Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Minggu, 25 Maret 2018

SAJADAH USANG (bagian 3-selesai)


"ibu, ibuuuuuu... Paklek, tolong paklek" seru Baskoro meminta pertolongan. pak Maman yang melihat kejadian itu langsung mendekati Baskoro dan membantunya. bersama para pembeli yang masih ada di warung, Pak Maman membopong Ibu Baskoro, membawanya ke dalam rumah untuk mendapatkan pertolongan pertama. 

#####

Beberapa saat setelah diberi wangi-wangian, akhirnya Ibu Baskoro sadar. Begitu tersadar dan mengingat apa yang sedang terjadi, air mata kembali membasahi wajahnya. Dilihatnya Baskoro yang menggenggam tangannya dengan erat. Segera ia peluk untuk memberi kekuatan. Sebagai seorang istri dan ibu, dia harus kuat untuk keluarganya. Setelah merasa lebih baik, Baskoro dan ibunya diantar ke Rumah Sakit oleh Pak Maman.

Sesampainya di IGD, Baskoro melihat tubuh ayahnya terbaring tak berdaya di ranjang Rumah Sakit, berbagai alat kesehatan menempel di tubuhnya. Dari saksi yang melihat kecelakaan maut itu, tubuh ayah Baskoro terseret hingga 5 meter jauhnya setelah tertabrak truk, becak yang menjadi alat mencari nafkah-pun hancur tak terselamatkan, dan lebih naas lagi karena si pembuat ulah malah kabur tidak tahu diri.

Baskoro dan ibunya pun langsung mendekati ranjang sang ayah, tentu saja dengan tangis yang masih menghiasi wajah mereka. Saat dilihat ada sedikit pergerakan dari jemari sang ayah, Ibu Baskoro langsung memegangnya. Dipanggilnya sang suami dengan penuh kasih sambil merapalkan doa untuk keselamatannya. Perlahan mata ayah Baskoro terbuka. Mata yang biasanya tampak meneduhkan itu kini tampak sayu, wajah yang biasanya menampilkan senyum dan wibawa itu, sekarang hanya dapat menampakkan kerutan di dahi disertai dengan rintihan lirih, tanda bahwa si pemilik suara sedang menahan sakit.

"Buk…" panggil ayah Baskoro pada istrinya.

"Iya Pak, ibu di sini" jawab Ibu Baskoro dengan tangis kesedihan yang berusaha ditahannya. Dibawanya tangan sang suami untuk menyentuh pipinya. Kebiasaan sang sejak dulu mereka lakukan untuk memberikan kasih sayang dan kekuatan satu sama lain.

"Buk, sepertinya waktu Bapak sudah dekat. Bapak minta maaf" jeda sejenak. Tangis sang istri-pun semakin menjadi. "Maafkan Bapak yang harus pergi lebih cepat dari ibu. Maafkan Bapak yang tidak bisa mendampingi keluarga kita lebih lama lagi. Maafkan Bapak yang hanya bisa memberikan kesusahan pada ibu" diucapnya kalimat panjang itu dengan perlahan, dengan sesekali jeda karena harus menahan sakit yang dirasakan.

"Tidak pak, Bapak tidak perlu meminta maaf. Ibu sudah iklas menjalani semuanya dengan Bapak. Ibu sudah cukup dengan semuanya, ibu bahagia.”

"Lalu, apakah sekarang ibu iklas Bapak dijemput Malaikat Izrail duluan?" tanyanya pada sang istri

"Insyaallah pak, insyaallah…" jawab sang istri sambil menganggukkan kepala. Tentu saja keiklasan itu akan sulit untuk dijalani, tapi dia tidak mau menjadi beban ketika Malaikat Izroil menjembut sang suami. Sedih, tentu saja dia akan sangat sedih, siapa yang tidak sedih ditinggal mati oleh orang yang dicintainya? Tapi, ia tau Allah lebih mencintai suaminya, dia tau Allah tidak ingin membuat suaminya merasakan penderitaan lebih lama lagi.

Setelah mempertanyakan kerelaan sang istri, ayah Baskoro pun memanngil anaknya , "Baskoro, dimana Baskoro Bu? Apa dia di sini?”

“Di sini pak, Baskoro disini" jawab Baskoro mendekat, menggambil alih posisi ibunya. Dengan wajah yang penuh air mata, Baskoro mencium punggung tangan sang ayah, menyalurkan segala kasih sayang dan penghormatan untuk laki-laki tangguh didepannya ini.

"Nak, maafkan Bapak karena tidak bisa mendampingimu hingga dewasa. Maafkan Bapak yang tidak bisa memberimu kehidupan layak. Maafkan Bapak yang tidak bisa meninggalkanmu harta yang melimpah,” ucap sang ayah dengan penuh penyesalan. Dielusnya puncak kepala Baskoro dengan perlahan, dipandanginya wajah sang anak yang mungkin tidak akan ia lihat lagi.

"Tidak Pak, tidak…. Bagi Baskoro, semua yang sudah Bapak berikan selama ini sudah cukup. Semua kasih sayang dan cinta yang Bapak berikan untuk Ibu dan Baskoro juga sudah lebih dari cukup. Bagi Baskoro, semua nasihat dan wejangan yang telah Bapak berikan selama ini adalah peninggalan terbaik dibandingkan harta yang melimpah” Baskoro mengucapkan semua rasa syukur yang telah ia terima dari sang ayah. Ingin ia  ungkapkan semua perasaan yang memenuhi hatinya saat ini. Tapi, apa daya ketika bibir itu hanya mengeluarkan tangis kesedihan. Walaupun masih kecil, dia tahu bahwa waktu yang ayahnya miliki sudah tak banyak. 

"Kamu anak yang baik Bas, Ibu dan Bapak bangga memilikimu. Ingatlah, sebesar apapun masalah yang kamu hadapi di masa depan nanti, kamu tidak sendiri. Kamu masih memiliki Ibu dan Bapak, kamu juga memiliki Allah Yang Maha Besar. Berpasrah dan berserah dirilah kepada-Nya nak" nasihat sang ayah pada Baskoro.

"Iya pak, iya Baskoro akan selalu mengingatnya" jawab Baskoro.

"Bisakah kamu memandu Bapak nak ?' pinta sang ayah. Ibu Baskoro yang mendengar permintaan suaminya semakin tak kuasa menahan tangis, dipeluknya tubuh Baskoro dengan erat untuk memberikan kekuatan. Ia tau, permintaanku itu pasti berat untuk Baskoro. Menyaksikan kematian ayah-nya secara langsung, bukanlah hal yang diinginkan anak seusianya.

Tapi Baskoro bukanlah anak kecil yang hanya bisa menangis dan merengek saat ada masalah. Ayahnya telah mendidiknya menjadi laki-laki yang penuh keberanian dan rasa tanggung jawab. Memang bukan perkara mudah, tapi permintaan itu adalah permintaan terakhir ayahnya. Jadi dia harus memenuhinya. Kemudian Baskoro lebih mendekatkan diri kepada ayahnya, perlahan dia mulai membisikkan kalimat yang akan mengantar ayahnya menuju surga Allah.

"La ilaaha illallah…” bimbing Baskoro dengan perlahan.

"La ilaaha… illallah…” ucap ayah Baskoro, mengikuti dengan tertatih dan tersengal-sengal.

"Muhammadur Rasulullah"

"Muham…madur…Rasullullah….” Setelah mengucapkan kalimat itu, perlahan mata ayah Baskoro menutup, beliau telah menghembuskan nafas terakhirnya.

Baskoro dan Ibunya yang menyaksikan proses kematian sang ayah hanya bisa menjerit histeris, tangisan mereka pun meledak memenuhi ruang IGD. Seakan tak percaya, Ibu Baskoro mengguncang tubuh suaminya yang sudah tak bergerak lagi "Bapaaaakkk Pak Bapaaakkkk... "panggilnya pada sang suami.

Seperti halnya ibunya, Baskoro pun melakukan hal itu. Tapi apadaya ketika kehendah Allah adalah kehendah mutlak yang tak dapat disangkal oleh umatnya. Ayah Baskoro meninggalkan istri dan anaknya untuk selama-lamanya, meninggalkan kenangan yang akan selalu diingat oleh dua orang yang sangat mencintainya.

#####

“Seperti itulah bagaimana ayahku meninggal Adi," kulihat air mata mulai memenuhi kedua mata Pak Baskoro. "Saat itu, aku masih sangat kecil, cukup berat bagiku dan ibu untuk menjalani hidup selepas Bapak meninggal. Tapi kami tidak menyerah. Seperti yang Bapak katakan di akhir hayatnya, sebesar apapun masalah yang menghampiri kami, kami masih memiliki Allah Yang Maha Besar” lanjut Pak Baskoro menceritakan kisahnya.

"Sajadah ini adalah harta terakhir milik ayahku, peninggalan yang paling berharga. Dulu, semasa hidupnya sajadah ini-lah yang digunakan beliau ketika sholat. Kata ibu, sajadah inilah yang menjadi saksi semua doa-doa yang diucapkannya di akhir sholat 5 waktunya, bahkan di sepertiga malamnya. Doa-doa pengharapan untuk kebahagiaan anak dan istrinya. Meminta kepada Allah, Sang Pemilik Alam Semesta untuk mempersatukan kembali keluarga kecilnya di surga kelak, meminta untuk dibangunkan rumah di surganya yang luas” ucap Pak Baskoro sambil memandang sajadah yang telah ia lipat dengan rapi di hadapannya.

"Sejak saat itu, aku memakai sajadah ini ketika sholat. Aku tau, sajadah ini menua seiring berjalannya waktu, sudah waktunya diganti. Tapi aku tidak perduli, saat menggunakan sajadah ini, aku dapat merasakan tangan kasar Bapak mengelus kepalaku dengan kasih sayang. Memberiku kenyamanan dan kedamaian. Memberiku kekuatan dimasa-masa tersulitku" sejenak Pak Baskoro menutup matanya, mungkin beliau sedang mengingat setiap kenagan indah bersama ayah dan ibunya dimasa kecil.

Kulihat sebentuk kerinduan terpancar di mata Pak Baskoro saat beliau membuka matanya. "Jadi, begitulah kisah dibalik sajadah usang ini. Bisakah kau mengerti bagaimana peran sajadah usang ini dalam setiap perjalanan kehidupanku Adi?" ucapnya kembali dengan senyum yang mengiasi wajahnya. 

"Iya Pak. Maafkan saya karena telah membuat Bapak mengingat kembali kejadian saat kehilangan sosok ayah" jawabku dengan perasaan tidak enak.

"Tidak Adi, tidak apa, lagi pula aku senang karena sudah membagi kisah ini denganmu. Kau bukan orang lain bagiku, kau sudah kuanggap seperti anakku sendiri. Setidaknya nanti malam kau bisa tidur dengan tenang" canda beliau dengan tawa kecilnya.

"Ah, Bapak bisa saja" ucapku menanggapi candaan Pak Baskoro. Kulihat jam tangan sudah menunjukkan setengah 2 siang. "Sepertinya kita sudah terlalu lama di sini Pak. Sebentar lagi jam istirahat siang akan selesai.”

Kemudian Pak Baskoro ikut melihat jam tangan yang dikenakannya, "oh benar sekali, sepertinya laki-laki tua ini sudah terlalu banyak menyita waktu istirahatmu" ucapnya sambil mengajakku bergi meninggalkan masjid. "Bagaimana kalo kita makan siang bersama ?"

"Jika Bapak tidak malu makan bersama karyawan biasa seperti saya.”

"Kenapa harus malu ? Kau ini laki-laki yang tampan dan cerdas, dengan sekali pandang pasti banyak wanita yang jatuh cinta padamu. Seharusnya kau yang malu karena makan bersama orang tua bertubuh gemuk sepertiku. Ha..ha..ha" kelakar Pak Baskoro. "Untung laki-laki tampan dan cerdas ini hanya jatuh hati pada si manja Raina." Kemudian beliau menepuk pelan pundakku sambil berkata, 'Jadi, kapan kau akan ke rumah bersama orang tuamu?"

"Insyaallah secepatnya Pak, insyaallah setelah ayah dan ibu pulang dari perjalanan umroh " jawabku dengan mantap. Ah, Raina, putri Pak Baskoro yang telah mencuri hatiku. Sekarang aku tau bagaimana wanita berparas lembut itu bisa memiliki banyak cinta di hatinya. Tentu saja karena Pak Baskoro telah membesarkannya dengan limpahan kasih sayang yang dia pelajari dari sang ayah. Kasih sayang yang dia pelajari melalui sajadah usang milik sang ayah. Sosok yang menjadi panutannya hingga saat ini.

Begitulah kisah dibalik sajadah usang milik Pak Baskoro. Sajadah yang menyimpan sejuta kenangan bagi sang pemilik. Sajadah yang kini juga telah mengajarkanku akan banyak hal, salah satunya adalah untuk selalu berpasrah dan berserah diri kepada Allah Sang Pencipta Alam Semesta.

#30dwc
#30dwcjilid12
#day4

0 komentar: