Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Rabu, 18 April 2018

MEMBAWA TARI RONGGENG MENUJU KANCAH DUNIA



“Bagaimana? Kau siap?” tanya Pak Bambang kepadaku.
Senyumku mengembang dan segera kujawab dengan mantap, “Siap, Pak.”
Kulihat tawa di bibir pria paruh baya itu. Kemudian, beliau memanggil dan mengumpulkan penari lainnya. Memberikan sedikit arahan sebelum kami melakukan pertunjukan. Saat ini, kami berada di belakang panggung sebuah pagelaran seni Internasional. Panggung yang akan membawa kami menuju dunia yang lebih luas. Dunia yang akan kami sambut dengan pertunjukan spektakuler, Tari Ronggeng Gunung.

Namaku Sekar Pandan Arum, mungkin kalian lebih mengenalku sebagai seorang penari ronggeng desa yang memiliki daya pikat magis untuk menggaet pria. Daya pikat yang kata orang kudapatkan melalui prosesi ngalap berkah di makam Nyi Ratna Herang, seorang pesohor ronggeng di zamannya. Entahlah, aku tidak tahu-menahu tentang hal itu, yang kutahu hanyalah aku ingin melakukan tarianku. Tarian yang ibu tinggalkan sebagai warisan. Kecintaanku pada tari, terutama tari ronggeng membuatku terus berlatih mengasah kemapuan gerak tariku, bahkan jauh sebelum aku bergabung dengan Sanggar Tari Natya Lakshita milik Pak Bambang.

Kudengar tabuhan kendang, bonang, dan gong sebagai musik pengiring mulai mengalun. Dengan lincah, aku menuju ke atas panggung, kemudian disusul 5 penari wanita lainnya. Tabuhan dari alat musik tradisional berhasil menciptakan irama sederhana yang mampu menyihir para penonton. Tidak lupa kawih pengiring dari pesinden lalugu bersuara merdu juga turut mewarnai tarian kami. Semua elemen terasa pas, saling melengkapi satu sama lain. Kami, para penari mulai memainkan selendang dan menunjukkan gerakan tari yang cepat, berenergi, dan luwes. Gerakan yang menjadi ciri khas tarian ronggeng seperti goyang, geol, dan gitek pun kami lakukan dengan ekspresif. Gerakan yang kata orang mampu membangkitkan libido lelaki. Tapi, memang seperti itulah keindahan dari seni ronggeng.

Tarian ronggeng biasanya dilakukan sampai berjam-jam lamanya. Tapi, dalam pagelaran seni kali ini, kami hanya melakukannya selama 30 menit sebagai tarian penghibur. Oleh karenanya, kami harus tampil dengan maksimal. Tidak lupa para menari juga mengajak penonton untuk menari bersama. Tidak peduli penonton kali ini berasal dari kalangan pejabat dan perwakilan dari berbagai negara. Beberapa tamu dari negara asing yang tidak terbiasa menari hanya menampilkan gerakan kaku, berjoged sebisanya. Menimbulkan gelak tawa di kalangan penonton. Begitulah seharusnya seni tari ronggeng, mengajak penonton untuk menari bersama dan menghibur mereka.

Suasana pagelaran seni menjadi lebih hidup dan ceria. Para penonton terlihat menikmati hiburan tari ronggeng yang kami suguhkan. Dapat kudengar riuh tepuk tangan dan pujian dari para penonton. Aku sangat senang melihanya. Terlebih lagi, tidak seperti saat di desa, di sini aku ataupun penari lain tidak mendapatkan kontak fisik yang berlebihan. Semua murni menikmati tari ronggeng sebagai hiburan kesenian daerah, bukan sebagai tarian erotis.

Dari atas panggung dapat kulihat Pak Bambang menunjukkan senyum bangganya. Bangga atas kesuksesan pertunjukan kami, dan karena perlahan impian turun-temurun di keluarganya mulai terwujud. Impian yang kini juga menjadi impianku. Impian untuk memperkenalkan tari ronggeng ke kancah dunia, bukan sebagai tari erotis, tapi sebagai salah satu seni daerah milik Indonesia. Dan di sinilah akan kumulai mewujudkan impian itu. Bukan sebagai penari ronggeng yang memiliki daya pikat magis, tetapi sebagai penari ronggeng profesional yang akan membawa tari ronggeng menuju kancah dunia.


#30dwc
#30dwcjilid12
#day28
#dunia
Pictures : https://ssckanesa-dua.blogspot.co.id/2017/11/normal-0-false-false-false-in-x-none-x.html?m=1

0 komentar: