Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Kamis, 29 Maret 2018

KAPSUL WAKTU (bagian 3)



Saat aku dan teman-teman saling mengobrol, tiba-tiba terdengar suara pemberitahuan bahwa acara akan segera dimulai. Aku dan teman-temanku langsung mendekat ke panggung untuk mengikuti rangkaian acara. Kulihat Dika bersama dengan teman-teman kelasnya ada di sisi lain panggung. Tak apalah, aku tau dia pasti ingin melepas rindu dengan teman-temannya juga. Tapi, saat kulihat Dika sedang mengobrol dengan Amanda, entah kenapa sebuah perasaan tidak suka yang sangat besar muncul dalam hatiku.
“Cie … ada yang cemburu nih,” goda Rere yang melihat tatapan ketidaksukaan di wajahku.
“Apaan sih, nggak kok. Orang cuma ngeliatin doang.”
“Hati-hati lho, nanti Pak Dokter kecantol sama penyanyi itu.”
“Uda ah, Re,” ucapku menutup pembicaraan kami. Kembali mataku melihat ke arah Dika dan teman-temannya. Tiba-tiba pandanganku dan Dika saling bertemu, kulihat dia mengucapkan sesuatu. “Bagaimana? senang?” tanyanya tanpa suara. Aku hanya menganggukan kepala dan tersenyum lebar, menunjukkan bahwa aku sangat menikmati acara hari ini.
Acara pun dimulai dengan pertunjukan tari dari siswa yang mengikuti ekstrakulikuler  tari, kemudian dilanjutkan dengan sambutan-sabutan. Setelah sambutan dari ketua panitia, akhirnya acara yang ditunggu-tunggu pun tiba, yaitu penggalian kapsul waktu. Kulihat kepala sekolah memotong sebuah pita dan mengawali penggalian lokasi penguburan kapsul waktu sebagai simbol pembukaan acara. Setelah itu, beberapa panitia yang terdiri dari murid laki-laki dan pegawai sekolah mulai menggali tanah di bawah deretan pohon asoka. Dulu, pohon asoka itu  sengaja ditanam sebagai penanda lokasi penguburan kapsul waktu. Sambil menunggu proses penggalian yang memakan waktu cukup lama, beberapa orang melanjutkan acara mengobrolnya sambil mencicipi hidangan yang telah disediakan.
Setelah kurang lebih 20 menit, akhirnya sebuah wadah berbentuk kapsul dengan diameter setengah meter pun terlihat. Semua orang memberikan tepuk tangan saat kapsul waktu berhasil diangkat ke permukaan. Kapsul waktu itu langsung diletakkan di atas panggung. Kudengar, setelah kapsul waktu dibuka, barang-barang yang ada di dalamnya akan diberikan kembali kepada pemiliknya. Barang-barang yang pemiliknya tidak datang di acara ini akan dipajang di spot yang telah disediakan oleh panitia. Tentu saja pemilik dari barang-barang yang ada di kapsul waktu itu hanyalah siswa dari 3 angkatan saat kapsul waktu dikubur. Karena itu, panitia acara kali ini memiliki perwakilan koordinator dari masing-masing angkatan.
Kapsul waktu langusung dibersihkan dan dibuka, beberapa barang siswa yang telah dipisahkan dalam 3 kantong langsung diserahkan oleh panitia kepada koordinator angkatan. Setelah ini, tugas koordinatorlah yang akan membagikan barang-barang tersebut kepada sang pemiliki selama acara berlangsung.
Acara dilanjutkan dengan penampilan dari pengisi acara seperti band sekolah, band dari perkumpulan alumni, modern dance, dan acara hiburan lain. Tidak lupa di akhir acara akan ada penampilan dari Amanda sebagai bintang tamu dalam acara ini. Sembari menikmati pertunjukan, kami dapat berkeliling melihat beberapa stand kreasi yang ada disekitar halaman sekolah. Ada stand yang memasang foto-foto kegiatan sekolah dari angkatan pertama hingga angkatan terbaru, ada juga stand yang menampilkan film dokumenter sekolah, dan stand menarik lainnya.
Aku, Rere, dan Asma melanjutkan perbincangan kami yang sempat tertunda sambil menikmati hidangan ringan yang disediakan. Andika, suami Asma juga ikut bergabung bersama kami mendampingi Asma. Beberapa teman juga sesekali bergabung untuk saling bertukar kabar. Kami bahkan sempat mengunjungi ruang kelas yang dulu kami tempati. Tidak lupa kami bengabadikan moment bahagia dengan berfoto. Banyak kenangan yang kami ingat kembali saat melihat album angkatan di salah satu di stand. Saat sedang asik membuka-buka album foto, tiba-tiba seseorang menepuk punggung Rere.
“Rere, Arini, Asma, kalian kucari dari tadi ternyata ada di sini.” Itu Yanto, ketua kelas kami di kelas 2.
“Ada apa To?” tanya Rere.
“To, To, emangnya Toto,” sungut Yanto tidak terima dipanggil dengan sebutan ‘To’ oleh Rere.
“Lha, emang nama kamu Yanto kok. Jadi dipanggilnya ya ‘To’. Kalo dipanggilnya ‘Yan’, yang ada kita dikira lagi sayang-sayangan. Ogah aku sayang-sayangan sama kamu.”
“Aduuuhhh, nih anak nggak berubah deh dari dulu. Ngajak berantem melulu kalo ketemu.”
“Yee … siapa juga yang ngajak kamu berantem. Kamu aja tuh yang ke-GR-an.”
“Astaga Tuhaaaannn, nggak bisa ya itu mulut direm dikit. Sekali-kali kayak Asma yang cantik, pendiam, dan berhati lembut gitu lho,” ucap Yanti sambil tebar pesona ke arah Asma.
“Heh, itu mata dikondisikan. Udah ada yang nyegel tuh,” tunjuk Rere pada laki-laki yang duduk disebelah Asma.
“Lho, udah nikah toh? Yang disebelahnya itu suaminya? Aku kira tadi sodaranya,. Maaf ya Mas,” ucap Yanto salah tingkah mengetahui status Asma. “Kok kamu nggak ngasih tau aku dari awal sih Re?” lanjutnya menyalahkan Rere. Mendengar itu, Rere hanya memutar bola mata jenggah. Sedangkan Asma dan suaminya yang melihat interaksi antara dua orang di depannya hanya menanggapi dengan tersenyum maklum.
“Memangnya ada apa Yanto?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.
“Ini nih, surat kalian dari kapsul waktu. Aku kan kebagian ngasih ke anak-anak di kelas,” ucapnya sambil menunjukkan tumpukan amplop di tangan kanannya. Kulihat di tangan kiri Yanto ada kresek bening berisi tumpukan surat dan barang-barang kecil lainnya hasil dari pembongkaran kapsul waktu. “Ini punya kalian,” ucap Yanto sambil memberikan tumpukan amplop itu.

Bersambung…

#30dwc
#30dwcjilid12
#day8
Picture : www.google.com

0 komentar: