“Tidakah
kamu ingin menemuinya, Rev?” tanyaku pada Revan yang masih sibuk memandang seorang
wanita yang sedang duduk di bangku halte bus di seberang kantor kami.
“Nggak
perlu War, begini saja sudah cukup untukku,” jawab Revan masih dengan memandang
wanita itu.
Astaga,
sebenarnya apa yang ada di otak jenius temanku ini? Bagaimana bisa dia
mengatakan sudah cukup hanya dengan memandang wanita pujaan hatinya dari balik
jendela saja? Bahkan kegiatan ini sudah dia lakukan selama 3 bulan. Rutin,
tanpa jeda, hanya libur di hari Minggu atau saat angka kalender menunjukkan
warna merah saja. Kemana wibawa dan karisma miliknya yang bisa membuat lawan
bicaranya tidak berkutik itu? Ah, aku tau kemana semua itu. Pasti sebuah kata
bernama “cinta” telah membawanya pergi ke ujung dunia.
“Tapi,
Rev, kamu sudah melakukan hal ini selama 3 bulan. Apa kamu nggak bosen cuma ngeliatin
dia aja? Sekali-kali turunlah ke bawah, ajak dia kenalan dan mengobrol,” kataku
memberikan sedikit saran untuk hubungan temanku ini dengan wanita pujaan
hatinya. Tapi, lagi-lagi apa daya ketika cinta sudah menjadikan dunia hanya
menjadi pemilik sang pembawa cinta.
“Memangnya
kamu nggak penasaran sama nama cewek itu? Ngobrol gitu kek sama dia, siapa tau
dia udah punya pacar, atau jangan-jangan dia sudah berkeluarga…”
“Kami
tidak bisa saling berbicara, War,” ucapnya memotong ucapanku.
“Ya
jelas aja kalian nggak bisa saling bicara Rev, orang kamu nggak pernah ngajak
dia kenalan kok.”
“Bukan
itu maksudku, kami memang tidak ditakdirkan untuk saling berbicara. Tapi, aku tetap
mencintainya dalam keterdiaman ini,”ucap Revan sambil mengalihkan pandangannya ke
minuman yang ada di meja kerjanya. Kulihat ada sedikit senyum mengembang di
bibir Revan sebelum dia meminum minumannya. Penasaran dengan apa yang membuat
Revan tersenyum, kutengokkan kepalaku ke arah halte bus. Ternyata sudah tidak
ada siapapun di sana. Lalu, apa gerangan yang membuat Revan tersenyum seperti
itu? Temanku ini benar-benar penuh dengan misteri.
*****
Beberapa
minggu setelah percakapan singkatku dengan Revan di ruang kerja kami, aku
mendapat berita yang cukup mengejutkan. Sekali lagi kupandangi sebuah undangan
bertuliskan nama Revan dan Kinara yang sedang aku pegang. Memastikan bahwa
kabar yang aku dapatkan ini tidaklah salah. Bukankah Revan mencintai wanita
yang selalu dipandanginya di halte bus? Lalu siapa itu Kinara? Apakah ini nama
wanita itu? Atau nama wanita lain? Rasa penasaran itulah yang mebuatku bergegas
datang ke undangan pernikahan yang aku dapatkan. Beberapa minggu lalu aku
memang ditugaskan ke luar kota, dan baru sampai tadi pagi. Tentu saja berita
ini sangat mengejutkan untukku.
Di
sana, di sebuah palaminan bernuansa putih itu, kulihat Revan sedang berdiri
dengan seorang gadis cantik yang lama ini telah mencuri hatinya. Itu dia,
wanita yang selama ini selalu ia pandangi dari balik jendela kantor kami.
Tampak wajah bahagia dari pasangan pengantin baru itu. Senyum dan tawa ceria
tak lepas dari bibir mereka saat menerima ucapan selamat dari para tamu undangan
yang sudah berdatangan.
Kulihat
keadaan sekelilingku, acara resepsi pernikahan yang dibuat outdoor ini tampak sederhana tapi penuh dengan keceriaan dan
kebahagian. Sepertinya kebahgiaan yang sedang dirasakan kedua mempelai menular
ke orang-orang yang datang di acara ini. Sederhana, namun tetap elegan, benar-benar
sesuai dengan gaya Revan. Sentuhan feminim dari bunga-bunga yang tersebar di
sekitar lokasi acara pasti karena campur tangan dari sang mempelai wanita.
Kudengan dia mempunyai usaha flower shop
yang cukup terkena.
Dari
beberapa pembicaraan yang tidak sengaja kudengar, sepertinya Kinara adalah pribadi
yang baik. Banyak tamu undangan dari pihak perempuan yang mengatakan bahwa
Kinara adalah wanita yang ramah, ceria, dan senang membantu orang lain. Kebaikan dan kelembutan hati-nya lah
yang membuat dia disukai banyak orang.
“Mempelai
wanitanya cantik bukan?” kata Mayang, salah seorang teman kantorku dan Revan
yang juga datang menghadiri undangan pernikahan ini.
“Ya,
sangat cantik. Revan sangat beruntung mendapatkannya,” kataku sambil menatap ke
arah pelaminan. “Aku kira selama Revan terlalu pengecut, hanya bisa memandang
wanita itu dari jendela kantor kami. Ternyata diam-diam dia sudah melancarkan
aksinya.”
“Tidak
hanya Revan. Tapi, wanita itu juga sangat beruntung mendapatkan seorang Revan.”
Apa
maksud Mayang berkata seperti itu? Apa menurutnya wanita itu tidak pantas
bersanding dengan Revan? Apa dia cemburu pada Kinara? Sebenarnya aku tahu kalau
selama ini Mayang memiliki perasaan lebih pada Revan.
“Jangan
berfikir macam-macam,” ucap Mayang saat melihat ekspresi ketidaksukaan pada
wajahku. “Kau tidak tahukan kalau wanita itu, Kinara, dia seorang tuli.
Kudengar dia tidak bisa mendengar dan berbicara sejak lahir.”
Tidak
bisa kusembunyikan ekspresi keterkejutanku saat mendengar penuturan Mayang. Ada
apa ini? Apa arti semua ini? Inikah misteri yang selama ini aku rasakan pada
diri Revan? Dan sebuah ingatan akan percakapan terakhir kami menjawab semua
misteri itu. “Bukan itu maksudku, kami
memang tidak ditakdirkan untuk saling berbicara. Tapi, aku tetap mencintainya
dalam keterdiaman ini.”
Itulah
jawabannya, itulah kenapa Revan mengatakan bahwa dia dan wanita itu tidak bisa
saling berbicara. Bukan karena Revan terlalu pengecut untuk berkenalan dengan
wanita itu. Tapi, keadaanlah yang tidak memungkinkan mereka untuk saling
berbicara. Dan aku percaya, mereka akan baik-baik saja, karena takdir telah
mempersatukan mereka. Pasti kebaikan dan kelembutan hati Kinara-lah yang
berhasil menyihir hati Revan. Membuatnya menerima segala kekurangan dan
kelebihan wanita yang kini telah bersanding bersamanya dipelaminan.
“Anwar,”
kudengar Revan memanggilku dari pelaminan. Sepertinya dia baru menyadari kedatangannku.
Kubalas sapaannya dengan lambaian tangan dan senyuman di bibir. Segera
kulangkahkan kakiku menuju ke pelaminan untuk memberikan ucapan selamat pada
kawan baikku itu.
#30dwc
#30dwcjilid12
#day23







0 komentar:
Posting Komentar