Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Kamis, 21 Juli 2016





Aku membutuhkan seseorang yang tak peduli jika aku semakin tua dan jelek, tak peduli jika aku tak lagi bertenaga untuk mengajaknya berlari. 
Namun dia akan tetap menemaniku dari pagi 
hingga malam lelah menemani. 
Meski hanya duduk di beranda rumah dengan teh dan kue seadanya.

Selasa, 19 Juli 2016

PUISI TERAKHIR SOE HOK GIE

Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekkah,
Aada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Wiraza,
Ttapi aku ingin menghabiskan waktu ku di sisi mu sayang ku….
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandala Wangi
Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang
Ada bayi-bayi yang lapar di Biafra
Tapi aku ingin mati di sisi mu manisku
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
Tentang tujuan hidup yang tidak satu setan pun tahu
Mari sini sayangku
Kalian yang pernah mesra yang pernah baik dan simpati padaku
Tegaklah ke langit luas atau awan yang menang
Kita tak pernah menanamkan apa-apa
Kita takkan pernah kehilangan apa-apa
Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan
Yang kedua dilahirkan tapi mati muda
Dan yang tersial adalah berumur tua
Berbahagialah mereka yang mati muda
Mahluk kecil kembalilah dari tiada ke tiada
Berbahagialah dalam ketiadaanmu
(Catatan Seorang Demonstran, Selasa, 11 November 1969)

Senin, 18 Juli 2016

Ketika kau jatuh cinta kepada karya seni,
kau akan rela mati untuk menemui si seniman pembuatnya.
Aku adalah pengagum galeri berisi matahari terbenam di Pasifik,
bulan purnama di atas laut, awan dari pesawat terbang,
hutan musim gugur di Raleigh, dan salju pertama yang turun.
Dan aku sangat ingin menemui senimannya. Allah SWT...
(Yasmin Mogahed - Reclain your Heart)




Jumat, 15 Juli 2016

Percakapan bersama Sahabatku

              Setelah sekian lama tidak berjumpa, akhirnya tahun ini aku kembali bertemu dengan sahabatku. Teman seperjuangan dalam mewujudkan impian-impian masa SMA. Pertemuan singkat, hanya sekitar dua jam kebersaan intensif antara aku dan dia. Di sebuah angkringan pinggiran kota, kami memulai sebuah perbincangan pribadi. Sebuah topik yang tak ku sangka akan kami pilih dalam pertemuan kali ini. “Pencarian pasangan hidup”.
              Aku dan sahabatku berada dalam kondisi dimana hal yang satu ini masih belum menjadi prioritas  utama kami dalam beberapa tahun ke depan. Namun, orang tua kami mulai cemas dan menuntut perihal kepemilikan pacar. Bukannya kami terlalu memilih atau enggan untuk mencari. Tapi kami memiliki pendapat tersendiri mengenai “Dia” yang akan datang dalam kehidupan kami. Dan kami masih dalam proses pencarian itu. Lingkungan dan agama adalah tantangan kami saat ini. Banyak laki-laki yang kami temui setiap hari. Diantara kebanyakan itu, tentu ada yang menarik perhatian kami barang satu atau dua orang. Tapi kami tidak memiliki nyali untuk bermain-main dengan cinta dan agama. Tuhan menciptakan cinta untuk menyatukan sebuahn berbedaan. Tapi ada kalanya perbedaan itu terasa menyakitkan, terutama dalam urusan cin(T)a. Dan kami terjebak dalam situasi ini. Kami masih cukup waras untuk bisa memikirkan perasaan orang tua kami. Kami lebih memilih membunuh rasa cinta yang tiba-tiba muncul pada “Dia” yang berbeda keyakinan dengan kami.
               Perkara mencari pacar bukanlah hal yang mudah. Untuk ketidak mudahan itu, kami perlu berhati-hati dalam memilih pasangan. Tidak perlu terburu-buru. Karena kami yakin Tuhan telah memilihkan laki-laki yang tepat untuk kami. Laki-laki yang mampu menjadi imam dalam agama kami masing-masing. Laki-laki itu akan segera datang, pada waktu dan tempat yang tepat.

Sabtu, 09 Juli 2016

Percakapan dan Diamku

           Ada satu masa ketika dalam sebuah percakapan Aku terdiam, tak berpendapat, tak berargumen, tak juga membantah. Hanya diam dan menjadi pendengar. Apalagi kalau bukan masalah pacar, jodoh dan pernikahan. Sebuah pembahasan yang mampu membuatku diam seribu bahasa. Ah, terkadang Aku ingin menjadi tuli ketika hal yang satu itu dijadikan topik utama sebuah percakapan. Bukannya Aku tidak perduli dengan sunah Rosul yang satu itu. Tapi entah kenapa pemikiran untuk berpacaran, bertemu jodoh, dan menikah masih belum menjadi prioritas utamaku dalam beberapa tahun ke depan.
           Terkadang Aku lelah mendengarkan mereka yang mempertanyakan hal-hal semacam “sudah punya pacar?”, “kapan dikenalin calonnya?”, “nggak usah pilih-pilih, kalau ada yang baik dan cocok langsung nikah aja”, “sudah kerja, apalagi yang dicari, cepet nikah”. Diusiku yang sudah 20 tahun lebih ini, orang melihatku sebagai sosok perempuan yang sudah pantas untuk menikah, atau bahkan memiliki satu orang anak. Entahlah. Sepertinya aku masih terlalu nyaman dengan kesendirianku. Masih ingin menikmati kesendirianku.
            Aku tidak bermaksud menghindar, ketika ada orang yang menanyakan perihal jodoh kepadaku. Hanya saja, mungkin ada perbedaan pendapat antara aku dan mereka perihal kedatangan jodoh. Bagiku, Allah telah mempersiapkan Dia yang terbaik yang telah Allah pilihkan untukku. Dan Aku masih menunggu saat itu tiba. Ketika Aku dan Dia dipertemukan dengan cara yang sederhana, dengan seijin Allah. Ketika Aku telah siap lahir dan batin untuk memulai sebuah hubungan, dan berakhir dalam sebuah ikatan suci. Sampai saat itu datang, Aku masih akan menikmati kesendirianku. Seperti bulan yang selalu menantikan datangnya malam dalam kesendiriannya.



Rabu, 06 Juli 2016

Mata kadang salah melihat, mulut kadang salah mengucap,
hati kadang salah menduga.
Jika terkadang langkahku membekaskan lara,
dalam kataku terangkai dusta, dan tak sengaja prilakuku menorehkan luka.
Untuk semua sikap dan prilakuku yang tak terjaga.
Di hari yang Fitri ini, dengan tulus hati
Ku ucapkan mohon maaf lahir dan bathin.

             Kami Sekeluarga mengucapkan
          *_SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI
                          1 SYAWAL 1437H_*
                     Minal Aidin Wal Faidzin,
                    Mohon Maaf Lahir Bathin