Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Sabtu, 24 Maret 2018

SAJADAH USANG (bagian 2)


"Baiklah, sepertinya kali ini aku harus segera menghilangkan rasa penasaranmu itu. Tidak baik kalo kau tidak bisa tidur terus-terusan" canda beliau di sela-sela ucapannya. "Dengarkan cerita ini dengan baik dan ambil hikmahnya Adi" lanjutnya memberiku nasihat. 
Dan kisah itu pun mengalir dari bibir Pak Baskoro. 
*****
Masih terekam dengan jelas dalam ingatan Baskoro kejadian berpuluh-puluh tahun lalu. Seperti anak-anak lain, diusianya yang mengijak 10 tahun, Baskoro kecil adalah anak yang penuh semangat dan sering menjahili teman-temannya. Baskoro tidak lahir dengan kekayaan di tangannya, ayahnya hanya bekerja sebagai tukang becak, sedangkan ibunya membuka warung kecil-kecilan di depan rumah. Yah, walau hanya berjualan nasi pecel, setidaknya penghasilan yang diperoleh dapat menutupi keperluan harian dapur.

Walau lahir dari keluarga kurang mampu, Baskoro tidak pernah bersedih hati. Dia tumbuh menjadi anak yang pintar dan penuh semangat. Tak jarang dia ikut membantu ibunya menjaga warung sepulang sekolah atau saat tidak ada teman yang diajak bermain. Maklum saja, di daerah tempat tinggalnya, hanya 3 anak yang mengenyam pendidikan sekolah. Sedangkan anak-anak lainnya ikut orang tuanya bekerja sebagai buruh bangunan atau memulung barang-barang bekas dari pagi hingga sore hari.

Di era itu, perekonomian masyarakat sangat sulit. Banyak orang tua yang berfikir lebih baik anak-anak bekerja untuk mengenyangkan perut, daripada mereka pergi sekolah dengan perut lapar. Toh belum tentu kehidupan mereka berubah jika anak-anak itu pergi ke sekolah. Untunya, ayah Baskoro tidak berfikiran seperti itu. Beliau berpendapat jika ingin merubah hidup, anaknya harus bisa sekolah. Tidak harus pintar dengan segudang prestasi, cukup dengan belajar yang baik, tekun, dan rajin saja sudah cukup. Kepintaran dan prestasi hanyalah poin tambahan yang didapatkan dari sekolah. Bagi beliau, tujuan utama dari sekolah adalah mendidik seorang anak menjadi pribadi yang tangguh. Bukan hanya masalah otak, tapi sikap dan sifat, serta kedisiplinan yang baik-lah yang menjadi tujuan utamanya. Oleh karena itu, ayah Baskoro terus berjuang untuk bisa menyekolahkan anaknya.

Masa kecil Baskoro berjalan dengan baik, hingga suatu kejadian merubah semuanya. Siang itu, panas matahari terasa menyengat, tapi tidak membuat Baskoro menjadi malas untuk membantu ibunya di warung. Saat itu warung tidak terlalu ramai, hanya ada 3 pembeli yang langsung makan di tempat yang telah disediakan, sehingga Baskoro bisa bersantai sambil mengerjakan PR. Ibunya sedang mencuci piring-piring kotor di belakang rumah. Tiba-tiba Pak Maman, salah satu teman ayahnya datang menghampirinya dengan tergopoh-gopoh dan tubuh penuh keringat. "Nak, dimana ibumu?" tanyanya pada Baskoro dengan nafas ngos-ngosan.

"Di belakang Paklek, sedang mencuci piring jawab Baskoro. "Ada apa ya?"

"Bapakmu nak, bapakmu ketabrak mobil di pertigaan depan. Sekarang lagi dibawa sama warga ke Rumah Sakit" ujarnya memberitahukan kabar mengejutkan itu.

Bagai petir di siang bolong, kabar itu membuat hati Baskoro tak karuan. Tubuhnya seketika kaku, jantungnya berdetak lebih kecang dari biasanya, otaknya yang pintar tak dapat mencerna dengan baik apa yang sudah dikatakan laki-laki di depannya ini.

Praanngggg........
Terdengar suara piring pecah yang membawa Baskoro kembali ke dunia nyata. Rupanya Ibunya telah selesai mencuci piring dan sekarang sudah berdiri dibelakang tubuh Baskoro. 

"Astagfirullah, ya Allah, ya Allah, Paaakkkk, Bapaakkkkk......" seketika tangisan wanita paruh baya itu pun pecah, air mata mengalir deras dari kedua matanya. Teriakan ketidakpercayaan pun memenuhi ruangan itu. Ibu Baskoro terus menangis sambil memanggil-manggil nama suaminya.

Melihat ibunya yang histeris, Baskoro baru menyadari apa yang sedang terjadi. Langsung saja dia ikut menangis histeris dan memeluk ibunya dengan air mata berderai. Membagi kesedihan yang sama-sama mereka rasakan. Tiba-tiba tubuh Ibu Baskoro menjadi lemah dan jatuh pingsan. Sepertinya tubuh itu tak mampu menerima kesedihan yang sedang dialami sang memilik raga. Melihat tubuh ibunya yang tak berdaya, tangis Baskoro semakin kencang, dipeluknya tubuh itu sambil memanggil-manggil ibunya. 

"Ibu, ibuuuuuu... Paklek, paklek tolong paklek" seru Baskoro meminta pertolongan. Pak Maman yang melihat kejadian itu langsung mendekati Baskoro dan membantunya. Bersama para pembeli yang masih ada di warung, Pak Maman membopong Ibu Baskoro, membawanya ke dalam rumah untuk mendapat pertolongan pertama.

Bersambung... 
#30dwc
#30dwcjilid12
#day3

0 komentar: