“Bagaimana? Kau
siap?” tanya Pak Bambang kepadaku.
Senyumku
mengembang dan segera kujawab dengan mantap, “Siap, Pak.”
Kulihat tawa di
bibir pria paruh baya itu. Kemudian, beliau memanggil dan mengumpulkan penari lainnya.
Memberikan sedikit arahan sebelum kami melakukan pertunjukan. Saat ini, kami
berada di belakang panggung sebuah pagelaran seni Internasional. Panggung yang
akan membawa kami menuju dunia yang lebih luas. Dunia yang akan kami sambut dengan
pertunjukan spektakuler, Tari Ronggeng Gunung.
Namaku Sekar
Pandan Arum, mungkin kalian lebih mengenalku sebagai seorang penari ronggeng
desa yang memiliki daya pikat magis untuk menggaet pria. Daya pikat yang kata
orang kudapatkan melalui prosesi ngalap berkah di makam Nyi Ratna Herang,
seorang pesohor ronggeng di zamannya. Entahlah, aku tidak tahu-menahu tentang
hal itu, yang kutahu hanyalah aku ingin melakukan tarianku. Tarian yang ibu
tinggalkan sebagai warisan. Kecintaanku pada tari, terutama tari ronggeng membuatku
terus berlatih mengasah kemapuan gerak tariku, bahkan jauh sebelum aku
bergabung dengan Sanggar Tari Natya Lakshita milik Pak Bambang.
Kudengar tabuhan
kendang, bonang, dan gong sebagai musik pengiring mulai mengalun. Dengan
lincah, aku menuju ke atas panggung, kemudian disusul 5 penari wanita lainnya. Tabuhan dari alat musik tradisional berhasil
menciptakan irama sederhana yang mampu menyihir para penonton. Tidak lupa kawih pengiring dari pesinden lalugu bersuara merdu juga
turut mewarnai tarian kami. Semua elemen terasa pas, saling melengkapi satu
sama lain. Kami, para penari mulai memainkan selendang dan menunjukkan gerakan
tari yang cepat, berenergi, dan luwes. Gerakan yang menjadi ciri khas tarian
ronggeng seperti goyang, geol, dan gitek pun kami lakukan dengan ekspresif. Gerakan
yang kata orang mampu membangkitkan libido lelaki. Tapi, memang seperti itulah keindahan
dari seni ronggeng.
Tarian ronggeng
biasanya dilakukan sampai berjam-jam lamanya. Tapi, dalam pagelaran seni kali
ini, kami hanya melakukannya selama 30 menit sebagai tarian penghibur. Oleh karenanya,
kami harus tampil dengan maksimal. Tidak lupa para menari juga mengajak
penonton untuk menari bersama. Tidak peduli penonton kali ini berasal dari
kalangan pejabat dan perwakilan dari berbagai negara. Beberapa tamu dari negara
asing yang tidak terbiasa menari hanya menampilkan gerakan kaku, berjoged
sebisanya. Menimbulkan gelak tawa di kalangan penonton. Begitulah seharusnya
seni tari ronggeng, mengajak penonton untuk menari bersama dan menghibur
mereka.
Suasana pagelaran
seni menjadi lebih hidup dan ceria. Para penonton terlihat menikmati hiburan
tari ronggeng yang kami suguhkan. Dapat kudengar riuh tepuk tangan dan pujian
dari para penonton. Aku sangat senang melihanya. Terlebih lagi, tidak seperti
saat di desa, di sini aku ataupun penari lain tidak mendapatkan kontak fisik
yang berlebihan. Semua murni menikmati tari ronggeng sebagai hiburan kesenian
daerah, bukan sebagai tarian erotis.
Dari atas
panggung dapat kulihat Pak Bambang menunjukkan senyum bangganya. Bangga atas
kesuksesan pertunjukan kami, dan karena perlahan impian turun-temurun di
keluarganya mulai terwujud. Impian yang kini juga menjadi impianku. Impian
untuk memperkenalkan tari ronggeng ke kancah dunia, bukan sebagai tari erotis,
tapi sebagai salah satu seni daerah milik Indonesia. Dan di sinilah akan
kumulai mewujudkan impian itu. Bukan sebagai penari ronggeng yang memiliki daya
pikat magis, tetapi sebagai penari ronggeng profesional yang akan membawa tari
ronggeng menuju kancah dunia.
#30dwc
#30dwcjilid12
#30dwcjilid12
#day28
#dunia
Pictures : https://ssckanesa-dua.blogspot.co.id/2017/11/normal-0-false-false-false-in-x-none-x.html?m=1
Pictures : https://ssckanesa-dua.blogspot.co.id/2017/11/normal-0-false-false-false-in-x-none-x.html?m=1








0 komentar:
Posting Komentar