Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Rabu, 28 Agustus 2013

Selamat Ulang Tahun Sake

Melangkah di usia baru, adalah suatu permulaan bagimu
Saat sebuah ritual sederhana dirayakan,
hanya dengan lilin-lilin yang bercerita tentang kebahagiaan.
Kami berucap:
"SELAMAT ULANG TAHUN" Panjang Umur dan Bahagia dalam hidupmu

dari keluarga besarmu di asrama
"Niki, Dira, Revo, Dotu, Doli, Sake, Mbok Guyu, Wafer, Sirih" 


                                                           Selamat ulang tahun adik asuhku "Sake"                                                                    Semoga kebahagiaa di limpahkan kepadamu.        

Selasa, 13 Agustus 2013

Ceritaku dari Kampung Halaman

Tahun ini aku memilih merayakan lebaran di kampung halamanku, Lamongan. Dua kali lebaran sebelumnya, aku merayakan lebaran di Pulau Bali. Sejak aku memasuki bangku kuliah, agak sulit memang untuk meminta ijin di tengah padatnya jadwal kuliah. Setelah menunggu dua jam lamanya di Terminal Ubung, akhirnya bis yang aku tumpangi berangkat juga. Sampai di pelabuhan, aku masih harus menunggu antrian sekitar 4-5 jam hingga bis yang aku tumpangi bisa menyebrang, meskipun dengan kapal tronton (kapal penggangkut truk). Sampailah aku di Terminal Bungurasih. Eits,.., bukan berarti aku sudah sampai di kampung halamanku ya... Aku masih harus menunggu sekitar satu jam lamanya sampai bus antar kota datang. Bis yang kutunggu-tunggu pun datang. Susah payah aku berdesakan dengan penumpang lainnya, dan akhirnya aku bisa masuk ke dalam bis ini. Perhatikan kata-kataku “MASUK KE DALAM BIS”. Yah!, aku memang berhasil masuk ke dalam bis, tapi nggak untuk mendapatkan tempat duduk nyaman di dalam bis. Alhasil aku harus berdiri sekitar satu setengah jam sampai bis antar kota ini berhenti di pintu masuk desaku. Fiuuh,… perjalanan yang memelahkan.
Selama satu minggu ke depan aku akan berada di kampung halamanku ini. Tepatnya di Desa Ringin dan Desa Belok. Dua desa yang saling berdampingan tempat kedua orang tuaku dilahirkan (ibuku dari Desa Belok, nah kalau bapakku dari Desa Ringin). Banyak yang berubah dari kedua desa ini sejak terakhir kali aku ke sini. Selama ini aku hanya mendengar perubahan-perubahan itu dari mulut kedua orang tuaku atau dari saudara-saudara yang baru datang dari kampung.
Nggak tau ya… sejak kapan sudah ada gedung lapangan futsal yang berdiri di bagian depan pintu masuk desa. Jalanan desa yang dulu selalu berdebu kalau dilewati kendaraan, sekarang sudah menjadi jalanan beraspal. Beberapa lahan yang dulunya kosong sekarang sudah dijadikan rumah hunian. Bahkan rumah hunian yang dulu masih berdiri begitu sederhana, sekarang sudah dipugar sesuai dengan keinginan pemiliknya. Kantor kepala desa dan satu-satunya Sekolah Dasar yang ada di perbatasan Desa Ringin dan Desa Belok (aku lupa namanya) juga sudah dipugar. Baru beberapa hari aku berada di kampung ini, lebih banyak lagi perubahan yang aku ketahui. Siapa sangka, mereka yang seumuran denganku bahkan yang lebih kecil satu-dua tahun dariku sekarang sudah menikah. Ada juga yang sudah hamil, memiliki anak, atau saat ini sedang sibuk mempersiapkan acara pernikahannya. Berdasarkan penjelasan dari ibu ku, beberapa dari mereka adalah teman masa kecilku (sebenarnya aku nggak inget mereka sama sekali). Warung bakso dekat rumahku yang sering disebut sebagai warung bakso Mbak Sumini sekarang sudah pindah tempat, ke ujung Desa Ringin. Beberapa spanduk partai politik juga mulai terpasang di jalanan desa.
Meskipun banyak perubahn yang terjadi, ada juga beberapa hal yang masih tetap sama setiap kedatanganku ke kampung ini. Hal pertama yang nggak berubah di Desa Ringin adalah kesulitan air untuk kebutuhan sehari-hari. Sistem aliran air di desaku itu diatur dengan jadwal  harian oleh ketua RT. Setiap harinya air di kamar mandiku hanya mengalir selama satu jam di pagi hari. Kalau yang tinggal di rumahku cuma nenekku sih, air segitu udah cukup. Masalahnya, sekarang di rumah ini dihuni lima orang. Mana cukup aliran air yang hanya mengalir selama satu jam itu digunakan selama satu hari penuh. Ini salah satu alasan yang membuatku harus berfikir dua kali kalau pulang kampung. Hampir saja aku datang ke rumah ketua RT buat memprotes kejadian ini. Eh, ternyata nenekku sudah melakukannya terlebih dahulu. Hasilnya? Nggak ada perubahan. Jadi keluargaku memutar otak untuk mengatasi permsalahan ini. Setiap aliran air sudah menyala, bapakku akan mengisi penuh bak kamar mandi, ember, gentong, atau apapun itu yang bisa digunakan sebagai tempat penampungan air. Mungkin slogan yang cocok untuk situasi setiap pagi di rumahku adalah “Tidak Akan Ku Biarkan Setes Airpun Terlewatkan!!!”. Tetapi, tetap saja air itu kurang, huhf!!! Dicukup-cukupkan saja lah.
Orang-orang di kampunng ini juga masih tetap sama. Ingatanku tentang penduduk di kedua desa ini memang sangat samar, bahkan semakin lama semakin mengabur. Maklum aku jarang pulang kampung sih. Tapi aku masih bisa melihat keramahan mereka dan aku masih bisa merasakan rasa kekeluargaan antar penduduknya. Satu sama lain nggak segan buat saling bertegur sapa waktu berpapasan di jalan. Warga di kampung ini juga masih sering berbagi makanan yang baru mereka masak di dapurnya. Di waktu senggang mereka, misalnya sore hari sambil menunggu adzan magrib mereka akan saling mengunjungi tetangganya. Mereka berkumpul di teras rumah sekedar untuk membicarakan beberapa hal yang sebenarnya aku sendiri nggak terlalu ngerti apa yang mereka omongkan. Maklum, kemampuan Bahasa Jawaku cuma di level rata-rata. Kayaknya sih mereka ngomongin tentang kondisi sawahnya, panen padi, tambak ikan, dan beberapa cerita tentang keluarganya.
Setiap harinya sewaktu sahur, ada anak-anak kampung yang hanya bermodalkan ember, gentong dan pemukulnya berkeliling kampung. Dengan kerasnya mereka  berteriak-teriak “Saur!!!, Saur!!!” untuk membangukan warga desa. Di kota mana ada yang kayak gini. Nah, waktu malam takbir ternyata kegiatan takbiran keliling kampung seperti yang aku lakuin dulu waktu masih kecil masih berlangsung sampai sekarang. Anak-anak berkumpul di masjid (aku ingat kalau masjid yang ada di Desa Ringin namanya Masjid Al-Amin) membawa obor dan memulai perjalannya mengelilingi kampung sambil bertakbir. Kemudian silaturahmi antar warga mulai bisa dilakukan. Warga saling mengunjungi dan saling bermaaf-maafan. Jadi kalau di kampungku itu acara maaf-maafannya udah bisa dilakui mulai dari malam takbir, trus bisa dilanjutin setelah Sholat Id. Esok harinya setelah Sholat Id, aku dan keluargaku meneruskan silaturahmi, mengunjungi rumah demi rumah dan saling bermaaf-maafan. Selama perjalanan kami menemui banyak orang yang juga melakukan silatrahmi. Jadi acara salam-salaman dan maaf-maafan juga kami lakukan di jalan. Sebenernya aku nggak kenal hampir semua orang yang aku temuin di jalan, tapi karena orang tuaku kenal mereka jadinya aku ikut salaman aja. Ciri khas lebaran di desa “Kenal nggak kenal orangnya, kalau udah ketemu cukup pasang senyum, saling berjabat tangan, dan dengan ikhlas mengucapkan minal aidzil wal fa idzin. Mohon maaf lahir dan batin”. Nah, ada nih kalimat yang biasanya diucapkan ketika kita silaturahmi meminta maaf kepada orang yang sudah tua (seperti sesepuh desa dan mbah-mbah yang sudah tua). Jangan tanya tentang kalimatnya ke aku ya… Sampai sekarang aja aku nggak pernah ngucapin kalimat itu, nggak ngerti apa artinya, dan nggak pernah bisa ngulang kalimat itu meskipun udah dikasi tau berulang kali sama orang tuaku. Ya udah deh, kalau ketemu sama mbah-mbah di desa aku cukup bilang “Mbah minal aidzil wal fa idzin. Mohon maaf lahir dan batin”. Setelah itu orang tuaku akan menimpali “anakku nggak bisa Bahasa Jawa mbah”, dan mereka pun tertawa.
Aku juga sempat merasakan acara 17 Agustus di desa. Ini untuk pertama kalinya. Beberapa remaja meminta sumbangan ke rumah-rumah untuk menyelenggarakan acara 17 Agustus. Beberapa perlombaan sederhana kemudian dilangsungkan. Lomba sepak bola menggunakan daster, lomba balap sepeda, lomba menjunjung botol berisi air, entah lomba apa lagi. Yang pasti ada lomba makan kerupuk, soalnya Sita (anak tetangga yang tiap hari main kerumaku) ikut perlombaan itu. Anak kecil itu selalu menceritakan semua hal yang dia lakukan kepadaku dan adikku.
Hal lain yang nggak berubah dari orang-orang di kedua desa ini juga rasa gotong royongnya. Kalau ada warga yang sedang memiliki gawe (kegiatan), mereka akan datang berbondong-bondong untuk saling membantu. Kebetulan kedatanganku ke kampung ini bukan hanya untuk merayakan lebaran saja, tapi juga umtuk meghadiri acara pernikahan saudaraku yang ada di Desa Belog. Nah, di sinilah aku melihat bagaimana warga desa ini masih memperlihatkan ciri khas masyarakat Indonesia “Gotong royong dan saling membantu”. Yah! Inilah yang mereka lakukan. Penduduk sekitar, bukan hanya tetangga tetapi mereka yang rumahnya masih bisa menjangkau tempat acara dilangsungkan akan datang untuk membantu di empunya kegiatan. Mereka akan saling membagi diri dan mulai membantu. Warga laki-laki akan membantu mendirikan tenda, mengecek sound, memutar musik, dan lainnya. Sedangkan para wanita akan membatu di dapur seperti memasak makanan, membuat kue, membungkus makanan, membuat bingkisan, pokoknya urusan  perut deh. Aku juga ikut bantu dong!!! Bantu apa aja, ya… apa aja yang bisa aku kerjain, pasti aku kerjain. Termasuk bolak-balik warung buat beli bahan-bahan pembuat kue yang kurang. Semuanya kita kerjain dengan suka rela. Biasalah ibu-ibu kalau ketemu pasti kerjaannya ngegosip. Jadi tangannya kerja, mulutnya juga kerja. Hahahaaa…. Nggak papa kok, kan yang penting kerjaannya selesai. Iya kan? Aku juga belajar beberapa istilah baru selama membantu di rumah saudaraku ini. misalnya istilah “semut”. Coba tebak apa maksudnya? Waktu seseorang mengatakan hal ini, beberapa orang akan berjejer membentuk satu barisan, kayak semut gitu. Nah, dengan posisi berbaris seperti ini akan memudahkan mentrasfer makanan dari dapur ke tempat tujuan. Ya, kayak menyajikan makanan secara estafet gitu.
Hah, pulang ke desa memang memberikan kesan tersendiri buatku. Meskipun harus melalui perjalanan yang panjang, aku rasa semuanya terbayar. Terbayar dengan melihat situasi desa yang nyaman, sawah-sawah yang masih terbentang luas, pagi yang selalu sejuk, keramahan penduduknya, beberapa pengalaman baru yang bisa aku dapatkan, dan cerita-cerita berbeda yang bisa aku ceritakan untuk teman-temaku di kota.

Sabtu, 03 Agustus 2013

Teuni ke 3 Thriller

Ada satu hari dalam satu tahun yang selalu kunanti
Satu hari dimana aku bisa kembali merasakan berada di tengah-tengah kalian
Dan ketika hari itu datang, 
masing-masing dari kita berusaha membuat semuanya terlihat istimewa
Hanya beberapa jam, dan setiap jamnya kita isi dengan tawa bahagia
Pertanyaan-pertanyaan sederhana tentang kabar masing-masing dari kita
Gurauan dan canda yang dulu setiap hari bisa kudengar, sekarang bisa ku dengar lagi
Terimakasih, terimakasih karena sudah meluangkan waktu kalian,
untuk sekedar berkumpul dengan sahabat-sahabat lama kalian
Sahabat yang selalu kita sebut sebagai sebuah keluarga
 
 
Aku masih ingat bagaimana untuk pertama kalinya aku mengenal kalian satu demi satu
Bagaimana kita melewati hari demi hari kebersamaan kita selama dua tahun
Bersama-sama kita melewati masa putih abu-abu dengan batik kebanggaan kita
Dan tanpa kita sadari, waktu itupun tiba
Waktu dimana kita harus berpisah untuk melanjutkan pendidikan, 
mencapai impian kita masing-masing
Saat itu kita berjanji untuk kembali setiap tahunnya
Sekedar untuk melepas rindu 
dan kembali mengulang cerita-cerita SMA yang pernah kita lewati bersama
Dalam satu kata yang telah kita sepakati bersama
Kita memberikan sebuah identitas akan semua kebersamaan yang pernah kita lewati
Satu kata yang setiap kali kita mengingatnya,
mampu mengingatkan kita akan cerita masa SMA
Satu kata ini bahkan mampu memberiku semangat untuk melewati setiap hariku
dan menanti datangnya hari dimana kita bisa berkumpul kembali

"THRILLER"
(XII-IPA3 Class for Everlasting Fraternity)

Kata inilah yang akan mempertemukan kita kembali ditahun-tahun berikutnya
Hingga celengan kenangan yang telah kita buat bersama akan terbuka