Ada satu masa ketika dalam sebuah percakapan Aku terdiam, tak berpendapat, tak berargumen, tak juga membantah. Hanya diam dan menjadi pendengar. Apalagi kalau bukan masalah pacar, jodoh dan pernikahan. Sebuah pembahasan yang mampu membuatku diam seribu bahasa. Ah, terkadang Aku ingin menjadi tuli ketika hal yang satu itu dijadikan topik utama sebuah percakapan. Bukannya Aku tidak perduli dengan sunah Rosul yang satu itu. Tapi entah kenapa pemikiran untuk berpacaran, bertemu jodoh, dan menikah masih belum menjadi prioritas utamaku dalam beberapa tahun ke depan.
Terkadang Aku lelah mendengarkan mereka yang mempertanyakan hal-hal semacam “sudah punya pacar?”, “kapan dikenalin calonnya?”, “nggak usah pilih-pilih, kalau ada yang baik dan cocok langsung nikah aja”, “sudah kerja, apalagi yang dicari, cepet nikah”. Diusiku yang sudah 20 tahun lebih ini, orang melihatku sebagai sosok perempuan yang sudah pantas untuk menikah, atau bahkan memiliki satu orang anak. Entahlah. Sepertinya aku masih terlalu nyaman dengan kesendirianku. Masih ingin menikmati kesendirianku.
Aku tidak bermaksud menghindar, ketika ada orang yang menanyakan perihal jodoh kepadaku. Hanya saja, mungkin ada perbedaan pendapat antara aku dan mereka perihal kedatangan jodoh. Bagiku, Allah telah mempersiapkan Dia yang terbaik yang telah Allah pilihkan untukku. Dan Aku masih menunggu saat itu tiba. Ketika Aku dan Dia dipertemukan dengan cara yang sederhana, dengan seijin Allah. Ketika Aku telah siap lahir dan batin untuk memulai sebuah hubungan, dan berakhir dalam sebuah ikatan suci. Sampai saat itu datang, Aku masih akan menikmati kesendirianku. Seperti bulan yang selalu menantikan datangnya malam dalam kesendiriannya.