“Ini nih, surat kalian dari kapsul waktu. Aku kan kebagian ngasih ke anak-anak di kelas,” ucapnya sambil menunjukkan tumpukan amplop di tangan kanannya. Kulihat di tangan kiri Yanto ada kresek bening berisi tumpukan surat dan barang-barang kecil lainnya hasil dari pembongkaran kapsul waktu. “Ini punya kalian,” ucap Yanto sambil memberikan tumpukan amplop itu.
“Eh,
kok ada 4 ?” tanya Rere yang menerima pemberiah Yanto. Penasaran segera kulihat
amplop di tangan Rere. Benar saja, di sana ada 3 amplop berwarna merah dengan tempelan
berbentung hati sebagai segelnya, dan 1 amplop berwarna coklat muda. Amplop
berwarna merah muda itu sudah pasti milik kami bertiga, karena saat itu kami
memang membelinya bersamaan.
“Nggak tau, itu buat Arini ada 2,” jelasnya.
“Hah?
Ada 2? Kamu nulis surat lagi waktu itu Rin?” tanya Rere penasaran.
“Nggak
tuh, mungkin Arini yang lain kali,” jawabku.
“Bukan,
orang di depan amplopnya jelas-jelas di tulis ‘Untuk Nur Arini kelas 2 IPA 2’
kok,” ucap Yanto membela diri. “Mungkin surat cinta kali. Udah dulu ya, aku
masih banyak kerjaan nih,” lanjutnya berpamitan pada kami.
Setelah
kepergian Yanto, Rere membagikan amplop itu kepadaku dan Asma. Seperti dugaan
kami, 3 surat yang ada di dalam amplop berwarna merah muda adalah surat yang
dulu kami tulis. Surat itu berisikan harapan-harapan kami dimasa mendatang. Aku
yang ingin melanjutkan pendidikan ke luar negeri, Rene yang ingin menjadi guru dan
membuka sekolah gratis untuk anak-anak kurang mampu, dan Asma yang ingin
menjadi seorang psikolog. Dalam surat itu pun kami menuliskan banyak hal yang
telah kami lalui bersama. Kami tertawa saat membacakan surat-surat itu, apalagi
saat melihat lembaran foto yang sengaja kami sertakan dalam surat itu.
Setelah
membaca ketiga surat milik kami secara bergantian, akhirnya tibalah pada surat
beramplop coklat yang tertulis namaku di depannya. Kupandangi surat itu dan
wajah teman-temanku secara bergantian. Aku ragu untuk membacanya.
“Rin,
kalo kamu ragu, kamu bisa membacanya sendirian. Kami tidak masalah, lagipula surat
itu milikmu,” ucap Asma dengan lembut.
“Iya,
aku juga nggak masalah kok. Cuma ya gitu, pokoknya aku nggak boleh ketinggalan
cerita,” ucap Rere meyainkan.
“Bener
nggak apa nih?”
“Beneran,
suer deh,” Rere menaggapi pertanyaanku, tapi aku masih ragu dengan keputusanku.
“Ya
udah, kamu baca dulu deh suratnya biar nggak penasaran. Aku sama Rere jalan
lagi ya,” ucap Asma memberikan solusi.
“Makasih
ya, nanti aku nyusul kalian.”
Setelah
Rere dan Asma pergi aku segera mencari tempat yang cukup sepi untuk membaca
surat itu. Ya, aku penasaran sekali denga isi suratnya. Dulu saat SMA aku
memang pernah mendapatkan surat cinta dari beberapa teman laki-laki. Tapi aku
tidak pernah menanggapinya dengan serius, aku menolah mereka dengan baik-baik. Aku
ingin fokus dengan sekolahku. Lagipula dalam agamaku tidak ada istilah berpacaran.
Jika ini memang surat pernyataan cinta, aku harus mengetahui siapa pengirimnya.
Setidaknya aku harus mengucapkan terimakasih karena pernah menyukaiku bahkan
sampai memendamnya dalam kapsul waktu. Itu tandanya dia menghormati keputusanku
untuk tidak berpacaran, dan jika masih diperlukan aku akan memberikan jawaban akan pernyataan cintanya.
Setelah
berkeliling, akhirnya aku menemukan tempat yang lumanyan sepi. Saat ini aku duduk
di salah satu bangku kosong yang ada di taman, lokasinya lumayan jauh dari
panggung utama. Suasana di sini cukup sepi karena sebagian besar pengunjung sedang
berkumpul di sekitar panggung untuk menikmati kepawaian Amanda dalam bernyanyi.
Kubuka amplop itu, kulihat ada selembar surat di dalamnya. Kertas surat itu
sudah mulai menguning seperti surat milukku, Rere, dan Asma tadi. Tulisan tegak
bersambung dalam surat itu sangat rapi, sedikit memudar karena termakan usia. Perlahan
kubaca tulisan singkat yang ada di sana.
Teruntuk
Nur Arini,
Wanita
yang selama ini kucintai dalam diam
Wanita
yang selalu kujaga dengan segenap jiwa dan ragaku
Wanita
yang namanya selalu kusebut dalam doa-doaku
Wanita
yang selalu menjadi cahaya hatiku
Akhirnya,
setelah sekian lama, surat ini sampai juga di tanganmu
Taukah
engaku, dari sekian banyak pertanyaan yang ada di dunia
Hanya
satu pertanyaanku padamu
Maukah
engkau menemaniku disisa usia yang Tuhan berikan padaku ?
Dari
laki-laki yang selalu mencintaimu,
Andika
Pratama Putra
Entah
apa yang kurasakan setelah membaca tulisan itu. Berbagai perasaan membuncah memenuhi
ruang sempit di hatiku, terasa ingin meledak mengeluarkan semua isinya. Kupandangi
nama yang tertera dalam tulisan itu. Sepertinya waktu berhenti menjalankan
tugasnya. Rasanya sangat sepi dan sunyi, tidak kudengar gemuruh sorak-sorai
pengunjung di dekat panggung. Memberikanku ruang untuk mencerna setiap kata
yang tertulis dalam lembar surat itu.
“Jadi,
bisakah aku mendapatkan jawabannya sekarang?”
Sebuah
suara akhirnya membawaku kembali ke dunia nyata. Kualihkan pandaganku dari
surat yang sedang kupegang, kulihat Dika sudah berdiri menjulang di hadpanku.
Kuperhatikan wajahnya dengan seksama. Wajah yang terkadang muncul dalam mimpi-mimpi
malamku. Mimpi yang kudapatkan setelah mengadu kepada Sang Maha Pencipta. Mempertanyakan
ketetapan pemilik hati ini, dan kini aku tau jawabannya. Seulas senyum dariku
pun menjawab pertanyaan dalam surat itu.
Selesai
#30dwc
#30dwcjilid12
#day9








0 komentar:
Posting Komentar