Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Senin, 26 Maret 2018

BAGAS DAN SI HITAM


“Woi, Gas,… tunggu…” teriak Iwan sambil berlari menghampiri Bagas.
“Hei Wan, tumben jam segini udah datang” sapa Bagas saat Iwan sudah sampai di sampingnya. Saat ini mereka sedang berjalan kaki menuju tempat mereka menuntut ilmu. Maklum saja, tidak ada angkot atau bus yang langsung menuju ke tempat mereka menuntut ilmu. Jadi, orang-orang yang masih setia menggunakan fasilitas kendaraan umum harus berjalan kaki sekitar 10 menit dari tempat pemberhentian.
“Iya nih, aku ada janji sama Wati, mau ngembaliin bukunya pagi-pagi sekali. Kalo sampai telat bisa diamuk Wati nanti. Tau sendiri kan, tuh anak kalo udah ngamuk omelannya panjang kali lebar, yang ada bisa nggak tenang hidupku seharian nanti” curhat Iwan dengan ekspresi sebalnya. “Kau sendiri tumben sudah datang jam segini?” ucap Iwan mengawali pembicaraan di pagi ini.
“Nggak juga ah, biasanya juga jam segini. Kamu aja yang nggak tau.”
“Masak sih ? perasaan biasanya juga aku yang ada di kelas duluan” Iwan sedikit meragukan ucapan Bagas. Dalam pikirannya terlintas ‘Bagas? Datang pagi? Big No banget sih.’
“Jelas aja kamu yang duluan ada di kelas, aku kan emang nggak langsung masuk kelas.”
“Oh ya? terus kemana dong?” tanyanya penasaran, bukan bermaksud ‘kepo’, tapi beberapa pekan ini memang beredar gosip tentang Bagas yang cukup fenomenal. Iwan sebagai salah satu teman yang dekat dengan Bagas, otomatis langsung menjadi sasaran teman-teman lainnya untuk dimintai klarifikasi.
“Ke perpus Wan, PDKT sama si hitam” ucap Bagas sambil tersenyum jahil.
“Jadi kamu beneran mau PDKT sama dia Gas?” tanya Iwan mencoba meyakinkan pendengarannya.
“Beneran lah, masak aku bohong sih. Kamu sendiri kan jadi saksi waktu aku mendeklarasikan niatku itu.”
“Iya juga sih. Tapi, apa kau tidak terlalu memaksakan dirimu ? Apa kau yakin akan mendapatkannya di tahun ini?” tanya Iwan dengan keraguan akan keputusan Bagas.
“Tentu saja, kau tidak tau bagaimana perjuanganku selama ini untuk mendapatkannya?” ucap Bagas dengan PD.
“Iya sih, tapi tetap saja. Bukannya mau memupuskan harapanmu, tapi selama ini kau kan tidak pernah mendapatkannya.”
“Bukannya ‘tidak pernah’, tapi ‘belum’ ” jawab Bagas dengan memberikan penekanan saat mengucapkan 2 kata itu. “Lagi pula, dulu aku tidak mendapatkannya karena aku tidak pernah serius”
 “Lalu sekarang ?”
“Tentu saja aku serius. Kau tidak lihat bagaimana kerasnya usahaku ? Bahkan aku sampai mendekati Susi, teman yang paling dekat dengannya di kelas.”
“Ya, ya, tidak perlu dirakukan lagi kalo masalah itu. Bahkan sampai beredar gosip kalo kau lagi PDKT, bahkan sudah jadian sama si Susi.”
“Ha… ha… ha…, ada-ada saja. Padahal yang kuincar itu kan si hitam, bukan si Susi.”
“Yah, aku tau bagaimana istimewanya si hitam untukmu. Dia memang cukup sulit untuk didapatkan, apalagi dengan reputasi burukmu selama ini.”
“Itu dia tantangannya Wan. Lagi pula aku tidak mau mengecewakan kedua orang tuaku lagi. Bagaimana juga, aku harus mendapatkannya tahun ini. Aku akan membawa si hitam ke hadapan orang tuaku” kalimat itu diucapkan Bagas dengan penuh semangat.
Baru kali ini Iwan melihat semangat dalam diri Bagas. Semangat untuk melakukan sesuatu, bukan semangat untuk ikut tawuran atau membolos pelajaran seperti yang selama ini dia lakukan. Semangat untuk meraih sesuatu yang sangat spesial, si hitam. Si hitam yang telah merubah Bagas menjadi pribadi yang lebih baik. Si hitam yang telah membuatnya berjuang lebih keras dari teman-teman lainnya.
Maaf aku sempat meragukanmu Gas” ucap Iwan dengan penuh penyesalan. Bagaimanapun juga, sedikit banyak dia tau alasan kenapa Bagas ingin mendapatkan si hitam. “Kau tau, aku bangga saat kau mendeklarasikan akan mendapatkan si hitam. Kalau kau benar-benar serius, sebagia teman setiamu aku akan ikut membantumu sebisa mungkin. Yah, walaupun aku tidak seperti Susi yang sangat dekat dengan si hitam, tapi aku cukup mengenalnya dengan baik kok” lanjut Iwan memberi memberi semangat pada Bagas.
“Terima kasih Wan, kau memang temanku yang super duper baik.”
“Kalo aku temanmu yang super duper baik, berarti saat kau sudah mendapatkan si hitam nanti, boleh dong traktiran bakso 2 mangkok Gas” candanya.
“Sip, bisa diatur lah itu” jawab Bagas sambil memberi tanda hormat pada Iwan.

#####

Setelah melalui perjuangan panjang, akhirnya hari yang ditunggu-tunggu tiba juga. Hari yang menentukan untuk Bagas, mungkin tidak hanya Bagas, tapi untuk semua orang yang menjadi saksi perjuangan Bagas. Setelah melakukan pendekatan secara intensif selama 1 minggu, akhirnya hari ini tiba juga. Hari dimana nasib Bagas dipertaruhkan, hari penentuan apakah Bagas berhasil mendapatkan hati si hitam.
Saat ini suasana di kelas Bagas tampak sunyi, sepertinya semua anak sudah di setting dalam mode diam, agar tidak ada yang menodai suasana hening yang telah tercipta. Bagas yang duduk di bangku paling belakang sudah dipenuhi dengan perasaan was-was. Sejak semalan dia tidak bisa tidur, itulah yang menyebabkan kantung matanya tampak menghitam pagi ini. Dia bahkan datang lebih pagi dari hari biasanya karena terlalu khawatir. Padahal dia tau jam kedatangannya tidak akan mempengaruhi apapun keputusan yang sudah diambil oleh si hitam.
Iwan yang duduk satu bangku di depan Bagas juga tidak kalah dag-dig-dug dengan nasib temannya itu. Pasalnya, jika kali ini Bagas tidak mendapatkan si hitam, maka tamat sudah riwayat Bagas. Mungkin dia akan langsung diusir dari rumah atau dikeluarkan dari daftar anggota keluarganya. Untuk Bagas sendiri, mungkin saja dia akan melakukan hal-hal nekat yang dapat membahayakan jiwanya, mengingat betapa kerasnya perjuangan Bagas untuk mendapatkan si hitam. Sudah banyak kasih sayang dan cinta yang Bagas curahkan untuk mendapatkan si hitam. Belum lagi usahanya yang sudah mengorbankan banyak waktu dan perhatian, bahkan Bagas sampai rela mengurangi waktu bermain dan berkumpulnya bersama teman-temannya. Kalo sampai si hitam benar-benar menolak pinangan Bagas kali ini, sungguh tega dirinya.
Di depan kelas, tampak Bu Titin yang menjadi wali sekaligus penyampai keputusan dari si hitam. Bu Titin menatap Bagas dengan seksama, “Bagas Adintya Wibowo” di panggilnya nama lengkap Bagas dengan suara yang tegas.
Ekspresi terkejut nampak di wajah Bagas saat namanya dipanggil. Sepertinya karena terlalu khawatir, dia sampai tidak memperhatikan apa yang sedang berlangsung di kelasnya sajak tadi. “Bagas Adintya Wibowo” kembali Bu Titin memanggil namanya.
‘Ah ternyata sudah waktunya. Baiklah, apapun keputusnnya, yang penting aku sudah berusaha’ pikir Bagas saat itu. Akhirnya, dengan memantapkan hati, Bagas maju menemui Bu Titin. Seperti gerakan slow motion, sepanjang perjalanan menemui Bu Titin, Bagas dapat melihat teman-temannya memberikan dukungan. Ada yang mengacungkan jempol tangannya, ada yang menunjukkan kepalan tangan tanda memberi semangat, ada yang mengucapkan ucapan semangat tanpa suara, dan masih banyak lagi. Bagas juga melihat bagaimana wajah Iwan yang dipenuhi rasa cemas seperti dirinya. Sesampainya di depan kelas, dia juga sempat menatap Susi yang memang duduk di bangku paling depan. Dilihatnya wajah Susi yang tidak kalah cemas seperti Iwan. ‘Semangat’ itulah kata yang dapat ditangkap dari bibir Susi.
“Bagas,” panggilan Bu Titin menyadarkan Bagas bahwa dirinya sudah sampai di hadapan Bu Titin. Bagas langsung mencium punggung tangan beliau, karena sedikit banyak beliau adalah salah satu orang yang telah membantu untuk mendapatkan hati si hitam. Ditatapnya Bu Titin dengan penuh rasa khawatir.
Bu Titin yang melihat kekhawatiran di wajah Bagas hanya tersenyum menenangkan. Kemudian, tanpa mengulur waktu, diserahkannya buku yang berisi keputusan dari si hitam kepada Bagas. Buku dengan sampul biru tua yang tercetak nama dan lambang tempatnya mengajar. Tidak lupa beliau juga memberikan sedikit nasihatnya, “Kau sudah melakukan yang terbaik, Nak. Apapun hasilnya, ibu dan teman-temanmu bangga dengan usahamu” ucapnya dengan lembut.
Bagas menanggapi nasihat itu dengan menganggukkan kepalanya. ‘Akhirnya, akhirnya perjuangan ini akan selesai juga’ pikir Bagas saat menerima map itu dari tangan Bu Titin. Dengan perlahan, dibukanya buku yang ada di tangannya. Di bukanya lembar demi lembar dengan hati-hati, dan sampai-lah ia pada lembar terakhir yang menunjukkan semua hasil perjuangannya selama ini. Di lihatnya semua tulisan angka di lembar tersebut berwarna hitam, tidak hanya angka di pelajaran ringan seperti kesenian dan olah raga, tapi angka di pelajaran berat seperti Matematika dan Bahasa Inggis juga berwarna hita, begitu juga di pelajaran lainnya. Senyum lebar menghiasi wajah Bagas, kebahagiaannya meluap di hatinya, menghilangkan rasa khawatir yang sejak kemarin telah menghantuinya. Dan dengan lantang dia berteriak “EMAK, BAPAK, AKU BAWA SI HITAM PULANG KE RUMAH”
Mendengar teriakan lantang Bagas, seisi kelas Yang awalnya sunyi berubah menjadi ramai. Sorak-sorai kebahagiaan memenuhi ruang kelas itu. Bu Titin yang melihat kegembiraan murid-muridnya hanya bisa tertawa dan ikut merasakan admosfer kebahagiaan yang sedang melanda ruang kelasnya.

#30dwc
#30dwcjilid12
#day5

0 komentar: