Saat
aku dan teman-teman saling mengobrol, tiba-tiba terdengar suara pemberitahuan
bahwa acara akan segera dimulai. Aku dan teman-temanku langsung mendekat ke
panggung untuk mengikuti rangkaian acara. Kulihat Dika bersama dengan
teman-teman kelasnya ada di sisi lain panggung. Tak apalah, aku tau dia pasti
ingin melepas rindu dengan teman-temannya juga. Tapi, saat kulihat Dika sedang
mengobrol dengan Amanda, entah kenapa sebuah perasaan tidak suka yang sangat
besar muncul dalam hatiku.
“Cie
… ada yang cemburu nih,” goda Rere yang melihat tatapan ketidaksukaan di
wajahku.
“Apaan
sih, nggak kok. Orang cuma ngeliatin doang.”
“Hati-hati
lho, nanti Pak Dokter kecantol sama penyanyi itu.”
“Uda
ah, Re,” ucapku menutup pembicaraan kami. Kembali mataku melihat ke arah Dika
dan teman-temannya. Tiba-tiba pandanganku dan Dika saling bertemu, kulihat dia
mengucapkan sesuatu. “Bagaimana? senang?” tanyanya tanpa suara. Aku hanya
menganggukan kepala dan tersenyum lebar, menunjukkan bahwa aku sangat menikmati
acara hari ini.
Acara
pun dimulai dengan pertunjukan tari dari siswa yang mengikuti
ekstrakulikuler tari, kemudian dilanjutkan
dengan sambutan-sabutan. Setelah sambutan dari ketua panitia, akhirnya acara
yang ditunggu-tunggu pun tiba, yaitu penggalian kapsul waktu. Kulihat kepala
sekolah memotong sebuah pita dan mengawali penggalian lokasi penguburan kapsul
waktu sebagai simbol pembukaan acara. Setelah itu, beberapa panitia yang
terdiri dari murid laki-laki dan pegawai sekolah mulai menggali tanah di bawah
deretan pohon asoka. Dulu, pohon asoka itu sengaja ditanam sebagai penanda lokasi penguburan
kapsul waktu. Sambil menunggu proses penggalian yang memakan waktu cukup lama,
beberapa orang melanjutkan acara mengobrolnya sambil mencicipi hidangan yang
telah disediakan.
Setelah
kurang lebih 20 menit, akhirnya sebuah wadah berbentuk kapsul dengan diameter
setengah meter pun terlihat. Semua orang memberikan tepuk tangan saat kapsul
waktu berhasil diangkat ke permukaan. Kapsul waktu itu langsung diletakkan di atas
panggung. Kudengar, setelah kapsul waktu dibuka, barang-barang yang ada di
dalamnya akan diberikan kembali kepada pemiliknya. Barang-barang yang
pemiliknya tidak datang di acara ini akan dipajang di spot yang telah disediakan oleh panitia. Tentu saja pemilik dari
barang-barang yang ada di kapsul waktu itu hanyalah siswa dari 3 angkatan saat
kapsul waktu dikubur. Karena itu, panitia acara kali ini memiliki perwakilan koordinator
dari masing-masing angkatan.
Kapsul
waktu langusung dibersihkan dan dibuka, beberapa barang siswa yang telah
dipisahkan dalam 3 kantong langsung diserahkan oleh panitia kepada koordinator angkatan.
Setelah ini, tugas koordinatorlah yang akan membagikan barang-barang tersebut
kepada sang pemiliki selama acara berlangsung.
Acara
dilanjutkan dengan penampilan dari pengisi acara seperti band sekolah, band dari
perkumpulan alumni, modern dance, dan
acara hiburan lain. Tidak lupa di akhir acara akan ada penampilan dari Amanda sebagai
bintang tamu dalam acara ini. Sembari menikmati pertunjukan, kami dapat berkeliling
melihat beberapa stand kreasi yang
ada disekitar halaman sekolah. Ada stand
yang memasang foto-foto kegiatan sekolah dari angkatan pertama hingga angkatan terbaru,
ada juga stand yang menampilkan film
dokumenter sekolah, dan stand menarik
lainnya.
Aku,
Rere, dan Asma melanjutkan perbincangan kami yang sempat tertunda sambil
menikmati hidangan ringan yang disediakan. Andika, suami Asma juga ikut
bergabung bersama kami mendampingi Asma. Beberapa teman juga sesekali bergabung
untuk saling bertukar kabar. Kami bahkan sempat mengunjungi ruang kelas yang
dulu kami tempati. Tidak lupa kami bengabadikan moment bahagia dengan berfoto. Banyak kenangan yang kami ingat
kembali saat melihat album angkatan di salah satu di stand. Saat sedang asik membuka-buka album foto, tiba-tiba
seseorang menepuk punggung Rere.
“Rere,
Arini, Asma, kalian kucari dari tadi ternyata ada di sini.” Itu Yanto, ketua kelas
kami di kelas 2.
“Ada
apa To?” tanya Rere.
“To,
To, emangnya Toto,” sungut Yanto tidak terima dipanggil dengan sebutan ‘To’
oleh Rere.
“Lha,
emang nama kamu Yanto kok. Jadi dipanggilnya ya ‘To’. Kalo dipanggilnya ‘Yan’,
yang ada kita dikira lagi sayang-sayangan. Ogah aku sayang-sayangan sama kamu.”
“Aduuuhhh,
nih anak nggak berubah deh dari dulu. Ngajak berantem melulu kalo ketemu.”
“Yee
… siapa juga yang ngajak kamu berantem. Kamu aja tuh yang ke-GR-an.”
“Astaga
Tuhaaaannn, nggak bisa ya itu mulut direm dikit. Sekali-kali kayak Asma yang
cantik, pendiam, dan berhati lembut gitu lho,” ucap Yanti sambil tebar pesona
ke arah Asma.
“Heh,
itu mata dikondisikan. Udah ada yang nyegel tuh,” tunjuk Rere pada laki-laki
yang duduk disebelah Asma.
“Lho,
udah nikah toh? Yang disebelahnya itu suaminya? Aku kira tadi sodaranya,. Maaf
ya Mas,” ucap Yanto salah tingkah mengetahui status Asma. “Kok kamu nggak
ngasih tau aku dari awal sih Re?” lanjutnya menyalahkan Rere. Mendengar itu,
Rere hanya memutar bola mata jenggah. Sedangkan Asma dan suaminya yang melihat
interaksi antara dua orang di depannya hanya menanggapi dengan tersenyum
maklum.
“Memangnya
ada apa Yanto?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.
“Ini
nih, surat kalian dari kapsul waktu. Aku kan kebagian ngasih ke anak-anak di
kelas,” ucapnya sambil menunjukkan tumpukan amplop di tangan kanannya. Kulihat
di tangan kiri Yanto ada kresek bening berisi tumpukan surat dan barang-barang
kecil lainnya hasil dari pembongkaran kapsul waktu. “Ini punya kalian,” ucap
Yanto sambil memberikan tumpukan amplop itu.
Bersambung…
#30dwc
#30dwcjilid12
#day8
Picture : www.google.com
Picture : www.google.com








0 komentar:
Posting Komentar