Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Jumat, 13 April 2018

MENCINTAI DALAM DIAM


“Tidakah kamu ingin menemuinya, Rev?” tanyaku pada Revan yang masih sibuk memandang seorang wanita yang sedang duduk di bangku halte bus di seberang kantor kami.
“Nggak perlu War, begini saja sudah cukup untukku,” jawab Revan masih dengan memandang wanita itu.
Astaga, sebenarnya apa yang ada di otak jenius temanku ini? Bagaimana bisa dia mengatakan sudah cukup hanya dengan memandang wanita pujaan hatinya dari balik jendela saja? Bahkan kegiatan ini sudah dia lakukan selama 3 bulan. Rutin, tanpa jeda, hanya libur di hari Minggu atau saat angka kalender menunjukkan warna merah saja. Kemana wibawa dan karisma miliknya yang bisa membuat lawan bicaranya tidak berkutik itu? Ah, aku tau kemana semua itu. Pasti sebuah kata bernama “cinta” telah membawanya pergi ke ujung dunia.
“Tapi, Rev, kamu sudah melakukan hal ini selama 3 bulan. Apa kamu nggak bosen cuma ngeliatin dia aja? Sekali-kali turunlah ke bawah, ajak dia kenalan dan mengobrol,” kataku memberikan sedikit saran untuk hubungan temanku ini dengan wanita pujaan hatinya. Tapi, lagi-lagi apa daya ketika cinta sudah menjadikan dunia hanya menjadi pemilik sang pembawa cinta.
“Memangnya kamu nggak penasaran sama nama cewek itu? Ngobrol gitu kek sama dia, siapa tau dia udah punya pacar, atau jangan-jangan dia sudah berkeluarga…”
“Kami tidak bisa saling berbicara, War,” ucapnya memotong ucapanku.
“Ya jelas aja kalian nggak bisa saling bicara Rev, orang kamu nggak pernah ngajak dia kenalan kok.”
“Bukan itu maksudku, kami memang tidak ditakdirkan untuk saling berbicara. Tapi, aku tetap mencintainya dalam keterdiaman ini,”ucap Revan sambil mengalihkan pandangannya ke minuman yang ada di meja kerjanya. Kulihat ada sedikit senyum mengembang di bibir Revan sebelum dia meminum minumannya. Penasaran dengan apa yang membuat Revan tersenyum, kutengokkan kepalaku ke arah halte bus. Ternyata sudah tidak ada siapapun di sana. Lalu, apa gerangan yang membuat Revan tersenyum seperti itu? Temanku ini benar-benar penuh dengan misteri.
*****
Beberapa minggu setelah percakapan singkatku dengan Revan di ruang kerja kami, aku mendapat berita yang cukup mengejutkan. Sekali lagi kupandangi sebuah undangan bertuliskan nama Revan dan Kinara yang sedang aku pegang. Memastikan bahwa kabar yang aku dapatkan ini tidaklah salah. Bukankah Revan mencintai wanita yang selalu dipandanginya di halte bus? Lalu siapa itu Kinara? Apakah ini nama wanita itu? Atau nama wanita lain? Rasa penasaran itulah yang mebuatku bergegas datang ke undangan pernikahan yang aku dapatkan. Beberapa minggu lalu aku memang ditugaskan ke luar kota, dan baru sampai tadi pagi. Tentu saja berita ini sangat mengejutkan untukku.
Di sana, di sebuah palaminan bernuansa putih itu, kulihat Revan sedang berdiri dengan seorang gadis cantik yang lama ini telah mencuri hatinya. Itu dia, wanita yang selama ini selalu ia pandangi dari balik jendela kantor kami. Tampak wajah bahagia dari pasangan pengantin baru itu. Senyum dan tawa ceria tak lepas dari bibir mereka saat menerima ucapan selamat dari para tamu undangan yang sudah berdatangan.
Kulihat keadaan sekelilingku, acara resepsi pernikahan yang dibuat outdoor ini tampak sederhana tapi penuh dengan keceriaan dan kebahagian. Sepertinya kebahgiaan yang sedang dirasakan kedua mempelai menular ke orang-orang yang datang di acara ini. Sederhana, namun tetap elegan, benar-benar sesuai dengan gaya Revan. Sentuhan feminim dari bunga-bunga yang tersebar di sekitar lokasi acara pasti karena campur tangan dari sang mempelai wanita. Kudengan dia mempunyai usaha flower shop yang cukup terkena.
Dari beberapa pembicaraan yang tidak sengaja kudengar, sepertinya Kinara adalah pribadi yang baik. Banyak tamu undangan dari pihak perempuan yang mengatakan bahwa Kinara adalah wanita yang ramah, ceria, dan senang membantu orang  lain. Kebaikan dan kelembutan hati-nya lah yang membuat dia disukai banyak orang.
“Mempelai wanitanya cantik bukan?” kata Mayang, salah seorang teman kantorku dan Revan yang juga datang menghadiri undangan pernikahan ini.
“Ya, sangat cantik. Revan sangat beruntung mendapatkannya,” kataku sambil menatap ke arah pelaminan. “Aku kira selama Revan terlalu pengecut, hanya bisa memandang wanita itu dari jendela kantor kami. Ternyata diam-diam dia sudah melancarkan aksinya.”
“Tidak hanya Revan. Tapi, wanita itu juga sangat beruntung mendapatkan seorang Revan.”
Apa maksud Mayang berkata seperti itu? Apa menurutnya wanita itu tidak pantas bersanding dengan Revan? Apa dia cemburu pada Kinara? Sebenarnya aku tahu kalau selama ini Mayang memiliki perasaan lebih pada Revan.
“Jangan berfikir macam-macam,” ucap Mayang saat melihat ekspresi ketidaksukaan pada wajahku. “Kau tidak tahukan kalau wanita itu, Kinara, dia seorang tuli. Kudengar dia tidak bisa mendengar dan berbicara sejak lahir.”
Tidak bisa kusembunyikan ekspresi keterkejutanku saat mendengar penuturan Mayang. Ada apa ini? Apa arti semua ini? Inikah misteri yang selama ini aku rasakan pada diri Revan? Dan sebuah ingatan akan percakapan terakhir kami menjawab semua misteri itu. “Bukan itu maksudku, kami memang tidak ditakdirkan untuk saling berbicara. Tapi, aku tetap mencintainya dalam keterdiaman ini.”
Itulah jawabannya, itulah kenapa Revan mengatakan bahwa dia dan wanita itu tidak bisa saling berbicara. Bukan karena Revan terlalu pengecut untuk berkenalan dengan wanita itu. Tapi, keadaanlah yang tidak memungkinkan mereka untuk saling berbicara. Dan aku percaya, mereka akan baik-baik saja, karena takdir telah mempersatukan mereka. Pasti kebaikan dan kelembutan hati Kinara-lah yang berhasil menyihir hati Revan. Membuatnya menerima segala kekurangan dan kelebihan wanita yang kini telah bersanding bersamanya dipelaminan.
“Anwar,” kudengar Revan memanggilku dari pelaminan. Sepertinya dia baru menyadari kedatangannku. Kubalas sapaannya dengan lambaian tangan dan senyuman di bibir. Segera kulangkahkan kakiku menuju ke pelaminan untuk memberikan ucapan selamat pada kawan baikku itu.

#30dwc
#30dwcjilid12
#day23

0 komentar: