Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Kamis, 29 Maret 2018

KAPSUL WAKTU (bagian 4 - selesai)



“Ini nih, surat kalian dari kapsul waktu. Aku kan kebagian ngasih ke anak-anak di kelas,” ucapnya sambil menunjukkan tumpukan amplop di tangan kanannya. Kulihat di tangan kiri Yanto ada kresek bening berisi tumpukan surat dan barang-barang kecil lainnya hasil dari pembongkaran kapsul waktu. “Ini punya kalian,” ucap Yanto sambil memberikan tumpukan amplop itu.

“Eh, kok ada 4 ?” tanya Rere yang menerima pemberiah Yanto. Penasaran segera kulihat amplop di tangan Rere. Benar saja, di sana ada 3 amplop berwarna merah dengan tempelan berbentung hati sebagai segelnya, dan 1 amplop berwarna coklat muda. Amplop berwarna merah muda itu sudah pasti milik kami bertiga, karena saat itu kami memang membelinya bersamaan.
 “Nggak tau, itu buat Arini ada 2,” jelasnya.
“Hah? Ada 2? Kamu nulis surat lagi waktu itu Rin?” tanya Rere penasaran.
“Nggak tuh, mungkin Arini yang lain kali,” jawabku.
“Bukan, orang di depan amplopnya jelas-jelas di tulis ‘Untuk Nur Arini kelas 2 IPA 2’ kok,” ucap Yanto membela diri. “Mungkin surat cinta kali. Udah dulu ya, aku masih banyak kerjaan nih,” lanjutnya berpamitan pada kami.
Setelah kepergian Yanto, Rere membagikan amplop itu kepadaku dan Asma. Seperti dugaan kami, 3 surat yang ada di dalam amplop berwarna merah muda adalah surat yang dulu kami tulis. Surat itu berisikan harapan-harapan kami dimasa mendatang. Aku yang ingin melanjutkan pendidikan ke luar negeri, Rene yang ingin menjadi guru dan membuka sekolah gratis untuk anak-anak kurang mampu, dan Asma yang ingin menjadi seorang psikolog. Dalam surat itu pun kami menuliskan banyak hal yang telah kami lalui bersama. Kami tertawa saat membacakan surat-surat itu, apalagi saat melihat lembaran foto yang sengaja kami sertakan dalam surat itu.
Setelah membaca ketiga surat milik kami secara bergantian, akhirnya tibalah pada surat beramplop coklat yang tertulis namaku di depannya. Kupandangi surat itu dan wajah teman-temanku secara bergantian. Aku ragu untuk membacanya.
“Rin, kalo kamu ragu, kamu bisa membacanya sendirian. Kami tidak masalah, lagipula surat itu milikmu,” ucap Asma dengan lembut.
“Iya, aku juga nggak masalah kok. Cuma ya gitu, pokoknya aku nggak boleh ketinggalan cerita,” ucap Rere meyainkan.
“Bener nggak apa nih?”
“Beneran, suer deh,” Rere menaggapi pertanyaanku, tapi aku masih ragu dengan keputusanku.
“Ya udah, kamu baca dulu deh suratnya biar nggak penasaran. Aku sama Rere jalan lagi ya,” ucap Asma memberikan solusi.
“Makasih ya, nanti aku nyusul kalian.”
Setelah Rere dan Asma pergi aku segera mencari tempat yang cukup sepi untuk membaca surat itu. Ya, aku penasaran sekali denga isi suratnya. Dulu saat SMA aku memang pernah mendapatkan surat cinta dari beberapa teman laki-laki. Tapi aku tidak pernah menanggapinya dengan serius, aku menolah mereka dengan baik-baik. Aku ingin fokus dengan sekolahku. Lagipula dalam agamaku tidak ada istilah berpacaran. Jika ini memang surat pernyataan cinta, aku harus mengetahui siapa pengirimnya. Setidaknya aku harus mengucapkan terimakasih karena pernah menyukaiku bahkan sampai memendamnya dalam kapsul waktu. Itu tandanya dia menghormati keputusanku untuk tidak berpacaran, dan jika masih diperlukan  aku akan memberikan  jawaban akan pernyataan cintanya.
Setelah berkeliling, akhirnya aku menemukan tempat yang lumanyan sepi. Saat ini aku duduk di salah satu bangku kosong yang ada di taman, lokasinya lumayan jauh dari panggung utama. Suasana di sini cukup sepi karena sebagian besar pengunjung sedang berkumpul di sekitar panggung untuk menikmati kepawaian Amanda dalam bernyanyi. Kubuka amplop itu, kulihat ada selembar surat di dalamnya. Kertas surat itu sudah mulai menguning seperti surat milukku, Rere, dan Asma tadi. Tulisan tegak bersambung dalam surat itu sangat rapi, sedikit memudar karena termakan usia. Perlahan kubaca tulisan singkat yang ada di sana.

Teruntuk  Nur Arini,

Wanita yang selama ini kucintai dalam diam
Wanita yang selalu kujaga dengan segenap jiwa dan ragaku
Wanita yang namanya selalu kusebut dalam doa-doaku
Wanita yang selalu menjadi cahaya hatiku

Akhirnya, setelah sekian lama, surat ini sampai juga di tanganmu
Taukah engaku, dari sekian banyak pertanyaan yang ada di dunia
Hanya satu pertanyaanku padamu
Maukah engkau menemaniku disisa usia yang Tuhan berikan padaku ?

Dari laki-laki yang selalu mencintaimu,
Andika Pratama Putra

Entah apa yang kurasakan setelah membaca tulisan itu. Berbagai perasaan membuncah memenuhi ruang sempit di hatiku, terasa ingin meledak mengeluarkan semua isinya. Kupandangi nama yang tertera dalam tulisan itu. Sepertinya waktu berhenti menjalankan tugasnya. Rasanya sangat sepi dan sunyi, tidak kudengar gemuruh sorak-sorai pengunjung di dekat panggung. Memberikanku ruang untuk mencerna setiap kata yang tertulis dalam lembar surat itu.
“Jadi, bisakah aku mendapatkan jawabannya sekarang?”
Sebuah suara akhirnya membawaku kembali ke dunia nyata. Kualihkan pandaganku dari surat yang sedang kupegang, kulihat Dika sudah berdiri menjulang di hadpanku. Kuperhatikan wajahnya dengan seksama. Wajah yang terkadang muncul dalam mimpi-mimpi malamku. Mimpi yang kudapatkan setelah mengadu kepada Sang Maha Pencipta. Mempertanyakan ketetapan pemilik hati ini, dan kini aku tau jawabannya. Seulas senyum dariku pun menjawab pertanyaan dalam surat itu.

Selesai

#30dwc
#30dwcjilid12
#day9

0 komentar: