Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Senin, 02 April 2018

BINTANG RINDU

Di malam yang indah itu, Bintang duduk sendirian di sebuah gazebo yang ada di taman kota. Malam itu bintang tampak menunjukkan gemerlap cahayanya. Mungkin karena taman ini terletak di pinggiran kota, sehingga tidak terlalu banyak lampu kota yang menutupi keindahan bintan-bintang di langit. Hari ini Bintang tampak tampan dengan kemeja berwarna putih dan celana hitam, lengkap dengan sepatu hitam. Sepertinya dia sedang menunggu seseorang.
Dinginnya malam mulai menusuk tubuhnya, dilihatnya jam tangan sudah menunjukkan pukul 9 malam. Lewat 2 jam dari jam yang telah di tentukan. ‘Dia tidak akan datang,’ pikir Bintang.
Iseng Bintang mengedarkan pandangan ke sekitar gazebo yang menaunginya. Banyak tanaman indah yang mulai berbunga, bunga-bunga dengan berbagai warna dan keharuman yang khas. Saat kepalanya menengok ke kanan, dilihatnya seorang wanita yang telah ia tunggu telah berdiri di sana. Tubuh Bintang tiba-tiba menjadi kaku, bibirnya mengatup sempurna, otaknya tiba-tiba macet, tidak tau apa yang harus dilakukan.
“Hai,” sapa wanita itu. Itu Rindu, wanita yang sejak tadi ditunggunya.
“Ha … hai juga,” sapa Bintang.
“Maaf sudah lama menunggu.”
“Nggak, nggak papa, nggak lama kok,” ucap Bintang memberi ruang untuk Rindu duduk disebelahnya. Malam ini seperti biasanya Rindu tampil cantik dengan gaun terusan selutut berwarna putih, rambutnya dibiarkan tergerai dengan sedikit kepangan pada bagian kiri dan kanan yang menyatu kebelakang.
“Kamu sudah dengar dari Nada kan?” Bintang memulai pembicaraan mereka.
“Sudah,” jawab Rindu masih dengan menundukkan kepalanya. Terbayang pembicaraannya dengan Nads tadi pagi saat menjemputnya di bandara.

*****

“Hubungan kami tidak berjalan dengan baik Rin, sepertinya perasaan yang kami rasakan selama ini bukanlah perasaan cinta antara wanita dan laki-laki.” Nada mulai menceritakan kisahnya pada Rindu. Saat itu Rindu dan Nada sedang berada di dalam mobil menuju rumah Rindu. Mereka duduk di belakang kemudi, sedangkan Kak Radi,  yang juga ikut menjemput Rindu duduk di sebelah supir.
“Awal hubungan kami memang berjalan dengan baik. Setelah aku menerima surat darimu, kami memang sempat berpacaran. Tapi semua terasa berbeda Rin, semua tak lagi sama. Aku sendiri tidak mengetahui apa yang membuatnya berbeda. Sikap Bintang sangat baik, dia menunjukkan kasih sayangnya padaku. Kami berpacaran layaknya sepasang kaekasih, kami pergi berkencan, nonton bareng, melakukan kegemaran kami bersama dan lain sebagainya. Tapi, entahlah, ….” Mara berhenti sejenak, dan Rindu masih mendengarkannya dalam diam, menahan perih dalam hatinya. Walau bagaimanapun, Rindu pernah mencintai Bintang, dan sepertinya rasa itu masih meninggalkan jejak dalam hatinya.
“Satu bulan setelah kami berpacaran, perbedaan itu semakin terasa jelas Rin. Dan aku tau penyebabnya, sikap kami-lah yang berubah. Kami tidak lagi bebas seperti dulu, aku tidak bisa langsung merebut makanan Bintang, aku tidak bisa berbicara dengan suara yang lantang dan keras kepada Bintang, dan lain sebagainya. Mungkin sudah menjadi kebiasaan di Indonesia jika wanita harus menghormati laki-laki yang menjadi kekasihnya. Saat itulah aku sadar, jika hubungan kami memasng seharusnya hanya sebatas hubungan sahabat, tidak lebih.”
“Tapi, masak hanya karena itu kalin langsung putus? Kalian kan baru memulai sebuah hubungan, jadi pasti harus ada penyesuaian dulu kan?”
“Tidak Rin, sebenarnya tidak hanya itu. Setelah kepergianmu, aku tau, sikap Bintang menjadi berubah. Awalanya, aku kira itu hanya perasaanku saja. Tapi semua terasa lebih jelas saat kami putus, aku memaksanya mengakui perasaannya. Aku tau dia masih mencintaimu Rin, Bintang merindukanmu,” ucapa Mara menatap mata Rindu.
“Kau tauh, dia bahkan nekat menjual motor sport nya untuk menyusulmu ke Jepang. Tapi, aku melarangnya, aku bilang kalau kau akan pulang ke Indonesia 2 bulan lagi. Saat itulah dia bia mengunggkapkan perasaannya kepadamu. Sekarang aku tanya, apakah perasan itu masih ada dalam hatimu?”
“Tapi, kamu dan Bintang …”
“Sudahlah, jangan pikirkan tentang hubungan kami lagi. Kamu sudah pernah memberi kami kesempatan, dan itu tidak berhasil. Waktu itu, kami sudah salah menilai perasaan kami. Sekarang, waktunya kalian memperjelas perasaan yang kalian miliki. Nanti malam, Bintang menunggumu, tolong berikan dia kesempatan sekali lagi. Kamu masih mencintainya kan? Atau kamu sudah punya gebetan lain di Jepang sana?”
Rindu tidak menjawab pertanyaan dari teman di sampingnya itu. Dia hanya diam, menatap ke arah luar jendela, memandnag pemandangan ibu kota yang tidak banyak berubah sejak kepergiannya beberapa bulan yang lau. Memikirkan bagaimana perasaannya pada laki-laki yang pernah menghianati cintanya.

*****

“Maafin aku ya, Rin. Aku tau aku salah, aku sudah salah mengartikan perasaanku pada Nada. Aku menghianati cinta kita. Aku tau aku tidak layak mendapat permintaan maaf darimu. Tapi aku mohon Rin, aku ingin kita sepereti dulu,” ucap Bintang sambil memegang kedua tangan Rindu.
“Tapi kamu sudah mengecewakan aku,” ucap Rindu menatap Bintang.
“Ya, aku tau, dan aku minta maaf.”
“Kamu sudah menghianati cintaku.”
“Aku minta maaf, aku sungguh minta maaf, aku ingin memperbaiki hubungan kita,” ucap Bintang dengan sungguh-sungguh.
“Kamu tau, selama aku aku berpacaran dengan Nada, secara tidak langsung aku selalu mebandingkanmu dengannya. Aku tau itu seharusnya tidak terjadi, kalian dua orang yang berbeda. Tapi entah kenapa aku selalu membandingkan kalian. Kamu tau kenapa? Karena aku merindukanmu Rindu. Awalnya aku mengingkari kenyataan itu, tapi saat aku dan Nada putus, perasaan itu semakin nyata kurasakan. Aku sangat merindukanmu, aku masih mencintaimu.”
Hening sejenak, sepertinya Rindu sengaja menguji perasan Bintang, dia mengujinya dalam ketidakpastian. “Kamu juga masih cinta sama aku kan? Kamu nggak mungkin langsung melupakanku begitu saja. Kamu mau kan kalau kita kembali bersama?” tanya Bintang pada Rindu.
“Tapi aku nggak bisa Bintang.” Ucapan itu seakan menjadi ribuan duri dalam hati Bintang. ‘Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin Rindu melupakannya semudah itu? Kemana semua kenangan indah yang telah mereka lalui bersama?’ pikir Bintang dalam hati. Tangannya yang tadi menggenggam erat tangan Rindu perlahan mulai terlepas, hatinya sungguh penuh dengan penyesalan. Selesai sudah, selesai sudah semuanya. Inilah akhir yang harus dia terima.
“Aku nggak bisa mutusin langsung balik ke Indonesia lagi Bintang. Aku baru diterima di salah satu universitas terbaik di Jepang. Jadi aku nggak bisa menolaknya, papa bisa marah,” diucapkannya kaliamat itu dengan tenang.
Bintang yang mendengar ucapan Rindu hanya menunjukkan kebingungannya. ‘Kuliah? Balik ke Indonesia? Papa bisa marah? Apa hubungannya semua itu dengan hubungan mereka?’ pikir Bintang dengan wajah bingungnya. Salah satu ekspresi yang disukai Rindu saat mereka masih bersama.
Melihat kebingan dalam wajah Bintang, Rindu melanjutkan perkataannya, “Tapi, kita masih bisa telpon-telponan, ngirim kabar melalui e-mail, whatsapp, atau video call. Aku janji akan kirim kabar setiap harinya. Liburan nanti, aku juga janji akan pulang ke Indonesia,” ucap Rindu dengan senyum di bibirnya.
Melihat senyum di wajah Rindu, Bintang-pun mengerti arah pembicaraan mereka, “jadi, kamu ….”
“Ya, aku memaafkanmu. Aku akan memberikanmu kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita. Aku juga masih mencintaimu. Walau aku sudah mengiklaskanmu dan Nada untuk menjalin hubungan, sebenarnya aku masih mencintaimu. Tapi, saat itu dalam pikiranku, untuk apa mempertahankan hubungan kita jika kamu tidak menginginkannya? Bukankah itu akan menyakitkan untukku, untukmu, dan untuk Mara  juga. Aku tidak mau bertindak egois dengan tetap mempertahankan hubungan kita. Jadi aku memilih melepaskanmu, membiarkanmu dan Nada mendapatkan kebahagiaan kalian. Walaupun aku sendiri akan terluka. Tapi aku percaya luka itu akan sembuh dengan berjalannya waktu.”
Mendengar penjelasan Rindu, Bintang langsung memeluknya, menyalurkan semua perasaan cinta yang ia miliki untuk gadis di depannya ini, “Aku sayang sama kamu Rin, aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu. Terima kasih telah memberiku kesempatan kedua.”
“Ya, aku juga mencintaimu Bintang,” diucapakannya kalimat itu sambil memandang gemerlap bintang di langit. Bintang yang selama ini telah mengisi malamnya dengan kerinduan yang tak tersampaikan. Itulah bintang rindunya.

#30dwc
#30dwcjilid12
#day13
#rindu
🖼️ : www.google.com

0 komentar: