oleh: Fifin Diah Olivianti
Indonesia merupakan negara yang
multikultural. Terlihat dari perbedaan bahasa, suku bangsa (etnis) dan
keyakinan agama serta kebiasaan-kebiasaan kultural lainnya. Hubungan harmonis
antar dan intern umat beragama menjadi hal yang sangat penting dalam negara
yang multi agama seperti halnya Indonesia ini. Dengan dasar nilai Pancasila,
yang menempatkan Ke-Tuhanan Yang Maha Esa sebagai sila pertamanya membuktikan
bahwa Indonesia adalah negara yang memegang teguh nilai-nilai agama. Meskipun
Indonesia bukanlah negara agama, dasar agama sendiri diharapkan mampu menjadi sumber moral yang
dapat dijadikan sebagai pedoman sikap dan perilaku bagi warganya.
Sayangnya, apabila keberagaman
ini tidak dapat dikelola dengan baik, akan dapat memicu terjadinya berbagai
konflik yang pada akhirnya mengancam disintegrasi bangsa Indonesia sendiri. Realitas
juga menunjukkan bahwa konflik bernuansa agama sudah banyak terjadi di
Indonesia. Dari hasil laporan penelitian Fauzi dkk (2009) yang dilakukan
menggunakan media massa laporan harian Kompas dan kantor berita Antara ditemukan sebanyak 832 insiden
konflik keagamaan yang terjadi di Indonesia dalam rentang periode Januari 1990
hingga Agustus 2008. SETARA Institute juga mencatat sepanjang 2010 tak kurang
terjadi 262 kasus pemaksaan kehendak, main hakim sendiri, dan kekerasan
berkedok agama. Sedangkan dari data yang dihimpun Moderat Muslim Society
(M.M.S) pada 2010 telah terjadi 81 kasus anarkistis berlabel agama, angka ini
meningkat 30% dari laporan 2009 yang mencatat terjadinya 59 kasus. Bahkan
selama catur wulan pertama 2011, eskalasinya semakin meningkat dan kian
beringas (Angkasa, 2011).
Beberapa konflik yang bernuansa
sosial maupun agama tentunya masih jelas terekam dalam ingatan masyarakat
Indonesia. Di tahun 1996 tercatat beberapa konflik seperti kerusuhan di
Situbondo tanggal 10 Oktober, di Tasikmalaya 26 Desember, dan Tragedi Mei pada
tanggal 13-15 Mei yang terjadi di Jakarta, Solo, Surabaya, Palembang, Medan,
beserta peristiwa-peristiwa kerusuhan lainnya. Berikutnya, kasus konflik sosial
berlatar belakang agama di Ambon (1999-2002), pembakaran gereja di Halmahera
pada 14-15 Agustus 2002, konflik Poso pada Desember 2003, penyerangan terhadap
Huriah Kristen Batak Protestan (H.K.P.B) dan penyerangan terhadap rumah-rumah
pengikut Ahmadiyah di Lombok pada September 2002. Kasus baru yang muncul
akhir-akhir ini adalah konflik di Sampang Madura pada September 2012, di Lampung Selatang akhir Oktober 2012 dan
pembakaran rumah di Sumbawa 22 Januari 2013.
Mencuatnya aksi-aksi kekerasan
yang berbalut konflik agama tersebut membuat masyarakat Indonesia diliputi
keresahan dan kewaspadaan. Situasi seperti ini diibaratkan sebagai
rumput-rumput kering di musim kemarau yang jika penyulutnya datang dapat
terbakar dengan mudah kapan saja. Dan saat itulah, kemudian muncul berbagai
sentimen-sentimen negatif tertentu di kalangan masyarakat. Ketika keadaan
seperti itu sudah terjadi, sebuah goresan kecil saja dapat menciptakan konflik
yang mengatas namakan agama. Hal ini dapat dilihat dari pemicu-pemicu konflik
yang sepele akan tetapi dapat menciptakan suatu konflik kekerasan yang besar
dan melibatkan banyak masa.
Seperti konflik yang terjadi di
Ambon, yang isunya hanya dipicu karena masalah sepele yaitu pertengkaran dua
orang di terminal. Ataupun konflik di Lampung Selatan yang melibatkan warga
Kampung Agom Kecamatan Kalianda dan Desa Balinuraga Kecamatan Way Panji pada
akhir Oktober 2012 ini. Pemicu konflik ini tak lain hanya karena pemuda warga
Balinuraga menggangu dua perempuan kampung Agom yang tengah mengendarai sepeda
motor. egitu juga rusuh di Sumbawa yang dipicu isu pemerkosaan di wilayah
setempat. Kasus itu kemudian membesar menjadi isu SARA yang memicu bentrokan
antara warga Bali dan Sumbawa yang berakhir pada kejadian kriminalitas,
penjarahan dan pembakaran.
Dalam suasana konflik tersebut,
sedikit isu SARA di tengah masyarakat Indonesia dapat memicu sebuah konflik
besar yang berkepanjangan. Peristiwa yang sepele tersebut kemudian
diterjemahkan bahwa si-A sebagai korban adalah warga etnis A dan si-B sebagai
pelaku adalah warga etnis B. Dengan penerjemahan tersebut, kemudian terjadilah
perseteruan antara etnis-A dan etnis-B yang dengan cepat memancing kemarahan
warga. Dengan demikian konflik kekerasanpun tak dapat dielakan lagi.
Kemajemukan masyarakat Indonesia
dalam hal agama sebenarnya tidak dapat dijadikan sebagai faktor pemicu
terjadinya konflik yang lahir dari perbedaan agama ataupun konflik yang sengaja
diciptakan atas nama Tuhan. Mengingat bahwa antar pemeluk agama di Indonesia
telah dihubungkan oleh suatu hubungan yang harmonis dengan pengembangan sikap
toleransi dan saling menghargai di antaranya sejak dahulu kala.
Hal
ini dibuktikan dengan keberadaan Kampung Bugis dan Kampung Islam Kepaon di Pulau
Bali. Penduduk Kampung Bugis dan Kampung Islam Kepaon yang beragama Islam hidup
berdampingan dengan masyarakat Bali yang beragama Hindu sejak lima ratus tahun
lalu. Di tengah maraknya berbagai macam konflik yang mengatasnamakan agama,
mereka selalu dapat mengatasi dan mengantisipasinya dengan sikap saling
keterbukaan dan kekeluargaan. Seperti halnya ketika aksi terorisme marak
diperbincangkan pasca ledakan
bom Bali tahun 2002 lalu. Kejadian ini tentu saja berdampak terhadap kehidupan
beragama di Pulau Dewata tersebut. Tidak terkecuali masyarakat Hindu
di sekitar lingkungan Kampung Bugis dan Kepaon yang sempat merasa curiga
terhadap penduduk di kedua kampung Islam ini.
Namun
hal ini dapat diselesaikan dengan adanya sikap toleransi dan keterbukaan di antara
kedua belah pihak. Sikap toleransi dan keterbukaan ini adalah warisan dari
nilai-nilai sejarah yang ditanamkan leluhurnya terdahulu dan hingga saat ini
masih dapat terlihat dengan jelas. Kedua sikap ini selalu mereka jadikan
pedoman dan diaplikasikan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Setiap
warganya saling menghargai dan menghormati budaya dan agamanya masing-masing.
Dalam kesehariannya, penduduk Kampung Bugis dan Kepaon masih menjalin hubungan
dengan pihak Kerajaan Pemecutan, bahkan keduanya masih saling mengunjungi. Hal
ini dapat dibuktikan apabila Puri Pemecutan mengadakan acara, Cokorda (sebutan
hormat bagi pemimpin puri) selalu mengundang penduduk Kampung Bugis melalui
tetua adatnya. Begitu pun sebaliknya, Cokorda akan selalu datang apabila penduduk
Kampung Bugis mengadakan acara. Sikap saling menghormati dan saling memiliki
inilah yang terus dihidupkan antara warga Kampung Bugis yang seluruhnya Muslim
dan masyarakat Hindu yang berdiam di enam banjar di Desa Serangan. Hal serupa
juga terjadi antara Kampung Islam Kepaon dengan Kerajaan Pemecutan. Bahkan
masyarakat di Kampung Islam Kepaon sangat fasih menggunakan Bahasa Bali sebagai
bahasa sehari-hari. Selain itu, mereka juga mengadakan upacara tiga bulanan
bagi bayi baru lahir yang biasa dilakukan umat Hindu. Namun, upacara yang
dilakukan diadaptasikan dengan ajaran Islam.
Tidak jarang juga dapat ditemui umat Muslim yang memiliki nama khas Bali
seperti Wayan, Kadek, Ketut dan lainnya di kedua kampung Islam ini. Hal ini menunjukkan
akulturasi kedua budaya yang dapat saling menyatu tanpa menghilangkan
kebudayaan aslinya.
Dengan
tetap berpedoman pada sikap tolerasi dan saling terbuka, tidak peduli sebesar
apapun konflik yang mungkin timbul diantara masyarakatnya, kedua belah pihak
masih dapat menyelesaikannya secara damai sehingga dapat memimalisir terjadinya
konflik lain yang lebih besar. Oleh karena itu masyarakat berbeda agama ini
dapat hidup saling berdampingan dengan damai.
Toleransi
yang ditunjukkan oleh kedua kampung ini dapat dicontoh oleh seluruh wilayah
lain di Indonesia. Hal ini disebabkan karena konflik-konflik yang sering
terjadi di Indonesia masih identik dengan konflik yang ada di kedua kampung
tersebut. Diharapkan apa yang dilakukan oleh masyarakat di Kampung Bugis,
Kampung Islam Kepaon dan masyarakat Bali sendiri dapat menjadi panutan bagi
seluruh masyarakat Indonesia dalam menjalani kehidupan yang multikultural. Sehingga harmonisasi antar
umat beragama tidak lagi hanya menjadi sebuah slogan tetapi sebuah kenyataan
indah untuk masyarakat Indonesia.
Daftar Pustaka
Aini,
Nur dan Citra Listya Rini (2013) Rusuh
Sumbawa, Puluhan Rumah Warga, Kios, dan Hotel Dibakar. [Internet], Republika. Tersedia dalam: < http://www.republika.co.id/berita/nasional/daerah/13/01/23/mh1ttj-rusuh-sumbawa-puluhan-rumah-warga-kios-dan-hotel-dibakar> [Diakses 9 Februari 2013].
Angkasa, T. Nugroho (2011) Mengakhiri Konflik Berkedok
Agama [Internet]. Tersedia dalam: <http://www.rimanews.com/read/20110520/28749/mengakhiri-konflik-berkedok-agama>
[Diakses 17 Februari 2013].
Anonim
(2012) Warga Way Panji Masih Dicekam
Ketakutan. [Internet], Kompas. Tersedia dalam:
[Diakses 9 Februari 2013].
Departemen Agama RI (2003) Konflik Sosial Bernuansa Agama di
Indonesia [Internet]. Tersedia dalam: <http://www.balitbangdiklat.kemenag.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=96%3Akonflik-sosial-bernuansa-agama-di-indonesia&catid=39%3Apolitics&Itemid=44>
[Diakses 9 Februari 2013].
Fauzi, Ihsan Ali, Rudy Harisyah Alam dan Samsu Rizal
Panggabean (2009). Pola-pola Konflik keagamaan di Indonesia (1990-2008) [Internet]. Badan Pembinaan
Hukum Nasional: web side bphn. Tersedia dalam: < http://www.bphn.go.id/data/documents/eksistensi_surat_keputusan_bersama_dalam_penyelesaian_konflik_antar_dan_intern_agama.pdf
> [Diakses 9 Februari 2013].
Sukmadewi, Desak Ketut Tristiana, Putu Kessi Vikaneswari dan Fifin
Diah Olivianti (2009) Implementasi Nilai-Nilai Sejarah Keberadaan Islam di Kampung Bugis dan Kepaon dalam Menyelesaikan Konflik Sosial Agama di Bali. Karya Tulis Ilmiah, SMA Negeri 3 Denpasar.
Ya'kub, Edy M.
(2011) Nihil
Kerusuhan Agama di Indonesia [Internet],
Kompas. Yudono,
Jodhi. ed. Tersedia dalam: <http://lipsus.kompas.com/topikpilihanlist/2133/1/100.hari.jokowi-basuki/read/xml/2011/09/15/03090077/Nihil.Kerusuhan.Agama.di.Indonesia> [Diakses 9 Februari 2013].







1 komentar:
Hello there! This blog pоst couldn't be written much better! Looking at this post reminds me of my previous roommate! He constantly kept preaching about this. I'll send this post to him.
Pretty sure hе will have a very good rеad.
I аppreciatе yоu for shаring!
my pagе fast business Loan
Posting Komentar