Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Minggu, 23 Januari 2011

I'ill Always Remember This Day

    Suatu saat tiba-tiba terfikir olehku, mungkin suatu saat nanti aku akan merindukan saat-saat bersama teman-temanku. Saat itu pula aku teringat bahwa mereka bukan hanya sekedar kumpulan orang yang tergabung dalam sebuah komunitas kecil yang bernama “Thriller”. Bagiku mereka melebihi semua itu. Karena kami selalu melalui semua hal bersama, menerima segala kekurangan dan kelebihan setiap individu didalamnya, malalui manis dan pahitnya hari-hari di sekolah dan menghadapi setiap masalah yang pernah kami lalui bersama. Menurutku hanya satu kata yang mewakili semua pendiskripsian tentang mereka. Mereka adalah SAHABAT-ku. Bahkan aku nggak bisa mengartikan arti dari kata sahabat itu sendiri. Mungkin lagu ini akan selalu kuingat ketika aku mulai merindukan kalian semua, sahabatku “THRILLER”.

Project Pop - Ingatlah Hari Ini

 
Kawan dengarlah
Yang aku katakan
Tentang dirimu
Setelah selama ini
Ternyata kepalamu
Akan selalu botak
Kamu kaya gorila

Cobalah kamu ngaca
Itu bibir balapan
Dari pada gigilu
Kayak kelinci
Yang ini udah gendut
Suka marah-marah
Kau cacing kepanasan
Tapi ku tak perduli
Kau selalu dihati

Reff:
Kamu sangat berarti
Istimewa dihati
Selamanya rasa ini
Jika tua nanti
Kita tlah hidup masing-masing
Ingatlah hari ini

Ketika kesepian menyerang diriku
Gak enak badan resah tak menentu
Ku tahu satu cara sembuhkan diriku
Ingat teman-temanku

Don't you worry just be happy
Temanmu disini

Kembali ke: Reff

Don't you worry just be happy
Temanmu disini

Kembali ke: Reff (2x)

Rabu, 05 Januari 2011

        Di sekolahku, ada sebuah kelas yang disebut kelas unggulan. Biasanya yang berakhiran angka 3. Aku juga nggak tau kenapa. Jadi setiap  kenaikan kelas, banyak peristiwa yang terjadi ketika poses pembagian kelas. Mulai dari adek kelas yang nangis karna nggak dapet kelas unggulan, tapi ada juga adek kelas yang sedih karna dapet kelas unggulan. Huhf.... Emangnya penting ya bisa masuk kelas unggulan. Menurutku sih dimanapun kelasmu yang penting kamu enjoy dan tetep bisa berprestasi. Dari pemikiran itu, aku dan tim Mp-News membuat sebuah berita yang isinya membandingkan prestasi siswa kelas unggulan dan siswa kelas lainnya. (Harusnyakan kelas unggulan pasti punya banyak prestasi). 
        Pembuatan berita ini harus melalui berbagai proses begitu panjang, mengingat masalah ini menyangkut kurikulum sekolah. Belum lagi reaksi teman-teman sekolah ketika berita ini diterbitkan. (Mengingat hal ini selalu menjadi kontroversi dikalangan teman-teman). Aku sebagai penulis harus meminta ijin guru BK yang ketika itu sedang berada di luar kota. Awalnya hal ini kurang disetujui, tapi setelah menjelaskan maksud pembuatan berita ini, akhirnya berita ini dapat diterbitkan. (Meskipun sebelum penerbitan aku sempet dipanggil untuk memperlihatkan isi beritaku dulu). Makasih juga buat temen-temen yang udah ngebantu dalam proses pembuatannya. Mulai dari OSIS, temen-temen redaksi, pembina dan rekan-rekan sekalian. 

Dan sekarang, waktunya membaca. Jangan lupa kasi kementar ya....
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------


YANG UNJUK GIGI BALAP YANG BERTITLE

Wuuiihh… ada IPA 3 lewat nok !?! Ada IPA 3 lewat, IPA 3 lewat.

Itulah kalimat yang sering diucapkan siswa-siswi Trisma terutama ketika moment pembagian kelas telah usai. Tak ada yang tahu sejak kapan IPA 3 dijadikan sebagai kelas bagi siswa dengan nilai rata-rata tertinggi di SMA 3 Denpasar. Tak sedikit siswa kelas sepuluh yang menginginkan satu kursi di kelas ini. Fenomena yang terlihat, ada saja siswa yang menyesal bahkan menangis ketika namanya tak ada dalam deretan penghuni kelas yang satu ini. Kenapa ya? Dikenal dengan kelasnya anak-anak pinter atau gudangnya anak-anak berprestasi. Setuju nggak setuju dengan pernyataan ini.
Benarkah kelas IPA 3 ini selalu unggul di berbagai prestasi terutama di bidang akademik? Untuk menjawabnya Tim MP-News melakukan survei prestasi akademik selama tiga tahun terakhir (2007-2010).  Media yang digunakan adalah data yang telah disediakan oleh OSIS. Dan hasilnya?
Gawat! Perolehan prestasi yang menempati tingkat jawara alias juara pertama telah mengalami pergeseran. Dari periode 2008-2009, IPA 3 telah digeser oleh IPA 1 dalam perolehan prestasi bertitle “juara 1” ini. Bahkan di tahun 2009-2010 perbedaan makin jauh terlihat. IPA 2 dan IPA 4 unggul 5 prestasi dibanding IPA 3 yang hanya mendapat 2 pretasi. Padahal dua tahun sebelumnya (2007-2008) siswa IPA 3 berhasil mengumpulkan 6 buah prestasi. Meski dari total seseluruhan yaitu perolehan juara pertama sampai dengan terpilihnya sebagai finalis, IPA 3 masih lebih unggul dibanding kelas IPA lainnya. Namun jumlah ini tak sebanyak yang diperoleh di periode 2007-2008. Besarnya angka ini boleh jadi disebabkan oleh sikap para siswa  yang ingin terus berprestasi di luar predikat sebuah kelas. Fakta ini membuktikan bahwa siswa yang tidak menempati kelas IPA 3 juga berpotensi di bidang akademik.
Tak hanya itu, dari segi pemilihan jurusan yaitu IPA dan IPS. Kelas IPS periode 2009-2010 mengalami meningkatan yang signifikan. Di banding kelas IPA, kelas IPS jauh lebih unggul yaitu dengan 6 prestasi juara 1. Selain itu jumlah ini adalah jumlah paling banyak dalam tiga periode terakhir. Walaupun sempat mengalami penurunan di periode 2008/2009, siswa IPS ini mampu menunjukan jati dirinya di tahun 2009-2010 dengan total perolehan 27 prestasi (dihitung dari juara pertama hingga finalis).
Melihat fakta-fakta temuan tersebut, dapat disebutkan bahwa bukan hanya siswa IPA 3 yang mampu perprestasi di bidang akademik. Siswa dari kelas lain atau siswa dengan jurusan berbeda juga mampu unjuk gigi bahkan melebihi kelas bertitle unggulan ini. So, dimanapun kelasmu, enjoy aja dan tetap berprestasi!!!

Tabel perolehan prestasi siswa SMA 3 Denpasar periode 2007-2010
No
Tahun
Juara
IPA 1
IPA 2
IPA 3
IPA 4
IPA 5
IPA 6
IPS
1.
2007-2008
1


6
1


1
2
1
1
13

4

1
3


10

3


Harapan 1


6



5
Harapan 2


3



3
Harapan 3


3




Finalis
1
4
17



2
Total
2
5
58
1
7

12
2.
2008-2009
1
3

2

1
1
2
2

3
4
1


4
3

1
6



2
Harapan 1
1





1
Harapan 2






1
Harapan 3







Finalis







Total
4
4
12
1
1
1
10
3.
2009-2010
1
1
5
2
5


6
2
2
4
7
4

1
8
3
2
3
5
3
1

6
Harapan 1
1

3




Harapan 2
3
2
4
4

1
1
Harapan 3






3
Finalis
3
5
23
3

2
3
Total
12
19
44
19
1
4
27

Dari Asia-Afrika Menuju Linggarjati

“Pak ke Asia-Afrika ya”, Dimas menyetop sebuah taksi. 
Dan mulailah perjalanan kami menjelajah tahun 1946-1955.

        Tak butuh waktu lama untuk sampai ditujuan kami, hanya sekitar 20 menit dengan taksi dan sampailah kami di depan Gedung Merdeka. Pagi ini (16 Jan) kami (Ananta Wijaya, Chania, Desak dan Fifin) dipandu Dimas B. Permana (alumni MP angkatan 30) berkeliling kota Bandung. Menghabiskan waktu luang setelah tenaga terkuras karena keikutsertaan kami dalam sebuah perlombaan. Sesampai di depan Gedung Merdeka mulailah kami menyusuri jalanan Asia-Afrika. Terlihat jelas arsitektur Belanda yang masih dipertahankan sebagai ciri khas bangunan-bangunan yang berdiri kokoh di area ini.

   
         Beberapa meter dari Gedung Merdeka, aku (Fifin) tertarik dengan sebuah pintu yang disebelahnya berisi tulisan “Musium Konperensi Asia Afrika”. “Mau masuk?” tanya Ananta, pembina kami. Dengan sigap aku mnjawa “iya kak”, dan yang lainnya (Chania & Desak) hanya mengikuti “boleh”. Sejak tahun 1945 bagunan yang awalnya bernama Gedung Concordia ini memang telah terpilih sebagai tempat Konfrensi Asia Afrika. Hingga pada Maret 1980 gedung ini kembali dipercayakan menjadi tempat peringatan Konferensi Asia Afrika yang ke-25 dan pada puncak peringatannya diresmikanlah Museum Konferensi Asia Afrika oleh Soeharto, Presiden Republik Indonesia ke-2.
   
        Begitu memasuki gedung ini kita bisa melihat berbagai koleksi foto-foto dan barang-barang tiga dimensi yang berhubungan dengan Konferensi Asia Afrika 1955 (baik sebelum dan sesudah peringatan KAA), patung tokoh-tokoh KAA, ulas pers, dan beberapa foto-foto dokumenter konfrensi lainnya. Gedung megah ini kental sekali nuansa art deco dari lantainya yang terbuat dari marmer buatan Italia yang mengkilap dan untuk penerangannya dipakai juga lampu-lampu bias kristal yang tergantung gemerlapan.

   
        
        Ruang pameran ini juga menyediakan komputer multimedia yang didalamnya dapat kita lihat bagaimana latar belakang peristiwa lahirnya Konferensi Asia Afrika, dampak Konferensi Asia Afrika bagi dunia internasional, Gedung Merdeka dari masa ke masa, dan profil negara-negara peserta Konferensi Asia Afrika.
Setelah puas menjelajah ruang pameran dan mengambil beberapa foto, kami memasuki ruang konfrensi. Replika suasana Konfrensi Asia Afrika masih terawat baik dengan puluhan bendera negara-negara peserta KAA yang berjejer rapi di belakang tokoh KAA. Di sebelah kanannya terpajang gong perdamaian Asia-Afrika 2005 dengan ukuran besar. Kursi-kursi merah juga tertata rapi di dalam ruangan yang bisa digunakan sebagai tempat istirahat pengunjung. Di musium ini juga terdapat ruang Audiofisual. Sayangnya saat kami berkunjung ruang audiovisual sedang direnovasi.

   
         Dua hari setelahnya (18 Jan) kami (Kak Ananta, Chania, Desak dan Fifin) berkesempatan mengunjungi kota Cirebon. Kali ini, kami ditemani keluarga dari adik pembina kami. Awal perjalanan kami mengunjungi Musium Linggarjati, yang terletak di Desa Linggarjati. Tak butuh waktu lama sampai di Desa Linggarjati, akses jalan aspal yang mulus memudahkan kami yang menggunakan kendaraan pribadi menjangkau lokasi ini.
Tiba di pelataran Musium Linggarjati, hawa sejuk dan damai langsung bisa kita rasakan. Bangunan kuno dan megah yang dikelilingi oleh taman yang asri, dengan suasana yang tidak terlalu ramai, semakin menambah penghayatan suasana Linggarjati. Setelah mengalami beberapa kali renovasi dengan masih mempertahankan arsitektur aslinya, akhirnya bangunan tempat bersejarah ini bisa dikunjungi lagi. Yah, didalamnya kita masih bisa melihat jelas beberapa peninggalan-peninggalan dari pelaksanan Perjanjian Linggarjati (10-13 November 1946).
        Kerena telah beralih fungsi sebagai musium, maka beberapa ruangan di dalam bangunan ini telah dialih fungsikan. Misalnya ruang tamu dipergunakan sebagai ruang untuk melakukan lobi dan pembelian tiket. Ruang tengah yang merupakan ruang utama, dimana Perjanjian Linggarjati dilaksanakan. Terdapat miniatur peristiwa berlangsungnya Perjanjian Linggarjati, foto-foto dokumentasi dan beberapa barang antik lainnya. Dan ternyata posisi kursi yang diduduki para anggota perundingan masih sama seperti dulu, sewaktu perundingan dilangsungkan. Papan nama dari masing-masing peserta delegasi juga ditempatkan pada posisinya masing-masing.
        Kedatangan kami waktu itu berbarengan dengan musim liburan siswa sehingga ada rombongan sekolah yang tengah melakukan pariwisata. Terdengar suara salah satu pegawai yang sedang menjelaskan seluk-beluk musium dan kronologis peristiwa Perjanjian Linggarjati. Meski harus berdesak-desakan dengan siswa SD, akhirnya kami bisa berfoto juga. Ha ha ha...
        Masuk lebih dalam lagi, terdapat kamar-kamar tidur yang bersebelahan dengan ruang perundingan. Kamar-kamar ini merupakan tempat peristirahatan yang dipergunakan oleh para delegasi Indonesia dan Belanda selama mengikuti jalannya perundingan. Di dinding kamar juga menempel foto-foto dokumentasi, seperti foto para anggota delegasi, foto pendiri negara (Ir. Soekarno dan Moh. Hatta) dan dokumentasi kegiatan pers pada masa itu. Furniture kuno masih tertata rapi sebagai pelengkap kamar, meskipun furniture ini bukanlah furniture aslinya.
        Lelah berkeliling, kami beristirahat di taman belakang musium. Di bawah Musium Linggarjati masih di area taman, terdapat sebuah tugu Perjanjian Linggarjati yang menuliskan isi dari Perjanjian Lingarjati. Puas beristirahat, kami melanjutkan perjalanan ke objek wisata berikutnya. Dan berakhirlah perjalanan panjang kami mengikuti dua peristiwa besar bagi bangsa Indonesia, menjelajah dua kota berbeda dan bertemu tokoh-tokoh ternama.