Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Rabu, 11 April 2018

AKULAH YANG PERTAMA

Namaku Chintia Adista, aku adalah seorang wanita mandiri. Hidupku sempurna dengan kecantikan dan karir cemerlang yang aku miliki. Diusia yang hampir mencapai kepala tiga, wajahku masih tetap cantik, tubuhku langsing, dan kulit putihku mulus tanpa noda. Tentu saja semua ini aku dapatkan karena aku selalu menerapkan hidup sehat, rajin berolahraga, dan rutin melakukan perawatan di salon kecantikan. Sejak usia belasan tahun, aku selalu disiplin dalam menjaga kecantikan dan kemolekan tubuhku.

Tentu aja semua usahaku tidak akan sia-sia. Di awali dengan lomba modeling yang aku ikuti saat duduk di bangku sekolah, aku mulai merajahi pekerjaanku di dunia kecantikan itu. Saat ini, sudah banyak prestasi dan penghargaan yang aku dapatkan. Bahkan jadwal pemotretan dan menjadi model untuk peragaan busana karya desainer ternama juga sudah memenuhi agenda bulananku.

Aku selalu menjadi yang pertama dalam segala hal. Dalam hidupku, hanya ada angka satu, tidak ada kedua, ketiga, atau angka lainnya. Bahkan dalam hal pendidikan. Aku selalu mendapatkan nilai yang memuaskan. Hal yang mungkin oleh sebagian orang akan dianggap mustahil, mengingat profesi yang sudah aku geluti sejak SMP. Tapi tidak bagiku. Prinsip hidup mandiri, disiplin, dan pantang menyerah yang aku tanamkan, selalu membuatku menjadi yang pertama.

Dalam kehidupan asmara pun, aku tidak mau ketinggalan. Sudah banyak laki-laki yang mejadi kekasihku. Tentu saja mereka adalah laki-laki yang memiliki kualitas terbaik dari kalangannya. Hampir semua kekasihku berasal dari kalangan atas, entah itu pengusaha, artis, penyanyi, politikus, atau lain sebagainya.

Seperti saat ini, aku sedang berkenacan dengan salah seorang aktor pendatang baru yang sedang naik daun. Namanya Kevin, pemuda keturunan Padang-Arab yang sedang menjadi berbincangan publik. Wajah tampan, sosok ramah, dan kepiawaiannya dalam bermain peran menjadi poin plus untuk menunjang karirnya.

Aku bertemu dengannya saat menghadiri premier salah satu film yang dibintanginya. Hubungan percintaan kami ternyata juga mendapat restu dari masyarakat. Tidak ada hujatan yang berarti, yang ada hanyalah pujian dan komentar positif dari para penggemar. Kami bahkan dinobatkan sebagai pasangan paling sempurna dan serasi di tahun ini. Kami juga sering mendapat proyek bersama, entah itu tawaran iklan atau menjadi bintang tamu di acara bincang-bincang.

Hidupku sangat sempurna. Tapi apapun bentuknya, kesempurnaan tidak selalu abadi. Banyak pendatang baru di dunia modeling. Daun muda yang tentunya lebih fresh dan cantik. Perlahan karirku mulai memudar, begitu pula dengan hubungan asmaraku dengn Kevin. Setelah 1 tahun berpacaran, sikapnya mulai berubah, tidak ada lagi kata-kata manis dan perhatian untukku. Saat aku mempertanyakan perubahan sikapnya, dia beralasan kesibukan di dunia entertainment yang memaksanya melupakanku. Bahkan dipertemuan terakhir kami, dia minta putus dariku. Tentu saja aku tidak terima, selama ini akulah yang memutuskan hubungan cintaku. Tidak pernah sekalipun aku ditinggalkan, selalu aku yang mengakhiri hubungan asamaraku. Dan saat ini aku masih mencintai Kevin. Pertemuan kami pun di akhiri dengan pertengkaran hebat.

Tapi alasan, hanyalah sebuah alasan. Beberapa hari setelah pertengkaran hebat kami, muncul sebuah kabar Kevin sedang terlibat cinta lokasi dengan lawan mainnya di sinetron terbarunya. Oh, jadi inilah alasan sebenarnya dia meninggalkanku? Bukan karena kesibukannya, tapi karena aku bukan lagi menjadi yang pertama untuknya. Aku bukan lagi menjadi nomor satu dalam hatinya.

Saat mengetahui kabar itu, hatiku dipenuhi dengan amarah. Aku tidak bisa menerima semua kenyataan ini. Karirku, cintaku, semua tidak lagi sama. Bagaimana bisa posisiku digantikan oleh anak kemarin sore yang baru belajar berjalan? Tidak bisa, aku harus selalu menjadi yang pertama. Aku adalah nomor satu dalam segala hal. Itulah prinsip hidupku. Aku tidak akn menerima kekalahan ini. Aku harus melakukan sesuatu.

Hari itu, di dalam kamarku yang gelap, kupaksa otakku bekerja memikirkan segala cara untuk mengembalikan posisiku. Segala hal yang kulihat dalam kamarku pun seperti mendukungku. Pandanganku beredar ke seluruh ruangan, pada piala berbentuk angka 1 yang terpajang di almari piala, pada jejeran piala bertuliskan ‘juara 1’, pada kumpulan foto diriku yang sengaja kubentuk angka satu di dinding kamar, bahkan angka satu pada jam dinding seakan ikut mendukungku. Semua angka satu itu berputar-putar dalam kepalaku. Hingga pandanganku tertuju pada sebuah benda yang tergeletak di meja dapur. Sebuah benda yang baru saja aku gunakan untuk memotong buah. Segera kuambil benda itu dan kusimpan dalam tas. Aku langsung bergegas menuju tempat Kevin dan pacar simpanannya.

Sesampainya di lokasi shooting, aku langsung mencari Kevin. Pandanganku nyalang mengelilini area shooting yang tampak ramai. Tidak kuhiraukan sapaan dari para kru yang melihatku. Dan di sanalah aku menemukannya, sedang beradegan mesra dengan artis itu, pacar simpanannya. Kupegang erat benda di dalam tasku. Dengan penuh amarah, kudekatkan tubuhku ke arah wanita itu. Dapat kulihat wajah terkejut menghiasi wajah tampan Kevin yang berdiri disebelahnya. Setelah tepat berada dihadapan wanita itu, langsung kukeluarkan benda yang sudah kupegang dari dalam tasku. Kutancapkan benda itu ke perut wanita itu. Perlahan, tampak raut kesakitan dalam wajah cantiknya. Kulihat warna merah mulai mewarnai tanganku dan bau amis darah menerpa indra penciuamnaku. Suasana di area shooting itu pun menjadi ramai, semua tampak panik dengan apa yang telah aku lakukan.

Kulihat wajah terkejut Kevin berubah menjadi ketakutan, secara reflek dia mundur menjauhiku. Tentu saja tidak akan kubiarkan dia lari dariku. Segera kutarik tangannya, kupeluk erat dirinya sambil mengucapkan, “Aku selalu menjadi yang pertama, aku akan selalu menjadi yang nomor satu dalam hatimu. Bukan wanita sialan itu.” 

Kurasakan tubuh Kevin meronta dalam pelukanku, dia menolakku, “Lihatlah, semua kecantikan ini adalah milikku. Aku selalu menjadi nomor satu dalam segala hal, dalam karir, pendidikan, bahkan dalam hatimu. Bukan wanita itu.” Kataku sambil menunjuk wanita yang telah terkapar tak berdaya di hadapan kami.

Tiba-tiba kurasakan tubuhku ditarik paksa oleh 2 laki-laki berpakaian putih. Tubuhkku dipisahkan dari tubuh Kevin. Tidak, tunggu dulu, pria dihadapanku itu bukan Kevin. Seingatku tubuh Kevin lebih tinggi dari tubuh laki-laki ini. Lalu kemana Kevin? Aku langsung meronta mencari sosok Kevin, mereka pasti menyembunyikannya. 

Kurasaan kedua laki-laki itu lebih kuat menahanku, dan seketika benda tajam berukuran kecil menusuk lenganku. Benda berbentuk jarum itu perlahan membuatku tubuhku tak berdaya. Pandanganku mulai mengabur, tubuhku lemas, rasa kantuk yang hebat mulai menyerangku. 
Samar dapat kulihat seorang wanita berbaju putih menghapiriku dan mengatakan, “Halusinasinya muncul lagi. Bawa dia ke kamar isolasi sampai dia tenang dan pastikan tidak ada benda tajam atau semacamnya di kamarnya. Setelah sadar saya akan melakukan menemuinya.” 
Baik dok,” jawab dua laki-laki yang memenganku tadi. Itulah kata terakhir yang dapat kutangkap sebelum kesadaranku menghilang.

Saat kesadaran kembali merasukiku, aku sedang berada di sebuah kamar dengan nuansa putih bersih. Aroma obat-obatan dan pembersih ruangan sangan mendominasi baru ruangan ini. Kurasakan tangan dan kakiku diikat dengan pinggiran tempat tidur. Selang beberapa lama, kulihat seorang perempuan dengan jas putihnya datang mendekatiku. Siapa dia? Ah ya, aku mengenalnya. Dia adalah dokter Arimbi, dokter spesialis kejiwaan yang telah menanganiku sejak 3 bulan kedatanganku di rumah sakit ini. Rumah Sakit Jiwa Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang. 

#30dwc
#30dwcjilid12
#day22
#satu

0 komentar: