Aku
tahu Will sedang bingung dengan hubungan kami. Tepatnya hubungan kami bertiga.
Hubungan yang rumit untuk dimengerti. Antara aku, Cemara, dan William sendiri.
Sebenarnya aku tak tega menyuruh Will untuk memilih antara aku atau Cemara.
Memilih diantara dua wanita yang saat ini mengisi ruang hatinya. Tapi aku dan
Cemara juga tidak ingin diduakan, walaupun kami tahu nantinya salah satu dari
kami harus dapat menerima keputusan Will. Kami telah sepakat untuk tidak
memaksakan kehendak kami untuk menjadi kekasih Will. Biarlah William sendiri
yang menentukan.
“Mara,” panggilku saat melihat
Cemara sedang bingung mencari-cariku diantara kerumunan pengunjung restoran
tempat kami bertemu.
“Hai, Rin,” sapanya mendekat.
“Jadi, bagaimana?” aku memulai
pembicaraan setelah memesan minuman untuk kami berdua.
“Kita tunggu saja besok, Will
bilang dia akan memutuskannya. Kamu sendiri bagaimana?”
“Entahlah, yang pasti persahabatan
kita tidak akan selesai sampai disini saja kan?” aku meyakinkan perjanjian yang
telah kami sepakati sebelumnya.
“Tentu saja. Kita kan sudah
berjanji, siapa pun yang nanti dipilih Will, kita akan tetap melanjutkan bersahabatan
kita. Kau tahu Rin, setidaknya aku tidak perlu khawatir jika Will memilihmu
sebagai kekasihnya, karena kau adalah wanita yang baik.”
“Terima kasih Mara. Tapi seperti
yang kita ketahui, kita belum tau siapa yang akan Will pilih. Kecuali kalau kau
sudah ke dukun,” aku berusaha mencairkan suasana.
Senyum mengembang di bibir Cemara,
dia tampak cantik dengan senyuman itu. “Sebenarnya aku cukup lega saat
mengetahui kau adalah wanita yang sedang dekat dengan William saat aku pergi
meninggalkannya,” ucapnya sambil mengaduk-aduk minuman di depannya. Mungkin dia
teringat kejadian beberapa tahun lalu.
“Tapi waktu itu kamu pergi untuk
berobat. Yah ... walaupun kau pergi tanpa memberi penjelasan kepada Will
terlebih dahulu. Aku rasa dia juga masih memiliki perasaan padamu.” Tentu saja
aku mengatakan kalimat itu dengan sedih. Mungkin terlalu naif bagiku, tapi tidak bisa aku pungkiri bahwa William masih
memiliki perasaan itu. Pernah suatu ketika aku menanyakan kenapa dia menyukai
aroma pohon cemara, dan kini aku tahu jawabannya.
“Setidaknya kita telah memberi Will
kesempatan untuk berkencan dengan kita berdua,” ucap Cemara tenang.
“Tentu saja. Kau tau kadang aku
berfikir Will itu sudah seperti juragan minyak yang punya banyak kekasih.
Bayangkan saja ada 2 wanita yang sedang menunggu untuk dijadikan kekasihnya.
Padahal dalam kasus yang sama seharusnya kita bertengkar dan saling memusuhi
untuk mendapatkan perhatian William.”
“Benar juga ya…” dan perbincangan
kami berlanjut dengan hal-hal lainnya.
Bersambung ....
#30dwc
#30dwcjilid12
#day25 






0 komentar:
Posting Komentar