Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Jumat, 02 Oktober 2015

Hidup Bagai Selembar Kertas Kosong

Hidup itu bagai selembar kertas kosong. Lalu, apa yang akan kamu lakukan? Melipatnya menjadi suatu bentuk sesuai keinginanmu atau mencoret-coretnya dengan apapun yang kamu mau?
Tidak, lembar kertasku tidak hanya sekedar untuk dilipat atau dicoret. Aku akan mengisinya dengan celotehan rumit yang kurangkai sederhana. Karena untuk mengucapkannya aku tak mampu. Aku akan menulis. Bukan catatan berat seperti pembuktian rumus Matematika. Bukan tulisan seserius proposal atau karya ilmiah.
Aku hanya akan bercerita. Tentang rasa. Tentang mereka. 56 orang yang mengisi memoriku degan kilasan-kilasan kenangan. Lebih dari seribu hari pernah ku lewati bersama mereka. Melewati hari-hari yang memang hanyalah hari biasa. Hari biasa dimana yang terjadi lagi-lagi sama dan sangat melelahkan. Namun 56 orang ini yang membuat ku rindu akan hari melelahkan itu.
Saat aku menutup mata perlahan. Bayangan tiga tahun kebersamaan itu yang muncul, masih sama persis. Bagaimana kita saling tertawa, cara kalian membuatku tersenyum tanpa kalian sadari, saat kita menangis untuk hal-hal sederhana. Sederhana itu pula aku mulai merindukan kalian. Entah kenapa hari ini rasa rindu itu muncul. Bahkan lebih besar dari hari-hari sebelumnya.
Kemudian aku menggerakkan tanganku untuk menulis rangkaian-rangkaian kata. Mengenang kilasan-kilasan masa lalu dalam lembaran-lembaran kertas. Aku rangkai kenangan-kenangan itu dengan manis, aku susun rapi tiap bagiannya hingga menjadi buku tebal, lalu kemudian aku sampul dengan sebuah harapan sederhana. Bahwa semua kenangan itu tak akan hilang, tersimpan dalam ingatan kita masing-masing.
Aku tak tahu pasti, apakah ini merupakan bagian akhir dari cerita yang aku tulis. Tapi aku tau, semua buku memiliki akhir. Dan ini adalah halaman terakhir bukuku. Perasaan yang lalu, rindu yang entah kenapa sesekali kurasakan. Biarlah itu semua tersimpan dengan rapi dalam buku ini. Menjadi cerita yang mungkin akan kita tertawakan suatu saat nanti. Menjadi bagian pahatan dari perjalanan kehidupan. Menjadi sesuatu yang mungkin akan kita rindukan.
Ini adalah waktu yang tepat untuk aku menutup buku. Kemudian tersenyum meghadapi hari baru, membuka lembaran baru. Atau bahkan membuat kenangan baru.