Setelah
melakukan perjalanan sekitar 30 menit, akhirnya kami sampai di sekolah. Saat
memasuki gerbang sekolah, kulihat suasana sekolah sudah ramai. Beberapa teman
yang kukenal sudah berdatangan dan saling mengobrol. Sepertinya tidak hanya
teman-temanku semasa SMA yang menghadiri acara ini, beberapa wartawan dan
reporter televisi juga mulai memenuhi halaman sekolah. Maklum saja, salah satu
lulusan di angkatanku adalah penyanyi yang sedang naik daun. Kudengar dia menjadi
juara salah satu event menyanyi yang
diadakan stasiun TV ibu kota. Kalo tidak salah namanya Amanda, teman kelas Dika
di IPA 1. Entahlah, aku juga tidak terlalu mengenalnya dengan baik. Dulu aku
hanya sekedar bertegur sapa atau berbicara singkat dengannya untuk menjaga
kesopanan. Kudengar dia pernah naksir Dika dan merasa cemburu dengan kedekatan
kami. Apalagi Dika pernah menolak cintanya.
Sesampainya
di dalam sekolah, Dika langsung memarkir mobil di tempat yang telah disediakan.
Kulihat tempat parkir sudah mulai penuh dengan kendaraan dari para pengunjung. Sepertinya
hari ini akan sangat ramai. Tentu saja, karena ini bukan reuni biasa, melainkan
reuni akbar dari angkatna 1 hingga angkatan baru SMA kani. Reuni yang diadakan
untuk merayakan ulang tahun sekolah yang ke-50 tahun. Selain itu, juga ada acara
pembukaan kapsul waktu yang telah di kubur 8 tahun silam. Saat itu aku masih
duduk di kelas 2 SMA.
Sebenarnya ide tentang kapsul waktu ini
digagas oleh panitia penyelenggara HUT dari angkatanku. Saat itu, panitia
memang berharap pembukaan kapsul waktu akan menjadi salah satu rangkaian acara
untuk merayakan ulang tahun emas sekolah kami. Benar-benar ide yang menarik.
Masih
kuingat bagaimana antusiasnya aku dan teman-teman menyambut kegiatan itu. Untuk
memeriahkan acara, saat itu panitia mengijinkan para siswa memberikan
barang-barangnya untuk dikubur bersama kapsul waktu. Tentu saja barang-barang
dengan ukuran kecil yang muat dimasukkan ke dalam tempat berbentuk kapsul yang
telah disediakan oleh panitia. Banyak dari temanku yang menitipkan surat, baik
itu surat cinta atau surat untuk dirinya di masa depan. Selain surat, ada juga
yang meletakkan barang seperti boneka kecil, komik edisi terbatas, buku diari,
dan lain sebagainya.
Setelah
memarkirkan mobil, Aku dan Dika langsung menuju halaman belakang sekolah,
tempat dilangsungkannya acara. Di tengah perjalanan, aku dan Dika berpisah.
Dika bertemu dengan beberapa temannya dan terlibat pembicaraan seru. Setelah
berbasa-basi sebentar dengan teman-teman Dika, aku melanjutkan perjanananku. Sesekali
aku melihat-lihat lingkungan sekolah yang tidak banyak berubah. Lokasi halaman,
lapangan, dan beberapa gedung masih sama, hanya ada penambahan gedung baru di
area yang dulu dijadikan tempat parkir. Sekarang lokasi parkir dipindah ke
tanah kosong di belakang sekolah. Sesampainya di halaman belakang, kulihat ada beberapa
teman kelas yang kukenal. Diantaranya ada Rere dan Asma, sahabat dekatku.
Segera kupercepat langkah kakiku untuk menemui mereka.
“Rere
…, Asma …,” panggilku setengah berteriak pada mereka. Astaga, aku sangat merindukan mereka. Kulihat mereka
mencari-cari siapa yang memanggil nama mereka di antara kerumunan orang. Saat
menemukanku, dapat kulihat raut keterkejutan di wajah mereka. Tapi hanya
sebentar, karena saat sadar yang memanggil mereka adalah aku, kegembiraan
langsung memenuhi wajah mereka.
“Ya
Allah, Arini …” sambut Rere dengan suara cemprengnya. Kami langsung berpelukan melepas
rindu, tentu saja dengan tawa berisik yang kami timbulkan. Pertemuan khas
wanita.
“Ya
Allah Rin, nggak nyangka kalo kamu juga datang. Aku kira kamu udah nggak balik
ke Indonesia lagi Rin,” ucap Asma memulai sesi obrolan kami.
“Mana
mungkin? Rugi banget lah kalo aku nggak datang. Aku tuh kangen sama
kalian-kalian tau…” jawabku dengan semangat.
“Ye,
kangen kita atau cowok kelas sebelah?” goda Rere dengan jahilnya.
“Siapa?
Dika? Yang ampuuunnn, masih aja kamu mikir aku pacaran sama Dika Re. Enggak
berubah deh kamu ini.”
“Iya,
dia memang nggak berubah Rin. Masih cempreng kayak dulu,” Asma mendukung
ucapanku.
“Eh,
gini-gini aku ini guru lho. Aku yang mendidik calon putra-putri bangsa ini,”
pamer Rere dengan profesi barunya.
“Oh
ya? muridmu nggak lari dengar suara kamu Re?” candaku.
“Nggak
lari Rin, soalnya sebelum aku ngomong udah pada ijin nggak masuk pelajaran
dulu, ha … ha … ha ….”
“Ha
… ha … ha …, ya ampuuunnn … masih kocak aja nih anak, bener-bener nggak
berubah.”
“Berubah?
Emangnya Power Ranger?”
“Ha
… ha … ha …. BTW, kamu ke sini sama siapa?” tanya Asma mengganti topik pembicaraan.
“Sama
Dika lah, nggak mungkin aku di kasih keluar sama nenek kakek kalo nggak sama
Dika,” curhatku kepada Rere dan Asma, curhatan yang masih tidak berubah sejak
SMA.
“Cie,
cie … kayaknya bakal ada yang nyusul Asma nih ke pelaminan,” goda Rere lagi.
“Apaan
sih, tuh kan mulai lagi deh,” balasku dengan sedikit cemberut.
“Nggak
papa kali Rin, sama Pak Dokter juga kan. Pasti dijamin deh kesehatan jiwa dan
hatimu. Apalagi kesehatan kantong mu Rin, dijamin uang belanja nggak akan
kurang deh.”
“Iiiihhh
… emang aku cewek apaan. Oh iya, kamu udah nikah As? Kok aku nggak
diundang-undang sih?”
“Telat banget sih Rin, udah ada dedek bayinya
lagi nih di perut,” ucap Rere sambil mengelus perut Asma. “Lagian mau ngasih
undangan gimana, kamu kan di Amerika sono. Rugi bandar kalo Asma harus ngirim
undangan sama tiket pesawat buat kamu,” lanjutnya dengan kelakuan khas nya.
Sedangnya Asma hanya menanggapi ucapan Rere dengan senyuman lembut.
Sifat
Rere dan Asma memang berbanding 180 derajat. Asma memiliki sifat yang pendiam,
kalem, dan lemah lembut. Sedangkan Rere lebih cenderung banyak bicara dan rame dengan
suara cemprengnya. Dia selalu menjadi penggembira dalam pertemanan kami. Aku
sendiri lebih ke arah netral, diam dan tenang saat situasi serius, dan banyak
bicara saat suasana santai.
“Alhamdulillah
sudah Rin, 6 bulan yang lalu. Sekarang lagi hamil, sudah jalan 8 minggu. Doakan
sehat terus ya,” ucap Asma dengan lembut.
Obrolan
kami pun berlanjut dengan saling menanyakan kabar satu sama lain. Tentu saja
dengan diselingi canda-tawa untuk meramaikan suasana. Selain mengobrol bertiga,
kami juga menyempatkan diri mengobrol dengan teman-teman lainnya. Ternyata
banyak hal yang telah terjadi selama beberapa tahun ini. Dari mereka, aku
mendengar banyak kabar bahagia dan duka dari teman-teman kami. Si A yang sudah
menikah, si B yang putus dengan laki-laki yang sudah dipacarinya selama
bertahun-tahun, si C yang sudah mempunya anak, dan lain sebagainya. Tidak lupa
kami juga bernostalgia mengenang masa-masa SMA yang penuh suka cita. Masa
perkembangan anak manusia yang penuh dengan sifat ababil dan ingin mencoba-coba.
Masa-masa yang oleh sebagian besar orang dikenang sebagai masa-masa paling
indah dalam hidupnya. Tapi begituh kehidupan, kita tidak dapat hanya berjalan
di tempat saja, ada mas kita harus meninggalkan zona nyaman untuk memulai babak
baru dalam kehidupanta. Dan masa-masa itu hanya akan menjadi kenangan yang akan
kita bicarakan dengan seru saat berjumpa dengan teman-teman seperti saat ini.
Bersambung…
#30dwc
#30dwcjilid12
#day7







0 komentar:
Posting Komentar