Namaku Chintia
Adista, aku adalah seorang wanita mandiri. Hidupku sempurna dengan kecantikan
dan karir cemerlang yang aku miliki. Diusia yang hampir mencapai kepala tiga,
wajahku masih tetap cantik, tubuhku langsing, dan kulit putihku mulus tanpa
noda. Tentu saja semua ini aku dapatkan karena aku selalu menerapkan hidup
sehat, rajin berolahraga, dan rutin melakukan perawatan di salon kecantikan. Sejak
usia belasan tahun, aku selalu disiplin dalam menjaga kecantikan dan kemolekan
tubuhku.
Tentu aja semua
usahaku tidak akan sia-sia. Di awali dengan lomba modeling yang aku
ikuti saat duduk di bangku sekolah, aku mulai merajahi pekerjaanku di dunia kecantikan itu.
Saat ini, sudah banyak prestasi dan penghargaan yang aku dapatkan. Bahkan jadwal
pemotretan dan menjadi model untuk peragaan busana karya desainer ternama juga
sudah memenuhi agenda bulananku.
Aku selalu
menjadi yang pertama dalam segala hal. Dalam hidupku, hanya ada angka satu,
tidak ada kedua, ketiga, atau angka lainnya. Bahkan dalam hal pendidikan. Aku selalu mendapatkan nilai yang memuaskan. Hal
yang mungkin oleh sebagian orang akan dianggap mustahil, mengingat profesi yang sudah aku geluti sejak SMP. Tapi tidak bagiku. Prinsip
hidup mandiri, disiplin, dan pantang menyerah yang aku tanamkan, selalu membuatku
menjadi yang pertama.
Dalam kehidupan asmara pun,
aku tidak mau ketinggalan. Sudah banyak laki-laki yang mejadi kekasihku. Tentu
saja mereka adalah laki-laki yang memiliki kualitas terbaik dari kalangannya.
Hampir semua kekasihku berasal dari kalangan atas, entah itu pengusaha, artis, penyanyi,
politikus, atau lain sebagainya.
Seperti saat
ini, aku sedang berkenacan dengan salah seorang aktor pendatang baru yang
sedang naik daun. Namanya Kevin, pemuda keturunan Padang-Arab yang sedang
menjadi berbincangan publik. Wajah tampan, sosok ramah, dan kepiawaiannya dalam
bermain peran menjadi poin plus untuk
menunjang karirnya.
Aku bertemu
dengannya saat menghadiri premier salah satu film yang dibintanginya. Hubungan
percintaan kami ternyata juga mendapat restu dari masyarakat. Tidak ada hujatan
yang berarti, yang ada hanyalah pujian dan komentar positif dari para
penggemar. Kami bahkan dinobatkan sebagai pasangan paling sempurna dan serasi
di tahun ini. Kami juga sering mendapat proyek bersama, entah itu tawaran iklan
atau menjadi bintang tamu di acara bincang-bincang.
Hidupku sangat
sempurna. Tapi apapun bentuknya, kesempurnaan tidak selalu abadi. Banyak
pendatang baru di dunia modeling. Daun muda yang tentunya lebih fresh dan cantik. Perlahan karirku mulai
memudar, begitu pula dengan hubungan asmaraku dengn Kevin. Setelah 1 tahun berpacaran,
sikapnya mulai berubah, tidak ada lagi kata-kata manis dan perhatian untukku. Saat
aku mempertanyakan perubahan sikapnya, dia beralasan kesibukan di dunia entertainment yang memaksanya
melupakanku. Bahkan dipertemuan terakhir kami, dia minta putus dariku. Tentu
saja aku tidak terima, selama ini akulah yang memutuskan hubungan cintaku.
Tidak pernah sekalipun aku ditinggalkan, selalu aku yang mengakhiri hubungan
asamaraku. Dan saat ini aku masih mencintai Kevin. Pertemuan kami pun di akhiri dengan pertengkaran hebat.
Tapi alasan,
hanyalah sebuah alasan. Beberapa hari setelah pertengkaran hebat kami, muncul sebuah
kabar Kevin sedang terlibat cinta lokasi dengan lawan mainnya di sinetron
terbarunya. Oh, jadi inilah alasan sebenarnya dia meninggalkanku? Bukan karena kesibukannya,
tapi karena aku bukan lagi menjadi yang pertama untuknya. Aku bukan lagi
menjadi nomor satu dalam hatinya.
Saat mengetahui
kabar itu, hatiku dipenuhi dengan amarah. Aku tidak bisa menerima semua
kenyataan ini. Karirku, cintaku, semua tidak lagi sama. Bagaimana bisa posisiku
digantikan oleh anak kemarin sore yang baru belajar berjalan? Tidak bisa, aku
harus selalu menjadi yang pertama. Aku adalah nomor satu dalam segala hal.
Itulah prinsip hidupku. Aku tidak akn menerima kekalahan ini. Aku harus
melakukan sesuatu.
Hari itu, di
dalam kamarku yang gelap, kupaksa otakku bekerja memikirkan segala cara untuk mengembalikan
posisiku. Segala hal yang kulihat dalam kamarku pun seperti mendukungku.
