“Ai,
kamu beneran ngasih harga 30.000 buat anak itu?” tanya Anita padaku yang sedang
memasukkan sepasang sepatu ke dalam kardusnya. “Kau tahu ka harga asli sepatu
itu 250.000? Kalau bos sampai tahu, bisa habis kamu,” bisiknya padaku.
“Santai
aja Nit, nanti biar aku yang nambahin kekurangannya. Alhamdulillah, aku ada rejeki
lebih bulan ini,” ucapku menenangkan. Anita yang mendengar ucapanku hanya bisa menggelengkan
kepala.
Setelah
selesai merapikan dan membungkus sepatu itu, kulangkahkan kakiku menuju gadis
kecil yang sedang duduk diam di salah satu bangku yang ada di toko. Namanya Rani.
Kuberikan kantong kresek berisi sepatu yang dia beli, dan dari tangannya kuterima
bungkusan plastik yang tadi disimpannya di dalam tas. Kuterima kantong pastik
itu, ternyata isinya pecahan uang 500 dan 1.000 rupiah. Pelahan, kuhitung semua
uang yang ada di dalam plastik. “Jumlahnya pas 30.000 ya, Dik,” kataku pada
anak itu, tidak lupa senyuman kuberikan untuk pelangan istimewaku ini. Kulihat
binar matanya memancarkan kebahagiaan, dari bibirnya terukir senyuman yang
sangat lebar, bahkan dapat kudengar sedikit tawa gembira dari bibir mungil itu.
Aku tau dia sangat senang bisa membeli sepatu itu.
“Terima
kasih, Kak,” ucapnya sambil mencium punggung tanganku. Kulihat dia hampir
menagis, segera aku berjongkok untuk mensejajarkan tubuh kami. Kuusap pelan
puncak kepalanya, “Kamu anak yang baik sayang, berbaktilah kepada orang tuamu.
Kakak yakin kamu akan menjadi anak yang sukses dimasa depan,” ucapku dengan
penuh kasih sayang. Tiba-tiba kurasakan pelukan hangat dari tangan mungil gadis
itu. Tangisan yang dari tadi ditahannya-pun akhirnya keluar.
“Terima
kasih kak, terima kasih, kakak baik sekali sama Rani,” ucapnya disela-sela
tangisannya. Kutepuk pelan punggung Rani untuk meredakan tangisnya, menyalurkan
kekuatan untukknya menghadapai kerasnya hidup. “Maaf ya kak, Rani cengeng
sekali,” ucapnya sambil menyeka air mata yang mengalir di pipinya. “Kalo gitu, Rani
pulang dulu ya.”
“Ya,
pulanglah. Ini sudah sangat siang, nanti ibumu mencarimu,” kataku sambil mengantarnya
ke depan toko. Kulihat dia pergi sambil melambaikan tangan padaku, dapat
kulihat kebahagiaan itu tampak nyata di kedua matanya. Dipeluknya erat kantong
kresek hitam berisi sepasang yang baru ia beli. Kulihat kumpulan uang milik
Rani yang masih ada digenggaman tanganku. Masih terekam dengan jelas bagaimana awal
perjumpaanku dengan gadis kecil itu.
#####
Satu bulan yang
lalu …
Pagi
itu, aku yang baru selesai bersih-bersih melihat seorang anak kecil berdiri di
depan toko sepatu tempatku bekerja. Kuperhatikan dari tadi anak itu hanya
berdiri di depan toko sambil melihat deretan sepatu yang terpajang di estalase. Dia tampak ragu untuk masuk.
Karena penasaran, akhirnya kuputuskan untuk menemui anak itu.
“Selamat
pagi, Dik, mau beli apa? Nanti kakak bantu carikan,” sapaku pada gadis kecil
itu.
“Eh,
nggak kak, Rani nggak mau beli apa-apa,” jawabnya cepat hendak meninggalkan
toko.
“Nggak papa, Dik, masuk aja dulu, lihat-lihat.
Nanti kalo ada yang adik suka baru beli, kalo tidak ya nggak apa,” kataku
dengan sedikit membujuknya. Aku tahu, hampir setiap hari anak ini selalu
melihat deretan sepatu di toko kami ketika pulang sekolah. Sepertinya dia salah
satu siswa di sekolah dasar yang lokasinya tidak jauh dari sini.
Setelah
sedikit bujukan dariku, akhirnya dia memberanikan diri melangkah masuk ke dalam
toko. Kutemani anak itu melihat-lihat sepatu yang ada. “Kak, sepatu yang itu
harganya berapa?” tunjuknya pada sepasang sepatu laki-laki dewasa berwarna
dasar putih dengan corak biru tua.
“280
ribu, Dik,” jawabku yang sudah hafal dengan harga barang-barang di toko ini.
“Kalo
yang itu?” tunjuknya pada sepatu yang lain.
“Kalo
yang itu harganya 200 ribu,”
“Eemm
… kalo yang itu, Kak?” tunjuknya pada sepatu yang lain lagi.
“Sama
Dik, 200 ribu juga,” jawabku dengan sabar. Hal itu terus terjadi, kuperhatikan
dia selalu menunjuk sepatu dengan ukuran laki-laki dewasa. Dan ketika
mengetahui harga sepatu yang ia tunjuk, wajahnya langsung tampak kecewa dan
sedih. “Dik, sebenarnya adik mau cari sepatu buat siapa? Kalo buat adik, ukuran
di sini terlalu besar, ukuran sepatu yang cocok buat adik ada di sebelah sana,”
kataku sambil menunjuk deretan sepatu anak-anak yang ada di sisi lain toko.
“Bukan
buat Rani kak, tapi buat Bapak,” jawabnya dengan menundukkan kepala.
“Oh,
buat Bapaknya adik? Bapak-nya adik mau ulang tahun ya, makanya mau belikan
sepatu?” kuubah nada bicaraku menjadi lebih santai dan lembut. Kulihat dia
menggelengkan kepalanya.
“Bukan
kak, tapi buat Bapak kerja. Sandal Bapak sudah tipis, Rani kasihan liat Bapak
kerja pakai sandal tipis. Bapak kerjanya jauh, jadi kalo pulang kakinya pasti lecet-lecet.”
Kalimat itu diucapkannya dengan pelan, bahkan aku hamper tidak mendengarnya.
“Kalo
boleh kakak tau, Bapakmu kerja dimana sayang?”
“Bapak
nyari rongsokan pakai gerobak kak,” ucapnya lagi, membuatku tak dapat berkata
apa-apa. ‘Sungguh mulia hatimu nak’ pikirku
saat itu. Di saat orang lain menghambur-hamburkan uang orang tuanya, anak ini,
yang bahkan belum genap berusia 8 tahun sudah dapat merasakan kesusahan orang
tuanya untuk mencari rezeki.
“Jadi, adik ingin membelikan Bapak sepatu buat
kerja? Biar kaki Bapak nggak lecet-lecet lagi?”
“Iya
kak, tapi ….” ucapnya kembali ragu.
“Tapi
kenapa sayang?” tanyaku. Dan aku langsung tersadar ketika melihat deretan
sepatu mahal yang terpajang di toko ini. Pantas saja dari tadi dia hanya asal
menunjuk sepatu yang terpajang di toko ini. Dia pasti mencari sepatu dengan
harga yang murang, harga yang sanggup ia beli. Kulihat ada kekecewaan di matanya.
“Adik
sekolah?” tanyaku kemudian.
“Sekolah
kak, sekarang kelas 2 SD.”
“Adik
ada uang buat jajan nggak kalo di sekolah?”
“Ada
kak, kadang ibu ngasih uang buat Rani jajan di sekolah.”
“Uang
jajan-nya dikasih berapa sama ibu?”
“Kadang
seribu, kadang dua ribu, tapi nggak tiap hari.”
“Gini
aja, bulan depan, kebetulan di toko ada diskon besar-besaran. Nanti semua
sepatu di sini harganya jadi Rp. 30.000. Tabunglah uang sakumu, tahan
keinginanmu untuk jajan di sekolah, bawa bekal dari rumah saja. Nanti, setelah
uangmu sudah genap Rp. 30.000, datanglah lagi ke toko ini, pilih sepatu yang
kamu suka. Belilah sepatu itu dan berikan untuk Bapakmu,” kataku dengan lancar.
Entah darimana aku mendapatkan ide itu, tiba-tiba saja muncul di kepala cantikku.
Kulihat dia tampak bahagia mendengar kabar itu.
Masih
kuingat dengan jelas bagaimana wajah sedih itu seketika berubah menjadi
gembira, dengan semangat dia mengatakan, “Pasti kak, pasti Rani akan nabung
buat beli sepatu Bapak.” Dikatakannya janji itu sambil mengepalkan kedua
tangannya di samping dada, diucapkannya dengan tekat yang kuat. Sejak saat itu,
setiap pulang sekolah dia akan mampir hanya untuk melihat deretan sepatu yang
terpajang di toko ini. Sesekali aku akan menyapanya, sekedar bertanya kabar atau
memberikan semangat untuk mewujudkan impian mulianya. Begitulah kisah pertemuanku
dengan gadis kecil, pelanggan istimewaku.
#30dwc
#30dwcjilid12
#day10
Gambar : http://nursamawiah.blogspot.com
Gambar : http://nursamawiah.blogspot.com








0 komentar:
Posting Komentar