Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Minggu, 04 Juli 2010

Sandarkan Cinta Di Sudut Mangrove

“Nama apaan tu, nama kok kayak anak sekolahan yang suka les!”. Kalimat ini dilontarkan Anik ketika pertama kali berkenalan dengan suaminya. Sebuah kisah panjang perjalanan hidup seorang anak Sumbawa.

Loles, nama yang sangat aneh hingga membuat Anik tertawa geli ketika mengingat pertemuan pertamanya dengan sang suami. Wanita kelahiran Sumbawa ini memiliki kisah panjang hingga melabuhkan cintanya di sudut mangrove. “Sebenernya gak ada pikiran mau ke Bali, tapi mungkin udah takdir sampe di sini”, tutur Anik sembari “mengemong” anak semata wayangnya. Berawal dari keinginan Anik untuk meneruskan pendidikan, namun kedua orang tuanya tak mampu membiayai. Didorong rasa irinya terhadap kakak-kakaknya yang telah menjadi pegawai negeri, Anik memberanikan diri pergi Kupang. Alumni salah satu SMK jurusan Managemen dan Akuntansi di Sumbawa ini malah terdampar di pulau Dewata.

Lima tahun sudah ibu dari Junardhi ini menjalani hidupnya di Bali. “Dulu kerja di Tabanan di perusahaan lilin” kata Anik. Di sanalah Anik menemukan tambatan hatinya dan akhirnya menikah. Rasa cinta terhadap sang suami (Loles) membawa Anik tinggal di daerah mangrove. Hidup di daerah mangrove tak membuat kehidupan Anik lebih baik, bahkan lebih terkesan tragis. Bervondasi kayu dengan triplek-triplek yang tertempel di sana-sini, belum lagi luas rumah yang hanya sekedarnya, begitulah keadaan tempat tinggal Anik saat ini. Di tanah pinjaman inilah, Anik dan empat keluarga lainnya melakukan aktivitas sehari-hari.“ Kita cuma ngandelin hasil kerja suami, itupun gak seberapa”, ujar wanita berkulit hitam ini.

Hanya Rp 10.000,00, itulah yang dihasilkan Loles perharinya selama bekerja sebagai montir di Pelack Galeri. Penghasilan yang tak mencukupi membuat keluarga Anik sering merasakan hambarnya sayur sebagai teman nasi. Belum lagi masalah kesulitan air bersih, selama ini air yang digunakan untuk mencukupi kehidupan sehari-harinya hanya mengandalkan air sumur. “Air di sini gak seperti air yang biasa kalian pake, rasanya beda” aku Anik kepada tim ekspedisi mangrove. Kedaan seperti inilah yang membuat Anik selalu mengurungkan niatnya pulang ke kampung halaman.

Meskipun menjalani kehidupan yang sulit tak menyurutkan Anik dan tetangga-tetangganya untuk beribadah. Setiap minggunya, mereka pergi ke gereja terdekat untuk menjani kebaktian. Begitu juga ketika malam natal tiba, mereka mengadakan missa bersama, bahkan tahun 2009 kemarin mereka menjalani missa natal di jalan depan rumha. “Klo mau berdoa kan bisa dimana aja, gak mesti di gereja yang pentingkan niatnya.”

0 komentar: