dan
waktulah yang menjawab pertanyaan itu. Pertanyaan seperti “Sudah ujian?”,
“Sudah responsi?”, “Sudah dapat pasien?”, “Sudah konsultasi ke pembimbing?”,
“Sudah acc proposal?”, “LTAnya sudah selesai?”, “Kapan sidang?”.
Pertanyaan-pertanyaan itu kemudian berubah menjadi sebuah kaliamat kebanggaan.
“Selamat ya.. yang udah siding”, “Cie,.. yang
udah selesai perbaikan, sudah di tanda tangani lagi LTAnya…”.
Pada
akhirnya, kita berhasil menyelesaikan perjalanan panjang ini.
Meski sulit dan membutuhkan perjuangan keras, akhirnya kita telah sampai di
ujung jalan ini.
Banyak
hal yang telah kita lalui bersama, suka-duka, tangis kesedihan, tawa bahagia,
harapan, impian, khayalan, perjuangan, semuanya. Cerita-cerita
yang telah kita tulis bersama, hingga menjadi kenangan indah di masa yang akan
datang. Kita
akan menyimpan semuanya di tempat ini. Foto-foto, kenangan, semuanya. Semua
yang masih bisa kita ingat. Semuanya tersimpan rapi dalam tempat ini, di bawah
debunya masing-masing. Serapi kisah kita, yang begitu kusam kebenarannya…
Hari
ini kita berada disatu titik dimana kita harus mengakhiri dan mengawali. Diakhir
sesi ini saat dimana segala kesalahan, kenangan, perjuangan, berkumpul dengan
angkuhnya. Mencoba membuka kembali “harta karun” yang telah tersimpan rapi. Di
akhir sesi ini keikhlasan menutup semua yang telah terjadi. Di akhir sesi ini
dimana ada sebait doa yang selalu terlontar dari bibir yang kelu ini, mencoba
mensyukuri setiap cobaan yang telah dilalui. Di akhir sesi ini kita mulai
mencoba mengumpulkan puing-puing hati yang telah terhantam ombak cobaan itu.
Kita susun dengan sebuah keyakinan, meyakini tidak akan ada puing yang
tertinggal. Di akhir sesi ini kita mulai mencoba menguatkan hati ini. Apa yang
akan kami dapatkan setelah ini ? Entahlah… hati ini hanya tau bahwa ia harus
menguatkan diri menghadapi peperangan yang semakin tak manusiawi yang mungkin
akan terjadi setelah ini. Di akhir sesi
ini kita akhiri dengan sebait doa, untaian kata penuh harapan, harapan yang
akan tetap menyediakan jalan bagi setiap jiwa yang lelah melangkah. Di akhir
sesi ini, ketika jiwa, raga, dan doa sudah menyatu untuk membentuk fondasi
kehidupan yang kuat. Dan akhirnya di akhir sesi ini saat dimana kita semua harus
mengakhiri dan memulai. Mengakhiri dengan keikhlasan dan memulainya dengan
harapan.
Terima
kasih untuk tiga tahun terbaik nan penuh pelajaran berharga ini teman. Sampai
bertemu kembali suatu saat nanti. Yaa… suatu saat nanti, dimana kita semua
telah membawa bintang kesuksesan kita masing-masing.
I'm gonna miss u guys....
I Love You....