Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Minggu, 15 Januari 2012

Setiap Hariku untukmu “Ibu”


Hari ibu adalah sebuah bentuk penghargaan kecil yang diberikan anak-anak Indonesia kepada seluruh wanita. Jatuh pada tanggal 22 Desember, setiap anak Indonesia akan mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada wanita yang telah melahirkannya. Wanita yang dipanggil ibu, mama, bunda, umi dan sebutan lainnya, mereka tetaplah sosok yang sama. Penuh dengan kasih sayang, kehangatan dan kelembutan. Hari ibu adalah moment penting bagi setiap anak untuk mengungkapkan kasih sayangnya kepada sang ibu tercinta.
Tapi, apakah hanya di tanggal 22 Desember itu kita menunjukkan rasa kasih sayang? Yang terkadang kita sampaikan dalam sebuah bentuk hadiah atau ungkapan-ungkapan sedehana. Padahal ibu senantiasa ada di sampig kita. Kasihnya tidak mengenal waktu, tempat, keadaan dan tidak akan berkurang dari hari kehari. Namun, kenapa kita tidak bisa membalas semua itu setiap saat? Disetiap ibu kita merasa senang, sedih, sendiri, banyak waktu yang dapat kita habiskan bersamanya.
Kita lebih senang meyibukkan diri dengan berbagai macam pekerjaan dan lebih mendahulukan kesenangan pribadi. Kebanyakan yang dialami remaja saai ini, mereka sebih suka berkumpul dengan teman-teman sebayanya dibandingkan dengan ibu mereka. Menghabiskan waktu luang berjam-jam hanya untuk mengosipkan artis-artis idola mereka dirasa lebih penting daripada sekedar menemani ibu di rumah. Bahkan, untuk sekedar mendengarkan nasihat dari sang ibupun mereka merasa enggan dan lebih memilih mendengarkan lagu-lagu cinta favorit mereka. Keadaan seperti ini juga bukan hanya kesalahan dari si anak. Profesi ibu sebagai wanita karir juga dapat memberikan dampak negatif terhadap perkembangan anak. Kesibukan ibu dalam berkarir secara otomatis akan menyita waktu pertemuan antar keduanya menyempit.
            Hal-hal semacam ini dapat menyeibabkan kurangnya chemistry antara ibu dan anak. Perasaan yang lebih sering kita kenal dengan ikatan batin ibu dan anak hanya dapat dirasakan satu pihak saja, yaitu lebih dominan dirasakan pihak ibu. Seorang anak bahkan dapat kehilangan jati dirinya karena kurangnya waktu bersama sang ibu. Ungkapan kasih sayang seorang anak kepada ibunya akan jarang terdengar. Bahkan mungkin saja apa yang mereka lakukan pada tanggal 22 Desember hanyalah sebuh bentuk simbolisasi semata, atau hanya sekedar perayaan tak bermakna.
Seharusnya, seorang anak dan ibunya mulai membentuk rasa kasih sayang, saling memiliki, melindungi dan mengasihi satu samalainnya. Hal ini dapat dimulai dengan ungkapan-ungkapan sederhana yang dapat mewakili perasaan anak kepada ibunya. Misalnya ucapan “Terima kasih telah menyayangiku, I Love U Mom, Aku sayang mama” atau ungkapan lainnya. Tidak ada salahnya juga jika kita sesekali menemani ibu menjalani aktivitasnya. Atau memberikan kejutan kecil di hari-hari biasa. Tidak monoton hanya di hari ibu saja kita berfikir keras menentukan barang apa yang dapat mewakili rasa terima kasih kita kepada ibu tercinta.
Sehingga kita akan terbiasa mengungkapkan rasa cinta kita kepada ibu tersayang. Hari-hari biasapun akan menjadi lebih istimewa. (Doli)

0 komentar: