Di
malam yang indah itu, Bintang duduk sendirian di sebuah gazebo yang ada di
taman kota. Malam itu bintang tampak menunjukkan gemerlap cahayanya. Mungkin
karena taman ini terletak di pinggiran kota, sehingga tidak terlalu banyak
lampu kota yang menutupi keindahan bintan-bintang di langit. Hari ini
Bintang tampak tampan dengan kemeja berwarna putih dan celana hitam, lengkap
dengan sepatu hitam. Sepertinya dia sedang menunggu seseorang.
Dinginnya
malam mulai menusuk tubuhnya, dilihatnya jam tangan sudah menunjukkan pukul 9
malam. Lewat 2 jam dari jam yang telah di tentukan. ‘Dia tidak akan datang,’ pikir Bintang.
Iseng
Bintang mengedarkan pandangan ke sekitar gazebo yang menaunginya. Banyak
tanaman indah yang mulai berbunga, bunga-bunga dengan berbagai warna dan
keharuman yang khas. Saat kepalanya menengok ke kanan, dilihatnya seorang wanita
yang telah ia tunggu telah berdiri di sana. Tubuh Bintang tiba-tiba menjadi
kaku, bibirnya mengatup sempurna, otaknya tiba-tiba macet, tidak tau apa yang
harus dilakukan.
“Hai,”
sapa wanita itu. Itu Rindu, wanita yang sejak tadi ditunggunya.
“Ha
… hai juga,” sapa Bintang.
“Maaf
sudah lama menunggu.”
“Nggak,
nggak papa, nggak lama kok,” ucap Bintang memberi ruang untuk Rindu duduk
disebelahnya. Malam ini seperti biasanya Rindu tampil cantik dengan gaun terusan
selutut berwarna putih, rambutnya dibiarkan tergerai dengan sedikit kepangan
pada bagian kiri dan kanan yang menyatu kebelakang.
“Kamu
sudah dengar dari Nada kan?” Bintang memulai pembicaraan mereka.
“Sudah,”
jawab Rindu masih dengan menundukkan kepalanya. Terbayang pembicaraannya dengan Nads tadi pagi saat menjemputnya di bandara.
*****
“Hubungan
kami tidak berjalan dengan baik Rin, sepertinya perasaan yang kami rasakan
selama ini bukanlah perasaan cinta antara wanita dan laki-laki.” Nada mulai
menceritakan kisahnya pada Rindu. Saat itu Rindu dan Nada sedang berada di
dalam mobil menuju rumah Rindu. Mereka duduk di belakang kemudi, sedangkan Kak Radi, yang juga ikut menjemput Rindu duduk di sebelah supir.
“Awal
hubungan kami memang berjalan dengan baik. Setelah aku menerima surat darimu,
kami memang sempat berpacaran. Tapi semua terasa berbeda Rin, semua tak lagi
sama. Aku sendiri tidak mengetahui apa yang membuatnya berbeda. Sikap Bintang sangat
baik, dia menunjukkan kasih sayangnya padaku. Kami berpacaran layaknya sepasang
kaekasih, kami pergi berkencan, nonton bareng, melakukan kegemaran kami bersama
dan lain sebagainya. Tapi, entahlah, ….” Mara berhenti sejenak, dan Rindu masih
mendengarkannya dalam diam, menahan perih dalam hatinya. Walau bagaimanapun, Rindu
pernah mencintai Bintang, dan sepertinya rasa itu masih meninggalkan jejak
dalam hatinya.
“Satu
bulan setelah kami berpacaran, perbedaan itu semakin terasa jelas Rin. Dan aku
tau penyebabnya, sikap kami-lah yang berubah. Kami tidak lagi bebas seperti
dulu, aku tidak bisa langsung merebut makanan Bintang, aku tidak bisa berbicara
dengan suara yang lantang dan keras kepada Bintang, dan lain sebagainya. Mungkin
sudah menjadi kebiasaan di Indonesia jika wanita harus menghormati laki-laki
yang menjadi kekasihnya. Saat itulah aku sadar, jika hubungan kami memasng
seharusnya hanya sebatas hubungan sahabat, tidak lebih.”
“Tapi,
masak hanya karena itu kalin langsung putus? Kalian kan baru memulai sebuah
hubungan, jadi pasti harus ada penyesuaian dulu kan?”
“Tidak
Rin, sebenarnya tidak hanya itu. Setelah kepergianmu, aku tau, sikap Bintang
menjadi berubah. Awalanya, aku kira itu hanya perasaanku saja. Tapi semua
terasa lebih jelas saat kami putus, aku memaksanya mengakui perasaannya. Aku
tau dia masih mencintaimu Rin, Bintang merindukanmu,” ucapa Mara menatap mata
Rindu.
“Kau
tauh, dia bahkan nekat menjual motor sport nya untuk menyusulmu ke Jepang.
Tapi, aku melarangnya, aku bilang kalau kau akan pulang ke Indonesia 2 bulan
lagi. Saat itulah dia bia mengunggkapkan perasaannya kepadamu. Sekarang aku
tanya, apakah perasan itu masih ada dalam hatimu?”
“Tapi,
kamu dan Bintang …”
“Sudahlah,
jangan pikirkan tentang hubungan kami lagi. Kamu sudah pernah memberi kami
kesempatan, dan itu tidak berhasil. Waktu itu, kami sudah salah menilai
perasaan kami. Sekarang, waktunya kalian memperjelas perasaan yang kalian
miliki. Nanti malam, Bintang menunggumu, tolong berikan dia kesempatan sekali
lagi. Kamu masih mencintainya kan? Atau kamu sudah punya gebetan lain di Jepang
sana?”
Rindu
tidak menjawab pertanyaan dari teman di sampingnya itu. Dia hanya diam, menatap
ke arah luar jendela, memandnag pemandangan ibu kota yang tidak banyak berubah
sejak kepergiannya beberapa bulan yang lau. Memikirkan bagaimana perasaannya
pada laki-laki yang pernah menghianati cintanya.
*****
“Maafin
aku ya, Rin. Aku tau aku salah, aku sudah salah mengartikan perasaanku pada Nada.
Aku menghianati cinta kita. Aku tau aku tidak layak mendapat permintaan maaf
darimu. Tapi aku mohon Rin, aku ingin kita sepereti dulu,” ucap Bintang sambil
memegang kedua tangan Rindu.
“Tapi
kamu sudah mengecewakan aku,” ucap Rindu menatap Bintang.
“Ya,
aku tau, dan aku minta maaf.”
“Kamu
sudah menghianati cintaku.”
“Aku
minta maaf, aku sungguh minta maaf, aku ingin memperbaiki hubungan kita,” ucap
Bintang dengan sungguh-sungguh.
“Kamu
tau, selama aku aku berpacaran dengan Nada, secara tidak langsung aku selalu
mebandingkanmu dengannya. Aku tau itu seharusnya tidak terjadi, kalian dua
orang yang berbeda. Tapi entah kenapa aku selalu membandingkan kalian. Kamu tau
kenapa? Karena aku merindukanmu Rindu. Awalnya aku mengingkari kenyataan itu,
tapi saat aku dan Nada putus, perasaan itu semakin nyata kurasakan. Aku sangat
merindukanmu, aku masih mencintaimu.”
Hening
sejenak, sepertinya Rindu sengaja menguji perasan Bintang, dia mengujinya dalam
ketidakpastian. “Kamu juga masih cinta sama aku kan? Kamu nggak mungkin
langsung melupakanku begitu saja. Kamu mau kan kalau kita kembali bersama?”
tanya Bintang pada Rindu.
“Tapi
aku nggak bisa Bintang.” Ucapan itu seakan menjadi ribuan duri dalam hati
Bintang. ‘Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin
Rindu melupakannya semudah itu? Kemana semua kenangan indah yang telah mereka
lalui bersama?’ pikir Bintang dalam hati. Tangannya yang tadi menggenggam
erat tangan Rindu perlahan mulai terlepas, hatinya sungguh penuh dengan
penyesalan. Selesai sudah, selesai sudah semuanya. Inilah akhir yang harus dia
terima.
“Aku
nggak bisa mutusin langsung balik ke Indonesia lagi Bintang. Aku baru diterima
di salah satu universitas terbaik di Jepang. Jadi aku nggak bisa menolaknya,
papa bisa marah,” diucapkannya kaliamat itu dengan tenang.
Bintang
yang mendengar ucapan Rindu hanya menunjukkan kebingungannya. ‘Kuliah? Balik ke Indonesia? Papa bisa marah?
Apa hubungannya semua itu dengan hubungan mereka?’ pikir Bintang dengan
wajah bingungnya. Salah satu ekspresi yang disukai Rindu saat mereka masih
bersama.
Melihat
kebingan dalam wajah Bintang, Rindu melanjutkan perkataannya, “Tapi, kita masih
bisa telpon-telponan, ngirim kabar melalui e-mail,
whatsapp, atau video call. Aku janji akan kirim kabar setiap harinya. Liburan
nanti, aku juga janji akan pulang ke Indonesia,” ucap Rindu dengan senyum di
bibirnya.
Melihat
senyum di wajah Rindu, Bintang-pun mengerti arah pembicaraan mereka, “jadi,
kamu ….”
“Ya,
aku memaafkanmu. Aku akan memberikanmu kesempatan untuk memperbaiki hubungan
kita. Aku juga masih mencintaimu. Walau aku sudah mengiklaskanmu dan Nada untuk
menjalin hubungan, sebenarnya aku masih mencintaimu. Tapi, saat itu dalam
pikiranku, untuk apa mempertahankan hubungan kita jika kamu tidak menginginkannya?
Bukankah itu akan menyakitkan untukku, untukmu, dan untuk Mara juga. Aku tidak mau bertindak egois dengan
tetap mempertahankan hubungan kita. Jadi aku memilih melepaskanmu, membiarkanmu
dan Nada mendapatkan kebahagiaan kalian. Walaupun aku sendiri akan terluka.
Tapi aku percaya luka itu akan sembuh dengan berjalannya waktu.”
Mendengar
penjelasan Rindu, Bintang langsung memeluknya, menyalurkan semua perasaan cinta
yang ia miliki untuk gadis di depannya ini, “Aku sayang sama kamu Rin, aku
mencintaimu. Aku sangat mencintaimu. Terima kasih telah memberiku kesempatan
kedua.”
“Ya,
aku juga mencintaimu Bintang,” diucapakannya kalimat itu sambil memandang
gemerlap bintang di langit. Bintang yang selama ini telah mengisi malamnya
dengan kerinduan yang tak tersampaikan. Itulah bintang rindunya.
#30dwc
#30dwcjilid12
#day13
#rindu
🖼️ : www.google.com
🖼️ : www.google.com








0 komentar:
Posting Komentar