Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Selasa, 27 Maret 2018

KAPSUL WAKTU (bagian 2)

Setelah melakukan perjalanan sekitar 30 menit, akhirnya kami sampai di sekolah. Saat memasuki gerbang sekolah, kulihat suasana sekolah sudah ramai. Beberapa teman yang kukenal sudah berdatangan dan saling mengobrol. Sepertinya tidak hanya teman-temanku semasa SMA yang menghadiri acara ini, beberapa wartawan dan reporter televisi juga mulai memenuhi halaman sekolah. Maklum saja, salah satu lulusan di angkatanku adalah penyanyi yang sedang naik daun. Kudengar dia menjadi juara salah satu event menyanyi yang diadakan stasiun TV ibu kota. Kalo tidak salah namanya Amanda, teman kelas Dika di IPA 1. Entahlah, aku juga tidak terlalu mengenalnya dengan baik. Dulu aku hanya sekedar bertegur sapa atau berbicara singkat dengannya untuk menjaga kesopanan. Kudengar dia pernah naksir Dika dan merasa cemburu dengan kedekatan kami. Apalagi Dika pernah menolak cintanya.
Sesampainya di dalam sekolah, Dika langsung memarkir mobil di tempat yang telah disediakan. Kulihat tempat parkir sudah mulai penuh dengan kendaraan dari para pengunjung. Sepertinya hari ini akan sangat ramai. Tentu saja, karena ini bukan reuni biasa, melainkan reuni akbar dari angkatna 1 hingga angkatan baru SMA kani. Reuni yang diadakan untuk merayakan ulang tahun sekolah yang ke-50 tahun. Selain itu, juga ada acara pembukaan kapsul waktu yang telah di kubur 8 tahun silam. Saat itu aku masih duduk di kelas 2 SMA.
 Sebenarnya ide tentang kapsul waktu ini digagas oleh panitia penyelenggara HUT dari angkatanku. Saat itu, panitia memang berharap pembukaan kapsul waktu akan menjadi salah satu rangkaian acara untuk merayakan ulang tahun emas sekolah kami. Benar-benar ide yang menarik.
Masih kuingat bagaimana antusiasnya aku dan teman-teman menyambut kegiatan itu. Untuk memeriahkan acara, saat itu panitia mengijinkan para siswa memberikan barang-barangnya untuk dikubur bersama kapsul waktu. Tentu saja barang-barang dengan ukuran kecil yang muat dimasukkan ke dalam tempat berbentuk kapsul yang telah disediakan oleh panitia. Banyak dari temanku yang menitipkan surat, baik itu surat cinta atau surat untuk dirinya di masa depan. Selain surat, ada juga yang meletakkan barang seperti boneka kecil, komik edisi terbatas, buku diari, dan lain sebagainya.
Setelah memarkirkan mobil, Aku dan Dika langsung menuju halaman belakang sekolah, tempat dilangsungkannya acara. Di tengah perjalanan, aku dan Dika berpisah. Dika bertemu dengan beberapa temannya dan terlibat pembicaraan seru. Setelah berbasa-basi sebentar dengan teman-teman Dika, aku melanjutkan perjanananku. Sesekali aku melihat-lihat lingkungan sekolah yang tidak banyak berubah. Lokasi halaman, lapangan, dan beberapa gedung masih sama, hanya ada penambahan gedung baru di area yang dulu dijadikan tempat parkir. Sekarang lokasi parkir dipindah ke tanah kosong di belakang sekolah. Sesampainya di halaman belakang, kulihat ada beberapa teman kelas yang kukenal. Diantaranya ada Rere dan Asma, sahabat dekatku. Segera kupercepat langkah kakiku untuk menemui mereka.
“Rere …, Asma …,” panggilku setengah berteriak pada mereka. Astaga, aku  sangat merindukan mereka. Kulihat mereka mencari-cari siapa yang memanggil nama mereka di antara kerumunan orang. Saat menemukanku, dapat kulihat raut keterkejutan di wajah mereka. Tapi hanya sebentar, karena saat sadar yang memanggil mereka adalah aku, kegembiraan langsung memenuhi wajah mereka.
“Ya Allah, Arini …” sambut Rere dengan suara cemprengnya. Kami langsung berpelukan melepas rindu, tentu saja dengan tawa berisik yang kami timbulkan. Pertemuan khas wanita.
“Ya Allah Rin, nggak nyangka kalo kamu juga datang. Aku kira kamu udah nggak balik ke Indonesia lagi Rin,” ucap Asma memulai sesi obrolan kami.
“Mana mungkin? Rugi banget lah kalo aku nggak datang. Aku tuh kangen sama kalian-kalian tau…” jawabku dengan semangat.
“Ye, kangen kita atau cowok kelas sebelah?” goda Rere dengan jahilnya.
“Siapa? Dika? Yang ampuuunnn, masih aja kamu mikir aku pacaran sama Dika Re. Enggak berubah deh kamu ini.”
“Iya, dia memang nggak berubah Rin. Masih cempreng kayak dulu,” Asma mendukung ucapanku.
“Eh, gini-gini aku ini guru lho. Aku yang mendidik calon putra-putri bangsa ini,” pamer Rere dengan profesi barunya.
“Oh ya? muridmu nggak lari dengar suara kamu Re?” candaku.
“Nggak lari Rin, soalnya sebelum aku ngomong udah pada ijin nggak masuk pelajaran dulu, ha … ha … ha ….”
“Ha … ha … ha …, ya ampuuunnn … masih kocak aja nih anak, bener-bener nggak berubah.”
“Berubah? Emangnya Power Ranger?”
“Ha … ha … ha …. BTW, kamu ke sini sama siapa?” tanya Asma mengganti topik pembicaraan.
“Sama Dika lah, nggak mungkin aku di kasih keluar sama nenek kakek kalo nggak sama Dika,” curhatku kepada Rere dan Asma, curhatan yang masih tidak berubah sejak SMA.
“Cie, cie … kayaknya bakal ada yang nyusul Asma nih ke pelaminan,” goda Rere lagi.
“Apaan sih, tuh kan mulai lagi deh,” balasku dengan sedikit cemberut.
“Nggak papa kali Rin, sama Pak Dokter juga kan. Pasti dijamin deh kesehatan jiwa dan hatimu. Apalagi kesehatan kantong mu Rin, dijamin uang belanja nggak akan kurang deh.”
“Iiiihhh … emang aku cewek apaan. Oh iya, kamu udah nikah As? Kok aku nggak diundang-undang sih?”
 “Telat banget sih Rin, udah ada dedek bayinya lagi nih di perut,” ucap Rere sambil mengelus perut Asma. “Lagian mau ngasih undangan gimana, kamu kan di Amerika sono. Rugi bandar kalo Asma harus ngirim undangan sama tiket pesawat buat kamu,” lanjutnya dengan kelakuan khas nya. Sedangnya Asma hanya menanggapi ucapan Rere dengan senyuman lembut.
Sifat Rere dan Asma memang berbanding 180 derajat. Asma memiliki sifat yang pendiam, kalem, dan lemah lembut. Sedangkan Rere lebih cenderung banyak bicara dan rame dengan suara cemprengnya. Dia selalu menjadi penggembira dalam pertemanan kami. Aku sendiri lebih ke arah netral, diam dan tenang saat situasi serius, dan banyak bicara saat suasana santai.
“Alhamdulillah sudah Rin, 6 bulan yang lalu. Sekarang lagi hamil, sudah jalan 8 minggu. Doakan sehat terus ya,” ucap Asma dengan lembut.
Obrolan kami pun berlanjut dengan saling menanyakan kabar satu sama lain. Tentu saja dengan diselingi canda-tawa untuk meramaikan suasana. Selain mengobrol bertiga, kami juga menyempatkan diri mengobrol dengan teman-teman lainnya. Ternyata banyak hal yang telah terjadi selama beberapa tahun ini. Dari mereka, aku mendengar banyak kabar bahagia dan duka dari teman-teman kami. Si A yang sudah menikah, si B yang putus dengan laki-laki yang sudah dipacarinya selama bertahun-tahun, si C yang sudah mempunya anak, dan lain sebagainya. Tidak lupa kami juga bernostalgia mengenang masa-masa SMA yang penuh suka cita. Masa perkembangan anak manusia yang penuh dengan sifat ababil dan ingin mencoba-coba. Masa-masa yang oleh sebagian besar orang dikenang sebagai masa-masa paling indah dalam hidupnya. Tapi begituh kehidupan, kita tidak dapat hanya berjalan di tempat saja, ada mas kita harus meninggalkan zona nyaman untuk memulai babak baru dalam kehidupanta. Dan masa-masa itu hanya akan menjadi kenangan yang akan kita bicarakan dengan seru saat berjumpa dengan teman-teman seperti saat ini.


Bersambung…

#30dwc
#30dwcjilid12
#day7

0 komentar: