Angin
sore berhembus semilir. Menggoyangkan tangkai bunga-bunga yang tumbuh di taman.
Suara riuh anak-anak yang sedang bemain menjadikan suasana tampak ramai.
Terlihat burung-burung kecil melintasi angkasa untuk kembali ke peraduannya.
Melati
tertunduk memandang sepasang kakinya yang sedang asik bergerak tak menentu.
Menandakan keresahan di hatinya. Poninya dibiarkan menjuntai menutup kelopak
matanya yang indah. Di sampingnya, Rayhan menelungkupkan muka dengan kedua telapak
tangannya. Ia benci harus menghadapi saat-saat seperti ini. Ia ingin membiarkan
cinta Melati memasuki ruang hatinya, memberikan kehangatan untuk hatinya yang
telah membeku. Tapi apa daya ketika masih ada cinta lain disana.
“Maafkan
aku, Mel. Aku sudah mecobanya,” ucap Rayhan tanpa menatap Melati. Ia tak
sanggup bila harus menatap wajah gadis cantik itu.
“Tidak
ada yang perlu dimaafkan, Ray. Memang tak mudah mengalihkan cinta yang sudah
tertanan begitu dalam. Terlebih cinta itu terikat oleh kebersamaan belasan
tahun.”
“Kau
tau siapa gadis itu?” tanya Rayhan khawatir. Melati tersenyum arif. Tak
tersirat kecemburuan dalam mata gadis itu. Hanya ada keteduhan dan ketentraman
tanpa ada bias yang ingin mempermalukan.
“Awalnya
aku tak yakin, tapi sikapmu selalu berlebihan kepada setiap lelaki yang
mendekati Rini. Apalagi sejak Rini bersama dengan Krisna. Kau terlalu konyol
jika mencemaskan hubungan mereka,” Melati memberikan jeda sejenak sebelum
melanjutkan ucapannya. “Krisna laki-laki yang baik, kau hanya cemburu padanya.
Bukan perasaan cemburu karena seorang adik lebih mementingkan pacarnya
dibandingkan kakaknya sendiri. Melainkan lebih pada kecemburuan seorang
laki-laki pada gadis yang dicintainya.”
Rayhan
tersentak mendengar ucapan Melati. Bagaimana dia bisa tahu? Melati telah
menelanjanginya tampa mempermalukannya. “Apa sikapku begitu kentara?”
Kepala
Melati menggeleng pelan. “Untuk orang lain, kurasa tidak. Tapi untuk gadis yang
dengan tulus menyayangimu, mencintaimu, dan menunggumu dengan setia ...” Rayhan
tidak meragukan cinta Melati. Diantara gadis-gadis yang mengejarnya atau
didekatkan oleh Rini, hanya Melati yang benar-benar tulus mencintainya.
Walaupun sadar bahwa laki-laki ini tidak bisa memberikan apa yang
diinginkannya. Melati tetap menunggunya. Kesetiaan yang diinginkan oleh setiap
laki-laki di dunia, tapi tidak bagi Rayhan.
“Aku
tau kalau aku salah. Tapi aku tak dapat menahan perasaan ini,” Rayhan berhenti
sejenak. Terlalu berat untuk mengakui kenyataan yang selama ini ditutupinya.
“Kadang aku berfikir, mungkin akan jauh lebih baik bila kami tidak terikat oleh
hubungan darah. Berharap satu diantara kami hanyalah anak yang diadopsi oleh
mama dan papa. Tapi itu tidak mungkin, walau kami memiliki ayah yang berbeda,
tapi kami lahir dari rahim yang sama. Kenapa Tuhan begitu tak adil padaku Mel?
Kenapa aku harus mencintai adikku sendiri?” Terlihat keletihan di wajah
laki-laki itu.
“Tidak
ada yang perlu kau sesalkan. Cinta itu memang aneh. Tidak ada yang tau kapan
dia akan datang dan pergi. Tidak ada yang tau dimana cinta itu akan tumbuh.
Tapi ada satu hal yang pasti kita ketahui, yaitu kita dapat mamilih kepada
siapa cinta itu akan kita berikan.” Melati mengucapkan kata-kata itu dengan
bijak. Melati juga tau bahwa cinta tidak dapat dipaksakan, seperti halnya cinta
yang ia rasakan pada Rayhan.
Matahari
kian terbenam di ufuk Barat. Anak-anak kecil telah menyudahi permainannya dan kembali
ke rumah masing-masing, kepangkuan sang ibu yang memiliki sejuta kasih dan
cinta. Melati bangkit dari tempat duduknya, “Kita pulang yuk ...” ajaknya.
Rayhan
meraih tangan Melati sebelum ia pergi. “Aku sudah memutuskan untuk mengakhiri
kesalahan ini Mel. Aku akan melanjutkan pendidikan S2 ku di luar negeri.”
Rayhan menatap Melati dengan tatapan penuh permohonan, “Maukah kau menemaniku?”
Mendengar ucapan Rayhan, Melati hanya tersenyum tipis.
Bersambung
…
#dwc
#dwcjilid12
#day17
Picture : www.google.com
Picture : www.google.com








0 komentar:
Posting Komentar