Desa Sukajaya, sebuah
desa yang terletak di pinggiran Provinsi Jawa Barat. Sebuah desa yang kudengar
memiliki seorang penari ronggeng dengan daya pikat magis. Daya pikat yang mampu
membuat penontonnya, terutama para lelaki tersihir dan mabuk kepayang.
Sekar Pandan
Arum, dialah sang penari ronggeng yang sedang kucari jejaknya di desa ini. Tidak
seperti para lelaki yang lebih menikmati keindahan dan kemolekan tubuh milik Sekar,
aku akan menikmati tariannya dengan cara yang berbeda. Akan kulihat bagaimana
kepiawaiannya dalam menarikan tarian penuh daya magis tersebut. Tarian yang
terbentuk karena dendam Dewi Semboja atas kematian suaminya, Raden Anggalarang.
Tarian yang saat ini lebih dikenal sebagai tarian erotis untuk menggaet para
pria. Sungguh pemikiran kolot yang telah tertanam di kalangan masyarakat.
Namaku Bambang Gunarso,
seorang seniman pemilik sanggar tari di ibu kota. Sanggar Tari Natya Lakshita,
sebuah sanggar tari yang telah melahirkan banyak seniman berbakat dibidang kesenian
daerah. Sanggar tari yang didirikan oleh kakek buyutku, Gugun Gunarso. Beliau adalah
seniman yang bercita-cita membawa budaya daerah nusantara sampai ke kancah
Internasional. Cita-cita yang telah diwariskan secara turun-temurun, hingga
padaku saat ini. Cita-cita yang mulai terwujud berkat kerja keras dan ketekunan
para murid didikan kami. Saat ini, Sanggar Tari Natya Lakshita telah menorehkan
berbagai penghargaan dibidang seni musik dan tari daerah.
“Permisi, Bu,
rumanya Sekar yang mana ya?” tanyaku pada ibu-ibu yang sedang berbelanja di
penjual sayur keliling.
“Sekar siapa, Nak?”
tanya seorang ibu paruh baya yang sedang memilah sayur.
“Sekar Pandan
Arum, Bu, yang biasa nari ronggeng.”
“Oalah, Sekar
yang itu. Itu, Nak, rumahnya paling ujung, yang warna catnya hijau.” Kulihat
sebuah rumah yang ditunjuk oleh ibu itu.
“Mas dari kota
ya? Ngapain nyari Sekar?” tiba-tiba seorang ibu bertanya dengan penasaran.
Tipikal ibu-ibu tukang gosip yang sering aku lihat di TV. “Jangan-jangan mau
nyawer ya?” katanya lagi.
“Ada sedikit
perlu, Bu,” jawabku singkat.
“Biasanya kalo
jam segini anaknya latihan sama rombongan tarinya, Nak,” kata ibu pertama.
“Oh, begitu ya,
Bu. Latihannya di mana ya?”
“Di rumahnya Pak
Amin, yang punya rombongan. Rumahnya di sebelah Balai Desa.” Kemudian ibu itu
menjelaskan arahan jalan menuju lokasi yang dimaksud.
Kuingat dengan
baik arahan yang diberikan ibu tadi, “Terima kasih, Bu. Saya pamit dulu,” pamitku
meninggalkan ibu-ibu itu.
Setelah beberapa
saat berjalan, akhirnya aku sampai di Balai Desa. Samar dapat kudengar alunan gong
dan rebab sebagai musik pengiring dalam tarian ronggeng. Segera kupercepat
langkahku menuju sumber suara itu. Sebuah rumah sederhana khas rumah desa
menyambutku. Di halaman rumah tersebut, kulihat sekelompok orang sedang
berlatih pertunjukan daerah. Beberapa laki-laki sedang memainkan alat musik tradisional,
mengiringi sekelompok penari wanita yang menggunakan bawahan jarik dan
selendang.
Saat itu, mataku
langsung tertuju pada seorang wanita muda berparas cantik yang sedang melakukan
tariannya. Pandanganku langsung terpikat dengan gerakan tari miliknya yang
luwes, lincah, ekspresif dan eksotis. Gerakan yang oleh sebagian orang
dikatakan sebagai gerakan erotis. Namun tidak bagiku yang sejak lahir telah mengenal
dan mempelajari seni daerah. Sungguh, gerakan tari yang penuh penghayatan. Dan
saat itulah aku langsung mengenalinya. Dialah Sekar Pandan Arum, penari
ronggeng berbakat yang sedang aku cari jejaknya di desa ini.
#30dwc
#30dwcjilid12
#day26
#desa
Picture :
https://virallnesia.blogspot.co.id/2017/08/tradisi-gowok-sebagai-tradisi-buat.html?m=1
Picture :
https://virallnesia.blogspot.co.id/2017/08/tradisi-gowok-sebagai-tradisi-buat.html?m=1








0 komentar:
Posting Komentar