Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Selasa, 27 Maret 2018

KAPSUL WAKTU (bagian 1)


Pagi yang cerah, pagi yang indah. Hari ini matahari tidak bersinar terlalu terik sampai membuat tubuh berkeringat, sinarnya cukup memberikan kehangatan untuk semua makhluk di bumi. Hari ini adalah hari yang sudah aku tunggu-tunggu. Kenapa? Karena hari ini aku akan bertemu dengan teman-teman SMA yang sudah lama tidak aku temui. Maklum saja, setelah lulus SMA keluargaku pindah ke Amerika karena tuntutan pekerjaan ayah. Mungkin sesekali aku pulang ke Indonesia untuk mengunjungi nenek dan kakek yang masih mendiami rumah kami di Yogyakarta. Tapi, tetap saja tidak mudah untukku menemui teman-teman karena kesibukan yang berbeda-beda. Satu-satunya orang yang bisa kutemui saat pulang ke Indonesia adalah Dika, temanku sejak kecil. Dulu, rumah kami bersebelahan. Tapi saat SMP, Dika dan keluarganya pindah ke rumah yang lebih besar, tidak terlalu jauh dari rumahku, hanya beda beberapa blok saja. Kebetulan saat SMA kami juga bersekolah di SMA yang sama.
Nduk, Nak Dika sudah datang,” kudengar teriakan nenek dari depan rumah. Maklum saja, kamarku memang ada di bagian rumah depan, dari jendela kamar saja aku bisa melihat nenek sedang menyiram tanaman.
Segera kucek penampilanku di depan cermin besar yang ada di kamar. Kali ini aku menggunakan atasan muslimah polos berwarna coklat muda dan bawahan rok long skirt berwarna coklat tua dengan hiasan tali pengikat di bagian pinggang. Tidak lupa jilbab dengan warna yang senada dengan bajuku. Kupercantik diriku dengan memberikan bedak di wajah dan kuusapkan lipstick berwarna merah di bibir tipisku. Tidak perlu tebal-tebal, karena aku tidak mau menjadi bahan ejekan Dika sepanjang hari. Pernah suatu ketika, sengaja aku mengunakan lipstick sedikit lebih tebal mengikuti teman-temanku, dan sepanjang hari itu Dika memanggilku dengan sebutan ‘Si Menor’. Benar-benar menyebalkan. Setelah merasa tampilanku sudah oke, langsung kuambil tas di dalam lemari dan melangkah keluar menemui Dika. Samar dapat kudengar pembicaraan antara nenek dan Dika di teras rumah.
“Jadi, bagaimana kerjaanmu, Nak?” tanya nenek sambil menyirami tanaman, dapat kudengar suara gemerisik air mangalir.
“Alhamdulillah baik nek, cuma kemarin harus lembur karena ada kecelakaan besar,” jawab Dika dengan suara beratnya.
“Oh iya, kecelakaan bus itu ya. Beritanya sudah ada tadi pagi. Kejadian yang sangat disayangkan, karena kelalaian satu orang banyak nyawa yang harus menjadi taruhannya.”
“Iya, nek. Supirnya mengantuk, jadi kurang konsentrasi saat menyetir,” ucap Dika menanggapi perkataan nenek. Sejak tahun lalu, Dika memang bekerja sebagai dokter di salah satu rumah sakit besar yang ada di Yogyakarta.
“Pagi semua …” sapaku saat sampai di teras rumah. Kulihat Dika sedang duduk di kursi yang memang disediakan di sana. Dia tampak rapi dengan kemeja motif garis-garis perpaduan warna biru muda dan putih, sedangkan untuk bawahannya dia menggunakan celana jins warna biru dongker. Tidak lupa rambut yang selalu disisirnya dengan rapi.
“Pagi …” sapa Dika sambil menoleh ke arahku. “Sudah siap?”
“Bentar, aku pakai sepatu dulu,” kataku sambil mengambil sepatu kets yang ada di rak sepatu. “Nah, sekarang sudah selesai, berangkat yok, Dik, ajakku setelah selesai memakai sepatu.
“Tunggu-tunggu, biar kulihat dulu penampilanmu, biar nggak malu-maluin aku waktu di sana nanti,” candanya seperti biasa.
“Ye… enak aja, emang kita mau kemana? Orang cuma ke acara reuni doang kok,” jawabku sedikit nyolot.
“Hus, tidak baik anak gadis bicara seperti itu Arini, yang sopan sedikit.  Lagi pula, Nak Dika itu lebih tua dari kamu, seharusnya kamu manggilnya dengan sebutan Mas,” tegur nenek yang kembali mengingatkanku dengan tata krama dan sopan santun dalam berbicara. Ya, usia kami memang berbeda 1 tahun, karena saat kecil ibu sengaja mendaftarkaku sekolah di usia yang lebih awal. Katanya waktu kecil aku rewel sekali ingin pergi sekolah, aku sering menangis saat kakakku pergi ke sekolah.
“Ya… ya… nek, lain kali aku manggilnya pakai Mas deh,” ucapku dengan ekspresi malas-malasan. Ucapan yang selalu aku katakan pada nenek, tapi tidak pernah aku laksanakan. ‘Dasar, memang cucu durhaka’ pikirku. “Udah dulu ya nek, kita mau berangkat dulu nih. Nanti keburu siang dan susah nyari parkirnya,” ucapku mendekati nenek dan mencium punggung tangannya. Di belakangku, Dika menyusul mendekati nenek setelah menghabiskan isi cangkirnya.
“Kita berangkat dulu ya, Nek,” pamitnya pada nenek sambil mencium punggung tangan nenek.
“Iya, hati-hati nyetirnya. Apalagi kamu dari rumah sakit langsung ke sini buat jemput Arini.”
“Insya Allah nek, Insya Allah saya akan menjaga Airin, akan saya pastikan dia pulang dalam keadaan selamat,” ucap Dika menenangkan nenek.
“Udah yok, cepetan …” ucapku sedikit berterik karena aku sudah ada di dekat mobil Dika yang terparkir di depan rumah. Mendengar teriakanku, Dika langsung menyelesaikan pembicaraannya dengan nenek dan segera menghampiriku. Setelah membukaan pintu mobil untukku, dia langsung memutari mobil dan menuju kemudi. “Dadah nek …” teriakku dari dalam mobil sambil melambaikan tangan. Masih dapat kulihat nenek membalas dengan melambaikan tangannya saat mobil Dika mulai meninggalkan rumahku.


Bersambung…

#30dwc
#30dwcjilid12
#day6

0 komentar: