Oleh: Fifin Diah Olivianti
Banyak orang tua yang mengajarkan anaknya untuk mempelajari
sesuatu sesegera mungkin, tapi tidak untuk pendidikan seks. Sampai saat ini
masih banyak orang tua yang berfikiran sempit mengenai pendidikan seks, bahkan
menganggap seks untuk anak merupakan sesuatu hal yang tidak boleh dibicarakan. Meskipun
dianggap tabu, sebenarnya pendidikan seks merupakan pendidikan penting yang harus
diberikan sesegera mungkin. Mengingat saat ini sudah banyak kasus asusila yang
terjadi pada anak-anak.
Pendidikan seks sebenarnya tidak hanya berbicara mengenai
aktivitas seks dan hal-hal sensual saja. Dengan pendidikan seks anak bisa lebih
mengetahui bagian tubuh mana yang harus ditutup dan tidak boleh disentuh orang
lain, bagaimana bersikap untuk menjaga diri sendiri, dan bagaimana menghindari
penyimpagan dalam prilaku seksual mereka. Pendidikan seks juga mengajarkan pada
anak untuk tidak takut melapor jika ada orang yang memperlakukannya dengan
tidak sopan. Selain itu, dalam pendidikan seks juga diajarkan hal-hal yang
terkait dengan organ-organ reproduksi, bagaimana fungsi dan segala permasalahan
yang ada dalam sistem reproduksinya.
Pada dasarnya, anak-anak sudah dapat dikenalkan
mengenai identitas seksualnya melaui pendidikan dirumah. Pengenalannya sendiri dapat dilakukan melalui cara hidup orang tua dalam
keluarga dan sebaiknya disampaikan dalam suasana akrab dan terbuka antara orang tua dan anak. Kesulitan
yang timbul kemudian adalah apabila pengetahuan orang tua kurang memadai. Jika demikian
tentu penyampaiannya akan kurang
maksimal dan menimbulkan kerancuan tentang pemahaman seks.
Melihat kenyataan tersebut, jelas dibutuhkan pihak lain guna melengkapi upaya pembelajaran alami
terhadap hakikat seksualitas manusia. Pihak lain yang cukup berkompeten untuk melengkapi
pengetahuan orang tua, menjadi perantara antara orang tua dan anak dalam
memberikan pendidikan seks adalah sekolah. Oleh karena itu, pendidikan seks di
sekolah diharapkan mampu melengkapi pendidikan seks yang diberikan di rumah. Hal ini terbukti dari hasil polling
yang penulis lakukan kepada 34,9% dari seluruh mahasiswi D3
Jurusan Kebidanan Poltekkes Denpasar dengan rentang usia 18-20 tahun. Sebanyak 81,7 % responden menyatakan setuju jika
pendidikan seks dimasukkan dalam pengajaran sekolah, 5% menyatakan tidak setuju
dan sisanya 30% menyatakan ragu-ragu.
Pendidikan seks yang
dilakukan di sekolah sebaiknya disampaikan secara bertahap sesuai dengan usia anak,
tidak langsung menyampaikan materi yang bersifat vulgar. Hal penting yang perlu
diketahui ialah pendidikan seks bukanlah pendidikan biologi, bukan juga
pendidikan agama atau budi pekerti. Pembelajaran tentang seks tidaklah sama dengan
pelajaran lain. Misalnya pelajaran olah raga yang mengajarkan bagaimana teknik
bermain basket yang yang benar. Belajar tentang seks, bukanlah belajar
bagaimana aktivitas seks yang baik, melainkan lebih ditekankan pada dampak yang
timbul dari aktivitas seksual tersebut. Sehingga pendidikan seks kurang tepat jika
hanya diselipkan pada beberapa mata pelajaran di sekolah.
Pendidikan seks dapat
diberikan sebagai pelajaran
khusus dalam kurikulum. Metode yang digunakanpun dapat bervariasi tidak hanya
melalui pembahasan/penjelasan umum dari guru. Pendidikan seks yang dilakukan secara formal hanya membuat siswa enggan bertanya atau sekedar sharing.
Untuk itu diperlukan berbagai metode yang menarik dalam penyampaiannya. Seperti
diskusi, sharing, konseling pribadi, game, penyuluhan, seminar, atau
penugasan dengan melakukan riset dan presentasi hasil juga dapat
dilakukan. Kombinasi berbagai metode ini akan membuat pendidikan seks yang
terkesan “vulgar” dan “porno” mejadi materi ringan yang menyenangkan dan mudah dipahami.







0 komentar:
Posting Komentar