“Woi,
Gas,… tunggu…” teriak Iwan sambil berlari menghampiri Bagas.
“Hei
Wan, tumben jam segini udah datang” sapa Bagas saat Iwan sudah sampai di
sampingnya. Saat ini mereka sedang berjalan kaki menuju tempat mereka menuntut
ilmu. Maklum saja, tidak ada angkot atau bus yang langsung menuju ke tempat
mereka menuntut ilmu. Jadi, orang-orang yang masih setia menggunakan fasilitas
kendaraan umum harus berjalan kaki sekitar 10 menit dari tempat pemberhentian.
“Iya
nih, aku ada janji sama Wati, mau ngembaliin bukunya pagi-pagi sekali. Kalo
sampai telat bisa diamuk Wati nanti. Tau sendiri kan, tuh anak kalo udah ngamuk
omelannya panjang kali lebar, yang ada bisa nggak tenang hidupku seharian nanti”
curhat Iwan dengan ekspresi sebalnya. “Kau sendiri tumben sudah datang jam
segini?” ucap Iwan mengawali pembicaraan di pagi ini.
“Nggak
juga ah, biasanya juga jam segini. Kamu aja yang nggak tau.”
“Masak
sih ? perasaan biasanya juga aku yang ada di kelas duluan” Iwan sedikit
meragukan ucapan Bagas. Dalam pikirannya terlintas ‘Bagas? Datang pagi? Big No banget sih.’
“Jelas
aja kamu yang duluan ada di kelas, aku kan emang nggak langsung masuk kelas.”
“Oh
ya? terus kemana dong?” tanyanya penasaran, bukan bermaksud ‘kepo’, tapi
beberapa pekan ini memang beredar gosip tentang Bagas yang cukup fenomenal. Iwan
sebagai salah satu teman yang dekat dengan Bagas, otomatis langsung menjadi
sasaran teman-teman lainnya untuk dimintai klarifikasi.
“Ke
perpus Wan, PDKT sama si hitam” ucap Bagas sambil tersenyum jahil.
“Jadi
kamu beneran mau PDKT sama dia Gas?” tanya Iwan mencoba meyakinkan
pendengarannya.
“Beneran
lah, masak aku bohong sih. Kamu sendiri kan jadi saksi waktu aku
mendeklarasikan niatku itu.”
“Iya
juga sih. Tapi, apa kau tidak terlalu memaksakan dirimu ? Apa kau yakin akan
mendapatkannya di tahun ini?” tanya Iwan dengan keraguan akan keputusan Bagas.
“Tentu
saja, kau tidak tau bagaimana perjuanganku selama ini untuk mendapatkannya?”
ucap Bagas dengan PD.
“Iya
sih, tapi tetap saja. Bukannya mau memupuskan harapanmu, tapi selama ini kau
kan tidak pernah mendapatkannya.”
“Bukannya
‘tidak pernah’, tapi ‘belum’ ” jawab Bagas dengan memberikan penekanan saat
mengucapkan 2 kata itu. “Lagi pula, dulu aku tidak mendapatkannya karena aku
tidak pernah serius”
“Lalu sekarang ?”
“Tentu
saja aku serius. Kau tidak lihat bagaimana kerasnya usahaku ? Bahkan aku sampai
mendekati Susi, teman yang paling dekat dengannya di kelas.”
“Ya,
ya, tidak perlu dirakukan lagi kalo masalah itu. Bahkan sampai beredar gosip
kalo kau lagi PDKT, bahkan sudah jadian sama si Susi.”
“Ha…
ha… ha…, ada-ada saja. Padahal yang kuincar itu kan si hitam, bukan si Susi.”
“Yah,
aku tau bagaimana istimewanya si hitam untukmu. Dia memang cukup sulit untuk
didapatkan, apalagi dengan reputasi burukmu selama ini.”
“Itu
dia tantangannya Wan. Lagi pula aku tidak mau mengecewakan kedua orang tuaku
lagi. Bagaimana juga, aku harus mendapatkannya tahun ini. Aku akan membawa
si hitam ke hadapan orang tuaku” kalimat itu diucapkan Bagas dengan penuh semangat.
Baru
kali ini Iwan melihat semangat dalam diri Bagas. Semangat untuk melakukan
sesuatu, bukan semangat untuk ikut tawuran atau membolos pelajaran seperti yang
selama ini dia lakukan. Semangat untuk meraih sesuatu yang sangat spesial, si
hitam. Si hitam yang telah merubah Bagas menjadi pribadi yang lebih baik. Si
hitam yang telah membuatnya berjuang lebih keras dari teman-teman lainnya.
“Maaf
aku sempat meragukanmu Gas” ucap Iwan dengan penuh penyesalan. Bagaimanapun juga,
sedikit banyak dia tau alasan kenapa Bagas ingin mendapatkan si hitam. “Kau
tau, aku bangga saat kau mendeklarasikan akan mendapatkan si hitam. Kalau kau
benar-benar serius, sebagia teman setiamu aku akan ikut membantumu sebisa
mungkin. Yah, walaupun aku tidak seperti Susi yang sangat dekat dengan si
hitam, tapi aku cukup mengenalnya dengan baik kok” lanjut Iwan memberi memberi
semangat pada Bagas.
“Terima
kasih Wan, kau memang temanku yang super duper baik.”
“Kalo
aku temanmu yang super duper baik, berarti saat kau sudah mendapatkan si hitam
nanti, boleh dong traktiran bakso 2 mangkok Gas” candanya.
“Sip,
bisa diatur lah itu” jawab Bagas sambil memberi tanda hormat pada Iwan.
#####
Setelah
melalui perjuangan panjang, akhirnya hari yang ditunggu-tunggu tiba juga. Hari
yang menentukan untuk Bagas, mungkin tidak hanya Bagas, tapi untuk semua orang
yang menjadi saksi perjuangan Bagas. Setelah melakukan pendekatan secara
intensif selama 1 minggu, akhirnya hari ini tiba juga. Hari dimana nasib Bagas
dipertaruhkan, hari penentuan apakah Bagas berhasil mendapatkan hati si hitam.
Saat
ini suasana di kelas Bagas tampak sunyi, sepertinya semua anak sudah di setting dalam mode diam, agar tidak ada yang menodai suasana hening yang telah
tercipta. Bagas yang duduk di bangku paling belakang sudah dipenuhi dengan
perasaan was-was. Sejak semalan dia tidak bisa tidur, itulah yang menyebabkan
kantung matanya tampak menghitam pagi ini. Dia bahkan datang lebih pagi dari
hari biasanya karena terlalu khawatir. Padahal dia tau jam kedatangannya tidak
akan mempengaruhi apapun keputusan yang sudah diambil oleh si hitam.
Iwan
yang duduk satu bangku di depan Bagas juga tidak kalah dag-dig-dug dengan nasib
temannya itu. Pasalnya, jika kali ini Bagas tidak mendapatkan si hitam, maka
tamat sudah riwayat Bagas. Mungkin dia akan langsung diusir dari rumah atau
dikeluarkan dari daftar anggota keluarganya. Untuk Bagas sendiri, mungkin saja
dia akan melakukan hal-hal nekat yang dapat membahayakan jiwanya, mengingat
betapa kerasnya perjuangan Bagas untuk mendapatkan si hitam. Sudah banyak kasih
sayang dan cinta yang Bagas curahkan untuk mendapatkan si hitam. Belum lagi
usahanya yang sudah mengorbankan banyak waktu dan perhatian, bahkan Bagas
sampai rela mengurangi waktu bermain dan berkumpulnya bersama teman-temannya.
Kalo sampai si hitam benar-benar menolak pinangan Bagas kali ini, sungguh tega
dirinya.
Di
depan kelas, tampak Bu Titin yang menjadi wali sekaligus penyampai keputusan dari
si hitam. Bu Titin menatap Bagas dengan seksama, “Bagas Adintya Wibowo” di
panggilnya nama lengkap Bagas dengan suara yang tegas.
Ekspresi
terkejut nampak di wajah Bagas saat namanya dipanggil. Sepertinya karena
terlalu khawatir, dia sampai tidak memperhatikan apa yang sedang berlangsung di
kelasnya sajak tadi. “Bagas Adintya Wibowo” kembali Bu Titin memanggil namanya.
‘Ah ternyata sudah waktunya.
Baiklah, apapun keputusnnya, yang penting aku sudah berusaha’ pikir
Bagas saat itu. Akhirnya, dengan memantapkan hati, Bagas maju menemui Bu Titin.
Seperti gerakan slow motion, sepanjang
perjalanan menemui Bu Titin, Bagas dapat melihat teman-temannya memberikan
dukungan. Ada yang mengacungkan jempol tangannya, ada yang menunjukkan kepalan
tangan tanda memberi semangat, ada yang mengucapkan ucapan semangat tanpa
suara, dan masih banyak lagi. Bagas juga melihat bagaimana wajah Iwan yang
dipenuhi rasa cemas seperti dirinya. Sesampainya di depan kelas, dia juga sempat
menatap Susi yang memang duduk di bangku paling depan. Dilihatnya wajah Susi
yang tidak kalah cemas seperti Iwan. ‘Semangat’
itulah kata yang dapat ditangkap dari bibir Susi.
“Bagas,”
panggilan Bu Titin menyadarkan Bagas bahwa dirinya sudah sampai di hadapan Bu
Titin. Bagas langsung mencium punggung tangan beliau, karena sedikit banyak
beliau adalah salah satu orang yang telah membantu untuk mendapatkan hati si
hitam. Ditatapnya Bu Titin dengan penuh rasa khawatir.
Bu
Titin yang melihat kekhawatiran di wajah Bagas hanya tersenyum menenangkan.
Kemudian, tanpa mengulur waktu, diserahkannya buku yang berisi keputusan dari
si hitam kepada Bagas. Buku dengan sampul biru tua yang tercetak nama dan
lambang tempatnya mengajar. Tidak lupa beliau juga memberikan sedikit
nasihatnya, “Kau sudah melakukan yang terbaik, Nak. Apapun hasilnya, ibu dan
teman-temanmu bangga dengan usahamu” ucapnya dengan lembut.
Bagas
menanggapi nasihat itu dengan menganggukkan kepalanya. ‘Akhirnya, akhirnya perjuangan ini akan selesai juga’ pikir Bagas
saat menerima map itu dari tangan Bu Titin. Dengan perlahan, dibukanya buku
yang ada di tangannya. Di bukanya lembar demi lembar dengan hati-hati, dan
sampai-lah ia pada lembar terakhir yang menunjukkan semua hasil perjuangannya
selama ini. Di lihatnya semua tulisan angka di lembar tersebut berwarna hitam,
tidak hanya angka di pelajaran ringan seperti kesenian dan olah raga, tapi
angka di pelajaran berat seperti Matematika dan Bahasa Inggis juga berwarna
hita, begitu juga di pelajaran lainnya. Senyum lebar menghiasi wajah Bagas, kebahagiaannya
meluap di hatinya, menghilangkan rasa khawatir yang sejak kemarin telah
menghantuinya. Dan dengan lantang dia berteriak “EMAK, BAPAK, AKU BAWA SI HITAM
PULANG KE RUMAH”
Mendengar
teriakan lantang Bagas, seisi kelas Yang awalnya sunyi berubah menjadi ramai. Sorak-sorai kebahagiaan
memenuhi ruang kelas itu. Bu Titin yang melihat kegembiraan murid-muridnya
hanya bisa tertawa dan ikut merasakan admosfer kebahagiaan yang sedang melanda ruang kelasnya.
#30dwc
#30dwcjilid12
#day5







0 komentar:
Posting Komentar