Pagi
yang cerah, pagi yang indah. Hari ini matahari tidak bersinar terlalu terik
sampai membuat tubuh berkeringat, sinarnya cukup memberikan kehangatan untuk
semua makhluk di bumi. Hari ini adalah hari yang sudah aku tunggu-tunggu.
Kenapa? Karena hari ini aku akan bertemu dengan teman-teman SMA yang sudah lama
tidak aku temui. Maklum saja, setelah lulus SMA keluargaku pindah ke Amerika karena
tuntutan pekerjaan ayah. Mungkin sesekali aku pulang ke Indonesia untuk
mengunjungi nenek dan kakek yang masih mendiami rumah kami di Yogyakarta. Tapi,
tetap saja tidak mudah untukku menemui teman-teman karena kesibukan yang
berbeda-beda. Satu-satunya orang yang bisa kutemui saat pulang ke Indonesia adalah
Dika, temanku sejak kecil. Dulu, rumah kami bersebelahan. Tapi saat SMP, Dika
dan keluarganya pindah ke rumah yang lebih besar, tidak terlalu jauh dari
rumahku, hanya beda beberapa blok saja. Kebetulan saat SMA kami juga bersekolah
di SMA yang sama.
“Nduk, Nak Dika sudah datang,” kudengar
teriakan nenek dari depan rumah. Maklum saja, kamarku memang ada di bagian rumah
depan, dari jendela kamar saja aku bisa melihat nenek sedang menyiram tanaman.
Segera
kucek penampilanku di depan cermin besar yang ada di kamar. Kali ini aku
menggunakan atasan muslimah polos berwarna coklat muda dan bawahan rok long skirt berwarna coklat tua dengan
hiasan tali pengikat di bagian pinggang. Tidak lupa jilbab dengan warna yang
senada dengan bajuku. Kupercantik diriku dengan memberikan bedak di wajah dan
kuusapkan lipstick berwarna merah di bibir
tipisku. Tidak perlu tebal-tebal, karena aku tidak mau menjadi bahan ejekan
Dika sepanjang hari. Pernah suatu ketika, sengaja aku mengunakan lipstick sedikit lebih tebal mengikuti
teman-temanku, dan sepanjang hari itu Dika memanggilku dengan sebutan ‘Si Menor’.
Benar-benar menyebalkan. Setelah merasa tampilanku sudah oke, langsung kuambil
tas di dalam lemari dan melangkah keluar menemui Dika. Samar dapat kudengar
pembicaraan antara nenek dan Dika di teras rumah.
“Jadi,
bagaimana kerjaanmu, Nak?” tanya
nenek sambil menyirami tanaman, dapat kudengar suara gemerisik air mangalir.
“Alhamdulillah
baik nek, cuma kemarin harus lembur karena ada kecelakaan besar,” jawab Dika
dengan suara beratnya.
“Oh
iya, kecelakaan bus itu ya. Beritanya sudah ada tadi pagi. Kejadian yang sangat
disayangkan, karena kelalaian satu orang banyak nyawa yang harus menjadi
taruhannya.”
“Iya,
nek. Supirnya mengantuk, jadi kurang konsentrasi saat menyetir,” ucap Dika
menanggapi perkataan nenek. Sejak tahun lalu, Dika memang bekerja sebagai
dokter di salah satu rumah sakit besar yang ada di Yogyakarta.
“Pagi
semua …” sapaku saat sampai di teras rumah. Kulihat Dika sedang duduk di kursi
yang memang disediakan di sana. Dia tampak rapi dengan kemeja motif garis-garis
perpaduan warna biru muda dan putih, sedangkan untuk bawahannya dia menggunakan
celana jins warna biru dongker. Tidak lupa rambut yang selalu disisirnya dengan
rapi.
“Pagi
…” sapa Dika sambil menoleh ke arahku. “Sudah siap?”
“Bentar,
aku pakai sepatu dulu,” kataku sambil mengambil sepatu kets yang ada di rak
sepatu. “Nah, sekarang sudah selesai, berangkat yok, Dik, ajakku setelah
selesai memakai sepatu.
“Tunggu-tunggu,
biar kulihat dulu penampilanmu, biar nggak malu-maluin aku waktu di sana nanti,”
candanya seperti biasa.
“Ye…
enak aja, emang kita mau kemana? Orang cuma ke acara reuni doang kok,” jawabku sedikit
nyolot.
“Hus,
tidak baik anak gadis bicara seperti itu Arini, yang sopan sedikit. Lagi pula, Nak Dika itu lebih tua dari kamu,
seharusnya kamu manggilnya dengan sebutan Mas,” tegur nenek yang kembali
mengingatkanku dengan tata krama dan sopan santun dalam berbicara. Ya, usia
kami memang berbeda 1 tahun, karena saat kecil ibu sengaja mendaftarkaku
sekolah di usia yang lebih awal. Katanya waktu kecil aku rewel sekali ingin pergi
sekolah, aku sering menangis saat kakakku pergi ke sekolah.
“Ya…
ya… nek, lain kali aku manggilnya pakai Mas deh,” ucapku dengan ekspresi
malas-malasan. Ucapan yang selalu aku katakan pada nenek, tapi tidak pernah aku
laksanakan. ‘Dasar, memang cucu durhaka’
pikirku. “Udah dulu ya nek, kita mau berangkat dulu nih. Nanti keburu siang dan
susah nyari parkirnya,” ucapku mendekati nenek dan mencium punggung tangannya.
Di belakangku, Dika menyusul mendekati nenek setelah menghabiskan isi cangkirnya.
“Kita
berangkat dulu ya, Nek,” pamitnya pada nenek sambil mencium punggung tangan
nenek.
“Iya,
hati-hati nyetirnya. Apalagi kamu dari rumah sakit langsung ke sini buat jemput
Arini.”
“Insya
Allah nek, Insya Allah saya akan menjaga Airin, akan saya pastikan dia pulang
dalam keadaan selamat,” ucap Dika menenangkan nenek.
“Udah
yok, cepetan …” ucapku sedikit berterik karena aku sudah ada di dekat mobil
Dika yang terparkir di depan rumah. Mendengar teriakanku, Dika langsung
menyelesaikan pembicaraannya dengan nenek dan segera menghampiriku. Setelah membukaan
pintu mobil untukku, dia langsung memutari mobil dan menuju kemudi. “Dadah nek …”
teriakku dari dalam mobil sambil melambaikan tangan. Masih dapat kulihat nenek
membalas dengan melambaikan tangannya saat mobil Dika mulai meninggalkan
rumahku.
Bersambung…
#30dwc
#30dwcjilid12
#day6








0 komentar:
Posting Komentar