Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Rabu, 30 Juni 2010

Buka Peluang Untuk yang Muda

Oleh : Fifin Diah Olivianti

Kereta reformasi yang membawa bangsa ini menuju rel demokrasi 10 tahun lalu belum juga beranjak dari stasiun perbaikan kereta api. Ini membuat gerbong-gerbong yang berisikan harapan bangsa atas perbaikan kesejahteraan, hukum, sosial, politik, dan lain sebagainya belum juga mencapai pemberhentian hingga stasiun terakhir, yakni terciptanya aplikasi atas harapan-harapan tersebut. Harapan terbentuknya dinamika reformasi total dan menyeluruh di bangsa ini malah bermuara pada kelakuan bangsa yang lebih buruk dari rezim sebelumnya. Lebih ironis lagi ketika maraknya korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang semakin menggila. Belum lagi tingkat kemiskinan yang semakin meningkat, semuanya seakan menjadi pembuktian dan pembenaran atas gagalnya proses reformasi.

Berbagai faktor disinyalir menjadi pemicu kegagalan reformasi. Masinis-masinis tua ini masih lebih mendahulukan kepentingan kereta-ketreta bisnis yang penuh sesak oleh kepentingan asing dan golongannya dibanding kepentingan sebenarnya, yaitu “rakyat”. Kegagalan pemimpin nasional yang lebih didominasi orang tua kini harus mulai diubah. Pikiran-pikiran radikal kaum muda harus mulai berkuasa. Namun pada kenyataannya, peran pemuda masih dipandang sebelah mata oleh agen-agen penyalur pemimpin bangsa, yakni partai politik. Kaum muda sendiri masih didiskriminasi dan tidak diperbolehkan ikut andil dalam penentuan kebijakan-kebijakan baru. Partai politik sendiri terkesan masih mempercayai pemimpin-pemimpin tua yang terbukti lamban dalam mengambil keputusan. Padahal kaum muda sendiri telah membuktikan jati dirinya berkali-kali.