Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Senin, 16 April 2018

JEJAK SANG PENARI RONGGENG



Desa Sukajaya, sebuah desa yang terletak di pinggiran Provinsi Jawa Barat. Sebuah desa yang kudengar memiliki seorang penari ronggeng dengan daya pikat magis. Daya pikat yang mampu membuat penontonnya, terutama para lelaki tersihir dan mabuk kepayang.

Sekar Pandan Arum, dialah sang penari ronggeng yang sedang kucari jejaknya di desa ini. Tidak seperti para lelaki yang lebih menikmati keindahan dan kemolekan tubuh milik Sekar, aku akan menikmati tariannya dengan cara yang berbeda. Akan kulihat bagaimana kepiawaiannya dalam menarikan tarian penuh daya magis tersebut. Tarian yang terbentuk karena dendam Dewi Semboja atas kematian suaminya, Raden Anggalarang. Tarian yang saat ini lebih dikenal sebagai tarian erotis untuk menggaet para pria. Sungguh pemikiran kolot yang telah tertanam di kalangan masyarakat.

Namaku Bambang Gunarso, seorang seniman pemilik sanggar tari di ibu kota. Sanggar Tari Natya Lakshita, sebuah sanggar tari yang telah melahirkan banyak seniman berbakat dibidang kesenian daerah. Sanggar tari yang didirikan oleh kakek buyutku, Gugun Gunarso. Beliau adalah seniman yang bercita-cita membawa budaya daerah nusantara sampai ke kancah Internasional. Cita-cita yang telah diwariskan secara turun-temurun, hingga padaku saat ini. Cita-cita yang mulai terwujud berkat kerja keras dan ketekunan para murid didikan kami. Saat ini, Sanggar Tari Natya Lakshita telah menorehkan berbagai penghargaan dibidang seni musik dan tari daerah.

“Permisi, Bu, rumanya Sekar yang mana ya?” tanyaku pada ibu-ibu yang sedang berbelanja di penjual sayur keliling.
“Sekar siapa, Nak?” tanya seorang ibu paruh baya yang sedang memilah sayur.
“Sekar Pandan Arum, Bu, yang biasa nari ronggeng.”
“Oalah, Sekar yang itu. Itu, Nak, rumahnya paling ujung, yang warna catnya hijau.” Kulihat sebuah rumah yang ditunjuk oleh ibu itu.
“Mas dari kota ya? Ngapain nyari Sekar?” tiba-tiba seorang ibu bertanya dengan penasaran. Tipikal ibu-ibu tukang gosip yang sering aku lihat di TV. “Jangan-jangan mau nyawer ya?” katanya lagi.
“Ada sedikit perlu, Bu,” jawabku singkat.
“Biasanya kalo jam segini anaknya latihan sama rombongan tarinya, Nak,” kata ibu pertama.
“Oh, begitu ya, Bu. Latihannya di mana ya?”
“Di rumahnya Pak Amin, yang punya rombongan. Rumahnya di sebelah Balai Desa.” Kemudian ibu itu menjelaskan arahan jalan menuju lokasi yang dimaksud.
Kuingat dengan baik arahan yang diberikan ibu tadi, “Terima kasih, Bu. Saya pamit dulu,” pamitku meninggalkan ibu-ibu itu.

Setelah beberapa saat berjalan, akhirnya aku sampai di Balai Desa. Samar dapat kudengar alunan gong dan rebab sebagai musik pengiring dalam tarian ronggeng. Segera kupercepat langkahku menuju sumber suara itu. Sebuah rumah sederhana khas rumah desa menyambutku. Di halaman rumah tersebut, kulihat sekelompok orang sedang berlatih pertunjukan daerah. Beberapa laki-laki sedang memainkan alat musik tradisional, mengiringi sekelompok penari wanita yang menggunakan bawahan jarik dan selendang.

Saat itu, mataku langsung tertuju pada seorang wanita muda berparas cantik yang sedang melakukan tariannya. Pandanganku langsung terpikat dengan gerakan tari miliknya yang luwes, lincah, ekspresif dan eksotis. Gerakan yang oleh sebagian orang dikatakan sebagai gerakan erotis. Namun tidak bagiku yang sejak lahir telah mengenal dan mempelajari seni daerah. Sungguh, gerakan tari yang penuh penghayatan. Dan saat itulah aku langsung mengenalinya. Dialah Sekar Pandan Arum, penari ronggeng berbakat yang sedang aku cari jejaknya di desa ini.


#30dwc
#30dwcjilid12
#day26
#desa
Picture :
https://virallnesia.blogspot.co.id/2017/08/tradisi-gowok-sebagai-tradisi-buat.html?m=1

0 komentar: