Terbengkalai di tempat sampah, kartu tanda pungutan uang pasar itu seketika berubah menjadi onggokan bola setelah diremas pemiliknya. Inilah pelampiasan Muslimah Soal akibat banyaknya pungutan liar di lahan nafkahnya.
“Jualan nggak jualan tetep harus bayar,” ungkap Soal kesal. Sudah 28 tahun wanita paruh baya ini menjalani hidupnya dengan berjualan tempe di pasar Satria, Jalan Veteran. Sebuah lapak kecil berisi deretan tempe buatannya selalu menemani Soal selama berada di pasar. Termasuk menjadi saksi ketika penghasilan Soal harus dipotong akibat adanya pungutan liar. Biaya yang harus dikeluarkanpun tergantung pada lokasi berjualan. Biasanya Soal membayar Rp 11.000,00 per harinya. Ini dihitung dari pembayaran karcis tempat Rp 8.000, meja Rp 2.000, toilet Rp 1.000, dan biaya angkut barang Rp 2.000. “Padahal nggak pernah pakai toilet atau jasa angkut, tapi bayarnya harus segitu,” geram Soal sembari membenarkan pisisi duduknya.

Berbeda dengan Soal yang mau berterus terang mengenai pungutan liar di tempatnya berjualan. Di pasar Badung, informasi yang didapat penulis sangat minim. Para pedagang cenderung tutup mulut ketika ditanya mengenai oprasi pungutan liar yang berlangsung di pasar Badung. Kebanyakan dari mereka hanya memberikan ekspresi cemas dengan sedikit berbisik “Nggak tau, coba tanya yang lain”. Akhirnya seorang pedangang bunga yang hanya menyebutkan namanya Nyoman memberikan sebuah kepastian. Dengan hati-hati sembari memandang sekililing Nyoman berkata “Yang kayak gitu ada di sini”. Kemudian selanjutmya sama seperti pedagang lain, tetap diam dan memalingkan muka.
Kenyataan lain diungkapkan Komang Gunayanti Ariani. Konsumen pasar ini mengaku sering melihat pungutan liar terjadi di pasar Badung. “Kalo belanja ke pasar Badung pasti ada pecalang yang nagih-nagih duit ke penjual. Nggak cuma satu orang, kadang satu penjual itu bisa dipalak sama dua pecalang,” cerita Guna. Sayangnya, masih menurut Guna, walaupun merugikan para pedagang, bisnis pungli semacam ini masih terus terjadi di berbagai pasar tradisional. “Kasihan aja ngelihat pedagang dimintain duit, bahkan kadang mereka sering bilang adi biin nagih pis pak, kan tuni be baang” ucapnya menirukan gaya sang pedagang.
Bisnis ilegal yang terjadi di pasar tradisional ini sudah menjadi hal umum bagi masyarakat luas. Tak lagi bersifat perorangan, pungutan liar sudah menjadi bisnis yang terorganisir. Seperti yang berlangsung di pasar Satria. “Setiap nggak bayar bakal dicatat dibuku petugasnya, trus setelah sebulan dihitung tunggakan kita. Nanti petugasnya ngelapor ke atasan. Besoknya pasti ada orang suruhan yang nagih-nagih,” kenang Soal. Para pemungut liar ini membuat pedagang selalu gusar menjajahkan dagangannya. Meski berdalih sebagai uang keamanan, adanya pungli ini malah membuat mereka harus ekstra hati-hati. Layaknya setan-setan yang selalu menghantui manusia, para pemungut liar ini tak henti meresahkan pedagang. Dan sampai kapankah hal ini akan terus berlajut? (fin)
ini berita yang dapat juara 2 Lomba Reporter PENA FE UNUD, kasi komentar ya.... TQ