Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Minggu, 17 Maret 2013

“DAMAI INDONESIAKU…”

oleh: Fifin Diah Olivianti

Indonesia merupakan negara yang multikultural. Terlihat dari perbedaan bahasa, suku bangsa (etnis) dan keyakinan agama serta kebiasaan-kebiasaan kultural lainnya. Hubungan harmonis antar dan intern umat beragama menjadi hal yang sangat penting dalam negara yang multi agama seperti halnya Indonesia ini. Dengan dasar nilai Pancasila, yang menempatkan Ke-Tuhanan Yang Maha Esa sebagai sila pertamanya membuktikan bahwa Indonesia adalah negara yang memegang teguh nilai-nilai agama. Meskipun Indonesia bukanlah negara agama, dasar agama sendiri  diharapkan mampu menjadi sumber moral yang dapat dijadikan sebagai pedoman sikap dan perilaku bagi warganya.
Sayangnya, apabila keberagaman ini tidak dapat dikelola dengan baik, akan dapat memicu terjadinya berbagai konflik yang pada akhirnya mengancam disintegrasi bangsa Indonesia sendiri. Realitas juga menunjukkan bahwa konflik bernuansa agama sudah banyak terjadi di Indonesia. Dari hasil laporan penelitian Fauzi dkk (2009) yang dilakukan menggunakan media massa laporan harian Kompas dan kantor berita Antara ditemukan sebanyak 832 insiden konflik keagamaan yang terjadi di Indonesia dalam rentang periode Januari 1990 hingga Agustus 2008. SETARA Institute juga mencatat sepanjang 2010 tak kurang terjadi 262 kasus pemaksaan kehendak, main hakim sendiri, dan kekerasan berkedok agama. Sedangkan dari data yang dihimpun Moderat Muslim Society (M.M.S) pada 2010 telah terjadi 81 kasus anarkistis berlabel agama, angka ini meningkat 30% dari laporan 2009 yang mencatat terjadinya 59 kasus. Bahkan selama catur wulan pertama 2011, eskalasinya semakin meningkat dan kian beringas (Angkasa, 2011).
Beberapa konflik yang bernuansa sosial maupun agama tentunya masih jelas terekam dalam ingatan masyarakat Indonesia. Di tahun 1996 tercatat beberapa konflik seperti kerusuhan di Situbondo tanggal 10 Oktober, di Tasikmalaya 26 Desember, dan Tragedi Mei pada tanggal 13-15 Mei yang terjadi di Jakarta, Solo, Surabaya, Palembang, Medan, beserta peristiwa-peristiwa kerusuhan lainnya. Berikutnya, kasus konflik sosial berlatar belakang agama di Ambon (1999-2002), pembakaran gereja di Halmahera pada 14-15 Agustus 2002, konflik Poso pada Desember 2003, penyerangan terhadap Huriah Kristen Batak Protestan (H.K.P.B) dan penyerangan terhadap rumah-rumah pengikut Ahmadiyah di Lombok pada September 2002. Kasus baru yang muncul akhir-akhir ini adalah konflik di Sampang Madura pada September 2012,  di Lampung Selatang akhir Oktober 2012 dan pembakaran rumah di Sumbawa 22 Januari 2013.
Mencuatnya aksi-aksi kekerasan yang berbalut konflik agama tersebut membuat masyarakat Indonesia diliputi keresahan dan kewaspadaan. Situasi seperti ini diibaratkan sebagai rumput-rumput kering di musim kemarau yang jika penyulutnya datang dapat terbakar dengan mudah kapan saja. Dan saat itulah, kemudian muncul berbagai sentimen-sentimen negatif tertentu di kalangan masyarakat. Ketika keadaan seperti itu sudah terjadi, sebuah goresan kecil saja dapat menciptakan konflik yang mengatas namakan agama. Hal ini dapat dilihat dari pemicu-pemicu konflik yang sepele akan tetapi dapat menciptakan suatu konflik kekerasan yang besar dan melibatkan banyak masa.
Seperti konflik yang terjadi di Ambon, yang isunya hanya dipicu karena masalah sepele yaitu pertengkaran dua orang di terminal. Ataupun konflik di Lampung Selatan yang melibatkan warga Kampung Agom Kecamatan Kalianda dan Desa Balinuraga Kecamatan Way Panji pada akhir Oktober 2012 ini. Pemicu konflik ini tak lain hanya karena pemuda warga Balinuraga menggangu dua perempuan kampung Agom yang tengah mengendarai sepeda motor. egitu juga rusuh di Sumbawa yang dipicu isu pemerkosaan di wilayah setempat. Kasus itu kemudian membesar menjadi isu SARA yang memicu bentrokan antara warga Bali dan Sumbawa yang berakhir pada kejadian kriminalitas, penjarahan dan pembakaran.
Dalam suasana konflik tersebut, sedikit isu SARA di tengah masyarakat Indonesia dapat memicu sebuah konflik besar yang berkepanjangan. Peristiwa yang sepele tersebut kemudian diterjemahkan bahwa si-A sebagai korban adalah warga etnis A dan si-B sebagai pelaku adalah warga etnis B. Dengan penerjemahan tersebut, kemudian terjadilah perseteruan antara etnis-A dan etnis-B yang dengan cepat memancing kemarahan warga. Dengan demikian konflik kekerasanpun tak dapat dielakan lagi.
Kemajemukan masyarakat Indonesia dalam hal agama sebenarnya tidak dapat dijadikan sebagai faktor pemicu terjadinya konflik yang lahir dari perbedaan agama ataupun konflik yang sengaja diciptakan atas nama Tuhan. Mengingat bahwa antar pemeluk agama di Indonesia telah dihubungkan oleh suatu hubungan yang harmonis dengan pengembangan sikap toleransi dan saling menghargai di antaranya sejak dahulu kala. 
Hal ini dibuktikan dengan keberadaan Kampung Bugis dan Kampung Islam Kepaon di Pulau Bali. Penduduk Kampung Bugis dan Kampung Islam Kepaon yang beragama Islam hidup berdampingan dengan masyarakat Bali yang beragama Hindu sejak lima ratus tahun lalu. Di tengah maraknya berbagai macam konflik yang mengatasnamakan agama, mereka selalu dapat mengatasi dan mengantisipasinya dengan sikap saling keterbukaan dan kekeluargaan. Seperti halnya ketika aksi terorisme marak diperbincangkan pasca ledakan bom Bali tahun 2002 lalu. Kejadian ini tentu saja berdampak terhadap kehidupan beragama di Pulau Dewata tersebut. Tidak terkecuali masyarakat Hindu di sekitar lingkungan Kampung Bugis dan Kepaon yang sempat merasa curiga terhadap penduduk di kedua kampung Islam ini.
Namun hal ini dapat diselesaikan dengan adanya sikap toleransi dan keterbukaan di antara kedua belah pihak. Sikap toleransi dan keterbukaan ini adalah warisan dari nilai-nilai sejarah yang ditanamkan leluhurnya terdahulu dan hingga saat ini masih dapat terlihat dengan jelas. Kedua sikap ini selalu mereka jadikan pedoman dan diaplikasikan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Setiap warganya saling menghargai dan menghormati budaya dan agamanya masing-masing. Dalam kesehariannya, penduduk Kampung Bugis dan Kepaon masih menjalin hubungan dengan pihak Kerajaan Pemecutan, bahkan keduanya masih saling mengunjungi. Hal ini dapat dibuktikan apabila Puri Pemecutan mengadakan acara, Cokorda (sebutan hormat bagi pemimpin puri) selalu mengundang penduduk Kampung Bugis melalui tetua adatnya. Begitu pun sebaliknya, Cokorda akan selalu datang apabila penduduk Kampung Bugis mengadakan acara. Sikap saling menghormati dan saling memiliki inilah yang terus dihidupkan antara warga Kampung Bugis yang seluruhnya Muslim dan masyarakat Hindu yang berdiam di enam banjar di Desa Serangan. Hal serupa juga terjadi antara Kampung Islam Kepaon dengan Kerajaan Pemecutan. Bahkan masyarakat di Kampung Islam Kepaon sangat fasih menggunakan Bahasa Bali sebagai bahasa sehari-hari. Selain itu, mereka juga mengadakan upacara tiga bulanan bagi bayi baru lahir yang biasa dilakukan umat Hindu. Namun, upacara yang dilakukan diadaptasikan dengan ajaran Islam.  Tidak jarang juga dapat ditemui umat Muslim yang memiliki nama khas Bali seperti Wayan, Kadek, Ketut dan lainnya di kedua kampung Islam ini. Hal ini menunjukkan akulturasi kedua budaya yang dapat saling menyatu tanpa menghilangkan kebudayaan aslinya.
Dengan tetap berpedoman pada sikap tolerasi dan saling terbuka, tidak peduli sebesar apapun konflik yang mungkin timbul diantara masyarakatnya, kedua belah pihak masih dapat menyelesaikannya secara damai sehingga dapat memimalisir terjadinya konflik lain yang lebih besar. Oleh karena itu masyarakat berbeda agama ini dapat hidup saling berdampingan dengan damai.
Toleransi yang ditunjukkan oleh kedua kampung ini dapat dicontoh oleh seluruh wilayah lain di Indonesia. Hal ini disebabkan karena konflik-konflik yang sering terjadi di Indonesia masih identik dengan konflik yang ada di kedua kampung tersebut. Diharapkan apa yang dilakukan oleh masyarakat di Kampung Bugis, Kampung Islam Kepaon dan masyarakat Bali sendiri dapat menjadi panutan bagi seluruh masyarakat Indonesia dalam menjalani kehidupan yang  multikultural. Sehingga harmonisasi antar umat beragama tidak lagi hanya menjadi sebuah slogan tetapi sebuah kenyataan indah untuk masyarakat Indonesia.
 
Daftar Pustaka
Aini, Nur dan Citra Listya Rini (2013) Rusuh Sumbawa, Puluhan Rumah Warga, Kios, dan Hotel Dibakar. [Internet], Republika. Tersedia dalam: < http://www.republika.co.id/berita/nasional/daerah/13/01/23/mh1ttj-rusuh-sumbawa-puluhan-rumah-warga-kios-dan-hotel-dibakar> [Diakses 9 Februari 2013].
Angkasa, T. Nugroho (2011) Mengakhiri Konflik Berkedok Agama [Internet]. Tersedia dalam: <http://www.rimanews.com/read/20110520/28749/mengakhiri-konflik-berkedok-agama> [Diakses 17 Februari 2013].
Anonim (2012) Warga Way Panji Masih Dicekam Ketakutan. [Internet], Kompas. Tersedia dalam: [Diakses 9 Februari 2013].
Departemen Agama RI (2003) Konflik Sosial Bernuansa Agama di Indonesia [Internet]. Tersedia dalam: <http://www.balitbangdiklat.kemenag.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=96%3Akonflik-sosial-bernuansa-agama-di-indonesia&catid=39%3Apolitics&Itemid=44> [Diakses 9 Februari 2013].
Fauzi, Ihsan Ali, Rudy Harisyah Alam dan Samsu Rizal Panggabean  (2009). Pola-pola Konflik keagamaan di Indonesia  (1990-2008) [Internet]. Badan Pembinaan Hukum Nasional: web side bphn. Tersedia dalam: < http://www.bphn.go.id/data/documents/eksistensi_surat_keputusan_bersama_dalam_penyelesaian_konflik_antar_dan_intern_agama.pdf > [Diakses 9 Februari 2013].
Sukmadewi, Desak Ketut Tristiana, Putu Kessi Vikaneswari dan Fifin Diah Olivianti (2009) Implementasi Nilai-Nilai  Sejarah Keberadaan Islam di Kampung Bugis dan Kepaon dalam Menyelesaikan Konflik Sosial Agama di Bali. Karya Tulis Ilmiah, SMA Negeri 3 Denpasar.
Ya'kub, Edy M. (2011) Nihil Kerusuhan Agama di Indonesia [Internet], Kompas. Yudono, Jodhi. ed. Tersedia dalam: <http://lipsus.kompas.com/topikpilihanlist/2133/1/100.hari.jokowi-basuki/read/xml/2011/09/15/03090077/Nihil.Kerusuhan.Agama.di.Indonesia> [Diakses 9 Februari 2013].

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Hello there! This blog pоst couldn't be written much better! Looking at this post reminds me of my previous roommate! He constantly kept preaching about this. I'll send this post to him.
Pretty sure hе will have a very good rеad.
I аppreciatе yоu for shаring!


my pagе fast business Loan