“Tentu saja. Kau
tau kadang aku berfikir Will itu sudah seperti juragan minyak yang punyabanyak kekasih. Bayangkan saja ada 2 wanita yang sedang menunggu untuk
dijadikan kekasihnya. Padahal dalam kasus yang sama seharusnya kita bertengkar
dan saling memusuhi untuk mendapatkan perhatian William.”
“Benar juga ya…” dan perbincangan
kami berlanjut dengan hal-hal lainnya.
*****
Hari ini datang juga. Semalaman aku
tak bisa tidur memikirkan apa yang akan dikatakan Will pada kami. Aku dan
Cemara sudah menunggu di tempat yang sudah kami tentukan sebelumnya. Will
datang terlambat, mungkin dia masih bingung. Aku sangat gugup, jantungku
berdetak sangat kencang, seperti akan lepas dari tempatnya. Kulihat Cemara
tetap tenang seperti biasanya. Terkadang aku
merasa iri dengannya, Cemara selalu dapat bersikap tenang dan dapat
menempatkan diri dalam kondisi apapun. William datang setengah jam kemudian,
dia tampak kusut.
“Maaf
sudah membuat kalian menunggu. Kalian tau ini adalah keputusan yang sulit
bagiku,” ucapnya setelah menganbil tempat dihadapanku dan Cemara. “Aku sudah
mengambil keputusan.”
Will
menatap Cemara, aku semakin gugup. “Mara, kamu adalah orang yang pernah aku
cintai. Mungkin aku masih bimbang dengan perasaanku, tapi kamu adalah bagian
dari masa laluku,” Will berhenti sebentar, dia menghembuskan nafas berat dari
mulutnya. Keputusan ini membuatnya tertekan.
“Kamu
tahu betapa sakitnya hatiku saat kau pergi tanpa memberikan alasan yang jelas.
Hari-hariku penuh dengan kesedihan dan disaat
itulah Airin datang mengobati luka di hatiku. Jadi, maafkan aku Mara,
aku lebih memilih Airin dari pada kamu,” ujar Will dengan menatap lembut kearah
Cemara.
Saat
ini aku bingung dengan perasaanku. Apakah aku senang dengan keputusan Will,
atau aku sedih karena hati sahabatku sedang terluka. Aku menunggu apa yang akan
dikatakan Cemara, diluar dugaanku dia tetap tersenyum mendengar keputusan
William. Tapi aku dapat melihat kesedihan di wajah Cemara, biar bagaimanapun
dia tetaplah seorang wanita. Pasti hatinya hancur mendengar keputusan Will.
“Tak
apa Will, aku senang kau sudah memilih diantara kami. Setidaknya sekarang
hubungan kita sudah jelas. Kau dengan Airin adalah sepasang kekasih, aku dengan
Airin adalah sahabat, dan kisah cinta kita sudah berakhir. Kau pasti sudah
memikirkan banyak hal belakangan ini.”
Kulihat Cemara menggigit bibir sebelum melanjutkan
kata-katanya. Wajahnya yang sedikit tertunduk dan tertutup poni kini memandang
William, “Aku ucapkan selamat kepada kalian. Will, aku titip Airin padamu, dia
wanita yang baik. Dia adalah sahabat terbaikku. Aku tidak ingin melihatnya
menangis dan mengeluh padaku.” Kemudian pandangan matanya beralih kepadaku,
“Airin seperti perjanjian kita sebelumnya, kita akan tetap menjadi sahabat.
Jadi jangan pernah merasa bersalah padaku," jeda sejenak sebelum dia
melanjutkan "aku rasa masalah kita sudah selesai, jadi aku harus pergi.”
Dan setelah mengucapkan kalimat itu, Cemara pergi
meninggalkan kami dengan sejuta perasaan yang sulit aku ungkapkan dengan
kata-kata.
Bersambung
…
#30dwc
#30dwcjilid12
#day27







0 komentar:
Posting Komentar