Kupandangi laki-laki berpakaian serba hitam
yang sedang jongkok di makam itu. Sudah 5 menit berlalu sejak pelayat terakhir
meninggalkan lokasi pemakmaan, tapi dia tetap setia memandangi gundukan tanah
merah bertabur bunga di hadapannya. Menyisakan diriku sebagai saksi runtuhnya ketegaran
yang laki-laki ini tunjukan dihadapan para pelayat.
Terlihat jelas raut kesedihan tampak dari
wajah tampannya. Tidak ada lagi tatapan hangat dari mata indah yang biasa dia
berikan untukku. Kini, mata itu tampak sayu, terlihat jelas sisa-sisa tumpahan
air mata yang telah ia keluarkan. Tubuh tegak yang selalu memberiku kehangatan
itu, kini tampak terkulai lemas, meratapi gundukan tanah dihadapannya.
Dielusnya nisan bertuliskan “KARINA PUTRI” itu dengan perlahan, bagaikan
memenggam tangan orang yang dikasihinya. Tidak lagi kudengar canda tawa dari
bibirnya, bibir itu kini terkatup menahan isak tangis kesedihan yang
dirasakannya.
Seharusnya aku menghiburnya, memberikan
pelukan hangat untuk menyalurkan kekuatan padanya. Membantunya menghadapi
cobaan yang telah Tuhan berikan padanya. Tapi, apa daya ketika yang dapat
kulakukan hanyalah berdiri tak jauh dari tempatnya. Memandangnya dengan penuh
kasih dan kesedihan. Aku tau, semua ini adalah takdir yang telah digariskan
dalam kehidupan kami. Tapi, seandainya waktu dapat diputar ulang, malam itu
takkan kubiarkan sebuah kata ‘rindu’ menjadi penyebab semua ini.
*****
Malam itu, tepat pukul delapan, aku masih
menanti dirinya. Duduk di salah satu bangku yang berada di dekat jendela. Spot terbaik yang
bisa aku dapatkan di saat suasana café ramai dengan mengunjung. Pasalnya ini
adalah malam minggu, waktu bagi para muda-mudi untuk menghilangkan penat
bersama teman-teman atau kekasihnya. Dari balik jendela kaca, aku dapat melihat
lalu-lalang kendaraan yang ramai.
Malam itu, cuaca sangat bersahabat, tidak ada
rintik hujan yang membasahi bumi seperti malam-malam sebelumnya. Warna-warni
hiasan lampu yang tersebar disekitar café menambah keindahan suasana malam itu.
Kuminum sedikit coklat hangat yang tadi kupesan, dapat kucium aroma manis yang
menguar dari dalam cangkir di hadapanku.
Kuedarkan pandanganku keluar jendela,
berharap dia segera datang menjemputku. Seharusnya kami tidak diperbolehkan
bertemu dalam beberapa hari kedepan. Tapi apa boleh buat, dia memaksaku untuk
menemuinya. ‘Rindu’, sebuah alasan yang dia berikan padaku, dan alasan itu tak
kunjung mereda walau kami telah berkomunikasi melalui telepon atau media social
lainnya. Akhirnya, dengan sedikit mencuri-curi kesempatan dari kedua orang tuaku,
aku putuskan untuk menemuinya malam ini.
Tak berapa lama, kulihat seorang laki-laki
memarkirkan motornya di seberang jalan café tempatku menunggu. Dilepasnya helm
yang dia dipakai, kemudian kulihat dia mengambil handphone dari
saku celananya.
Sebuah pesan masuk ke handphone milikku
yang aku letakkan di meja. Itu pasti pesan darinya. ‘Aku sudah di depan,’
begitu isi pesan itu.
‘Ya, aku sudah liat.
Aku keluar,’ segera kubalas pesan darinya. Setelah merapikan isi tas dan
membayar pesananku, segera kulangkahkan kakiku keluar café. Meninggalkan
cangkir coklat hangat yang masih belum habis kuminum.
Kulihat laki-laki itu menungguku sambil duduk
di motornya. Senyum tak lepas dari bibirku. Dia adalah laki-laki yang 2 tahun
ini sudah menjadi pemilik hatiku. Laki-laki yang telah mengisi hari-hariku
dengan berjuta kebahagiaan. Dan dengan laki-laki inilah akan kuhabiskan sisa
usiaku bersamanya, membangun keluarga kecil bahagia bersama anak-anak kami
kelak.
Kulambaikan tanganku saat pandangan kami
bertemu. Aku segera menyebrang jalan raya dengan perasaan yang membuncah. Ah,
ternyata kata rindu itu tak hanya dirasakannya, tapi juga olehku. Kata rindu
itulah yang menuntunku menuju kearahnya.
Tiba-tiba kudengar seseorang berteriak,
“MBAK, AWAS MBAK! MINGGIR!”. Lalu, kudengan teriakan itu disusul dengan
teriakan-teriakan lainnya, “TABRAK LARI, TABRAK LARI! WOI, BERHENTI, WOI! CEPAT
BAWA KE RUMAH SAKIT!” Tak kuingat apapun lagi, sampai kulihat sebuah raga terkapar
tak berdaya berlumuran darah. Kulihat laki-laki itu tak kalah terkejutnya
denganku. Dia langsung berlari menuju kearah tubuh itu, memeluk tubuh yang tak
lagi bernyawa itu. “KARINA, KARINAAAA, BANGUN KARINAAAA …” panggilnya pada
tubuh itu.
*****
Disinilah aku sekarang, menemaninya dalam
kesedihannya akan kepergianku. Menemaninya dalam bentuk ruh tak beraga.
Menyaksikan dirinya dalam kesunyian di depan tempat peristirahatan terakhirku,
rumah abadiku. Mempertanyakan sebuah kalimat untuk kekasih hidupku ini, kekasih
yang telah mencintaiku dengan segenap jiwa dan raganya. Iklaskah dia
melepaskanku?
#30dwc
#30dwcjilid12
#day14
#iklas
Picture : www.google.com
Picture : www.google.com








0 komentar:
Posting Komentar