Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Kamis, 24 Januari 2013

Hal apa yang membuatmu bahagia tinggal di asrama?


Ini adalah cerita singkatku kepada seorang teman yang saat ini sedang menempuh pendidikannya di Yogyakarta. Sebuah tugas mengharuskannya mencari tahu tentang kehidupan pelajar yang tinggal di asrama. Sekedar untuk membantu teman lama, kuceritakan sedikit bagaimana perasaanku dan teman-temanku yang langsung mengalami bagaimana kehidupan di dalam asrama itu sendiri. 
Sebuah pertanyaan sederhana, namun menghasilkan jawaban yang cukup panjang hingga aku harus mengirimnya lewat e-mail.

"Hal apa yang membuatmu bahagia tinggal di asrama?"

            Kalau di kasi pertanyaan kayak gini sih, aku ataupun temen2ku yang tinggal di sini bakalan bilang “Nggak ada”. Heheheeee…
Satu tahun lebih tinggal di asrama, pasti ada suka dukanya, ada enak dan ada nggak enaknya. Eeemmmm, mungkin yang aku certain ini lebih ke-sukanya tinggal di asrama.
Tinggal di satu ruangan bareng sama 9 orang lainnya, kamar itu berasa lebih rame. Dari awal masuk kita udah ditempatin di kamar yang sama, jadi wajar aja kalau kita jadi lebih deket sama temen-temen sekamar kita. Sama temen yang lain sih juga deket, tapi  nggak sedeket sama temen sekamar. Hidup di asrama lebih mengajarkan kita untuk menghargai orang lain, saling berbagi, dan lebih memahami orang lain. Kita terbiasa ngelakuiin semua hal bareng-bareng. Seneng-seneng bareng, gila-gilaan bareng, nangis-nangis bareng, stress ya stress bareng. Heheheeee… Semuanya kita rasain bareng sama temen-temen kita. Di sini, nggak ada istilah nanggung beban sendiri. Ada temen-temen yang selalu ada buat kita.
Kalau di asramku itu ada aturan cuma boleh dikunjungi sabtu malem dan minggu malem. Diluar jam itu, kita cuma boleh nerima titipan. Pulangpun cuma dari hari sabtu jam 2 siang sampai minggu jam 6 sore. Kalau lagi sakit, sedih, stress, frustasi, berasa pengen resigen atau bunuh diri nggak ada keluarga yang bakalan ngibur atau nenangin kita. Kalau pun mau nelpon, pasti bakalan berfikir ulang. Kalau kita telpon, nanti ortu bakalan khawatir sama keadaan kita di asrama. Yang bakalan selalu ada di saat-saat kayak gini itu cuma temen. Mereka yang ngurusin kita kalau kita sakit, ngasi semangat kalau kita pengen berhenti kuliah, nemenin kita yang lagi sedih, atau sekedar dengerin cerita-cerita kita. Bisa dibilang sih, mereka keluarga kita untuk tiga tahun selama di asrama. Entah karena kesamaan nasib atau karena hal lain, yang pasti itu mereka ngertiin kita banget. Keberdaan temen-temenku inilah yang bisa buat aku tetep balik ke asrama. Heheheeee….
            Oh ya, pertanyaan ini juga aku tanyaain ke beberapa temenku. Jawaban utamanya sih sama “karena ada temen-temen, bisa kumpul bareng-bareng, ketemu sama temen, dll”. Waktu aku minta jawaban yang lain dari mereka, jawaban mereka tergolong relative. Misalnya yang rumahnya jauh mereka bakalan bilang “nggak harus ngekos selama kuliah”, yang suka ngenet mereka bilang “bisa WiFi-an gratis”, jawabannya sesuai kondisi mereka.
Kalau ada yang kurang SMS aja ya…

Aku dan Sembilan Sahabat Perempuanku



Selama 6 hari dalam seminggu, kuhabiskan waktuku disebuah kamar yang terletak di ujung lorong lantai dua asrama ini. Hari-hariku diisi dengan sembilan perempuan lain yang sebaya dengan ku. Bersama mereka aku melewati hari-hariku yang melelahkan, membosankan, dan terkadang menyenangkan. Bersama mereka pula aku mengerti bahwa kami telah terhubung oleh suatu garis takdir yang telah mempertemukan kami. Di sini, di tempat yang ku sebut sebagai “sangkar emas” ini kami saling berbagi. Menguatkan diri hanya untuk sekedar melewati hari ini dan bangun esok hari, kembali menatap matahari pagi yang akan membawa kami pada rutinitas yang sama.
Kami hanyalah sepuluh perempuan yang saling berpegangan tangan menguatkan satu sama lain. Mencoba untuk saling bertahan menghadapi situasi yang sangat  berat sekalipun. Bahkan ketika aku mulai merasa lelah dan hampir terjatuh, tangan mereka akan terulur sekedar untuk membantuku bediri. Ketika butir-butir bening membasahi wajah sedihku, sentuhan tangan mereka yang akan menghapus air mataku. Bagiku, gengaman tangan mereka memberikan kekuatan lebih yang menguatkanku untuk tetap bertahan. Bertahan di sini, di dalam sangkar emas ini. Tatapan mata mereka seakan selalu berkata “Sebentar lagi, kamu pasti bisa. Jangan nyerah di sini, tinggal sebentar lagi dan semuanya akan berakhir”.
Kami melalui semuanya bersama-sama. Saling berbagi dalam suka maupun duka, berbagi tawa, berbagi cerita dan berbagi SEMANGAT. Ketika salah satu dari kami mencapai sebuah keberhasilan, senyuman dan tawa bahagia kami yang menyambutnya. Kehawatiran jelas terlihat dari wajah-wajah lelah kami ketika melihat sahabat kami sakit. Dan hati kami sedih jika melihat sahabat kami terluka. Tapi kami selalu mempunyai kekuatan lebih untuk menghadapinya.
Di sini, tak ada keluarga yang menemani, tak ada orang terkasih ataupun orang lain yang akan mendengarkan ketika aku ingin mengeluh. Hanya ada mereka, sembilan perempuan yang selalu meluangkan waktunya sekedar untuk mendengarkanku. Mendengakan semua keluhanku, mendengarkan semua ceria-ceritaku, tentang mimpi-mimpi yang tak akan pernah terwujudkan. Tapi, bersama mereka pula aku menulis cerita-cerita baru, merangkai mimpi-mimpi baru, dan mendapat sebuah keluarga baru yang masih akan menemaniku selama satu setengah tahun kedepan.

I LOVE YOU (ToT)


Surat yang Tak Terposkan




Mengingatmu adalah suatu yang menyejukkan di hatiku
Yang saat ini ada cinta yang tumbuh didalamnya
Engkau bagiku padang rumput yang hijau
Mengundang kerinduan, luas tak bertepi

Terdengarkah olehmu irama getaran itu?
Degup jantungku, hemburan nafasku yang berkejar-kejaran
Indah sekali kurasakan perasaan ini
Rasa yang terpendam di hati kecilku
Sesuatu yang sulit sekali untuk kudiskripsikan

Apakah kamu tau?
Aku serasa tenggelam salam sorot matamu
Aku mabuk pada semua yang ada didirimu
Rasa cinta dan sayang untukmu sudah tertanam dalam hatiku
Dan mungkin akan sulit untuk dicabut

Satu kalimat yang ingin kusampaikan
Aku tak berdaya menyebutnya
Dan apakah kamu  bersedia mendengarnya?
Ungkapan itu…

Aku sangat menyayangimu
Dan sulit untuk kehilanganmu
Atau bahkan untuk melupakanmu sedetikpun aku tak sanggup
Jadilah malaikat seumur hidupku

Denpasar, Januari 2013





Minggu, 13 Januari 2013

Merubah yang Vulgar Menjadi Menyenangkan


 Oleh: Fifin Diah Olivianti


Banyak orang tua yang mengajarkan anaknya untuk mempelajari sesuatu sesegera mungkin, tapi tidak untuk pendidikan seks. Sampai saat ini masih banyak orang tua yang berfikiran sempit mengenai pendidikan seks, bahkan menganggap seks untuk anak merupakan sesuatu hal yang tidak boleh dibicarakan. Meskipun dianggap tabu, sebenarnya pendidikan seks merupakan pendidikan penting yang harus diberikan sesegera mungkin. Mengingat saat ini sudah banyak kasus asusila yang terjadi pada anak-anak.
Pendidikan seks sebenarnya tidak hanya berbicara mengenai aktivitas seks dan hal-hal sensual saja. Dengan pendidikan seks anak bisa lebih mengetahui bagian tubuh mana yang harus ditutup dan tidak boleh disentuh orang lain, bagaimana bersikap untuk menjaga diri sendiri, dan bagaimana menghindari penyimpagan dalam prilaku seksual mereka. Pendidikan seks juga mengajarkan pada anak untuk tidak takut melapor jika ada orang yang memperlakukannya dengan tidak sopan. Selain itu, dalam pendidikan seks juga diajarkan hal-hal yang terkait dengan organ-organ reproduksi, bagaimana fungsi dan segala permasalahan yang ada dalam sistem reproduksinya.
Pada dasarnya, anak-anak sudah dapat dikenalkan mengenai identitas seksualnya melaui pendidikan dirumah. Pengenalannya sendiri dapat dilakukan melalui cara hidup orang tua dalam keluarga dan sebaiknya disampaikan dalam suasana akrab dan terbuka antara orang tua dan anak. Kesulitan yang timbul kemudian adalah apabila pengetahuan orang tua kurang memadai. Jika demikian tentu penyampaiannya akan kurang maksimal dan menimbulkan kerancuan tentang pemahaman seks.  
Melihat kenyataan tersebut, jelas dibutuhkan pihak lain guna melengkapi upaya pembelajaran alami terhadap hakikat seksualitas manusia. Pihak lain yang cukup berkompeten untuk melengkapi pengetahuan orang tua, menjadi perantara antara orang tua dan anak dalam memberikan pendidikan seks adalah sekolah. Oleh karena itu, pendidikan seks di sekolah diharapkan mampu melengkapi pendidikan seks yang diberikan di rumah. Hal ini terbukti dari hasil polling yang penulis lakukan kepada 34,9% dari seluruh mahasiswi D3 Jurusan Kebidanan Poltekkes Denpasar dengan rentang usia 18-20 tahun. Sebanyak 81,7 % responden menyatakan setuju jika pendidikan seks dimasukkan dalam pengajaran sekolah, 5% menyatakan tidak setuju dan sisanya 30% menyatakan ragu-ragu.
Pendidikan seks yang dilakukan di sekolah sebaiknya disampaikan secara bertahap sesuai dengan usia anak, tidak langsung menyampaikan materi yang bersifat vulgar. Hal penting yang perlu diketahui ialah pendidikan seks bukanlah pendidikan biologi, bukan juga pendidikan agama atau budi pekerti. Pembelajaran tentang seks tidaklah sama dengan pelajaran lain. Misalnya pelajaran olah raga yang mengajarkan bagaimana teknik bermain basket yang yang benar. Belajar tentang seks, bukanlah belajar bagaimana aktivitas seks yang baik, melainkan lebih ditekankan pada dampak yang timbul dari aktivitas seksual tersebut. Sehingga pendidikan seks kurang tepat jika hanya diselipkan pada beberapa mata pelajaran di sekolah.
Pendidikan seks dapat diberikan sebagai pelajaran khusus dalam kurikulum. Metode yang digunakanpun dapat bervariasi tidak hanya melalui pembahasan/penjelasan umum dari guru. Pendidikan seks yang dilakukan secara formal hanya membuat siswa enggan bertanya atau sekedar sharing. Untuk itu diperlukan berbagai metode yang menarik dalam penyampaiannya. Seperti diskusi, sharing, konseling pribadi, game, penyuluhan, seminar, atau penugasan dengan melakukan riset dan presentasi hasil juga dapat dilakukan. Kombinasi berbagai metode ini akan membuat pendidikan seks yang terkesan “vulgar” dan “porno” mejadi materi ringan yang menyenangkan dan mudah dipahami.