Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Kamis, 30 Agustus 2012

My Room, ToT (203)


Apa yang kalian pikirkan ketika kunyatakan bahwa aku tinggal disebuah ruangan kecil. Berbagi dengan sepuluh orang yang tak saling mengenal dan dengan sifat yang bebeda-beda. “Hah!, bersepuluh?”, “Serius? Berbanyak dong”, “Rame banget, gimana belajarnya?” mungkin kalimat ini yang akan terlontar dari mulut kalian. Tapi, hari-hari yang kulalui di sini akan menjadi kenangan indah yang asik untuk diceritkan di masa yang akan datang.
Satu tahun telah berlalu. Selama itu pula aku dan teman-temanku melalui banyak moment penting di sebuah ruangan yang telah menjadi rumah kedua kami ini. Sebuah ruanggan bernomor 203. Banyak cerita yang telah kami tulis di setiap sudutnya. Cerita-cerita remaja yang tak akan pernah habis, tentang apa yang tengah kami rasakan kala itu. Setiap hal yang kami lalui di ruangan ini menjadi memory indah yang tak akan terlupakan. Malam pertama kami tidur di sini, tangisan kerinduan akan suasana rumah, tawa bahagia perayaan ulang tahun, rasa takut menghadapi suasana malam asrama, stress menghadapi tugas dan ujian yang menumpuk, kekompakan dalam menghadapi masalah, pertengkaran-pertengkaran kecil karena suatu hal sederhana, dan semua kebersamaan yang terjalin selama ini. Semuanya tersimpan indah di kamar ini. Dan tiap bagian dari ruangan ini telah menjadi saksi bisu pejuangan yang telah kami lakukan. Aku, ah! bukan hanya aku. Semua yang pernah meninggalkan kenangan indah di sini, nantinya akan rindu dengan semua bagian yang ada di kamar ini.
Loker-loker yang menyimpan setumpuk buku dan diktat kami. Di tempat inilah sebagian dari kami menempel foto keluarga ataupun orang terdekat yang mampu memotivasi kami untuk tetap bertahan. Meski bagian belakang loker ini telah berlubang hingga sesekali membuat miky (penghuni ke sebelas di ruangan ini) bertandang ke beberapa loker kami. Aku masih ingat, ketika kami harus kembali menata loker karena akan membuat sebuah loker dupa dan loker makanan di samping wastafel. Kedua loker ini selalu ramai di minggu sore namun akan terasa sepi sekaligus bersih di sabtu siang. Loker makanan, loker ini selalu menjadi sasaran utama ketika perut ini terasa kosong ataupun ketika kami membutuhkan camilan ketika menonton sebuah film. Dan satu lagi loker umum yang kami miliki. Aku tak terlalu sering menggunakan loker dupa, sehingga tak banyak yang bisa ku ingat dari loker ini. Yang ku ingat hanyalah aroma wewangian dupa yang dibawa teman-temanku dan keributan yang mereka timbulkan di depan loker ini. “Ambilin dupaku dong, itu yang di atas”, “Ada korek nggak?”, “Pin, sekalian dong nyalain dupaku”. Kalimat-kalimat semacam ini selalu ku dengar di setiap pagi dan sore hari. Aku senang ketika melihat teman-temanku harus terus merapikan buku dan diktat di loker mereka yang selalu berantakan terutama setelah ujian. Menurutku ekspresi mereka yang kebingungan menentukan posisi diktat-diktat itu terlihat sangat lucu. Masih jelas dalam ingatan ketika aku melakukan pedebatan panjang dengan Mami (Yati). Aku ingin lokerku lebih dekat dengan badku. Dan pada akhinya setelah satu tahun berlalu, aku mendapatkannya. Aku juga sangat senang ketika harus menghias loker milikku dengan beberapa kertas kado yang dapat membuat lokerku terlihat lebih cantik dan rapi.
Tempat tidur susun yang selalu mengeluarkan suara berdecit yang khas ketika si pemilik bad bagian atas menaikinya. Sebuah tanda sederhana yang mampu memberitahu kita seberapa renta tempa tidur ini. Aku tak ingat sudah berapa kali kami menggeser tempat tidur yang mulai renta ini, sekedar untuk mendapatkan kamar yang lebih luas. Meskipun renta dan kasurnya yang mulai menipis, tempat ini tetap menjadi tempat ternyaman di kala badan ini terasa letih. Aku ingat ketika pertama kali kami belajar merbed (merapikan tempat tidur) dalam waktu yang singkat. Ketika itu, waktu istirahat selalu kami habiskan dengan tidur terduduk di samping tempat tidur. Rasa takut merusak perbedan selalu menyelimuti perasaan kami. Dengan berlalunya waktu, kami mulai ahli merapikan tempat tidur dengan waktu yang sangan singkat. Kini, bad berukuran 1x1,5 m inilah tempat kami saling bercanda, menonton film besama, belajar, atau sekedar berbagi cerita-cerita sederhana.
Dua kamar mandi yang selalu menjadi primadona ketika mentari mulai terbit dan tenggelam. Kamar mandi inilah yang menjadi topik utama begitu kami membuka mata. “Lunas, aku ngamprah habis kamu…”, “Habis kamu siapa? Aku ngamprah ya…”, “Aku mandi di luar…”, “Aku mandi di dalem…”. Sepertinya kalimat-kalimat semacam ini selalu menjadi kalimat pertama yang terucap di setiap hari baru kami. Suatu malam sebelum UTS pertama kami di kampus, terjadi sesuatu yang cukup mengejutkan. Plavon depan kamar mandi dalam yang sudah rapuh akibat cucuran air dari pipa yang bocor, akhirnya runtuh dan mengusik istirahat malam kami. Kejadian ini secara otomatis membuat pamor kamar mandi dalam menurun karena tetesan air dari plavon semakin deras dan semakin meluas. Yang masih setia dengan kamar mandi ini adalah Mami dan Hari. Keduanya selalu meramaikan suasana kamar mandi yang untuk masuk ke dalamnya saja kami harus melalui tetesan air yang entah jenis air apa itu. Meskipun keduanya mengaku berbicara dengan volume kecil, tetapi volume kecil yang mereka maksud sampai terdengar hingga ruang cuci lantai satu. Bahkan apa yang mereka bicarakan selalu menjadi bahan tertawaan yang menghibur kami di dalam ruangan. Tiga ember kecil yang kami letakkan di depan kamar mandi juga tidak cukup untuk menampung cucuran air yang terjatuh. Kesulitan-kesulitan ini membuat sebagian besar dari kami  lebih memilih mandi di kamar mandi luar. Ku rasa kedua kamar mandi ini tak akan pernah habis permasalahnnya. Pernah kami harus mandi dalam suasana remang lampu senter karena lampu dikedua kamar mandi mati dan membutuhkan waktu lama untuk memperbaikinya.
Tak hanya itu, genagan air yang terbentuk di depan pintu kamar mandi dalam juga menyulitkan kami menggunakan wastafel. Masalahnya akan muncul ketika kami sedang mempersiapkan diri untuk kuliah. Satu-satunya cermin besar yang ada dikamar ini menjadi sumber tempat untuk merapikan rambut dan diri kami. Rambut-rambut yang berjatuhan akan sulit dibersihkan karana jatuh dalam genangan. Belum lagi sepulang kuliah, selalu saja lantai depan kamar mandi dalam dan depan wastefel basah akibat genangan yang terbentuk. Kami harus ektra sering membersihkan daerah yang satu ini. 
Meskipun merepotkan, tetapi terkadang tetes-tetes air yang terdengar menjadi semacam irama teratur yang memecah keheningan malam. Bagaikan lagu pengantar tidur, suaranya akan tedengar begitu berirama dalam kesunyian malam. Tak henti-hentinya kami berharap agar kerusakan ini segera mendapat perbaikan. Bahkan ketika tetesan air tak terdengar lagi, harapan akan membaiknya kondisi kamar kami semakin besar. Tapi harapan tinggallah harapan. Entah sampai kapan lagu pengantar tidur ini akan terdengar.
Balkon kamar yang ukurannya tak seberapa. Hanya 3,5x1,5 m. Ditempat inilah pertama kali kami merasakan sebuah makanan yang pada akhirnya menjedi menu istimewa kami. Rujak dengan belasan cabai. Dari tempat ini terlihat jelas sebuah bangunan yang berada disamping kampus kami. Hal ini membuat kami harus selalu berhati-hati, karena disetiap kesempatan selalu akan ada mata-mata jahil yang siap menintip kami. Yang kusuka dari balkon ini adalah suasananya yang sangat tenang. Cakrawala terlihat begitu indah dan luas, dua buah kursi dan meja kayu sederhana terlihat begitu mesra saling bedampingan ditambah hembusan angin yang menyejukkan. Tak jarang sebagian dari kami menjadikan tempat umum ini sebagai sebuah tempat privasi. Tempat ini adalah salah satu tempat pelarian bagi kami yang ingin menangis karena rasa rindu dengan orang tua atau karena masalah hati yang kami rasakan. Dari tempat ini pula, beberapa dari kami saling menceritakan isi hati yang sedang dirasakan. Sering juga kudengar suara seseorang menelpon, entah siapa yang ada di ujung sana. Keluarga, sahabat, atau kekasih.
Dan satu-satunya property yang masih telihat kokoh dari kamar ini adalah lemari baju kami.. Cukup kokoh untuk ku naiki ketika membersihkan bagian atas lemari-lemari ini. Di setiap kamar, hanya ada tiga buah lemari yang harus kami bagi untuk sepuluh orang. Kami harus belajar saling menghargai satu sama lainnya karena lemari ini. Berbagi tempat baju dengan orang lain bukanlah hal yang mudah. Awalnya pasti terdapat banyak perbedaan yang kami rasakan, terutama kerena kebiasaan setiap orang yang bebeda. Sepertihalnya denganku. Aku tebiasa dengan pakaian yang tertata rapi di lemariku. Dan ketika kulihat baju milik temanku tertumpuk di atas bajuku, maka yang kulakukan adalah berteriak “Ini punya siapa?!” Hahahaaa… Beruntung sipemilik baju mau langsung merapikannya. Selain itu, sering juga kudengar percakapan temanku yang harus berbagi dengan tiga orang lainnya. Selalu saja ada keluhan tentang mereka yang membawa baju terlalu banyak atau menggantung baju sembarangan. “Aduh, bajumu dirapiin dong”, “Banyak banget deh gantungan bajunya, bikin nyamuk ne…”, “Ini bukan bajuku, bajunya sapa ne?”. Selalu saja ada yang berkomentar di lemari yang satu ini. Di lemari-lemari ini juga sebagian dari kami menyimpan boneka kesayangannya agar tak terlihat ketika sidak sedang berlangsung. Ketika menengok ke bagian atas lemari, banyak barang yang akan kita temukan. Diktat, buku, tas, map-map kosong, dan beberapa barang lainnya yang sudah tak muat untuk dimasukkan ke dalam lemari atau loker kami. Bahkan kami memutuskan untuk menjadikan bagian atas lemari yang terletak didekat pintu sebagai tempat meletakkan helm. Jadi wajar saja kalau lemari itu menjadi tujuan utama kami sebelum keluar asrama.
Setiap bagian dari kamar ini telah menjadi saksi bisu akan kisah-kisah indah yang kita buat bersama. Mereka menyimpannya dalam sebuah betuk benda-benda mati yang tak pernah beranjak dari kamar ini (203). Sama seperti mereka, aku berharap semua cerita indah yang pernah kita tulis bersama tak akan mati tertelan waktu. Sampai suatu saat nanti akan kita ingat sebagai sebuah kenangan yang tak akan terlupakan.

0 komentar: