Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Minggu, 12 Juni 2011

Menggeliatkan Kembali Satwika Para Yowana Bali

“Betapa membanggakan ketika yowana Bali tidak hanya sekedar mengerti namun telah memahami dan menerapkan satwika dalam kesehariannya,” tutur remaja Bali, Ni Putu Suci Prastiti.
Impian itu tercetus saat obrolan santai dengan penulis beberapa hari lalu. Ketika itu tengah berlangsung persiapan untuk menghadapi lomba Kording (Korang Dinding) yang diselenggarakan FPMHD Unud (Forum Persaudaran Mahasiswa Hindu Dharma Universitas Udayana). Bukan tanpa alasan Suci dan penulis membahas masalah yowana dan satwika. Pasalnya tema yang diangkat untuk perlombaan saat itu adalah “membangun yowana yang bersifat satwika”. “Ini adalah salah satu kegiatan FPMHD untuk kembali membentuk yowana yang bersifat satwika,” jelas Putu Sri Yuni Swandhani, salah satu panitia lomba Kording.
Satwika sendiri adalah sifat kedewaan yang patut dicontoh manusia. Dalam keseharian masyarakan Bali sendiri, satwika sangat mudah diterapkan. “Sederhananya bisa kita lakukan dengan selalu berfikir positif, jujur dan berkikap baik. Hanya saja sifat satwika yang dimiliki remaja Bali setiap tahun mengalami penurunan”, kritik anggota HIJ (Himpunan Informasi Jurnalistik) FPMHD ini.
Gencarnya serangan teknologi saat ini, menimbulkan dampak negatif terhadap remaja sebagai produk bangsa dinilai masih sangat rentan. Penguasaan teknologi yang tidak diimbangi dengan kebutuhan rohani, mulai mengikis satwika para yowana Bali. “Kebanyakan remaja Bali masih belum bisa menyeimbangkan antara teknologi dengan kebutuhan rohani. Itu yang membuat mereka mudah menyalah gunakan pemanfaatan teknologi,” kata Putu Gede arya Bogantara, wakil ketua panitia.
Disinilah peran penting organisasi-organisasi keagaaman utamanya bagi remaja Hindu. Forum Hindu merupakan salah satu wadah bagi remaja Bali untuk lebih mendalami agama Hindu. Atas dasar keyakinan yang sama, mereka bersama-sama mempertahankan kebudayaan Bali. Tengok saja FPMHD, yang merupakan salah satu forum Hindu gagasan mahasiswa Unud. Saat ini mereka tengah gencar kembali menghidupkan sifat satwika remaja Bali. Berbagai kegiatan mereka lakukan untuk kembali memunculkan kembali sifat satwika remaja Bali. Diantaranya adalah bazaar yang difungsikan untuk mempererat kekeluargaan, DSP  (Dharma Santi Penyepian), Gema Bakti Saraswati, Peperuman agung, DPA (Dharma Pasraman Anggota), DPO (Dharma Pasraman Organisasi) dan beberapa kegiatan lain. ”Kegiatan-kegiatan ini adalah salah satu cara yang dapat kami lakukan untuk memumbuhkan sifat satwika remaja. Zaman inikan sudah tua, jadi harus didampingi dengan sifat satwika,” jelas Arya yang juga merupakan ketua bidang HIJ FPMHD.
Ketika memasuki sebuah organisasi Hindu, remaja akan dikenalkan dengan sifat religious (keagamaan), human (sosial), nasionalis, dan progresif. Ketika remaja mengerti keempat sifat ini, mereka akan memiliki dharma yang lebih baik sehingga memiliki bekal untuk tetap bertahan dalam arus globalisasi. Bergabung dengan organisasi keagamaan terbukti memberika dampak positif bagi  pelakunya. “Forum itu kayak ngayah, jadi bisa jalan-jalan sambil banyak belajar. Terutama memperdalam agama Hindu,” ungkap Yuni. Pendapat demikian juga disampaikan Arya,”di sini kita bisa banyak belajar, mengenal agama Hindu lebih dalam dan bersikap lebih baik atau dharma kita.”
Ketika ditanya mengenai pentingnya sebuah organisasi Hindu untuk mewujudkan yowana Bali yang tetap bersifat satwika di tengah arus globalisasi kepada Kadek Sumadiarta, Ketua Pimpinan Daerah KMHDI (Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia) Bali. Dengan yakin Sumadiarta menjawab, “pada dasarnya, sebuah organisasi Hindu memiliki tujuan untuk membentuk yowana yang bersifat satwika. Untuk itu sangat diperlukan sebuah organisasi keagamaan dalam suatu daerah”. Menurutnya, sebuah organisasi dapat melatih remaja Bali untuk lebih mandiri, bertanggung jawab dan utamanya memperdalam kehohanian dan persiapan mental sebagai bekal menghadapi arus globalisasi. “Dengan demikian, harapan untuk meningkatkan potensi generasi muda bukan hanya impian, namun realita.” (fin)

Our Everlasting Fraternity

by Wulan Darma on Saturday, April 9, 2011 at 3:10pm

Apa yang kamu pikirkan tentang kelas unggulan?
Apakah serius? Kaku? Kutu buku? Atau individualis?
Kalau jwabanmu iya, kamu salah besar.

        XII-IPA3, kelas ini notabene diberi mandat oleh sekolah sebagai kelas unggulan. Tapi apakah kamu tahu bagaimana sebenarnya kelas yang dibimbing oleh A.A. Sri Adi ini? Kelas yang diketuai oleh Serisana Wasita ini dihuni oleh 40 siswa yg trdiri dr 18 laki-laki dan 22 prempuan. Tapi jangan salah. Meskipun jumlah laki-laki lbih sdikit dr prempuan, entah bagaimana kaum adamlah yg lbih 'agresif' dan lbih 'banyak omong'. Tingkah polah penghuni kelas XII-IPA3 ini memang bermacam-macam. Seperti misalnya Sukma Putra (KSP alias PCl5 alias Pekak Cekok Lengkong 5x) yang tampak eksotis dengan suara falsetnya, apalagi jika berduet dengan Mahacandra Budaya (Dadok) si juragan perak. Ada juga yang selalu not responding dalam setiap kesempatan seperti Eka Yasa (Jenderal Tian Feng), atau Vincent si tukang tidur dan hobi makan tapi tetap kurus. Selain itu ada Harum (Tu Bengu) si master TI yang sudah cukur kumis, Mahardika (Muklis) yang pendiam tapi bisa menggemparkan isi kelas dengan tembakan biogasnya, Basu yang vanas dan misterius, Indrayuda yang kadang-kadang tidak bisa ditebak, Darma si kompor yang rambutnya mirip Isaac Newton.
          Namun grup putra tidaklah lengkap tanpa Edy yang mesum bin jorok tapi langganan juara umum, Putra yang kritis dengan antena pemancar Wi-Fi yang setia bertengger di kepalanya, Dek Sas (Boling) yang selalu matah, Rizsa si ketua kelas yang suka melucu walaupun agak sangar, atau Gus Bayu yang eksis karena benda kecil di atas mata kirinya. Tak ketinggalan teman duduknya, Nugrah yang terlihat mencolok karena warna kulitnya dan rambut afro yang waterpfoof. Kadang-kadang kami dikejutkan juga dengan suara Chrisna yang super bass, dan sendawanya yang menggetarkan bumi. Kalau ada permainan petak umpet, rasa-rasanya Ari yang paling susah menemukan tempat sembunyi karena badannya yang tinggi besar. Satu lagi Tangkas yang selalu ber”eeee,,,eee,,” saat bicara.
         Kalau soal curhat, cewek-cewek ini adalah tempat yang tepat. Grup putri XII-IPA3 memang sedikit lebih kalem, tapi jangan ditanya soal kegilaan saat sedang bersama. Seperti Tiara yang kalem dan kecil seperti anak SD, Ayu Prapti yang polos lagi rajin tapi garing abis, Angga yang diam-diam tap menghanyutkan dengan suara merdunya, Ratu yang pendiam tapi berbakat jadi penyiar radio. Tapi, selain yang kalem-kalem, ada juga yang cerewet-cerewet. Seperti Candra yang mulutnya tak bisa diam dengan dua gigi kelincinya, Gunayanti yang ceplas-ceplos juga jado nari, dan Nia yang ceriwis dan suka bersin dengan suara keras. Selain itu, ada Desak yang jago presentasi apalagi dengan rambut kembang rampenya, Kemala yang subur tapi royal abis, Cinthia yang terobsesi untukspeaking English dan sering datang terlambat, Winda yang tomboy, Erlyn si Cina yang tidak mengerti bahasa Bali, Linda yang pipinya empuk, Wulan D.P. yang sering susah senyum lantaran kawat giginya, Kessi yang ahli berbahasa asing, dan Ayu ‘Green’ si pecinta hijau yang takut hantu.
          Mencari yang unik dan aneh? Ada Putri Lastiana yang punya kebiasaan aneh, dia akan mengantuk saat orang bereksperimen dengan rambutnya, atau Putri Jayanthi yang hiperaktif dan tampak mempesona dengan helm penangkap anginnya. Ada juga Luh De asal Sukawati yang punya cara bicara yang khas, atau suara lucu milik Ozzy dan Fifin si Inyong dari Lamongan. Serta rambut panjang Kalista yang bak iklan shampo. Ada terlalu banyak peristiwa yang kami lalui selama dua tahun kebersamaan kami sejak di kelas XI. Maka tak heran ada banyak “cinta lokasi” di sini. Ada tujuh pasangan kekasih dan banyak cinta bertepuk sebelah tangan, yang pastinya tidak perlu disebutkan satupersatu. Banyak sekali kejadian yang tidak mungkin kami lupakan, saat-saat kami bersama, mencontek dan kerja sama saat ulangan, saat konflik dengan teman, kabel-kabel yang berseliweran saat internetan danmain dota, atau label merk air mineral “a*q*u*a” yang siap menempel di punggung siapa saja tanpa ketahuan.
           Setiap hari yang kami lalui bersama, setiap tawa yang kami nikmati bersama, setiap duka yang kami tanggung bersama tidak akan terulang kembali. Semakin lama kami bersama, semakin berat untuk berpisah. Namun, selalu ada perpisahan untuk setiap pertemuan. Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan selain terus melangkah maju dan menjadi sukses. Memori masa SMA tentang persaudaraan dan kebersamaan akan terus terkenang di hati. Ya, kami adalah THRILLER, XII-IPA3 Class for Everlasting Fraternity.

Sampai jumpa lagi, KAWAN!!!