Pandanganku beredar ke seluruh ruangan, pada piala berbentuk angka 1 yang
terpajang di almari piala, pada jejeran piala bertuliskan ‘juara 1’, pada
kumpulan foto diriku yang sengaja kubentuk angka satu di dinding
kamar, bahkan angka satu pada jam dinding seakan ikut mendukungku. Semua angka
satu itu berputar-putar dalam kepalaku. Hingga pandanganku tertuju pada sebuah
benda yang tergeletak di meja dapur. Sebuah benda yang baru saja aku gunakan
untuk memotong buah. Segera kuambil benda itu dan kusimpan dalam tas. Aku langsung
bergegas menuju tempat Kevin dan pacar simpanannya.
Sesampainya di lokasi
shooting, aku langsung mencari Kevin.
Pandanganku nyalang mengelilini area shooting
yang tampak ramai. Tidak kuhiraukan sapaan dari para kru yang melihatku. Dan di
sanalah aku menemukannya, sedang beradegan mesra dengan artis itu, pacar
simpanannya. Kupegang erat benda di dalam tasku. Dengan penuh amarah,
kudekatkan tubuhku ke arah wanita itu. Dapat kulihat wajah terkejut menghiasi
wajah tampan Kevin yang berdiri disebelahnya. Setelah tepat berada dihadapan
wanita itu, langsung kukeluarkan benda yang sudah kupegang dari dalam tasku.
Kutancapkan benda itu ke perut wanita itu. Perlahan, tampak raut kesakitan
dalam wajah cantiknya. Kulihat warna merah mulai mewarnai tanganku dan bau
amis darah menerpa indra penciuamnaku. Suasana di area shooting itu pun menjadi ramai, semua tampak panik dengan apa yang
telah aku lakukan.
Kulihat wajah
terkejut Kevin berubah menjadi ketakutan, secara reflek dia mundur menjauhiku. Tentu
saja tidak akan kubiarkan dia lari dariku. Segera kutarik tangannya, kupeluk
erat dirinya sambil mengucapkan, “Aku
selalu menjadi yang pertama, aku akan selalu menjadi yang nomor satu dalam
hatimu. Bukan wanita sialan itu.”
Kurasakan tubuh Kevin meronta dalam pelukanku, dia menolakku, “Lihatlah, semua kecantikan ini adalah milikku. Aku selalu menjadi nomor satu dalam segala hal, dalam karir, pendidikan, bahkan dalam hatimu. Bukan wanita itu.” Kataku sambil menunjuk wanita yang telah terkapar tak berdaya di hadapan kami.
Kurasakan tubuh Kevin meronta dalam pelukanku, dia menolakku, “Lihatlah, semua kecantikan ini adalah milikku. Aku selalu menjadi nomor satu dalam segala hal, dalam karir, pendidikan, bahkan dalam hatimu. Bukan wanita itu.” Kataku sambil menunjuk wanita yang telah terkapar tak berdaya di hadapan kami.
Tiba-tiba
kurasakan tubuhku ditarik paksa oleh 2 laki-laki berpakaian putih.
Tubuhkku dipisahkan dari tubuh Kevin. Tidak, tunggu dulu, pria dihadapanku itu
bukan Kevin. Seingatku tubuh Kevin lebih tinggi dari tubuh laki-laki ini. Lalu
kemana Kevin? Aku langsung meronta mencari sosok Kevin, mereka pasti
menyembunyikannya.
Kurasaan kedua laki-laki itu lebih kuat menahanku, dan seketika benda tajam berukuran kecil menusuk lenganku. Benda berbentuk jarum itu perlahan membuatku tubuhku tak berdaya. Pandanganku mulai mengabur, tubuhku lemas, rasa kantuk yang hebat mulai menyerangku.
Samar dapat kulihat seorang wanita berbaju putih menghapiriku dan mengatakan, “Halusinasinya muncul lagi. Bawa dia ke kamar isolasi sampai dia tenang dan pastikan tidak ada benda tajam atau semacamnya di kamarnya. Setelah sadar saya akan melakukan menemuinya.”
“Baik dok,” jawab dua laki-laki yang memenganku tadi. Itulah kata terakhir yang dapat kutangkap sebelum kesadaranku menghilang.
Kurasaan kedua laki-laki itu lebih kuat menahanku, dan seketika benda tajam berukuran kecil menusuk lenganku. Benda berbentuk jarum itu perlahan membuatku tubuhku tak berdaya. Pandanganku mulai mengabur, tubuhku lemas, rasa kantuk yang hebat mulai menyerangku.
Samar dapat kulihat seorang wanita berbaju putih menghapiriku dan mengatakan, “Halusinasinya muncul lagi. Bawa dia ke kamar isolasi sampai dia tenang dan pastikan tidak ada benda tajam atau semacamnya di kamarnya. Setelah sadar saya akan melakukan menemuinya.”
“Baik dok,” jawab dua laki-laki yang memenganku tadi. Itulah kata terakhir yang dapat kutangkap sebelum kesadaranku menghilang.
Saat kesadaran
kembali merasukiku, aku sedang berada di sebuah kamar dengan nuansa putih
bersih. Aroma obat-obatan dan pembersih ruangan sangan mendominasi baru ruangan
ini. Kurasakan tangan dan kakiku diikat dengan pinggiran tempat tidur. Selang
beberapa lama, kulihat seorang perempuan dengan jas putihnya datang
mendekatiku. Siapa dia? Ah ya, aku mengenalnya. Dia adalah dokter Arimbi,
dokter spesialis kejiwaan yang telah menanganiku sejak 3 bulan kedatanganku di
rumah sakit ini. Rumah Sakit Jiwa Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang.
#30dwc
#30dwcjilid12
#day22
#satu
#satu







0 komentar:
Posting Komentar