Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Senin, 01 Oktober 2012

Semangat dari Seberang


Suatu saat ketika aku mengalami masalah yang membuatku frustasi, yang kulakukan adalah menceritakannya kepada sahabat-sahabatku. Meskipun mereka tak lagi ada di dekatku, tapi mereka akan selalu ada untukku. 
Beberapa waktu lalu ketika aku merasa sangat tidak nyaman dengan lingkunganku, aku menchat salah satu temanku di Yogyakarta. Ayu Diah Cempaka, teman yang menurutku selalu nyaman dengan hidupnya. Aku menceritakan keluh kesah yang ku rasakan selama ini. Dan dia menanggapinya dengan gaya khasnya yang selalu santai dengan candaannya. Dia juga masih menghkawatirkan keadaanku dilingkungan baruku saat ini. Bercerita dengannya membuatku sedikit lebih tenang dari sebelumnya. Kami juga membicarakan masa-masa SMA yang tak terlupakan, berbagi cerita tentang aktifitas kami saat ini, saling melontarkan beberapa candaan yang garing tapi menyenangkan, dan yang tak dilupakannya adalah memberiku suport untuk tetap semangat dan berusaha keras untuk tetap bertahan. Sampai akhirnya chating kami berakhir dengan perasaanku yang sudah membaik.
Beberapa waktu lalu aku juga terjebak dalam situasi yang sangat membingungkan dan membuatku tidak nyaman. Saat itu yang ingin kulakukan adalah mendengar suara pembina SMA ku (kak Ananta). Hanya saja ketika kucoba untuk menghubunginya, ternyata situasi sedang tidak bersahabat denganku. Dan beruntung aku masih bisa menghubungi sahabat lainku yang berada di Yogyakarta, Agus Aryawan. Aku sangat senang bisa mendengar suaranya, bahkan hanya berselang beberapa menit setelah dia mengangkat telepon, air mataku mulai menetes. Mungkin karena terbawa suasana dan ditambah lagi dengan perasaan bingung yang ku alami akibat masalahku saat itu. Banyak hal yang kita bicarakan saat itu. Hanya saja aku tak menceritakan masalah yang sedang terjadi denganku. Aku tak mau membuatnya lebih khawatir dengan keadaanku saat ini. Dia tetap mau mendengarkan keluh kesah dan apa yang kurasaakan saat itu. Dia cukup memahami bagaimana keadaanku, dia memberikan banyak dukungan untukku. Dia mengingatkan kembali bagaimana diriku yang dulu dikenalnya, mengingatkan kembali tentang sifat-sifatku yang selalu penuh semangat dan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk orang lain. Dukungan dan semangat tak henti-hentinya diberikannya untukku. Sampai telepon terputus karena jaringan telepon yang lagi-lagi tak bersahabat. Pembicaraan pun kami lanjutkan via SMS.  

Hahaha… tadi itu curhat. Haha. Bentar banget. Iya Fin, sabar ya. Nanti pasti semuanya akan berakhir. Semangat terus ya Fin. Aku di sini pasti terus semangatin kamu”.

Ga tau deh Gus, aku itu cuma daun yang rontok dari tangkainya. Cuma bisa pasrah ke mana angin ngebawa aku. Udah berapa kali coba aku mengela nafas hari ini. Berharap semuanya ini cepet selesai. Pengen banget ini itu cuma mimpi yang bisa hilang waktu kita bangun, tapi mau ngimana lagi dong. Aku cuma bisa pasrah sama keadaan”.

“Fifin… kok tumben kamu nggak semanga gini. Inget ga waktu SMA? Kamu yang paling semangat Fin di antara anak-anak MP. Cuma kamu yang bisa punya pikiran positif sebelum lomba. Kita bisa menang karena ketularan semangatmu Fin. Coba ga ada semangatmu, mungkin kita kalah sebelum lomba. Nah, kemana semua itu Fin? Kenapa pas kuliah kamu jadi gini. Kembali jadi Fifin yang semangat!!”.

Kalau kamu ketemu sama aku, kamu bakaln masih nemuin aku yang dulu. Bahkan saat ini, waktu aku lagi ada masalah. Aku masih berusaha tersenyum sama ketawadi depan temen-temenku. Sekan nggak terjdi apa-apa, berharap semuanya baik-baik aja. Tapi aku ngerasa itu Cuma topeng yang aku pake buat nutupin perasaanku. Pikiranku udah melayang ga tau kemana. Aku selalu pengen jadi aku yang dulu. Aku terus beusaha, tapi sampai sekarang aku cuma bisa ngebentuk topeng itu dalam diriku. Mungkin sedikit lagi aku bisa balik ke diriku yang dulu. Iya kan Gus? Semangat!!!

Iya Fin. Tapi hidup memang tantangan. Malah jenuh kalau gitu-gitu doing. Jadikan motivasi Fin. Semangaaaaaaattttt!!!

Mereka adalah sahabat-sahabat baikku. Meskipun mereka tak lagi ada didekatku, mereka selalu ada ketika aku mebutuhkan mereka, memberikan semangat, membuatku tersenyum, dan membuatku senang karena memiliki sahabat-sahabat seperti mereka. Bagiku, mereka adalah sahabat-sahabat yang tak ternilai harganya. Ya Allah, terima kasih telah memberiku kesempatan untuk mengenal mereka.


0 komentar: