Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Sabtu, 14 April 2018

CEMARA DI HATI WILL (bagian 1)

 Aku tahu Will sedang bingung dengan hubungan kami. Tepatnya hubungan kami bertiga. Hubungan yang rumit untuk dimengerti. Antara aku, Cemara, dan William sendiri. Sebenarnya aku tak tega menyuruh Will untuk memilih antara aku atau Cemara. Memilih diantara dua wanita yang saat ini mengisi ruang hatinya. Tapi aku dan Cemara juga tidak ingin diduakan, walaupun kami tahu nantinya salah satu dari kami harus dapat menerima keputusan Will. Kami telah sepakat untuk tidak memaksakan kehendak kami untuk menjadi kekasih Will. Biarlah William sendiri yang menentukan.
            “Mara,” panggilku saat melihat Cemara sedang bingung mencari-cariku diantara kerumunan pengunjung restoran tempat kami bertemu.
            “Hai, Rin,” sapanya mendekat.
            “Jadi, bagaimana?” aku memulai pembicaraan setelah memesan minuman untuk kami berdua.
            “Kita tunggu saja besok, Will bilang dia akan memutuskannya. Kamu sendiri bagaimana?”
         “Entahlah, yang pasti persahabatan kita tidak akan selesai sampai disini saja kan?” aku meyakinkan perjanjian yang telah kami sepakati sebelumnya.
        “Tentu saja. Kita kan sudah berjanji, siapa pun yang nanti dipilih Will, kita akan tetap melanjutkan bersahabatan kita. Kau tahu Rin, setidaknya aku tidak perlu khawatir jika Will memilihmu sebagai kekasihnya, karena kau adalah wanita yang baik.”
            “Terima kasih Mara. Tapi seperti yang kita ketahui, kita belum tau siapa yang akan Will pilih. Kecuali kalau kau sudah ke dukun,” aku berusaha mencairkan suasana.
            Senyum mengembang di bibir Cemara, dia tampak cantik dengan senyuman itu. “Sebenarnya aku cukup lega saat mengetahui kau adalah wanita yang sedang dekat dengan William saat aku pergi meninggalkannya,” ucapnya sambil mengaduk-aduk minuman di depannya. Mungkin dia teringat  kejadian beberapa tahun lalu.
         “Tapi waktu itu kamu pergi untuk berobat. Yah ... walaupun kau pergi tanpa memberi penjelasan kepada Will terlebih dahulu. Aku rasa dia juga masih memiliki perasaan padamu.” Tentu saja aku mengatakan kalimat itu dengan sedih. Mungkin terlalu naif bagiku, tapi  tidak bisa aku pungkiri bahwa William masih memiliki perasaan itu. Pernah suatu ketika aku menanyakan kenapa dia menyukai aroma pohon cemara, dan kini aku tahu jawabannya.
            “Setidaknya kita telah memberi Will kesempatan untuk berkencan dengan kita berdua,” ucap Cemara tenang.
            “Tentu saja. Kau tau kadang aku berfikir Will itu sudah seperti juragan minyak yang punya banyak kekasih. Bayangkan saja ada 2 wanita yang sedang menunggu untuk dijadikan kekasihnya. Padahal dalam kasus yang sama seharusnya kita bertengkar dan saling memusuhi untuk mendapatkan perhatian William.”
            “Benar juga ya…” dan perbincangan kami berlanjut dengan hal-hal lainnya.


Bersambung ....

#30dwc
#30dwcjilid12
#day25   

0 komentar: