Apa yang kalian
pikirkan ketika kunyatakan bahwa aku tinggal disebuah ruangan kecil. Berbagi
dengan sepuluh orang yang tak saling mengenal dan dengan sifat yang bebeda-beda.
“Hah!, bersepuluh?”, “Serius? Berbanyak dong”, “Rame banget, gimana
belajarnya?” mungkin kalimat ini yang akan terlontar dari mulut kalian. Tapi,
hari-hari yang kulalui di sini akan menjadi kenangan indah yang asik untuk
diceritkan di masa yang akan datang.
Satu tahun telah
berlalu. Selama itu pula aku dan teman-temanku melalui banyak moment penting di sebuah ruangan yang telah
menjadi rumah kedua kami ini. Sebuah ruanggan bernomor 203. Banyak cerita yang
telah kami tulis di setiap sudutnya. Cerita-cerita remaja yang tak akan pernah
habis, tentang apa yang tengah kami rasakan kala itu. Setiap hal yang kami
lalui di ruangan ini menjadi memory
indah yang tak akan terlupakan. Malam pertama kami tidur di sini, tangisan
kerinduan akan suasana rumah, tawa bahagia perayaan ulang tahun, rasa takut
menghadapi suasana malam asrama, stress menghadapi tugas dan ujian yang
menumpuk, kekompakan dalam menghadapi masalah, pertengkaran-pertengkaran kecil
karena suatu hal sederhana, dan semua kebersamaan yang terjalin selama ini.
Semuanya tersimpan indah di kamar ini. Dan tiap bagian dari ruangan ini telah
menjadi saksi bisu pejuangan yang telah kami lakukan. Aku, ah! bukan hanya aku.
Semua yang pernah meninggalkan kenangan indah di sini, nantinya akan rindu
dengan semua bagian yang ada di kamar ini.
Loker-loker yang
menyimpan setumpuk buku dan diktat kami. Di tempat inilah sebagian dari kami
menempel foto keluarga ataupun orang terdekat yang mampu memotivasi kami untuk
tetap bertahan. Meski bagian belakang loker ini telah berlubang hingga sesekali
membuat miky (penghuni ke sebelas di ruangan ini) bertandang ke beberapa loker
kami. Aku masih ingat, ketika kami harus kembali menata loker karena akan membuat
sebuah loker dupa dan loker makanan di samping wastafel. Kedua loker ini selalu
ramai di minggu sore namun akan terasa sepi sekaligus bersih di sabtu siang.
Loker makanan, loker ini selalu menjadi sasaran utama ketika perut ini terasa
kosong ataupun ketika kami membutuhkan camilan ketika menonton sebuah film. Dan
satu lagi loker umum yang kami miliki. Aku tak terlalu sering menggunakan loker
dupa, sehingga tak banyak yang bisa ku ingat dari loker ini. Yang ku ingat
hanyalah aroma wewangian dupa yang dibawa teman-temanku dan keributan yang
mereka timbulkan di depan loker ini. “Ambilin dupaku dong, itu yang di atas”,
“Ada korek nggak?”, “Pin, sekalian dong nyalain dupaku”. Kalimat-kalimat
semacam ini selalu ku dengar di setiap pagi dan sore hari. Aku senang ketika
melihat teman-temanku harus terus merapikan buku dan diktat di loker mereka
yang selalu berantakan terutama setelah ujian. Menurutku ekspresi mereka yang kebingungan
menentukan posisi diktat-diktat itu terlihat sangat lucu. Masih jelas dalam
ingatan ketika aku melakukan pedebatan panjang dengan Mami (Yati). Aku ingin
lokerku lebih dekat dengan badku. Dan
pada akhinya setelah satu tahun berlalu, aku mendapatkannya. Aku juga sangat
senang ketika harus menghias loker milikku dengan beberapa kertas kado yang
dapat membuat lokerku terlihat lebih cantik dan rapi.
Tempat tidur susun yang
selalu mengeluarkan suara berdecit yang khas ketika si pemilik bad bagian atas menaikinya. Sebuah tanda
sederhana yang mampu memberitahu kita seberapa renta tempa tidur ini. Aku tak
ingat sudah berapa kali kami menggeser tempat tidur yang mulai renta ini,
sekedar untuk mendapatkan kamar yang lebih luas. Meskipun renta dan kasurnya
yang mulai menipis, tempat ini tetap menjadi tempat ternyaman di kala badan ini
terasa letih. Aku ingat ketika pertama kali kami belajar merbed (merapikan
tempat tidur) dalam waktu yang singkat. Ketika itu, waktu istirahat selalu kami
habiskan dengan tidur terduduk di samping tempat tidur. Rasa takut merusak
perbedan selalu menyelimuti perasaan kami. Dengan berlalunya waktu, kami mulai
ahli merapikan tempat tidur dengan waktu yang sangan singkat. Kini, bad berukuran 1x1,5 m inilah tempat kami
saling bercanda, menonton film besama, belajar, atau sekedar berbagi
cerita-cerita sederhana.
Dua kamar mandi yang
selalu menjadi primadona ketika mentari mulai terbit dan tenggelam. Kamar mandi
inilah yang menjadi topik utama begitu kami membuka mata. “Lunas, aku ngamprah
habis kamu…”, “Habis kamu siapa? Aku ngamprah ya…”, “Aku mandi di luar…”, “Aku
mandi di dalem…”. Sepertinya kalimat-kalimat semacam ini selalu menjadi kalimat
pertama yang terucap di setiap hari baru kami. Suatu malam sebelum UTS pertama
kami di kampus, terjadi sesuatu yang cukup mengejutkan. Plavon depan kamar
mandi dalam yang sudah rapuh akibat cucuran air dari pipa yang bocor, akhirnya
runtuh dan mengusik istirahat malam kami. Kejadian ini secara otomatis membuat
pamor kamar mandi dalam menurun karena tetesan air dari plavon semakin deras
dan semakin meluas. Yang masih setia dengan kamar mandi ini adalah Mami dan
Hari. Keduanya selalu meramaikan suasana kamar mandi yang untuk masuk ke
dalamnya saja kami harus melalui tetesan air yang entah jenis air apa itu.
Meskipun keduanya mengaku berbicara dengan volume kecil, tetapi volume kecil
yang mereka maksud sampai terdengar hingga ruang cuci lantai satu. Bahkan apa
yang mereka bicarakan selalu menjadi bahan tertawaan yang menghibur kami di
dalam ruangan. Tiga ember kecil yang kami letakkan di depan kamar mandi juga
tidak cukup untuk menampung cucuran air yang terjatuh. Kesulitan-kesulitan ini
membuat sebagian besar dari kami lebih
memilih mandi di kamar mandi luar. Ku rasa kedua kamar mandi ini tak akan
pernah habis permasalahnnya. Pernah kami harus mandi dalam suasana remang lampu
senter karena lampu dikedua kamar mandi mati dan membutuhkan waktu lama untuk
memperbaikinya.
Tak hanya itu, genagan air yang terbentuk di depan
pintu kamar mandi dalam juga menyulitkan kami menggunakan wastafel. Masalahnya
akan muncul ketika kami sedang mempersiapkan diri untuk kuliah. Satu-satunya
cermin besar yang ada dikamar ini menjadi sumber tempat untuk merapikan rambut
dan diri kami. Rambut-rambut yang berjatuhan akan sulit dibersihkan karana
jatuh dalam genangan. Belum lagi sepulang kuliah, selalu saja lantai depan
kamar mandi dalam dan depan wastefel basah akibat genangan yang terbentuk. Kami
harus ektra sering membersihkan daerah yang satu ini.
Meskipun merepotkan, tetapi terkadang tetes-tetes
air yang terdengar menjadi semacam irama teratur yang memecah keheningan malam.
Bagaikan lagu pengantar tidur, suaranya akan tedengar begitu berirama dalam
kesunyian malam. Tak henti-hentinya kami berharap agar kerusakan ini segera
mendapat perbaikan. Bahkan ketika tetesan air tak terdengar lagi, harapan akan
membaiknya kondisi kamar kami semakin besar. Tapi harapan tinggallah harapan.
Entah sampai kapan lagu pengantar tidur ini akan terdengar.
Balkon kamar yang ukurannya tak seberapa. Hanya
3,5x1,5 m. Ditempat inilah pertama kali kami merasakan sebuah makanan yang pada
akhirnya menjedi menu istimewa kami. Rujak dengan belasan cabai. Dari tempat
ini terlihat jelas sebuah bangunan yang berada disamping kampus kami. Hal ini
membuat kami harus selalu berhati-hati, karena disetiap kesempatan selalu akan
ada mata-mata jahil yang siap menintip kami. Yang kusuka dari balkon ini adalah
suasananya yang sangat tenang. Cakrawala terlihat begitu indah dan luas, dua
buah kursi dan meja kayu sederhana terlihat begitu mesra saling bedampingan
ditambah hembusan angin yang menyejukkan. Tak jarang sebagian dari kami
menjadikan tempat umum ini sebagai sebuah tempat privasi. Tempat ini adalah salah
satu tempat pelarian bagi kami yang ingin menangis karena rasa rindu dengan
orang tua atau karena masalah hati yang kami rasakan. Dari tempat ini pula,
beberapa dari kami saling menceritakan isi hati yang sedang dirasakan. Sering juga
kudengar suara seseorang menelpon, entah siapa yang ada di ujung sana.
Keluarga, sahabat, atau kekasih.
Dan satu-satunya property
yang masih telihat kokoh dari kamar ini adalah lemari baju kami.. Cukup kokoh untuk ku naiki ketika membersihkan bagian atas lemari-lemari ini. Di setiap kamar, hanya ada tiga buah
lemari yang harus kami bagi untuk sepuluh orang. Kami harus belajar saling
menghargai satu sama lainnya karena lemari ini. Berbagi tempat baju dengan
orang lain bukanlah hal yang mudah. Awalnya pasti terdapat banyak perbedaan
yang kami rasakan, terutama kerena kebiasaan setiap orang yang bebeda.
Sepertihalnya denganku. Aku tebiasa dengan pakaian yang tertata rapi di
lemariku. Dan ketika kulihat baju milik temanku tertumpuk di atas bajuku, maka
yang kulakukan adalah berteriak “Ini punya siapa?!” Hahahaaa… Beruntung
sipemilik baju mau langsung merapikannya. Selain itu, sering juga kudengar
percakapan temanku yang harus berbagi dengan tiga orang lainnya. Selalu saja
ada keluhan tentang mereka yang membawa baju terlalu banyak atau menggantung
baju sembarangan. “Aduh, bajumu dirapiin dong”, “Banyak banget deh gantungan
bajunya, bikin nyamuk ne…”, “Ini bukan bajuku, bajunya sapa ne?”. Selalu saja
ada yang berkomentar di lemari yang satu ini. Di lemari-lemari ini juga
sebagian dari kami menyimpan boneka kesayangannya agar tak terlihat ketika
sidak sedang berlangsung. Ketika menengok ke bagian atas lemari, banyak barang
yang akan kita temukan. Diktat, buku, tas, map-map kosong, dan beberapa barang
lainnya yang sudah tak muat untuk dimasukkan ke dalam lemari atau loker kami.
Bahkan kami memutuskan untuk menjadikan bagian atas lemari yang terletak
didekat pintu sebagai tempat meletakkan helm. Jadi wajar saja kalau lemari itu
menjadi tujuan utama kami sebelum keluar asrama.
Setiap bagian dari kamar ini telah menjadi saksi
bisu akan kisah-kisah indah yang kita buat bersama. Mereka menyimpannya dalam
sebuah betuk benda-benda mati yang tak pernah beranjak dari kamar ini (203).
Sama seperti mereka, aku berharap semua cerita indah yang pernah kita tulis
bersama tak akan mati tertelan waktu. Sampai suatu saat nanti akan kita ingat
sebagai sebuah kenangan yang tak akan terlupakan.







0 komentar:
Posting Komentar