Hidup itu bagai selembar kertas kosong. Lalu, apa yang akan kamu lakukan? Melipatnya menjadi suatu bentuk sesuai keinginanmu atau mencoret-coretnya dengan apapun yang kamu mau?
Tidak, lembar kertasku tidak hanya sekedar untuk dilipat atau dicoret. Aku akan mengisinya dengan celotehan rumit yang kurangkai sederhana. Karena untuk mengucapkannya aku tak mampu. Aku akan menulis. Bukan catatan berat seperti pembuktian rumus Matematika. Bukan tulisan seserius proposal atau karya ilmiah.
Aku hanya akan bercerita. Tentang rasa. Tentang mereka. 56 orang yang mengisi memoriku degan kilasan-kilasan kenangan. Lebih dari seribu hari pernah ku lewati bersama mereka. Melewati hari-hari yang memang hanyalah hari biasa. Hari biasa dimana yang terjadi lagi-lagi sama dan sangat melelahkan. Namun 56 orang ini yang membuat ku rindu akan hari melelahkan itu.
Saat aku menutup mata perlahan. Bayangan tiga tahun kebersamaan itu yang muncul, masih sama persis. Bagaimana kita saling tertawa, cara kalian membuatku tersenyum tanpa kalian sadari, saat kita menangis untuk hal-hal sederhana. Sederhana itu pula aku mulai merindukan kalian. Entah kenapa hari ini rasa rindu itu muncul. Bahkan lebih besar dari hari-hari sebelumnya.
Kemudian aku menggerakkan tanganku untuk menulis rangkaian-rangkaian kata. Mengenang kilasan-kilasan masa lalu dalam lembaran-lembaran kertas. Aku rangkai kenangan-kenangan itu dengan manis, aku susun rapi tiap bagiannya hingga menjadi buku tebal, lalu kemudian aku sampul dengan sebuah harapan sederhana. Bahwa semua kenangan itu tak akan hilang, tersimpan dalam ingatan kita masing-masing.
Aku tak tahu pasti, apakah ini merupakan bagian akhir dari cerita yang aku tulis. Tapi aku tau, semua buku memiliki akhir. Dan ini adalah halaman terakhir bukuku. Perasaan yang lalu, rindu yang entah kenapa sesekali kurasakan. Biarlah itu semua tersimpan dengan rapi dalam buku ini. Menjadi cerita yang mungkin akan kita tertawakan suatu saat nanti. Menjadi bagian pahatan dari perjalanan kehidupan. Menjadi sesuatu yang mungkin akan kita rindukan.
Ini adalah waktu yang tepat untuk aku menutup buku. Kemudian tersenyum meghadapi hari baru, membuka lembaran baru. Atau bahkan membuat kenangan baru.
Jumat, 02 Oktober 2015
Senin, 21 September 2015
Dulu kita bilang dari "bareng-bareng terus ya".
Lalu, "yang penting jadwal kumpul diatur aja".
Jadi, "yang penting masih bisa ketemu udah syukur".
Sampai akhirnya, "mereka apa kabar ya?",
"udah lama nggak ketemu", atau "kangen mereka yang dulu".
Dulu kalau mau kumpul tinggal kumpul.
Nggak perlu banyak alasan buat ngumpul.
Dan pada akhirnya lama-kelamaan diajakin via group chat,
yang ngerespon sedikit dan makin sedikit.
Sampai akhirnya masing-masing sibuk sendiri.
Kalau udah kayak gini ya nggak bisa nyalahin siapa-siapa.
Emang masanya aja yang udah habis dan cuma bisa bilang
"Sukses ya teman, see u on top".
~~~
Ada satu titik dimana kita akan menoleh kebelakang.
Lalu tersadar kalau temen-temen yang dulu selalu barengan,
satu persatu.. H I L A N G.
They are gone!!
Dari yang mau nyapa tinggal nyapa.
Sampai yang mau sekedar ngechat nanya dulu sibuk apa nggak.
Dari yang ngasal tag-tag foto aib.
Sampe mau comment aja ragu karna banyak comment dari temen-temen barunya.
Dari yang mau chat enggak perlu ada topik udah seru.
Sampe mau chat sama temen lama harus nunggu sampe ada perlu/ada topik.
Dari yang nggak malu minjem duit.
Sampe yang segan hanya sekedar nanya kabar
Akhirnya?
Cuma berani scroll new feeds temen-temen lama.
And i'm happy that u are all okay :)
~~~
Jangan pernah ngeremehin secuil rasa kangen!!
Kalau ada yang ngajakin kumpul usahain kumpul,
walau lagi nggak kangen banget atau lagi males!!
Jangan nunggu susah-seneng-bareng sampe susah-ngumpul-bareng.
Who know it's ur last? Or their last?
Masa-masa kita bener-bener bikin effort buat ketemuan.
Bukan hanya sekedar waktu luangnya aja.
~~~
Temen emang bakal datang dan pergi.
Tetapi teman sejati akan menemanimu hingga rambut memutih. :)
Menceritakan kisah-kisah masa pertemanan dengan anak cucu bersama.
Menjalani jatuh bangunnya dan suka dukanya hidup bareng-bareng.
Kalian itu temen-temen yang ngebelin, tergila, teraneh dengan berbagai macam sifat
yang pernah aku miliki. Tapi aku bangga sama kalian!!
We can do it again?
Dikutip dari line cerita dunia dengan.pengeditan seperlunya
Lalu, "yang penting jadwal kumpul diatur aja".
Jadi, "yang penting masih bisa ketemu udah syukur".
Sampai akhirnya, "mereka apa kabar ya?",
"udah lama nggak ketemu", atau "kangen mereka yang dulu".
Dulu kalau mau kumpul tinggal kumpul.
Nggak perlu banyak alasan buat ngumpul.
Dan pada akhirnya lama-kelamaan diajakin via group chat,
yang ngerespon sedikit dan makin sedikit.
Sampai akhirnya masing-masing sibuk sendiri.
Kalau udah kayak gini ya nggak bisa nyalahin siapa-siapa.
Emang masanya aja yang udah habis dan cuma bisa bilang
"Sukses ya teman, see u on top".
~~~
Ada satu titik dimana kita akan menoleh kebelakang.
Lalu tersadar kalau temen-temen yang dulu selalu barengan,
satu persatu.. H I L A N G.
They are gone!!
Dari yang mau nyapa tinggal nyapa.
Sampai yang mau sekedar ngechat nanya dulu sibuk apa nggak.
Dari yang ngasal tag-tag foto aib.
Sampe mau comment aja ragu karna banyak comment dari temen-temen barunya.
Dari yang mau chat enggak perlu ada topik udah seru.
Sampe mau chat sama temen lama harus nunggu sampe ada perlu/ada topik.
Dari yang nggak malu minjem duit.
Sampe yang segan hanya sekedar nanya kabar
Akhirnya?
Cuma berani scroll new feeds temen-temen lama.
And i'm happy that u are all okay :)
~~~
Jangan pernah ngeremehin secuil rasa kangen!!
Kalau ada yang ngajakin kumpul usahain kumpul,
walau lagi nggak kangen banget atau lagi males!!
Jangan nunggu susah-seneng-bareng sampe susah-ngumpul-bareng.
Who know it's ur last? Or their last?
Masa-masa kita bener-bener bikin effort buat ketemuan.
Bukan hanya sekedar waktu luangnya aja.
~~~
Temen emang bakal datang dan pergi.
Tetapi teman sejati akan menemanimu hingga rambut memutih. :)
Menceritakan kisah-kisah masa pertemanan dengan anak cucu bersama.
Menjalani jatuh bangunnya dan suka dukanya hidup bareng-bareng.
Kalian itu temen-temen yang ngebelin, tergila, teraneh dengan berbagai macam sifat
yang pernah aku miliki. Tapi aku bangga sama kalian!!
We can do it again?
Dikutip dari line cerita dunia dengan.pengeditan seperlunya
Senin, 14 September 2015
HAPPY WEDING DAY NITA (MAYUN) DAN DEK OKI
Hari ini hanyalah hari biasa. Masih sama dengan hari-hari biasa lainnya. Hari ini hanya satu di antara ratusan hari biasa yang terjadi.
Atau mungkin tidak. Saat sebuah sapaan sederhana datang dari seorang sahabat, hanya melalui sosial media. Menyatakan ingin bertemu dan berkunjung ke rumah. Namun, kedatangannya tak kunjung tiba. Hanya sebuah undangan tergeletak di meja riasku.
Ah, ternyata benar. Ini bukan hanya hari biasa. Satu lagi sahabatku akan memulai kehidupan baru. Rasa bahagia itu seketika membuncah. Tak kupungkiri, hari ini menjadi hari yang membahagiakan.
Kulihat lagi undangan itu. Masih dengan senyum yang mengembang di bibirku. Sederhana, namun jelas kulihat kebahagiaan mereka. Cara mereka tertawa, tersenyum satu sama lain, terabadikan dalam beberapa jepret foto.
Sesederhana kebahagiaan mereka, sesederhana itu pula harapan dan doaku untuk mereka. Sahabat, tak pernah ku sangka waktu ini akan cepat datang menghampirimu. Sahabatku, kita selalu bersama dikala suka dan duka. Dan kini kebahagiaanmu telah lengkap, aku ikut bahagia melihat dirimu yang bahagia.
Atau mungkin tidak. Saat sebuah sapaan sederhana datang dari seorang sahabat, hanya melalui sosial media. Menyatakan ingin bertemu dan berkunjung ke rumah. Namun, kedatangannya tak kunjung tiba. Hanya sebuah undangan tergeletak di meja riasku.
Ah, ternyata benar. Ini bukan hanya hari biasa. Satu lagi sahabatku akan memulai kehidupan baru. Rasa bahagia itu seketika membuncah. Tak kupungkiri, hari ini menjadi hari yang membahagiakan.
Kulihat lagi undangan itu. Masih dengan senyum yang mengembang di bibirku. Sederhana, namun jelas kulihat kebahagiaan mereka. Cara mereka tertawa, tersenyum satu sama lain, terabadikan dalam beberapa jepret foto.
Sesederhana kebahagiaan mereka, sesederhana itu pula harapan dan doaku untuk mereka. Sahabat, tak pernah ku sangka waktu ini akan cepat datang menghampirimu. Sahabatku, kita selalu bersama dikala suka dan duka. Dan kini kebahagiaanmu telah lengkap, aku ikut bahagia melihat dirimu yang bahagia.
Happy Wedding,
Semoga selalu dipenuhi oleh cinta kasih
Dan kebahagiaan selalu menyertaimu dan pasanganmu.
AAAMMIIIINNNN!!!!
Jumat, 24 Juli 2015
Aku Pulang
Ada saatnya seseorang harus pulang bukan? Pulang ke tempat dirinya
berasal.
Aku pulang, ke rumah
dimana aku dulu dilahirkan. Tempat dimana dulu aku belajar mengeja kata demi
kata, merangkak, berjalan, dan berlari. Aku pulang, ke rumah dimana dulu aku
bermain riang dengan teman-teman masa kecilku.
Tempat ini masih sama.
Masih dikelilingi dengan hamparan sawah yang menyejukkan mata. Padi-padi mulai
menguning, sedangkan burung-burung pipit berterbangan mengais rejeki ditengah
para petani yang sibuk menjemur hasil panenya. Orang-orang masih ramah, saling
menyapa sekedar bertanya kabar hari ini. Hanya saja tak semua dari mereka ada
dalam ingatanku. Ah, aku terlalu lama hidup di rantauan.
Aku pulang, ke kampung
halaman. Dimana ada orang-orang termakan usia yang selalu berdoa untuk
kebahagiaan anak-anak dan keturunannya.
Selasa, 21 Juli 2015
Aku, Mencintaimu dalam Diam Ku
Bagiku, jatuh cinta hanya sebatas diam
Di dalam hati rasa itu terkunci
Tak mampu mulutku mengungkap rasa
Mengagumimu hanya lewat tatapan mata
Hanya puas dengan bersalaman biasa
Hanya puas dengan obrolan biasa
Tanpa berani mendekat lebih jauh
Bagiku, jatuh cinta hanya sebatas menulis cerita
Ku biarkan jemariku merangkai kata
Mengungkapkan apa yang tak mampu terucap
Menulisnya hanya dalam lembaran kertas
Yang nantinya akan usang tertutup debu
Lusuh dan mengabur
Sebelum ada yang sempat untuk membacanya
Bagiku, jatuh cinta hanya sebatas rindu
Menikmati hari hanya untuk menapaki pijakan bernama rindu
Seperti ilalang yang selalu merindukan bisikan angin
Atau padi di ladang yang selalu menunggu datangnya mentari pagi
Bagiku, jatuh cinta hanya sebatas diam
Diam-diam mencintai namum mendamba
Berbahagia walau hanya sebatas penikmat bayangan
yang sama sekali tak pernah kumiliki keberadaannya
Aku hanya diam sendiri memandangi dia
Aku berbahagia walau hanya sebatas penikmat rindu
Penikmat rindu
Dari seorang yang aku cintai dalam diam
Tanpa ada yang tahu
Tidak orang lain, tidak juga dirinya
Di dalam hati rasa itu terkunci
Tak mampu mulutku mengungkap rasa
Mengagumimu hanya lewat tatapan mata
Hanya puas dengan bersalaman biasa
Hanya puas dengan obrolan biasa
Tanpa berani mendekat lebih jauh
Bagiku, jatuh cinta hanya sebatas menulis cerita
Ku biarkan jemariku merangkai kata
Mengungkapkan apa yang tak mampu terucap
Menulisnya hanya dalam lembaran kertas
Yang nantinya akan usang tertutup debu
Lusuh dan mengabur
Sebelum ada yang sempat untuk membacanya
Bagiku, jatuh cinta hanya sebatas rindu
Menikmati hari hanya untuk menapaki pijakan bernama rindu
Seperti ilalang yang selalu merindukan bisikan angin
Atau padi di ladang yang selalu menunggu datangnya mentari pagi
Bagiku, jatuh cinta hanya sebatas diam
Diam-diam mencintai namum mendamba
Berbahagia walau hanya sebatas penikmat bayangan
yang sama sekali tak pernah kumiliki keberadaannya
Aku hanya diam sendiri memandangi dia
Aku berbahagia walau hanya sebatas penikmat rindu
Penikmat rindu
Dari seorang yang aku cintai dalam diam
Tanpa ada yang tahu
Tidak orang lain, tidak juga dirinya
Sabtu, 06 Juni 2015
INTERMEZO
(Minggu, 6-6-2015)
Tak terasa, langit mulai menghitam. Kulihat senja seperti berpamitan pada dunia, karena siang akan berganti menjadi malam. Aku melihat kerumunan remaja sedang berbagi tertawa dan cerita. Mereka semua menampakan wajah bahagia. Senang kulihat mereka riang, tenteram, kulihat mereka girang. Mereka seolah tak peduli dengan hari yang sudah mulai petang, dengan langit yang kini tak lagi terang.
Empat tahun lalu kami mulai dipertemukan. Aku mengingat kembali segala kilasan memori itu. Kali pertama aku bertemu dengan mereka, berbagai pikiran melayang dikepala kecilku. Ada rasa mau-tidak mau untuk berbaur. Kalau bukan karena kami satu jurusan yang sama, kalau bukan karena kami akan tinggal di bawah atap yang sama. Aku tak akan terlalu memaksakan diriku, mengenal mereka dalam waktu yang singkat. Lalu aku tetap ada di zona nyamanku, sendiri, dengan kenangan masa SMAku.
Di sini, bersama salah satu dari mereka. Duduk berdua menikmati suasana malam minggu sambil kembali mengingat masa lalu. Meski satu tahun telah berlalu, tak banyak yang berubah. Aku dengan kesendirianku dan dia dengan selera pedasnya. 'Hari' mulai bercerita, mengenang kembali kali pertama dia dan 'Nini' memanjat pohon mangga yang tumbuh di depan asrama. Tak memperdulikan tatapan keheranan kakak tingkat, beberapa buah mangga berhasil dijatuhkan. Di kamar, telah menanti bumbu rujak yang menggiurkan. Siang hari selalu terasa menyenangkan, menikmati rujak pedas bersama. Hingga terdengar teriakan kakak kelas yang mengejutkan. Membuat kita bergegas menyudahi kegiatan 'ngerujak ala 203'.
Kulihat 'Hari' meneguk minumannya menghilangkan rasa pedas dimulutnya. 'Hari' kembali menceritakan kenangan yang melekat dipikirannya. Satu malam yang diingatnya adalah malam ketika kita membantu 'Mayun' menyelesaikan masalahannya dengan sang pacar. Atau malam ketika kita dikejutkan dengan suara plavon kamar yang jatuh. Tak lupa ritual jerit malam yang kita lakukan menjelang tidur.
Tentu saja semua yang diceritakannya masih kuingat dengan jelas. Membekas dalam ingatanku siapa saja mereka. 'Lunas' tak pernah marah dan selalu menjadi pendengar yang baik. 'Ipin' yang pendiam namun ketika mulutnya terbuka, perkataan tajam dan menusuk membuat kita terperangah. 'Punyan' senang mengarang cerita-cerita seram dan ekstrim yang selalu berakhir dengan selamatnya dirinya sendiri. 'Tude' yang terus berkutat dengan diktat-diktatnya. 'Mayun', jabatan ketua asrama diawal tahun membuatnya galau setengah mati. 'Yati', 'Hari', 'Nini', tiga sekawan ini selalu heboh dengan cerita mereka. Fasion, kuliner, make up, tempat wisata, cerita cinta, mereka ahlinya. Dan 'Lumen' yang entah kenapa sikapnya terasa selalu menyebalkan.
Kulihat kerumunan remaja itu masih mengobrol dengan asiknya. Menertawakan sesuatu yang entah apapun itu. Aku jadi ingat saat kami tertawa bersama. Berceloteh ria dan bergembira hanya karena candaan biasa. Selalu ada cerita menarik setiap harinya. Aku ingat setiap hal yang kita lalui bersama. Waktu yang telah kami habiskan mulai matahari terbit hingga tenggelam.
Saat salah satu dari kita terbaring sakit di dalam kamar, meski hanya sakit sederhana, sekedar batuk, pilek, panas, atau badan lemas kelelahan. Siapa yang sibuk mengingatkan untuk istirahat dan minum obat? Yang selalu ada dan rela direpotkan untuk mengambil makanan, membuatkan bubur, atau menyeduhkan minuman hangat. Tentu saja jawabanya teman satu kamarmu.
Sembari menikmati makanan, kulihat beberapa foto yang tersimpan dalam memori handponeku. Aku tersenyum, tertawa tiap kali melihat berbagai ekspresi dan gaya yang kita abadikan melalui beberapa jepret foto.
Masih kuingat bagaimana saat kita disibukkan dengan berbagai tugas, laporan, target, latihan lab, praktik, dan ujian. Tak jarang hingga malam hari kita masih berkutat dengan semua hal itu. Meski lelah dan kantuk kita rasakan, namun dosen tak menerima alasan apapun. Hanya bersama kami dapat berjuang, dengan saling berpegangan, menyemangati satu sama lain, dan semuanya terasa akan segera usai.
Aku tertawa melihat 'Hari' yang kebingungan dengan rasa pedas yang dirasakannya. Sepertinya makanan yang dipesan terlalu pedas untuknya. Kulihat ke arah kerumunan remaja tadi, rupanya mereka sudah tak ada. Berganti dengan pengunjung lain. Aku dan 'Hari' terdiam, menikmati suasana tempat ini. Terasa dingin angin malam yang menerbangkan anak rambutku. Membuatku mengenakan jaket yang sedari tadi terdiam disisi tempat dudukku. Rupanya waktu telah berlalu. Aku dan 'Hari' mengakhiri makan malam ini. Kuantarkan dia sampai rumahnya sambil membicarakan beberapa hal sepanjang perjalanan. Dan berakhirlah pertemuan ini. Ditemani alunan lagu sahabat kecil dari Ipang, aku pulang kembali ke rumah.
Sepanjang perjalanan, aku masih teringat semua kebersamaan yang pernah kulalui bersama mereka. Dari segala kebersamaan itu, jauh di dalam lubuk hatiku tersimpan rasa khawatir. Esok satu persatu dari mereka akan sukses dengan urusannya, menikah dan berkeluarga sesuai jalan hidup mereka. Esok, masih sempatkah kita pergi bersama seperti masa-masa kala itu? Bahkan saat ini, setahun setelah perpisahan itu, kebersamaan itu mulai memudar.
Bukankah terdengar lucu? Orang-orang yang dulu asing, saat ini menjadi orang pertama yang kuingat dalam kesepianku. Aku hanya tak ingin, mereka yang dulu pernah dekat denganku, tertawa bersamaku, esok akan berubah menjadi asing.
Sahabat Kecil
(Ipang)
Baru saja berakhir
Hujan di sore ini
Menyisakan keajaiban
Kilauan indahnya pelangi
Tak pernah terlewatkan
Dan tetap mengaguminya
Kesempatan seperti ini
Tak akan bisa di beli
Bersamamu kuhabiskan waktu
Senang bisa mengenal dirimu
Rasanya semua begitu sempurna
Sayang untuk mengakhirinya
Melawan keterbatasan
Walau sedikit kemungkinan
Tak akan menyerah untuk hadapi
Hingga sedih tak mau datang lagi
Bersamamu kuhabiskan waktu
Senang bisa mengenal dirimu
Rasanya semua begitu sempurna
Sayang untuk mengakhirinya
Janganlah berganti
janganlah berganti
janganlah berganti
Tetaplah seperti ini
janganlah berganti
janganlah berganti
Tetaplah seperti ini
Kamis, 14 Mei 2015
"MenantiMu"
Aku tanpa alas kaki, terduduk di ruangan ini. Dingin ubin kurasakan di telapak kakiku. Di malam yang sunyi ini, aku sendiri, duduk memeluk lututku sendiri. Sepi. Jangankan hingar bingar, sama sekali tak ada yang namanya keramaian. Ruangan ini penuh senyap.
Tidak, kurasa aku salah. Sayup-sayup masih bisa ku dengar hembusan angin menerbangkan gorden jendelaku, menyentuh kelambu tempat tidurku, dan menerbangkan anak rambutku. Semakin dingin, membuatku merapatkan pelukan pada kakiku. Kurasakan percikan air mengenai kulitku dan mulai membasahi ubin. Ah! Ternyata angin membawa hujan bersamanya. Mulai ku dengar satu persatu bising air hujan mengenai apapun yang menghalanginya turun ke bumi. Wangi tanah tersiram hujan menggoda indra penciumanku. Kurasa, di bawah sana sudah basah dengan genangan air.
Tap tap tap...
Ada suara lain di luar. Suara itu terdengar masih jauh. Gemaan langkah berat mendekati kamar ini. Aku terperangah, menanti kedatangannya dalam diam. Suara itu semakin mendekat.
Ceklek...
Cahaya remang memebus kegelapan ruangan. "Aku memenuhi janjiku," suara bariton laki-laki setelah suara pintu terbuka. Dia yang kunanti, masih seperti yang dulu, enam tujuh bulan lalu. Wajah tegas penuh wibawa, tubuh tegap berkarisma, masih dengan sepatu hitam senada dengan warna jaket kulitnya. Dan, sedikit tambahan luka sayat di lehernya. Aku tersenyum hangat, "selamat datang suamiku."
Langganan:
Postingan (Atom)




























