Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Rabu, 04 April 2018

IKLASKAN DIA MELEPASKANKU?



Kupandangi laki-laki berpakaian serba hitam yang sedang jongkok di makam itu. Sudah 5 menit berlalu sejak pelayat terakhir meninggalkan lokasi pemakmaan, tapi dia tetap setia memandangi gundukan tanah merah bertabur bunga di hadapannya. Menyisakan diriku sebagai saksi runtuhnya  ketegaran yang laki-laki ini tunjukan dihadapan para pelayat.

Terlihat jelas raut kesedihan tampak dari wajah tampannya. Tidak ada lagi tatapan hangat dari mata indah yang biasa dia berikan untukku. Kini, mata itu tampak sayu, terlihat jelas sisa-sisa tumpahan air mata yang telah ia keluarkan. Tubuh tegak yang selalu memberiku kehangatan itu, kini tampak terkulai lemas, meratapi gundukan tanah dihadapannya. Dielusnya nisan bertuliskan “KARINA PUTRI” itu dengan perlahan, bagaikan memenggam tangan orang yang dikasihinya. Tidak lagi kudengar canda tawa dari bibirnya, bibir itu kini terkatup menahan isak tangis kesedihan yang dirasakannya.

Seharusnya aku menghiburnya, memberikan pelukan hangat untuk menyalurkan kekuatan padanya. Membantunya menghadapi cobaan yang telah Tuhan berikan padanya. Tapi, apa daya ketika yang dapat kulakukan hanyalah berdiri tak jauh dari tempatnya. Memandangnya dengan penuh kasih dan kesedihan. Aku tau, semua ini adalah takdir yang telah digariskan dalam kehidupan kami. Tapi, seandainya waktu dapat diputar ulang, malam itu takkan kubiarkan sebuah kata ‘rindu’ menjadi penyebab semua ini.

*****

Malam itu, tepat pukul delapan, aku masih menanti dirinya. Duduk di salah satu bangku yang berada di dekat jendela. Spot terbaik yang bisa aku dapatkan di saat suasana café ramai dengan mengunjung. Pasalnya ini adalah malam minggu, waktu bagi para muda-mudi untuk menghilangkan penat bersama teman-teman atau kekasihnya. Dari balik jendela kaca, aku dapat melihat lalu-lalang kendaraan yang ramai.

Malam itu, cuaca sangat bersahabat, tidak ada rintik hujan yang membasahi bumi seperti malam-malam sebelumnya. Warna-warni hiasan lampu yang tersebar disekitar café menambah keindahan suasana malam itu. Kuminum sedikit coklat hangat yang tadi kupesan, dapat kucium aroma manis yang menguar dari dalam cangkir di hadapanku.

Kuedarkan pandanganku keluar jendela, berharap dia segera datang menjemputku. Seharusnya kami tidak diperbolehkan bertemu dalam beberapa hari kedepan. Tapi apa boleh buat, dia memaksaku untuk menemuinya. ‘Rindu’, sebuah alasan yang dia berikan padaku, dan alasan itu tak kunjung mereda walau kami telah berkomunikasi melalui telepon atau media social lainnya. Akhirnya, dengan sedikit mencuri-curi kesempatan dari kedua orang tuaku, aku putuskan untuk menemuinya malam ini.

Tak berapa lama, kulihat seorang laki-laki memarkirkan motornya di seberang jalan café tempatku menunggu. Dilepasnya helm yang dia dipakai, kemudian kulihat dia mengambil handphone dari saku celananya.

Sebuah pesan masuk ke handphone milikku yang aku letakkan di meja. Itu pasti pesan darinya. ‘Aku sudah di depan,’ begitu isi pesan itu.
Ya, aku sudah liat. Aku keluar,’ segera kubalas pesan darinya. Setelah merapikan isi tas dan membayar pesananku, segera kulangkahkan kakiku keluar café. Meninggalkan cangkir coklat hangat yang masih belum habis kuminum.

Kulihat laki-laki itu menungguku sambil duduk di motornya. Senyum tak lepas dari bibirku. Dia adalah laki-laki yang 2 tahun ini sudah menjadi pemilik hatiku. Laki-laki yang telah mengisi hari-hariku dengan berjuta kebahagiaan. Dan dengan laki-laki inilah akan kuhabiskan sisa usiaku bersamanya, membangun keluarga kecil bahagia bersama anak-anak kami kelak.

Kulambaikan tanganku saat pandangan kami bertemu. Aku segera menyebrang jalan raya dengan perasaan yang membuncah. Ah, ternyata kata rindu itu tak hanya dirasakannya, tapi juga olehku. Kata rindu itulah yang menuntunku menuju kearahnya.

Tiba-tiba kudengar seseorang berteriak, “MBAK, AWAS MBAK! MINGGIR!”. Lalu, kudengan teriakan itu disusul dengan teriakan-teriakan lainnya, “TABRAK LARI, TABRAK LARI! WOI, BERHENTI, WOI! CEPAT BAWA KE RUMAH SAKIT!” Tak kuingat apapun lagi, sampai kulihat sebuah raga terkapar tak berdaya berlumuran darah. Kulihat laki-laki itu tak kalah terkejutnya denganku. Dia langsung berlari menuju kearah tubuh itu, memeluk tubuh yang tak lagi bernyawa itu. “KARINA, KARINAAAA, BANGUN KARINAAAA …” panggilnya pada tubuh itu.

*****

Disinilah aku sekarang, menemaninya dalam kesedihannya akan kepergianku. Menemaninya dalam bentuk ruh tak beraga. Menyaksikan dirinya dalam kesunyian di depan tempat peristirahatan terakhirku, rumah abadiku. Mempertanyakan sebuah kalimat untuk kekasih hidupku ini, kekasih yang telah mencintaiku dengan segenap jiwa dan raganya. Iklaskah dia melepaskanku? 

#30dwc
#30dwcjilid12
#day14
#iklas
Picture : www.google.com

0 komentar: