MENUNGGU...
Di sini, di tempat
aku duduk saat ini…
Selama beberapa
hari ini aku menghabiskan tujuh jam waktuku di ruangan kecil ini
Sebagian orang menyebut
ruangan ini sebagai gudang
Tapi ada seseorang
yang telah menganggap bahwa ruangan ini adalah kamarnya
Dan bagiku, ruangan
ini adalah tempat untukku menunggu
Menunggu datangnya
orang-orang yang bahkan aku sendiri tak mengenal mereka
Menunggu detik demi
detik berganti
Menunggu seseorang
datang untuk menggantikanku
Tak banyak yang
bisa ku lakukan selama penantianku
Membaca lembar demi
lembar buku yang ku bawa
Menulis beberapa
catatan yang kuanggap penting
Atau sekedar
merapikan beberapa bagian yang telihat berantakan
Tapi semua yang ku
lakukan tak mampu membuat waktu bergulir dengan cepat
Jarum jam masih
berjalan dengan santainya pada jalurnya
Terkadang suara
dering telepon mengagetkanku
Membuatku segera
bangkit dari posisi santaiku
dan kemudian tergesa-gesa mengangkat gagang telpon
Suara tangis bayi
dan nyanyian anak-anak menjadi hiburan tersendiri untuk telingaku
Paling tidak, masih
ada suara lain yang bisa ku dengar
Tidak melulu suara
deru kendaraan bermotor yang berlalu lalang di jalan
Atau suara gerak
jarum yang terdengar lambat
Melalui jendela di
ruangan ini
Aku melihat
kendaraan berlalu lalang di jalan
Melihat orang-orang
berbelanja di warung depan
Pemuda-pemuda yang
bersenda gurau di pos kamling dekat pengkolan jalan
Atau beberapa
pedagang makanan yang mencoba menawarkan barang dagangannya
Meski harapan
terbesarku adalah melihat kedatangan orang-orang yang tak ku kenal
Sesekali pandanganku
beralih ke jam dinding yang terpasang di atas pintu
Hah!, waktu masih
tak mau berjalan dengan cepat
Waktu masih tak mau
bersahabat denganku
Atau mungkin,
akulah yang harus bersahabat dengannya?
Membiasakan diri
dengan penantianku ini
“Tak perlu
menunggu, mereka akan datang dengan sendirinya,
dan aku akan terus berjalan
pada jalurku, sampai tujuh jam waktumu berlalu”,
itulah kata waktu padaku







0 komentar:
Posting Komentar