Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Rabu, 28 Juli 2010

Setangkai Mawar

Bunga Berumur Jutaan Tahun

Sejak kapan bunga mawar dikenal orang? Pernyataan ini sulit dijawab dengan pasti. Namun, dokumen tertua yang berisikan tulisan mengenai bunga mawar ditemukan di daerah Irak. Dokumen tersebut diperkiakan berumur 35 juta tahun! Bunga mawar baru dikenal secara luas sekitar tahun 1600-an, yaitu ketika bunga mawar dibawa masuk ke daerah Amerika Utara. Bahkan, pada tahun 1798, seorang bangsawan Eropa bernama Emprass Josephine membuat sebuah kebun di istananya yang berisikan sekitar 250 jenis bunga mawar yang ada saat itu.

Bunga Harum Nan Cantik

Di tahun 6000 sebelum masehi, Sappho, seorang satrawati membuat puisi berjudul “Ode to the Rose” yang berisikan kekagumannya pada bunga mawar. Ia menyebut bunga mawar sebagai ratu segala jenis bunga.
Hingga kini, banyak orang setuju dengan pernyataan Sappho tersebut. Soalnya, bukan hanya cantik jelita, bunga mawar juga memiliki keharuman yang membuat kita tak bosan-bosan menghirupnya! Bahkan, keharumannya yang sangat memikat ini menjadikan bunga mawar sebagai salah satu bahan pembuat parfum yang paling disukai orang.

Butuh Udara Dungin, Butuh Matahari


Daerah yang dingin membuat bunga mawar tumbuh dengan lebih baik, berkelopak lebih teballebih lebat, dan lebih besar. Namun, bunga mawar tetap memerlukan cahaya matahari yang cukup. Untuk dapat tumbuh dengan indah, bunga mawar perlu disinari dengan matahari setidaknya selama enam jam sehari. Tanpa itu, bunga mawar tidak dapat mekar. Walaupun sudah mendapatkan matahari yang cukup, bukan berarti bunga mawar dapat terus menerus mekar. Umumnya, mawar hanya dapat berbunga setahun sekali. Bahkan, jika mawar itu masih muda, biasanya ia tidak akan berbunga pada tahun pertamanya.

Mawar Biru dan Mawar Hitam


Sampai saat ini, walaupun bunga mawar telah dikawin-silangkan, masih belum dapat dihasilkan
bunga mawar biru dan hitam. Menurut para ilmuwan, gen-gen yang ada pada mawar tidak memungkinkan terbentuknya bunga dengan warna tersebut. Paling-paling, warna yang bisa dihasilkan hanyalah warna ungu yang agak mirip hitam.
Namun, para ilmuwan dan ahli bunga tetap tidak kehabisan akal. Kini sudah bisa ditemui bunga mawar biru dan hitam hasil dari bunga mawar putih yang disemprot atau direndam dengan warna biru dan hitam.

Lain Warna, Lain Arti

Banyak orang salah persepsi. Mereka mengganggap bunga mawar hanya identik dengan cinta. Padahal bunga mawar memiliki arti yang berbeda-beda pada setiap warnanya. Warna merah, selain menyatakan “aku cinta kamu” juga mampu melambangkan rasa hormat serta keberanian. Ada juga mawar oranye yang melambangkan kekaguman. Mawar pink berarti kelamah lembutan, pink yang pekat melambangkan rasa terima kasih, sedangkan pink yang terang melambangkan kekaguman dan rasa simpati. Lain lagi dengan warna putih. Warna itu mencerminkan kesucian, kerendahan hati, kerahasiaan, ketenangan, bahkan mengungkapkan kata “aku berharga buatmu”! warna peach melambangkan persahabatan, kesederhanaan, kekaguman, dan simpati.

Mawar kuning emas cocok untuk ibu yang baru melahirkan, pengantin baru, dan pada upacara kelulusan. Sedangkan warna jingga menandakan bahwa kamu ingin kenal lebih baik pada orang lain. Mawar yang berwarna merah jambu tua melambangkan rasa terima kasih, tapi yang berwarna merah jambu pucat lebih melambangkan keanggunan serrta keriangan. Nah, kalau mawar berwarna salem melambangkan keserhanaan. Jadi, plih bunga mawar yang mampu merefleksikan hatimu.

Madyapadma Journalistic Park Trisma mempersembahkan PRESSLIST 2010 (Apresiasi Sineas dan Jurnalist) terdiri atas acara:

1. Madypadama: Lomba Kording Se-Nasional
Ikuti lomba koran dinding tahun 2010 tingkat smp se-nasional yang diadakan oleh Madyapadma Journalistic Park Trisma.

2. Madypadama: Parade Film
Parade film pendek dari seluruh Bali

3. Madypadama: Pameran Foto
Pameran foto dari Madyapadma, serta pelatihan foto untuk siswa smp dan sma, serta foto hasil pelatihan akan dipamerkan pada hari ke-2 pameran.

4. Madypadama: Penerbitan Buku
Penerbitan 12 buku sekaligus, yang merupakan karya siswa SMA Negeri 3 Denpasar

5. Pelatihan Karikatur
Pelatihan Karikatur

Info lebih lanjut bisa dilihat di www. madyapadma-online.com

Kamis, 22 Juli 2010

Kendaraan Bertambah, Pemerintah Berkilah

“Denpasar itu macet!”. Dengan yakin Sri Astiri menuliskan kalimat itu dalam lembar polling yang Tim Madyapadma sebarkan. Apakah masyarakat lain juga merasakan hal yang sama?

Kemacetan seakan selalu menjadi “momok” yang tak terhindarkan setiap kota, termasuk Denpasar. Denpasar yang kini, berbeda jauh dengan Denpasar yang dulu. Pasalnya, kini Denpasar hampir menjadi kota macet total. Disetiap jalan-jalan utama bisa ditemui rentetan kendaraan yang sedang padat merayap. Berbagai factor dapat memicu terjadinya kemacetan.

Dari data yang didapatkan Tim Madyapadma dari hasil polling yang dilakukan. Polling dilakukan selama dua hari (20-21 Februari) bertempat di SMAN 3 Denpasar dan SMAN 4 Denpasar (tempat penyelenggaraan lomba kording akademika) dengan pengambilan sampel berupa 100 orang responden berumur 16-17 tahun. Di dapatkan hasil sebanyak 5 responden (5 %) memilih penyebab kemacetan adalah sempitnya jalan-jalan kota, 27 responden (27 %) memilih akibat banyaknya kendaraan, 14 (14 %) memilih akibat berdirinya bangunan yang menyalahi tata ruang kota, 14 responden (14 %) memilih akibat prilaku berkendaraan yang tidak baik dan sisanya 40 responden (40 %) memilih benar semua. Meskipun sebanyak 40 responden memilih penyebab kemacetan adalah semua yang Tim Madyapadma sajikan, namun pada peringkat kedua, sebanyak 27 responden memilih bahwa banyaknya kendaraan mengakibatkan kemacetan.

Hal ini membuktikan bahwa penyebab kemacetan yang paling utama adalah makin bertambahnya jumlah kendaraan yang melewati jalan-jalan Denpasar. Di dukung dengan data dari Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Bali, pada tahun 2006 tercatat sebanyak 450.430 kendaraan pribadi, terdiri atas 89.413 buah mobil dan 361.018 buah sepeda motor. Tahun 2007, jumlah kendaraan meningkat menjadi 479.229 buah terdiri dari 93.792 mobil dan 385.437 sepeda motor. Peningkatan kembali terjadi di tahun 2008, tercatat sebanyak 538.794 kendaraan pribadi yang terdiri dari 416.702 sepeda motor dan 82.310 mobil. Peningkatan ini tidak diimbangi dengan perluasan jalan yang ada. Di tahun 2008 saja, panjang jalan hanya sepanjang 641.834 ha. Meski demikian, perluasan jalan tidak mungkin dilakukan.

Masyarakat lebih cenderung menggunakan kendaraan pribadi karena dirasa angkutan kota tidak memberikan jaminan kelayakan. Ditambah lagi pembelian kendaraan yang relative mudah tanpa adanya “tetek-bengek” peraturan yang menyulitkan. Itu berarti, pemerintah tidak melakukan pencegahan terhadap pertumbuhan kendaraan yang terus meningkat. “Pemerintah bisa meningkatkan pajak kendaran, dengan begitu orang pikir-pikir lagi buat beli motor”. Itu merupakan solusi yang tulis oleh Ni Putu Suci Prastiti dalam lembar polling. Namun sepertinya usul Suci ini akan membutuhkan waktu yang lama untuk terrealisasi. Pasalnya, ketika msayarakat semakin sering membeli kendaraan pribadi, pemasukan kas pemerintah daerah dari hasil pajak kendaraan akan bertambah. Namun ketika pajak kendaraan dinaikkan, masyarakat akan berpikir ulang untuk membeli kendaraan pribadi, akibatnya pemasukan kas pemerintah akan berkurang.

Oleh Tim Madyapadma data dan usul Suci dikonfirmasikan kepada Kepala Bidang Angkutan Kota Denpasar, Hari Edi. “Masalah pajak bukan urusan kami, pemerintah sudah mengaturnya” kilah Edi. Ketika diminta penjelasan lebih lanjut, lagi-lagi Edi menjawab hal yang sama “pajakkan sudah ada yang mengatur, itu bukan wewenang kami”. Jika bukan urusan pemerintah, lalu urusan siapa? Ketika jumlah kendaraan terus membludak pemerintah akan bersenang-senang dari pemasukan kas daerah, namun ketika menengok ke jalan, yang terlihat adalah bertambahnya panjang kemacetan. Dan pemerintah harus memilih (fin).

Minggu, 11 Juli 2010

Transportasi Denpasar, Makin Kacau

Kota Denpasar menuju “Kota Macet Total”. Begitu pernyataan yang diungkapkan pengamat masalah transportasi Ir. Gusti Ngurah Sumanjaya, M.Y. dan Ir. Ketut Nuja, S. dalam situs balipost.co.id.

Kesimpulan yang juga merupakan inti sari dari penelitian mahasiswa Unwar ini, bukanlah merupakan hal yang mengejutkan. Pasalnya, Denpasar bukan lagi menuju kota macet, melainkan sudah terjebak dalam kemacetan total. Banyak kendaraan yang melaju seperti semut dan nyaris tak bergerak.

Satu permasalahan serius yang menyebabkan kemacetan di kota Denpasar adalah meningkatnya populasi transportasi yang tak diimbangi dengan penambahan ruas jalan. Berdasarkan data Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Bali, khusus kota Denpasar saja, pada tahun 2000 jumlah kendaraan sebanyak 449.904. Kemudian meningkat di tahun 2006, jumlah kendaraan pribadi di Denpasar mencapai mencapai 450.431 buah, terdiri atas 89.413 mobil dan 361.018 sepeda motor. Pada tahun 2007, angka itu meningkat menjadi 479.229 buah terdiri atas 93.792 mobil dan 385.437 sepeda motor. Jumlah sepeda motor di Denpasar mencapai 33 % dari total 1.097.583 sepeda motor di Bali pada tahun 2006. Belum lagi ditambah dengan jumlah angkutan umum di kota Denpasar. Untuk mengkover seluruh wilayah di kota Denpasar hanya diperlukan 562 unit angkutan umum. Tetapi kenyataan di lapangan terdapat 1.047 unit angkutan umum yang tersebar di 13 jalur yang telah produktif. Ini berarti Denpasar surplus angkutan umum sebesar 485 unit.

Seperti yang tertulis dalam situs www.hamline.edu (2001) upaya pelebaran jalan dirasa sudah tidak mungkin lagi Problematika tata ruang membuat pemerintah kota Denpasar dipaksa untuk “berfikir keras” menjadikan Denpasar sebagai sebuah wilayah yang relatif sempit namun tanpa kemacetan. Rencana pemerintah untuk memberlakukan transportasi massal atau yang lebih dikenal dengan angkutan umum, perlu direfisi lagi. Pasalnya, bukannya menekan angka kemacetan, angkutan umum malah turut menjadi peserta kemacetan. Apabila kondisi ini dibiarkan berkembang tanpa ada usaha untuk meningkatkan pemanfaatan angkutan umum, maka akan memperumit masalah kepadatan lalu lintas.

Sampai saat ini, sedikitnya pemanfaatan angkutan umum di kota Denpasar salah satunya disebabkan karena buruknya persepsi masyarakat terhadap atribut pelayanan dari angkutan umum itu sendiri. Seharusnya, pemberlakuan transportasi masal perlu disokong dengan berbagai kebijakan penunjang lainnya. Hal ini perlu dilakukan karena sampai saat ini masyarakat masih tidak melirik penggunaan angkutan umum. Idealnya, penggunaan angkutan umum di suatu kota mencapai angka 70 % (Kompas, 26 Februari 2001). Namun, dari situs erhanana.wordpress.com (2008) didapatkan fakta sampai saat ini tidak lebih dari 2 % angkutan umum yang benar-benar dimanfaatkan, sisanya hanya dipandang sebelah mata oleh masyarakat.

Untuk dapat meningkatkan pemanfaatan angkutan umum di kota Denpasar perlu dilakukan perbaikan terhadap sistem pelayanan angkutan umum tersebut. “Pemerintah harus menawarkan sistem transportasi umum yang oke,”tulis Pushandaka dalam blognya, pushandaka.com, Desember 2009 silam. Langkah pertama dalam memperbaiki sistem pelayanan angkutan umum adalah dengan melakukan analisis terhadap sistem pelayanan angkutan umum yang ada saat ini. Hal yang terpenting adalah analisis terhadap atribut pelayanan angkutan umum dari sisi persepsi masyarakat. Sebab mereka merupakan pihak yang terlibat langsung jika terjadi perubahan pada tingkat pelayanan angkutan umum. Analisis terhadap persepsi pengguna dilakukan pada atribut-atribut pelayanan angkutan umum seperti kepastian jalur angkutan umum, waktu tunggu (waktu tunggu untuk mendapatkan angkutan umum dan waktu tunggu keberangkatan), lama perjalanan, keandalan, tarif, kenyamanan, dan keamanan.

“Selain itu, pemerintah juga harus memberikan subsidi bagi angkuan umum. Subsidi yang diberikan bukan dalam bentuk pengurangan bahan bakar, melainkan pembayaran biaya operasinal kendaraan yang nilainya didapat darii masyarakat pengguna dan pemerintah menanggung selisihnya. Jadi operator tetap menerima hasilnya dan masyarakat mendapat layanan yang diharapkan,” kritik Pushandaka lagi. Ini bagian tanggung jawab pemerintah, untuk itu angkutan umum yang harus disiapkan adalah angkutan umum yang memiliki fasilitas layak pakai dan memberikan kenyamanan bagi penumpang (masyarakat).

Pertanyaannya kapan hal ini akan diimplementasikan? Kita sebagai masyarakat hanya bisa menunggu tindakan pemerintah. Tidakkah kita bosan akan semua permasalahan transportasi yang selam ini terjadi? (fifin)

Minggu, 04 Juli 2010

SI MERAH YANG MURAH

Sirih merah, tanaman dari family Piperaceae ini memiliki manfaat yang sangat luas sebagai bahan obat. Namun, siapa sangka kemampuannya mampu mengobati sebuah penyakit mematikan seperti kanker payudara.

Yah! Penyakit yang menduduki posisi kedua setelah kanker leher rahim ini, masih menjadi momok yang menyerampakan bagi wanita Indonesia. Dan tak hanya itu, kaum priapun bisa mengalaminya, meski angkanya relatif kecil yakni hanya sekitar satu persen dari total pria Indonesia kini. Bersembunyi pada kelenjar payudara kemudian menyebar melalui aliran darah ke seluruh tubuh. Begitulah sel kanker bekerja. Setelah berdiam diri selama bertahun-tahun di dalam tubuh sang hospes (penderita), kemudian akan aktif menjadi tumor ganas yang disebut kanker.

Berbagai factor dapat memicu timbulnya kanker payudara, dan dua factor utamanya adalah pembentukan radikal bebas dan karsinogen akibat radiasi. Siapa yang tau, di dalam tubuh kita terbentuk radikal bebas secara terus menerus yang akan mengakibatkan terjadinya berbagai reaksi berantai dalam tubuh. Dampak reaktivitas senyawa radikal bebas ini bermacam-macam mulai dari kerusakan sel atau jaringan, penyakit degenaratif hingga terjadinya kanker.

Selai itu, zat-zat penyebab kanker (kasinogenik) juga dapat memicu tumbuhnya sel-sel kanker secara abnormal. Zat-zat kimia non gizi dan zat karsinogenik primer dari luar tubuh yang masuk ke dalam tubuh dimetabolisme oleh hati. Di dalam hati dilakukan proses oksidasi dengan bantuan enzim monoaksidase. Dari hasil pemprosesan akan dilanjutkan dengan enzim konyugasi dan dihasilkan senyawa yang larut dalam air. Biasanya senyawa ini akan langsung diekskresikan ke luar tubuh, namun dalam prosesnya sering terjadi kesalahan hali ini mengakigbatkan terbentuknya senyawa kersinogenik.

Sampai saat ini pengobatan kanker payudara di Indonesia masih mengandalkan obat-obatan yang tergolong obat spesialistik dan hanya dokter berpengalaman yang bisa memberikan obatnya. Belum lagi semua pengobatan tersebut membutuhkan teknologi canggih, ketrampilan, dan pengalaman yang luas. Padahal konsumsi obat-obatan sintetis tersebut selain menguras biaya yang cukup mahal juga dapat menimbulkan berbagai efek samping bagi penggunanya. Bahkan sering ditemukan para penderita kanker payudara stadium lanjut yang tidak mendapatkan hasil memuaskan dari proses pengobatannya.

Maka tak jarang masyarakat kurang mampu beralih pada obat-obatan tradisional dan herbal. Salah satunya adalah dengan menggunakan sirih merah. Dalam sirih merah terkandung berbagai senyawa kimia diantaranya adalah alkaloid, saponin, flavonoid, minyak atsiri dan tanin yang berkhasiat sebagai antioksidan dan antikanker. Dalam daun sirih merah banyak mengandung senyawa flavonoid yang berfungsi sebagai antioksidan, menghambat penggumpalan eritrosit, merangsang produksi nitrit oksida yang dapat melebarkan pembuluh darah dan menghambat pertumbuhan sel kanker.

Flavonoid adalah sekelompok besar senyawa polifenolad. Salah satu komponen flavonoid yang sering digunakan sebagai suplementasi makanan adalah senyawa fitoestrogen. Senyawa ini tersusun atas tiga komponen yaitu isoflavon, lignin, dan kumestran. Isoflavon pada daun sirih merah berpotensi sebagai anti tumor atau anti kanker. Ada tiga jenis isoflavon yang yaitu daidzein, glisetein, dan genistein. Ketiga molekul ini mampu menghambat pertumbuhan sel kanker melalui berbagai mekanisme. Salah satunya sebagai antioksidan dan sebagai senyawa estrogenic.

Antioksidan yang paling berpotensi dalam isoflavon adalah genistein, diikuti oleh daidzein. Keduanya bekerja dengan menghambat timbulnya radikal bebas yang dapat merusak stuktur DNA. Stuktur genistein dan daidzein memiliki gugus pemberi electron sebagai penyumbang elekton bagi radikal bebas. Hal ini dapat mereduksi kadar radikal bebas di dalam tubuh. Apabila kadar radikal bebas dalam tubuh tereduksi, tidak akan terjadi rangsangan molekul dalam sel yang berinteraksi dengan DNA.

Gen proto-onkogen tidak akan mengalami mutasi pada region pengkode proto-onkogen sehingga tidak terjadi peningkatan kecepatan pembentuk protein proto-onkogen. Akibatnya, proto-onkogen tidak akan bermutasi membentuk onkogen dan tidak terbentuk faktor pertumbuhan, reseptornya, transducer, dan faktor transkripsi. Selain itu, genistein dan daidzein juga mampu mencegah timbulnya mutasi pada bagian region pengkode proto-onkogen. Akibatnya, tidak akan terjadi ekspresi proto-onkogen yang berlebihan, sehingga komposisi asam amino tidak akan berbeda dan tidak akan terjadi transformasi sel. Hal ini menyebabkan tidak terjadinya kanker payudara.

Senyawa genistein juga berfungsi sebagai senyawa estrogenik yaitu senyawa yang mirip dengan estrogen. Genistein akan berikatan dengan estrogen reseptor sehingga dapat menghambat proses proliferasi sel. Adanya persamaan struktur secara karakteristik antara estrogen dan isoflavon yaitu dengan adanya cincin fenol yang diperlukan untuk berikatan dengan estrogen reseptor. Mekanisme selanjutnya adalah dengan menghambat pembentukan protein tirosin kinase dan menghambat aktivitas protein kinase. Sehingga tidak terjadi perubahan sruktur basa nitrogen atau pemutuskan untai DNA. Hal ini mengakibatkan tidak akan terjadinya perubahan asam amino pada protein. Sehingga faktor transkripsi tidak aktif dan tidak terjadi transkripsi gen. Akibatnya rangsangan pertumbuhan dan perkembangan dari protein produk dari gen tidak terbentuk.

Kedua mekanisme ini menyebabkan tidak adanya pertumbuhan sel abnormal sehingga kanker payudara tidak terjadi. Pengkonsumsian sirih merah sebagai obat kanker payudara ini sangat mudah. Cukup merebus tiga helai daun dan diminum dua kali sehari. Sangat simple bukan? Pola back to nature ini tentunya tidak akan menguras saku konsumen dalam jumlah berlebihan.

Sandarkan Cinta Di Sudut Mangrove

“Nama apaan tu, nama kok kayak anak sekolahan yang suka les!”. Kalimat ini dilontarkan Anik ketika pertama kali berkenalan dengan suaminya. Sebuah kisah panjang perjalanan hidup seorang anak Sumbawa.

Loles, nama yang sangat aneh hingga membuat Anik tertawa geli ketika mengingat pertemuan pertamanya dengan sang suami. Wanita kelahiran Sumbawa ini memiliki kisah panjang hingga melabuhkan cintanya di sudut mangrove. “Sebenernya gak ada pikiran mau ke Bali, tapi mungkin udah takdir sampe di sini”, tutur Anik sembari “mengemong” anak semata wayangnya. Berawal dari keinginan Anik untuk meneruskan pendidikan, namun kedua orang tuanya tak mampu membiayai. Didorong rasa irinya terhadap kakak-kakaknya yang telah menjadi pegawai negeri, Anik memberanikan diri pergi Kupang. Alumni salah satu SMK jurusan Managemen dan Akuntansi di Sumbawa ini malah terdampar di pulau Dewata.

Lima tahun sudah ibu dari Junardhi ini menjalani hidupnya di Bali. “Dulu kerja di Tabanan di perusahaan lilin” kata Anik. Di sanalah Anik menemukan tambatan hatinya dan akhirnya menikah. Rasa cinta terhadap sang suami (Loles) membawa Anik tinggal di daerah mangrove. Hidup di daerah mangrove tak membuat kehidupan Anik lebih baik, bahkan lebih terkesan tragis. Bervondasi kayu dengan triplek-triplek yang tertempel di sana-sini, belum lagi luas rumah yang hanya sekedarnya, begitulah keadaan tempat tinggal Anik saat ini. Di tanah pinjaman inilah, Anik dan empat keluarga lainnya melakukan aktivitas sehari-hari.“ Kita cuma ngandelin hasil kerja suami, itupun gak seberapa”, ujar wanita berkulit hitam ini.

Hanya Rp 10.000,00, itulah yang dihasilkan Loles perharinya selama bekerja sebagai montir di Pelack Galeri. Penghasilan yang tak mencukupi membuat keluarga Anik sering merasakan hambarnya sayur sebagai teman nasi. Belum lagi masalah kesulitan air bersih, selama ini air yang digunakan untuk mencukupi kehidupan sehari-harinya hanya mengandalkan air sumur. “Air di sini gak seperti air yang biasa kalian pake, rasanya beda” aku Anik kepada tim ekspedisi mangrove. Kedaan seperti inilah yang membuat Anik selalu mengurungkan niatnya pulang ke kampung halaman.

Meskipun menjalani kehidupan yang sulit tak menyurutkan Anik dan tetangga-tetangganya untuk beribadah. Setiap minggunya, mereka pergi ke gereja terdekat untuk menjani kebaktian. Begitu juga ketika malam natal tiba, mereka mengadakan missa bersama, bahkan tahun 2009 kemarin mereka menjalani missa natal di jalan depan rumha. “Klo mau berdoa kan bisa dimana aja, gak mesti di gereja yang pentingkan niatnya.”