Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Jumat, 20 April 2018

30 HARI BERCERITA


Masih ingatkan kalian dengan gambar di atas? 
Ya, ini adalah deklarasi yang pernah saya posting di akun IG saya @fenti_punyany. Deklarasi yang saya buat sebagai awal perjumpaan dengan kelas #30DWC (30 Day Writing Challenge) Jilid 12. Sebuah deklarasi yang menjadi saksi dan bukti keseriusan saya untuk mengikuti tantangan menulis selama 30 hari tanpa henti di kelas tersebut. Sebuah kelas menulis online, yang saya ikuti sebagai ajang pelarian diri untuk mengisi waktu luang. Sekaligus untuk menghidupkan kembali kemampuan menulis yang sempat mati suri saat duduk di bangku perkuliahan.

Dari ajang mencari kesenangan, ternyata berlanjut menjadi sebuah rutinitas harian yang selalu saya kerjakan di waktu senggang. 
30 hari bercerita, seperti inilah saya menyebut tantangan itu. Mengapa demikian? Karena dari awal perjumpaan, saya telah berkomitmen untuk mengasah kemampuan dalam menulis sebuah cerita. Mengasah kemapuan saya berimajinasi dalam menulis cerita non fiksi berupa flash fiction, cerpen, cerbung, atau sejenisnya. 30 hari, terus menerus tanpa henti. Mengembarakan imajinasi untuk terus menulis, mengasah kemampuan bermain dan mengolah kata untuk menghidupkan suasana dalam cerita yang telah saya buat.


Waktu terus berjalan, hari demi hari saya lalui dengan penuh perjuangan bersama teman-teman seperjuangan. Para fighter yang kece badai, khususnya fighter penghuni squad 1. Diam-diam menganyutkan, mengamati setiap hal yang terjadi di empire. Begitulah saya menyebutnya. Kami saling berbagi ilmu dan pengalaman dalam dunia tulis-menulis. Memberi feedback berupa kritikan pedas dan saran yang sangat membangun untuk perbaikan tulisan kami di masa depan. 

Kami saling menguatkan saat rasa malas mulai mendera, saat terjatuh, dan kesibukan menjadi momok menakutkan yang telah memakan waktu menulis kami. Tapi, inilah perjuangan kami, perjuangan untuk bertahan sampai detik penghabisan. Tetap bertahan untuk menghijaukan ladang di tengah kerusakan berwarna hitam.

Banyak hal yang telah kami lalui bersama, banyak cerita yang telah kami torehkan. Tak terasa perjuangan kami telah mendekati akhir. Tapi, kami tahu, ini bukanlah akhir dari perjuangan kami. Melainkan awal dari perjuangan baru untuk membuat sebuah karya yang layak untuk dinikmati orang lain.

#30dwc
#30dwcjilid12
#day30
#lastday
#allabout30dwc

Kamis, 19 April 2018

CEMARA DI HATI WILL (bagian 3 - selesai)



Kulihat Cemara menggigit bibir sebelum melanjutkan kata-katanya. Wajahnya yang sedikit tertunduk dan tertutup poni kini memandang William, “Aku ucapkan selamat kepada kalian. Will, aku titip Airin padamu, dia wanita yang baik. Dia adalah sahabat terbaikku. Aku tidak ingin melihatnya menangis dan mengeluh padaku.” Kemudian pandangan matanya beralih kepadaku, “Airin seperti perjanjian kita sebelumnya, kita akan tetap menjadi sahabat. Jadi jangan pernah merasa bersalah padaku," jeda sejenak sebelum dia melanjutkan "aku rasa masalah kita sudah selesai, jadi aku harus pergi.”

Dan setelah mengucapkan kalimat itu, Cemara pergi meninggalkan kami dengan sejuta perasaan yang sulit aku ungkapkan dengan kata-kata.
*****
            Hari demi hari berlalu. Awalnya aku kira masalah kami telah selesai. Tapi aku salah, entah kenapa semua terasa tidak berjalan sebagaimana mestinya. Walaupun hubungan antara aku dengan Will dan Cemara tetap berjalan dengan baik. Aku dengan Will berpacaran layaknya sepasang kekasih, tapi aku merasa ada yang hilang dalam diri Will. Bahkan aku ragu dengan perasaanku sendiri saat ini. Satu bulan sudah aku menjalani hubungan yang resmi dengan Will. Tapi, akhir-akhir ini Cemara sering menghindar dari pandanganku dan Will. Apa di marah padaku ?
            Akhirnya aku tau apa yang terjadi, sebuah kabar menjawab pertanyaanku atas kepergian Cemara. Saat itu hatiku pedih luar biasa, akan lebih baik jika saat itu Will lebih memilih Cemara dari pada aku. Cemara tidak marah padaku, dia tidak akan pernah marah padaku ataupun pada Will. Kalian tau kenapa? Karena Tuhan lebih menyayanginya dan kini dia telah mengambil Cemara dari kami. Aku melihat kesedihan di mata Will. Kesedihan yang amat dalam. Kesedihan yang dia tumpahkan di depan nisan bertuliskan nama Cemara. Untuk kedua kalinya Cemara meninggalkannya tanpa penjelasan. Aku tahu Will sangat mencintainya melebihi siapa pun.
Kutatap langit mendung yang seolah turut berduka atas kepergian Cemara. Seandainya kau tahu betapa pentingnya dirimu bagi Will. Apa kau akan tetap meninggalkannya Cemara? Mungkin aku adalah wanita yang dipilih Will, Cemara. Tapi kau akan tetap ada di hatinya, mengisi ruang-ruang yang tidak akan terjangkau oleh siapapun. Tidak juga oleh diriku. Kau tau kenapa? Karena kau telah memahat namamu di hatinya, dan kau akan tetap menjadi belahan hati Will. Untuk saat ini dan untuk selamanya.

Selesai

#30dwc
#30dwcjilid12
#day29

Rabu, 18 April 2018

MEMBAWA TARI RONGGENG MENUJU KANCAH DUNIA



“Bagaimana? Kau siap?” tanya Pak Bambang kepadaku.
Senyumku mengembang dan segera kujawab dengan mantap, “Siap, Pak.”
Kulihat tawa di bibir pria paruh baya itu. Kemudian, beliau memanggil dan mengumpulkan penari lainnya. Memberikan sedikit arahan sebelum kami melakukan pertunjukan. Saat ini, kami berada di belakang panggung sebuah pagelaran seni Internasional. Panggung yang akan membawa kami menuju dunia yang lebih luas. Dunia yang akan kami sambut dengan pertunjukan spektakuler, Tari Ronggeng Gunung.

Namaku Sekar Pandan Arum, mungkin kalian lebih mengenalku sebagai seorang penari ronggeng desa yang memiliki daya pikat magis untuk menggaet pria. Daya pikat yang kata orang kudapatkan melalui prosesi ngalap berkah di makam Nyi Ratna Herang, seorang pesohor ronggeng di zamannya. Entahlah, aku tidak tahu-menahu tentang hal itu, yang kutahu hanyalah aku ingin melakukan tarianku. Tarian yang ibu tinggalkan sebagai warisan. Kecintaanku pada tari, terutama tari ronggeng membuatku terus berlatih mengasah kemapuan gerak tariku, bahkan jauh sebelum aku bergabung dengan Sanggar Tari Natya Lakshita milik Pak Bambang.

Kudengar tabuhan kendang, bonang, dan gong sebagai musik pengiring mulai mengalun. Dengan lincah, aku menuju ke atas panggung, kemudian disusul 5 penari wanita lainnya. Tabuhan dari alat musik tradisional berhasil menciptakan irama sederhana yang mampu menyihir para penonton. Tidak lupa kawih pengiring dari pesinden lalugu bersuara merdu juga turut mewarnai tarian kami. Semua elemen terasa pas, saling melengkapi satu sama lain. Kami, para penari mulai memainkan selendang dan menunjukkan gerakan tari yang cepat, berenergi, dan luwes. Gerakan yang menjadi ciri khas tarian ronggeng seperti goyang, geol, dan gitek pun kami lakukan dengan ekspresif. Gerakan yang kata orang mampu membangkitkan libido lelaki. Tapi, memang seperti itulah keindahan dari seni ronggeng.

Tarian ronggeng biasanya dilakukan sampai berjam-jam lamanya. Tapi, dalam pagelaran seni kali ini, kami hanya melakukannya selama 30 menit sebagai tarian penghibur. Oleh karenanya, kami harus tampil dengan maksimal. Tidak lupa para menari juga mengajak penonton untuk menari bersama. Tidak peduli penonton kali ini berasal dari kalangan pejabat dan perwakilan dari berbagai negara. Beberapa tamu dari negara asing yang tidak terbiasa menari hanya menampilkan gerakan kaku, berjoged sebisanya. Menimbulkan gelak tawa di kalangan penonton. Begitulah seharusnya seni tari ronggeng, mengajak penonton untuk menari bersama dan menghibur mereka.

Suasana pagelaran seni menjadi lebih hidup dan ceria. Para penonton terlihat menikmati hiburan tari ronggeng yang kami suguhkan. Dapat kudengar riuh tepuk tangan dan pujian dari para penonton. Aku sangat senang melihanya. Terlebih lagi, tidak seperti saat di desa, di sini aku ataupun penari lain tidak mendapatkan kontak fisik yang berlebihan. Semua murni menikmati tari ronggeng sebagai hiburan kesenian daerah, bukan sebagai tarian erotis.

Dari atas panggung dapat kulihat Pak Bambang menunjukkan senyum bangganya. Bangga atas kesuksesan pertunjukan kami, dan karena perlahan impian turun-temurun di keluarganya mulai terwujud. Impian yang kini juga menjadi impianku. Impian untuk memperkenalkan tari ronggeng ke kancah dunia, bukan sebagai tari erotis, tapi sebagai salah satu seni daerah milik Indonesia. Dan di sinilah akan kumulai mewujudkan impian itu. Bukan sebagai penari ronggeng yang memiliki daya pikat magis, tetapi sebagai penari ronggeng profesional yang akan membawa tari ronggeng menuju kancah dunia.


#30dwc
#30dwcjilid12
#day28
#dunia
Pictures : https://ssckanesa-dua.blogspot.co.id/2017/11/normal-0-false-false-false-in-x-none-x.html?m=1

Selasa, 17 April 2018

CEMARA DI HATI WILL (bagian 2)

       “Tentu saja. Kau tau kadang aku berfikir Will itu sudah seperti juragan minyak yang punyabanyak kekasih. Bayangkan saja ada 2 wanita yang sedang menunggu untuk dijadikan kekasihnya. Padahal dalam kasus yang sama seharusnya kita bertengkar dan saling memusuhi untuk mendapatkan perhatian William.”

            “Benar juga ya…” dan perbincangan kami berlanjut dengan hal-hal lainnya.
*****
            Hari ini datang juga. Semalaman aku tak bisa tidur memikirkan apa yang akan dikatakan Will pada kami. Aku dan Cemara sudah menunggu di tempat yang sudah kami tentukan sebelumnya. Will datang terlambat, mungkin dia masih bingung. Aku sangat gugup, jantungku berdetak sangat kencang, seperti akan lepas dari tempatnya. Kulihat Cemara tetap tenang seperti biasanya. Terkadang aku  merasa iri dengannya, Cemara selalu dapat bersikap tenang dan dapat menempatkan diri dalam kondisi apapun. William datang setengah jam kemudian, dia tampak kusut.
“Maaf sudah membuat kalian menunggu. Kalian tau ini adalah keputusan yang sulit bagiku,” ucapnya setelah menganbil tempat dihadapanku dan Cemara. “Aku sudah mengambil keputusan.”
Will menatap Cemara, aku semakin gugup. “Mara, kamu adalah orang yang pernah aku cintai. Mungkin aku masih bimbang dengan perasaanku, tapi kamu adalah bagian dari masa laluku,” Will berhenti sebentar, dia menghembuskan nafas berat dari mulutnya. Keputusan ini membuatnya tertekan.
“Kamu tahu betapa sakitnya hatiku saat kau pergi tanpa memberikan alasan yang jelas. Hari-hariku penuh dengan kesedihan dan disaat  itulah Airin datang mengobati luka di hatiku. Jadi, maafkan aku Mara, aku lebih memilih Airin dari pada kamu,” ujar Will dengan menatap lembut kearah Cemara.
Saat ini aku bingung dengan perasaanku. Apakah aku senang dengan keputusan Will, atau aku sedih karena hati sahabatku sedang terluka. Aku menunggu apa yang akan dikatakan Cemara, diluar dugaanku dia tetap tersenyum mendengar keputusan William. Tapi aku dapat melihat kesedihan di wajah Cemara, biar bagaimanapun dia tetaplah seorang wanita. Pasti hatinya hancur mendengar keputusan Will.
“Tak apa Will, aku senang kau sudah memilih diantara kami. Setidaknya sekarang hubungan kita sudah jelas. Kau dengan Airin adalah sepasang kekasih, aku dengan Airin adalah sahabat, dan kisah cinta kita sudah berakhir. Kau pasti sudah memikirkan banyak hal belakangan ini.”
Kulihat Cemara menggigit bibir sebelum melanjutkan kata-katanya. Wajahnya yang sedikit tertunduk dan tertutup poni kini memandang William, “Aku ucapkan selamat kepada kalian. Will, aku titip Airin padamu, dia wanita yang baik. Dia adalah sahabat terbaikku. Aku tidak ingin melihatnya menangis dan mengeluh padaku.” Kemudian pandangan matanya beralih kepadaku, “Airin seperti perjanjian kita sebelumnya, kita akan tetap menjadi sahabat. Jadi jangan pernah merasa bersalah padaku," jeda sejenak sebelum dia melanjutkan "aku rasa masalah kita sudah selesai, jadi aku harus pergi.”
Dan setelah mengucapkan kalimat itu, Cemara pergi meninggalkan kami dengan sejuta perasaan yang sulit aku ungkapkan dengan kata-kata.


Bersambung …


#30dwc
#30dwcjilid12
#day27