Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Sabtu, 24 Maret 2018

SAJADAH USANG (bagian 1)


Perkenalkan namaku Muhammad Adi Nugraha, aku biasa dipanggil Adi. Hari ini adalah hari jumat, dan waktunya aku melakukan sholat jumat sebagai salah satu kewajibaku. Begitu azan berkumandang, aku dan teman-teman langsung menuju masjid yang ada di dekat kantorku.

Setelah sampai di masjid aku langsung mengambil air wudhu. Kulihat Pak Baskoro, direktur di tempatku bekerja melangkah memasuki gedung masjid lengkap dengan peci dan sajadah usangnya. Ah, sajadah itu. Sajadah usang yang selalu membuatku penasaran dengan sejarah nya. Sajadah berwarna merah dengan gambar kahbah yang hampir memudar keseluruhannya. Kain sajadah itupun sudah menipis, rumbai penghias bagian atas dan bawah sajadah juga sudah banyak yang terlepas berhamburan. Pernah aku bertanya kenapa beliau tetap menggunakan sajadah usang nya itu daripada menggunakan sajadah baru yang dapat dengan mudah dibelinya di pasaran. Tapi hanya senyum keteduhan yang aku dapatkan sebagai jawaban.

"Assalammualaikum pak" sapaku sambil menjabat tangan Pak Baskoro.

"Walaikumsalam Wr.Wb" jawab beliau.

Aku dan teman-teman kantor segera megikuti Pak Baskoro agar mendapatkan shaf pertama bersama beliau. Bukan untuk mencari muka supaya segera naik jabatan, tapi bersama beliau kami merasakan perasaan tenang dan nyaman.

Beliau adalah laki-laki bersahaja yang patut menjadi tauladan untuk semua karyawan nya. Bagaimana tidak? Di saat orang lain melupakan kewajiban akhiratnya saat sudah memiliki harta dunia, beliau selalu mengingatkan kami untuk tidak pernah meninggalkan kewajiban sebagai umat Nabi Muhammad SAW. Beliau selalu mendahulukan kepentingan akhirat di atas kepentingan dunia. Hal ini tidak hanya berlaku bagi karyawan muslim saja, tapi karyawan yang beragama lain juga. Beliau sangat menghargai mereka untuk beribadah sesuai agama dan kepercayaan masing-masing, karena ibadah adalah urusan manusia dengan sang pencipta.

Tak selang beberapa lama, suara Imam masjid pun menggema memenuhi ruangan masjid. Pertanda khotbah jumat akan segera dimulai.
Salam di akhir sholat yang dilanjutkan dengan doa penutup dari Imam mengakhiri kegiatan sholat jumat kami. Satu-persatu jamaah mulai meninggalkan masjid untuk melanjutkan aktivitasnya, beberapa teman kantorku pun sudah undur diri untuk memanfaatkan jam istirahat dengan makan siang. Kulihat Pak Baskoro masih duduk bersila melanjutkan doanya.

Aku yang berada di sebelah kanan Pak Baskoro, lagi-lagi memandang sajadah usang yang menjadi alas nya untuk melakukan sholat jumat. Mungkin terlihat tak sopan, tapi aku benar-benar penasaran dengan cerita di balik sajadah usang itu. Pak Baskoro yang memperhatikan tindakan ku hanya tersenyum dan kemudian menepuk ringan pundakku, "masih penasaran ?" tanya nya penuh permakluman.

"Eh, maaf Pak, saya tidak bermaksud" ucapku dengan gugup karena melakukan tindakan yag kurang sopan.

"Tak apa, aku tau kau pemuda dengan keingintahuan yang besar. Itu baik untuk membantumu dalam melakukan pekerjaan" jelasnya sambil merubah posisi duduknya menghadapku.

"Hehe, iya pak. Kadang karena terlalu penasaran saya bisa nggak tidur semalaman, bahkan sampai terbawa mimpi juga pak" jawabku dengan jujur.

"Jadi, masih penasaran dengan sajadah usang saya? " kembali Pak Baskoro bertanya.

"Hanya jika bapak berkenan untuk membagi kisahnya" ijinku pada Pak Baskoro. Sepertinya aku harus memanfaatkan kesempatan ini untuk memenuhi rasa penasaranku atas sajadah usang milik Pak Baskoro.

"Baiklah, sepertinya kali ini aku harus segera menghilangkan rasa penasaranmu itu. Tidak baik kalo kau tidak bisa tidur terus-menerus" canda beliau di sela-sela ucapannya. "Dengarkan cerita ini dengan baik dan ambil hikmahnya Adi" lanjutnya memberiku nasihat.
Dan kisah itu pun mengalir dari bibir Pak Baskoro.

Bersambung... 

#30dwc
#30dwcjilid12
#day2
📷 : www.google.com

0 komentar: