Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Jumat, 30 Maret 2018

SEPATU UNTUK AYAH


“Ai, kamu beneran ngasih harga 30.000 buat anak itu?” tanya Anita padaku yang sedang memasukkan sepasang sepatu ke dalam kardusnya. “Kau tahu ka harga asli sepatu itu 250.000? Kalau bos sampai tahu, bisa habis kamu,” bisiknya padaku.
“Santai aja Nit, nanti biar aku yang nambahin kekurangannya. Alhamdulillah, aku ada rejeki lebih bulan ini,” ucapku menenangkan. Anita yang mendengar ucapanku hanya bisa menggelengkan kepala.
Setelah selesai merapikan dan membungkus sepatu itu, kulangkahkan kakiku menuju gadis kecil yang sedang duduk diam di salah satu bangku yang ada di toko. Namanya Rani. Kuberikan kantong kresek berisi sepatu yang dia beli, dan dari tangannya kuterima bungkusan plastik yang tadi disimpannya di dalam tas. Kuterima kantong pastik itu, ternyata isinya pecahan uang 500 dan 1.000 rupiah. Pelahan, kuhitung semua uang yang ada di dalam plastik. “Jumlahnya pas 30.000 ya, Dik,” kataku pada anak itu, tidak lupa senyuman kuberikan untuk pelangan istimewaku ini. Kulihat binar matanya memancarkan kebahagiaan, dari bibirnya terukir senyuman yang sangat lebar, bahkan dapat kudengar sedikit tawa gembira dari bibir mungil itu. Aku tau dia sangat senang bisa membeli sepatu itu.
“Terima kasih, Kak,” ucapnya sambil mencium punggung tanganku. Kulihat dia hampir menagis, segera aku berjongkok untuk mensejajarkan tubuh kami. Kuusap pelan puncak kepalanya, “Kamu anak yang baik sayang, berbaktilah kepada orang tuamu. Kakak yakin kamu akan menjadi anak yang sukses dimasa depan,” ucapku dengan penuh kasih sayang. Tiba-tiba kurasakan pelukan hangat dari tangan mungil gadis itu. Tangisan yang dari tadi ditahannya-pun akhirnya keluar.
“Terima kasih kak, terima kasih, kakak baik sekali sama Rani,” ucapnya disela-sela tangisannya. Kutepuk pelan punggung Rani untuk meredakan tangisnya, menyalurkan kekuatan untukknya menghadapai kerasnya hidup. “Maaf ya kak, Rani cengeng sekali,” ucapnya sambil menyeka air mata yang mengalir di pipinya. “Kalo gitu, Rani pulang dulu ya.”
“Ya, pulanglah. Ini sudah sangat siang, nanti ibumu mencarimu,” kataku sambil mengantarnya ke depan toko. Kulihat dia pergi sambil melambaikan tangan padaku, dapat kulihat kebahagiaan itu tampak nyata di kedua matanya. Dipeluknya erat kantong kresek hitam berisi sepasang yang baru ia beli. Kulihat kumpulan uang milik Rani yang masih ada digenggaman tanganku. Masih terekam dengan jelas bagaimana awal perjumpaanku dengan gadis kecil itu.

#####

Satu bulan yang lalu …
Pagi itu, aku yang baru selesai bersih-bersih melihat seorang anak kecil berdiri di depan toko sepatu tempatku bekerja. Kuperhatikan dari tadi anak itu hanya berdiri di depan toko sambil melihat deretan sepatu yang terpajang di estalase. Dia tampak ragu untuk masuk. Karena penasaran, akhirnya kuputuskan untuk menemui anak itu.
“Selamat pagi, Dik, mau beli apa? Nanti kakak bantu carikan,” sapaku pada gadis kecil itu.
“Eh, nggak kak, Rani nggak mau beli apa-apa,” jawabnya cepat hendak meninggalkan toko.
 “Nggak papa, Dik, masuk aja dulu, lihat-lihat. Nanti kalo ada yang adik suka baru beli, kalo tidak ya nggak apa,” kataku dengan sedikit membujuknya. Aku tahu, hampir setiap hari anak ini selalu melihat deretan sepatu di toko kami ketika pulang sekolah. Sepertinya dia salah satu siswa di sekolah dasar yang lokasinya tidak jauh dari sini.
Setelah sedikit bujukan dariku, akhirnya dia memberanikan diri melangkah masuk ke dalam toko. Kutemani anak itu melihat-lihat sepatu yang ada. “Kak, sepatu yang itu harganya berapa?” tunjuknya pada sepasang sepatu laki-laki dewasa berwarna dasar putih dengan corak biru tua.
“280 ribu, Dik,” jawabku yang sudah hafal dengan harga barang-barang di toko ini.
“Kalo yang itu?” tunjuknya pada sepatu yang lain.
“Kalo yang itu harganya 200 ribu,”
“Eemm … kalo yang itu, Kak?” tunjuknya pada sepatu yang lain lagi.
“Sama Dik, 200 ribu juga,” jawabku dengan sabar. Hal itu terus terjadi, kuperhatikan dia selalu menunjuk sepatu dengan ukuran laki-laki dewasa. Dan ketika mengetahui harga sepatu yang ia tunjuk, wajahnya langsung tampak kecewa dan sedih. “Dik, sebenarnya adik mau cari sepatu buat siapa? Kalo buat adik, ukuran di sini terlalu besar, ukuran sepatu yang cocok buat adik ada di sebelah sana,” kataku sambil menunjuk deretan sepatu anak-anak yang ada di sisi lain toko.
“Bukan buat Rani kak, tapi buat Bapak,” jawabnya dengan menundukkan kepala.
“Oh, buat Bapaknya adik? Bapak-nya adik mau ulang tahun ya, makanya mau belikan sepatu?” kuubah nada bicaraku menjadi lebih santai dan lembut. Kulihat dia menggelengkan kepalanya. 
“Bukan kak, tapi buat Bapak kerja. Sandal Bapak sudah tipis, Rani kasihan liat Bapak kerja pakai sandal tipis. Bapak kerjanya jauh, jadi kalo pulang kakinya pasti lecet-lecet.” Kalimat itu diucapkannya dengan pelan, bahkan aku hamper tidak mendengarnya.
“Kalo boleh kakak tau, Bapakmu kerja dimana sayang?”
“Bapak nyari rongsokan pakai gerobak kak,” ucapnya lagi, membuatku tak dapat berkata apa-apa. ‘Sungguh mulia hatimu nak’ pikirku saat itu. Di saat orang lain menghambur-hamburkan uang orang tuanya, anak ini, yang bahkan belum genap berusia 8 tahun sudah dapat merasakan kesusahan orang tuanya untuk mencari rezeki.
 “Jadi, adik ingin membelikan Bapak sepatu buat kerja? Biar kaki Bapak nggak lecet-lecet lagi?”
“Iya kak, tapi ….” ucapnya kembali ragu.
“Tapi kenapa sayang?” tanyaku. Dan aku langsung tersadar ketika melihat deretan sepatu mahal yang terpajang di toko ini. Pantas saja dari tadi dia hanya asal menunjuk sepatu yang terpajang di toko ini. Dia pasti mencari sepatu dengan harga yang murang, harga yang sanggup ia beli. Kulihat ada kekecewaan di matanya. 
“Adik sekolah?” tanyaku kemudian.
“Sekolah kak, sekarang kelas 2 SD.”
“Adik ada uang buat jajan nggak kalo di sekolah?”
“Ada kak, kadang ibu ngasih uang buat Rani jajan di sekolah.”
“Uang jajan-nya dikasih berapa sama ibu?”
“Kadang seribu, kadang dua ribu, tapi nggak tiap hari.”
“Gini aja, bulan depan, kebetulan di toko ada diskon besar-besaran. Nanti semua sepatu di sini harganya jadi Rp. 30.000. Tabunglah uang sakumu, tahan keinginanmu untuk jajan di sekolah, bawa bekal dari rumah saja. Nanti, setelah uangmu sudah genap Rp. 30.000, datanglah lagi ke toko ini, pilih sepatu yang kamu suka. Belilah sepatu itu dan berikan untuk Bapakmu,” kataku dengan lancar. Entah darimana aku mendapatkan ide itu, tiba-tiba saja muncul di kepala cantikku. Kulihat dia tampak bahagia mendengar kabar itu.
Masih kuingat dengan jelas bagaimana wajah sedih itu seketika berubah menjadi gembira, dengan semangat dia mengatakan, “Pasti kak, pasti Rani akan nabung buat beli sepatu Bapak.” Dikatakannya janji itu sambil mengepalkan kedua tangannya di samping dada, diucapkannya dengan tekat yang kuat. Sejak saat itu, setiap pulang sekolah dia akan mampir hanya untuk melihat deretan sepatu yang terpajang di toko ini. Sesekali aku akan menyapanya, sekedar bertanya kabar atau memberikan semangat untuk mewujudkan impian mulianya. Begitulah kisah pertemuanku dengan gadis kecil, pelanggan istimewaku.

#30dwc
#30dwcjilid12
#day10
Gambar : http://nursamawiah.blogspot.com

0 komentar: