Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Senin, 22 September 2014

Tiga Tahun Kebersamaan



Awalnya kita hanya orang-orang biasa yang tak saling mengenal. Siapa dia? siapa kamu? Siapa kalian? Kita terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing. Dulu kita berangkat meninggalkan rumah. Membawa impian kita masing-masing. Atau mungkin hanya sebuah harapan. Di tempat ini kita dipertemukan. Membayar hutang-hutang kita di masa lalu. Dalam masa orientasi kala itu, kita dituntut untuk saling mengenal satu sama lain. Itu adalah awal yang sulit, penuh tekanan, dan rasa takut. Tidak boleh ini, tidak boleh itu, semuanya penuh aturan, semuanya terasa berat. Bahkan waktupun terasa tak bersahabat. Dan pada akhirnya yang bisa kita lakukan hanyalah menangis dalam kegelapan kamar. Tak ada orang tua, tak ada orang terkasih, tak ada sahabat, tak ada tempat berkeluh kesah. Semuanya masih asing. Awalnya mungkin terasa aneh. 58 orang yang tak kenal satu sama lain harus hidup bersama dan saling berbagi. Berbagi kamar, berbagi tempat tidur, berbagi lemari, bahkan kamar mandi. Memanggil mereka dengan nama asrama yang terdengar aneh ditelinga kita.
Waktu terus berputar, haripun terus berganti, dan kita mulai saling mengenal. Mengenal siapa sebenarnya orang-orang ini. Orang-orang yang akan menghabiskan tiga tahun waktunya bersama kita. Teman-teman baru yang bersamanya akan kita buat kenangan-kenangan tak terlupakan. Awalnya kita hanya dipersatukan karena rasa takut, kesal, dan kesedihan yang sama-sama kita rasakan. Tapi siapa sangka, di tempat yang kita sebut sebagai sangkar emas inilah kita bisa saling berbagi. Berbagi kesedihan, tawa kebahagian, saling mengisi, berbagi cerita, semangat, dan hal-hal kecil lainnya yang kita lalui bersama.
Ini seperti sebuah perjalanan panjang. Langkah awal terasa begitu berat dengan jalanan penuh kerikil. Ketika lelah dan penat kita rasakan, ingin rasanya mengakhiri perjalanan ini. Tapi keinginan itu tak mungkin kita wujudkan. Pikiran kita akan segera melayang ke rumah kita masing-masing. Masih ada keluarga yang menaruh harapannya di pundak kita. Masih ada orang tua yang menunggu berita keberhasilan kita di rumah. Semua ini terasa begitu berat, mungkin sebagian dari kita berfikir bahwa ini semua tak adil. “Aku ingin resign”. Kalimat ini yang sering kita ucapkan untuk sekedar melampiaskan ketidakberdayaan kita. Dalam situasi seperti ini, kita tidak sendiri. Ada orang lain di samping kita. Masih ada mereka yang tak pernah lelah memberi dukungan. Mereka yang juga merasakan apa yang kita rasakan, namun tetap memberi semangat meski hanya melalui kalimat-kalimat sederhana. “Semangat!, kita pasti bisa melewati semua ini”, “semua pasti ada waktunya”, “tinggal sebentar lagi”, “kita harus lulus bersama-sama”.
Ketika salah satu dari kita ada yang terjatuh, kita berusaha untuk memberikan dukungan dan semangat untuk kebangkitannya. Ketika ada yang tertinggal, kita akan menunggu dan mengulurkan tangan untuk kembali bersama-sama menyusuri jalan ini. Kesedihan begitu kita rasakan ketika salah satu dari kita memilih untuk mundur dan meninggalkan kita. Kita gagal mempertahankan sebuah “permata” untuk tetap bersama kita. Saat kepergiannya, yang bisa kita lakukan hanyalah mengantarkannya dengan air mata dan harapan bahwa cahaya permata itu akan kembali terang. Berharap semua yang menjadi mimpinya dapat terwujud di luar sana. Dan kita masih tetap di tempat ini, kembali melanjutkan perjuangan kita.
Banyak hal yang telah kita lalui selama tiga tahun kebersamaan ini. Pagi hari selalu kita awali dengan kegiatan mengamprah kamar mandi, merbad dan membersihkan kamar, menghias diri dengan bedak tabur, dan segera ke kantin untuk sarapan. Masih ingatkah kalian ketika kita dikejutkan oleh kedatangan tiba-tiba seorang dosen, hingga membuat kita melewati kuliah tanpa mandi. Atau bagaimana sulitnya kita melawan rasa kantuk ketika kuliah, duduk berjam-jam dan mendengarkan materi-materi baru. Tiap kali dosen memberikan materi baru, hal pertama yang kita lakukan adalah melihat berapa banyak slide yang akan ditampilkan. Dan helaan nafas panjang akan terdengar ketika ternyata masih ada materi lain yang belum diberikan.
Ingatkah kalian ketika jam makan siang tiba. Dengan cepat kita meletakkan botol minum di meja makan dan kemudian meninggalkannya untuk memilih-milih makanan yang disediakan kantin. Berharap mendapatkan potongan ikan yang lebih besar. Sedangkan yang tidak mendapatkan tempat duduk sibuk mengamprah atau memilih makan di meja luar dengan menarik kursi yang ada di ruang IKM. Usai makan siang dan membersihkan piring, kita akan menyempatkan diri mengunjungi kamar untuk istirahat siang. Ketika waktu kuliah tiba atau terdengar suara “teman-teman dosen udah mau masuk kelas!!!” kita akan terbangun tiba-tiba dan berlarian di lorong-lorong asrama menuju kelas.
Kuliah telah berakhir, dan ini waktunya istirahat. Ketika badan dan pikiran terasa letih, tempat yang paling nyaman untuk disinggahi adalah bad kita, sekedar untuk bersantai atau memejamkan mata. Kegiatan sore hari selalu bervariasi. Ada saja dari kita yang sibuk mencari alasan untuk keluar asrama, dan ketika tak mendapat ijin, pilihan terakhir adalah keluar tanpa memberi tahu ibu asrama. Atau memilih untuk menghabiskan waktu dengan berdiam diri di asrama. Melakukan olah raga ringan ketika merasa berat badan sedikit meningkat, membaca beberapa lembar buku kuliah, sibuk di depan layar laptop, menonton film atau berbagi cerita mengenai drama-drama korea yang harus kita lihat bersama, saling berbagi makanan, membuat rujak yang baunya sampai tercium oleh anggota kamar tetangga, membantu mengangkat galon karena salah satu dari kita tak kuat membawanya sampai kamar, atau sekedar menggoda satu sama lain tentang hal-hal yang sebenarnya hanya lelucon sederhana.
Hidup bersama di asrama terdengar sangat membosankan dan melelahkan, terutama dengan semua permasalahannya. Tapi seiring berjalannya waktu, asrama menjadi tempat bagi kita untuk saling mengenal satu sama lainnya. Di tempat inilah banyak hal yang telah kita lalui. Rasa panic dan teriakan histeris ketika kita merasakan gempa untuk pertama kalinya, listrik yang tiba-tiba mati hingga kita harus berjalan dalam gelap hanya dengan penerangan senter, menampung air dari lantai bawah ketika aliran air mati, menumpang mandi karena kamar mandi kamar yang mampet, plafon kamar yang bocor sampai jebol, wastafel yang mampet, bau kamar mandi yang sampai tercium ke luar kamar, loker dan lemari kamar yang rusak. Perasaan kesal dan sedih ketika kita harus terpisah dengan teman-teman satu kamar, memindahkan dan kembali mengatur barang-barang di kamar yang baru, dan kita harus kembali menyesuaikan diri dengan anggota kamar baru. Terlalu banyak hal yang telah kita lewati selama tiga tahun ini.  
Banyak juga cerita yang telah kita bagi selama tiga tahun ini. Cerita yang yang tak akan pernah sama. Cerita-cerita unik tentang kekonyolan yang sering kita lakukan, kisah cinta yang sering kita bagi, perasaan tersakiti yang kadang harus kita rasakan, rasa kesal, cerita-cerita masa SMA yang kita miliki, pengalaman-penagalaman menaik yang pernah kita alami, harapan untuk terwujudnya impian-impian masa lalu, khayalan mengenai masa depan, cerita-cerita sederhana yang terjadi sedari pagi, dan hal-hal lain yang kita lakukan kemarin, hari ini, esok dan kapanpun itu.
Detik berganti detik, menit berganti menit, dan tiap jam yang kita lalui bersama memberi kesan tersendiri hingga mampu membentuk suatu ikatan diantara kita. Ketika salah satu dari kita merayakan ulang tahun, entah bagaimanapun caranya kita harus merayakannya bersama.  Di kamar tempat kita menghabiskan waktu ini, kita saling berdesakan. Meski sederhana, hanya dengan sebuah kue kecil dan nyala lilin-lilin kecil, lagu happy birthday-pun terlantun. Tak ada musik pengiring, hanya suara tepuk tangan kami yang mengiringi lagu selamat ulang tahun untukmu. Saat itu pula matamu tertutup, mengharap satu permintaanmu dapat terkabul. “Huuufff..” suara desis kecil terdengar dari mulutmu dan nyala terang lilin-lilin yang menghiasi kue menjadi padam. Kamipun menyambutnya dengan tepuk tangan meriah dan suara tawa bahagia menyambut dirimu yang semakin dewasa.
Tak ada yang istimewa di hari ulang tahunmu kali ini. Tak seperti tahun-tahun sebelumnya. Mungkin saat itu kau merayakannya dengan sangat meriah. Membuat pesta di rumah, mentraktir sahabatmu, merayakan bersama orang terkasih, makan bersama keluarga, atau menanti setiap kejutan yang diberikan orang-orang terdekatmu. Tapi saat ini kamilah yang ada disampingmu. Tak ada kado istimewa yang kami siapkan, hanya ucapan selamat ulang tahun dan sebuah doa sederhana agar kau selalu panjang umur dalam lindunngan Tuhan. Kami bukanlah keluargamu, tapi kami berusaha memberi yang terbaik yang bisa kami lakukan. Berharap ada sebuah senyum yang mengembang menjadi tawa bahagia dari bibirmu. 
Potongan pertama kue ulang tahunmu bukanlah untuk ayah, ibu, atau kekasihmu. Tapi untuk orang lain. Orang asing yang tak memiliki hubungan darah denganmu. Ya, kue itu untuk kami, sahabat, saudara sekaligus keluarga barumu saat ini. Dengan adil kau membagi kue kecil itu, membaginya dan menikmatinya bersama kami. Seperti inilah perayaan ulang tahunmu saat ini. Bersama, kita merayakannya dalam kesederhanaan, saling berbagi tawa, suka cita, kebahagiaan bersama, dan mengabadikannya melalui beberapa jepret foto. Semoga ulang tahunmu saat ini memberikan kesan indah untukmu. “Selamat ulang tahun teman!!!….” Senyum dan tawa kebahagian di hari jadimulah yang kami inginkan. “Semoga panjang umur…..”
Selalu ada yang pertama untuk kita. Pertama kali menggikuti UTS, UAS, praktik lapangan, ujian praktik, OSCA, dan hal pertama lainnya. Cemas, takut, dan perasaan khawatir tentu kita rasakan. “Mampukah kita melewatinya?”. Dan waktulah yang menjawab pertanyaan itu. Pertanyaan seperti “Sudah ujian?”, “Sudah responsi?”, “Sudah dapat pasien?”, “Sudah konsultasi ke pembimbing?”, “Sudah acc proposal?”, “LTAnya sudah selesai?”, “Kapan sidang?”. Pertanyaan-pertanyaan itu kemudian berubah menjadi sebuah kaliamat kebanggaan. “Selamat ya.. yang udah siding”, “Cie,.. yang  udah selesai perbaikan, sudah di tanda tangani lagi LTAnya…”.
Pada akhirnya, kita berhasil menyelesaikan perjalanan panjang ini. Meski sulit dan membutuhkan perjuangan keras, akhirnya kita telah sampai di ujung jalan ini.
Banyak hal yang telah kita lalui bersama, suka-duka, tangis kesedihan, tawa bahagia, harapan, impian, khayalan, perjuangan, semuanya. Cerita-cerita yang telah kita tulis bersama, hingga menjadi kenangan indah di masa yang akan datang. Kita akan menyimpan semuanya di tempat ini. Foto-foto, kenangan, semuanya. Semua yang masih bisa kita ingat. Semuanya tersimpan rapi dalam tempat ini, di bawah debunya masing-masing. Serapi kisah kita, yang begitu kusam kebenarannya…
Hari ini kita berada disatu titik dimana kita harus mengakhiri dan mengawali. Diakhir sesi ini saat dimana segala kesalahan, kenangan, perjuangan, berkumpul dengan angkuhnya. Mencoba membuka kembali “harta karun” yang telah tersimpan rapi. Di akhir sesi ini keikhlasan menutup semua yang telah terjadi. Di akhir sesi ini dimana ada sebait doa yang selalu terlontar dari bibir yang kelu ini, mencoba mensyukuri setiap cobaan yang telah dilalui. Di akhir sesi ini kita mulai mencoba mengumpulkan puing-puing hati yang telah terhantam ombak cobaan itu. Kita susun dengan sebuah keyakinan, meyakini tidak akan ada puing yang tertinggal. Di akhir sesi ini kita mulai mencoba menguatkan hati ini. Apa yang akan kami dapatkan setelah ini ? Entahlah… hati ini hanya tau bahwa ia harus menguatkan diri menghadapi peperangan yang semakin tak manusiawi yang mungkin akan terjadi setelah ini.  Di akhir sesi ini kita akhiri dengan sebait doa, untaian kata penuh harapan, harapan yang akan tetap menyediakan jalan bagi setiap jiwa yang lelah melangkah. Di akhir sesi ini, ketika jiwa, raga, dan doa sudah menyatu untuk membentuk fondasi kehidupan yang kuat. Dan akhirnya di akhir sesi ini saat dimana kita semua harus mengakhiri dan memulai. Mengakhiri dengan keikhlasan dan memulainya dengan harapan.
Terima kasih untuk tiga tahun terbaik nan penuh pelajaran berharga ini teman. Sampai bertemu kembali suatu saat nanti. Yaa… suatu saat nanti, dimana kita semua telah membawa bintang kesuksesan kita masing-masing.  

 
I'm gonna miss u guys....
I Love You....



Minggu, 07 September 2014



MENUNGGU...
Di sini, di tempat aku duduk saat ini…
Selama beberapa hari ini aku menghabiskan tujuh jam waktuku di ruangan kecil ini
Sebagian orang menyebut ruangan ini sebagai gudang
Tapi ada seseorang yang telah menganggap bahwa ruangan ini adalah kamarnya
Dan bagiku, ruangan ini adalah tempat untukku menunggu
Menunggu datangnya orang-orang yang bahkan aku sendiri tak mengenal mereka
Menunggu detik demi detik berganti
Menunggu seseorang datang untuk menggantikanku
Tak banyak yang bisa ku lakukan selama penantianku
Membaca lembar demi lembar buku yang ku bawa
Menulis beberapa catatan yang kuanggap penting
Atau sekedar merapikan beberapa bagian yang telihat berantakan
Tapi semua yang ku lakukan tak mampu membuat waktu bergulir dengan cepat
Jarum jam masih berjalan dengan santainya pada jalurnya
Terkadang suara dering telepon mengagetkanku
Membuatku segera bangkit dari posisi santaiku 
dan kemudian tergesa-gesa mengangkat gagang telpon
Suara tangis bayi dan nyanyian anak-anak menjadi hiburan tersendiri untuk telingaku
Paling tidak, masih ada suara lain yang bisa ku dengar
Tidak melulu suara deru kendaraan bermotor yang berlalu lalang di jalan
Atau suara gerak jarum yang terdengar lambat
Melalui jendela di ruangan ini
Aku melihat kendaraan berlalu lalang di jalan
Melihat orang-orang berbelanja di warung depan
Pemuda-pemuda yang bersenda gurau di pos kamling dekat pengkolan jalan
Atau beberapa pedagang makanan yang mencoba menawarkan barang dagangannya
Meski harapan terbesarku adalah melihat kedatangan orang-orang yang tak ku kenal
Sesekali pandanganku beralih ke jam dinding yang terpasang di atas pintu
Hah!, waktu masih tak mau berjalan dengan cepat
Waktu masih tak mau bersahabat denganku
Atau mungkin, akulah yang harus bersahabat dengannya?
Membiasakan diri dengan penantianku ini
“Tak perlu menunggu, mereka akan datang dengan sendirinya, 
dan aku akan terus berjalan pada jalurku, sampai tujuh jam waktumu berlalu”, 
itulah kata waktu padaku