Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Minggu, 13 Januari 2013

Merubah yang Vulgar Menjadi Menyenangkan


 Oleh: Fifin Diah Olivianti


Banyak orang tua yang mengajarkan anaknya untuk mempelajari sesuatu sesegera mungkin, tapi tidak untuk pendidikan seks. Sampai saat ini masih banyak orang tua yang berfikiran sempit mengenai pendidikan seks, bahkan menganggap seks untuk anak merupakan sesuatu hal yang tidak boleh dibicarakan. Meskipun dianggap tabu, sebenarnya pendidikan seks merupakan pendidikan penting yang harus diberikan sesegera mungkin. Mengingat saat ini sudah banyak kasus asusila yang terjadi pada anak-anak.
Pendidikan seks sebenarnya tidak hanya berbicara mengenai aktivitas seks dan hal-hal sensual saja. Dengan pendidikan seks anak bisa lebih mengetahui bagian tubuh mana yang harus ditutup dan tidak boleh disentuh orang lain, bagaimana bersikap untuk menjaga diri sendiri, dan bagaimana menghindari penyimpagan dalam prilaku seksual mereka. Pendidikan seks juga mengajarkan pada anak untuk tidak takut melapor jika ada orang yang memperlakukannya dengan tidak sopan. Selain itu, dalam pendidikan seks juga diajarkan hal-hal yang terkait dengan organ-organ reproduksi, bagaimana fungsi dan segala permasalahan yang ada dalam sistem reproduksinya.
Pada dasarnya, anak-anak sudah dapat dikenalkan mengenai identitas seksualnya melaui pendidikan dirumah. Pengenalannya sendiri dapat dilakukan melalui cara hidup orang tua dalam keluarga dan sebaiknya disampaikan dalam suasana akrab dan terbuka antara orang tua dan anak. Kesulitan yang timbul kemudian adalah apabila pengetahuan orang tua kurang memadai. Jika demikian tentu penyampaiannya akan kurang maksimal dan menimbulkan kerancuan tentang pemahaman seks.  
Melihat kenyataan tersebut, jelas dibutuhkan pihak lain guna melengkapi upaya pembelajaran alami terhadap hakikat seksualitas manusia. Pihak lain yang cukup berkompeten untuk melengkapi pengetahuan orang tua, menjadi perantara antara orang tua dan anak dalam memberikan pendidikan seks adalah sekolah. Oleh karena itu, pendidikan seks di sekolah diharapkan mampu melengkapi pendidikan seks yang diberikan di rumah. Hal ini terbukti dari hasil polling yang penulis lakukan kepada 34,9% dari seluruh mahasiswi D3 Jurusan Kebidanan Poltekkes Denpasar dengan rentang usia 18-20 tahun. Sebanyak 81,7 % responden menyatakan setuju jika pendidikan seks dimasukkan dalam pengajaran sekolah, 5% menyatakan tidak setuju dan sisanya 30% menyatakan ragu-ragu.
Pendidikan seks yang dilakukan di sekolah sebaiknya disampaikan secara bertahap sesuai dengan usia anak, tidak langsung menyampaikan materi yang bersifat vulgar. Hal penting yang perlu diketahui ialah pendidikan seks bukanlah pendidikan biologi, bukan juga pendidikan agama atau budi pekerti. Pembelajaran tentang seks tidaklah sama dengan pelajaran lain. Misalnya pelajaran olah raga yang mengajarkan bagaimana teknik bermain basket yang yang benar. Belajar tentang seks, bukanlah belajar bagaimana aktivitas seks yang baik, melainkan lebih ditekankan pada dampak yang timbul dari aktivitas seksual tersebut. Sehingga pendidikan seks kurang tepat jika hanya diselipkan pada beberapa mata pelajaran di sekolah.
Pendidikan seks dapat diberikan sebagai pelajaran khusus dalam kurikulum. Metode yang digunakanpun dapat bervariasi tidak hanya melalui pembahasan/penjelasan umum dari guru. Pendidikan seks yang dilakukan secara formal hanya membuat siswa enggan bertanya atau sekedar sharing. Untuk itu diperlukan berbagai metode yang menarik dalam penyampaiannya. Seperti diskusi, sharing, konseling pribadi, game, penyuluhan, seminar, atau penugasan dengan melakukan riset dan presentasi hasil juga dapat dilakukan. Kombinasi berbagai metode ini akan membuat pendidikan seks yang terkesan “vulgar” dan “porno” mejadi materi ringan yang menyenangkan dan mudah dipahami.

0 komentar: